Suratan

•November 23, 2009 • Leave a Comment

Meskipun terbatas..
Saling pandang..
Dan tak akan lebih lagi..
(Aku-Dirimu-Dirinya by Kahitna)

Jarak kita hanya satu meter dan saya bisa pandangi dengan jelas wajahmu yang kemarin hanya ada dalam angan-angan. Kamu bercerita, saya mendengar sambil menyusupkan tawa renyah pada bagian lucu dari ceritamu—tawa yang barangkali akan membuatmu tergila-gila nantinya. Apa yang terjadi antara kita ketika diluar sana semua orang sibuk dengan percakapan seputar politik dan gosip-gosip ganjil? Kamu baru saja pulang dari Rusia, menemui saya, dan sebulan lagi saya menikah.

‘Biar cerita ini berselimut tanda tanya, lalu lihat dimana Tuhan akan memberi tanda titik pada akhir cerita’ kata saya.
‘Aku akan menunggu’ katamu.
‘Menunggu.. aku tidak suka menunggu karena aku sudah pernah menunggu’ kata saya sinis.
‘Aku yakin kamu akan kembali padaku’ katamu. ‘tidak sekarang tapi nanti’
Keyakinanmu membuat saya bertanya-tanya, kemana kamu selama ini?

Lalu kita berjanji untuk tidak saling menyesal ketika saya terenggut oleh kewajiban. Kamu akan bahagia melihat saya bahagia. Bullshit, batin saya. Kamu tidak akan sekuat itu. Kamu pasti akan patah hati seperti kebanyakan orang meski saya tahu kamu bisa tersenyum.

Perayaan ulang tahunmu.
Kita bersepuluh duduk mengelilingi meja yang dipenuhi gelas-gelas berkaki dan piring berisi kudapan menggoda mata. Kamu mengucapkan terima kasih atas kehadiran sahabat-sahabat tercintamu termasuk saya lalu kamu angkat gelasmu, diikuti kami semua. Dalam keremangan saya melihat air matamu menggenang.
‘Yang ini untuk pernikahan Defrina dan Vincent’ katamu.
Saya tersenyum, begitu juga Vincent yang langsung melingkarkan lengannya di bahu saya. Ruangan ini riuh oleh ucapan selamat juga tawa bahagia. Para wanita mendaratkan ciuman di pipi saya, sedang para lelaki memeluk Vincent sambil menepuk-nepuk punggungnya.

Pulangnya saat kita berpapasan di lorong, tanganmu meraih pergelangan saya.
‘Kamu benar, aku tidak sekuat itu’ katamu.
‘Iya, aku tahu..’ kata saya.
‘Kamu sudah terlalu dalam memasuki hidupku, Rin..’
Seketika tanganmu terlepas. Di ujung lorong, Vincent menunggu saya dengan senyum. Saya benar-benar tidak tahu, kenapa saya tidak pernah berjuang untuk kamu.
‘Kami pulang dulu, Wil’ kata Vincent berpamitan.
‘Ya, hati-hati di jalan’ katamu sambil melambaikan tangan.

Tiga tahun kemudian.
‘Sudah seribu hari’ gumam saya. ‘aku rasa Vincent sudah benar-benar pergi dari kita’
‘Dia selalu ada dalam hati kita, Rin..’ katamu.

Aku, dirimu, dirinya..
Tak akan pernah mengerti..
Tentang suratan..
Aku, Dirimu, dirinya..
Tak resah bila sadari..
Cinta tak kan salah..

Semarang, 23 November 2009

Tega

•November 23, 2009 • Leave a Comment

Undangan itu tidak berwarna, tidak pula berbentuk karena kedatangannya berupa pesan singkat yang dikirim seorang sahabat. Alia namanya. Aku beku seketika, tubuhku bergetar setelahnya, dan rubuh di sofa dekat jendela kamar. Ada yang benar-benar terlepas dari tubuhku. Barangkali itu separuh nyawaku.

Carina, Genta menikah minggu depan. Datang ya.

Pesan itu seperti alamat bahwa aku harus pulang pada kenyataan. Penantianku telah berakhir. Ah, dan aku sudah tak sanggup menangis. Ya, setelah bertahun-tahun tak pernah kudengar kabar darimu dan hari ini aku dikejutkan oleh berita yang membahagiakan semua orang kecuali aku. Siapa yang peduli aku? Tidak ada.

Ya, aku datang meski undangannya tidak resmi :)

19 November 2009
Upacara sakral itu dimulai jam tujuh di sebuah masjid. Setelahnya pengantin digiring menuju gedung megah yang dipenuhi bunga tulip putih yang diimport langsung dari Belanda. Aku datang bersama Alia. Sejak mobil kami memasuki halaman gedung, aku gelisah. Kenapa aku harus datang ke pesta memuakkan ini? Ah, tapi sudahlah. Anggap saja aku lapar dan dapat rejeki makan gratis. Lumayan kan, pesta mewah ini pasti menawarkan warna-warni makanan yang belum pernah kucicipi.

Dari pintu masuk, aku berjalan anggun di samping Alia. Beberapa pasang mata yang mengenalku menyergapku dengan hangat. Mereka menunduk setelah membalas senyum yang kulempar. Kamu tampan sekali Genta, batinku. Ingin kusentuh kain putih mengkilat berpahat kristal yang membungkusmu itu. Apakah kamu tahu berat kakiku melangkah ke panggung itu.

Pria tua yang telah kukenal bertahun-tahun tersenyum ke arahku. Disebelahnya ada seorang wanita yang tak pernah kukenal. Inikah ibumu? Wanita yang kamu benci setengah mati. Kucium punggung tangan ayahmu. Gemuruh di dadaku makin menjadi.
‘Terima kasih, Nak’ bisiknya. Aku mengangguk.
Setelahnya kusalami wanita yang tak kukenal itu. Beliau hanya tersenyum tanpa pernah tahu siapa aku ini. Lalu kusalami perempuan yang sekarang merasa paling bahagia diantara semua orang dalam gedung ini. Dia pun tak mengenalku tapi tetap mengucapkan terima kasih.
Dan kujabat tanganmu yang dingin. Mendadak ruangan ini beku dalam sepersekian detik. Semua orang dibawah sana apakah akan melihat pada panggung ini? Pertunjukan keparat!
‘Terima kasih’ ucapmu.
Hah? Terima kasih? Siapa yang peduli? Gelas-gelas kaca yang bertumpuk rapi yang akan kamu tuangi anggur itu pun tak peduli dengan aku. Ah Genta, matamu menyihirku jadi debu.

Kuturuni tangga setelahnya dan menuju meja dimana gelas-gelas mungil berisi soft drink disajikan. Baru kuteguk sekali, kudengar namaku di sebut.
‘Kepada Carina, silahkan menyumbangkan lagu untuk pengantin’
Anjing. Alia marah seketika.
‘Kerjaan siapa sih ini???’
‘Sudahlah, Al.. Tidak apa-apa’
Kutinggalkan Alia dengan amarahnya pada teman-teman kami. Aku menuju piano itu. Piano yang dulu hampir tiap hari kusentuh. Piano milikku dan Genta—hasil jerih payah kami bekerja part time.

Kusentuh tubuh piano itu. Tak ada luka sedikitpun. Apakah Genta tak pernah memainkannya setelah kami putus? Orang-orang di bawah sana mematung seperti arca yang siap kurubuhkan dalam sekali pukulan.

‘Untuk Genta dan Yana’ suaraku bergetar memenuhi ruangan.

Jemariku spontan menari dan tepuk tangan penghormatan itu satu persatu menggema kemudian sirna begitu suaraku naik ke udara.

Tega.. Aku tahu dirimu kini telah ada yang memiliki.. tapi bagaimana kah dengan diriku.. tak mungkin ku sanggup kehilangan dirimu.. aku tahu bukan saatnya tuk mengharap cintamu lagi.. tapi bagaimanakah dengan hatiku.. tak mungkinku sanggup hidup begini tanpa cintamu.. (TEGA BY ROSSA)

23 November 2009

Kumara Sadana

•November 23, 2009 • Leave a Comment

‘ah, gengsimu sebesar gedung MPR’ kata Fatya. ‘cepet samperin! Tanya apa kek’
Saya menghela nafas panjang.
‘tapi..’ sergah saya.

Belum sempat saya meneruskan kalimat, Fatya mendepak saya keluar ruangan dan saya gugup setengah mati. Kumara Sadana menatap saya dengan banyak tanda tanya berwarna-warni pada kemeja biru mudanya yang lengannya digulung sampai siku. Aduh, pria ini ketampanannya membuat saya mati gaya. Mendadak tanda tanya warna-warni pada kemejanya rontok, diganti senyum lebar.
‘hei’ sapanya.
‘oh hai’ balas saya dengan suara bergetar.
‘sudah ngopi?’ tanya Kumara.
‘tadi, ehm maksudku di rumah tadi sudah bikin kopi, tapi buat Meong’ Saya nyengir. ‘kucing’
Dana tertawa. Aduh, mampus! Kok dia makin ganteng ya kalau tertawa, batin saya.
‘kucing minum kopi?’ Dia bertanya.
‘iya’ Saya garuk-garuk kepala.
‘berarti kita bisa minum kopi bareng di basement nih?’
Saya mengangguk sambil tersenyum geli.

Kami berjalan bersisian menyusuri lorong. Rasanya saya ingin memantul seperti bola bekel. Saat saya menoleh ke belakang Fatya berkacak pinggang sambil tersenyum lalu mengacungkan jempol. Ah, jadi malu saya.

Kumara Sadana Si Pria Magnet dan saya duduk di meja nomer 11 yang letaknya di tengah ruangan. Saya rasa dia tidak pernah sadar kalau pesonanya memancar sekuat medan magnet yang akan menarik logam apa saja tanpa peduli. Sial, hampir semua wanita yang ada di ruangan ini menoleh seketika.
‘kamu pesan apa, Nana?’ tanya Dana.
Saya pesan kamu saja Sadana, batin saya. Biarkan saya menikmatimu pagi ini, sebagai ganti sarapan pagi. Ya ampun, apa-apaan saya ini?
‘sandwich tuna dan kopi saja’ kata saya.
‘oke, tunggu sebentar ya’

Aduh, semakin terpana. Berkali-kali saya tahan nafas. Ingin rasanya berlari mengelilingi gedung ini untuk menularkan rasa bahagia pada alam dan membuat gambar hati pada langit. Saya tergila-gila pada pria yang sebelumnya hanya saya pandangi dari jauh dan saya koleksi sosoknya dalam kepala.
‘aku kena mutasi’ kata Dana. Dia memindahkan cangkir kopi dari nampan ke depan saya.
‘hah?’ Saya kaget kemudian saya ambil piring sandwich tuna dari nampan. Mendadak saya tidak berselera menggigitnya barang sedikit saja.
‘iya, minggu depan aku berangkat ke Jepang’ katanya.
‘Jepang??’
Dana mengangguk.

Seminggu kemudian.
‘heh, sudahlah.. dia kan nggak selamanya di Jepang, Na’ Fatya merengkuh saya lalu menyandarkan kepalanya di pundak saya.
Saya termenung, merokok, sambil menghirup uap kopi yang sudah dicampur jahe. Kumara Sadana Si Pria Magnet, oh.. Kenapa waktu kita dibatasi oleh rencana-Nya?
‘coba gengsiku nggak sebesar gedung MPR ya, Fat..’
‘udahlah, Na.. jarak bukan sesuatu yang besar untuk ditakhlukkan, sms gih!’
Saya hanya melirik ponsel yang tergolek di meja dekat cangkir kopi. Berat sekali meraihnya untuk menakhlukkan jarak. Fatya mengambilnya untuk saya.
‘sms!’
‘malas..’ kata saya.
‘nana, dia nggak bakal tahu kamu merasa kehilangan kalau kamu nggak bilang, realistis aja deh’
‘tapi aku kan bukan pacarnya’ elak saya.
‘plis deh, Na.. teman juga boleh kehilangan kan??’
Kalau bukan karena ide Fatya yang masuk akal, saya enggan. Jari saya mengetik.

Hei, sdh sampe mana? jgn2 nyasar sampe saudi arabia? Wah, bsk ga ada yg ngajak aq minum kopi lg.. ;)

Sent.
Dua menit kemudian Kumara Sadana membalas.

Tokyo nyaman, apalagi apartemen ini. tp sayang, besok pagi ga ada yang kuajak minum kopi.. ;)

Dan hati saya ditumbuhi banyak sekali bunga warna-warni…

23 November 2009

I Love You always

•November 9, 2009 • 4 Comments

One more time to say I love you always
and keeping faith letting love find a way
(The Used – Find A Way)

‘hei..’
Begitu kamu menyapa saya setelah beberapa tahun kita dipisahkan tembok beku yang angkuhnya melebihi Everest. Saya sudah tak peduli lagi seberapa keras usaha saya untuk menghancurkan tembok besar itu, karena hari ini saya hanya melihat Sakura berguguran menutupi jalanan.
‘aku bisa jelaskan tentang..’
‘tidak perlu dijelaskan’ kamu memotong kalimat saya yang baru sepenggal. ‘aku tahu perasaanmu masih tetap sama’

Ada amarah yang menggantung manja di bahu saya. Amarah yang saya tujukan untuk diri saya sendiri. Lalu kita sibuk dengan basa-basi busuk. Mengenang beberapa kejadian masa lalu dan masih itu-itu saja. Memaki dunia dalam perspektif yang sama, membicarakan orang-orang hebat yang mati muda, dan berharap bisa meniru jejak mereka.

‘begitulah monster’ katamu.
Saya tertawa.
‘apa kabarmu?’ kamu bertanya setelah basa-basi busuk berakhir.
‘tidak begitu baik karena aku harus kehilanganmu’ kata saya.
‘ah, shit!’ kamu memaki saya dan saya tertawa.

Saya tidak percaya kita sedekat ini. Barangkali lebih dekat dari sekedar sentuhan. Kita tembus batas-batas tak berbatas itu hingga pelukanmu bukan lagi fantasi liar yang menjelma jadi mimpi-mimpi tak ber-ending, tapi nyaris saya ciumi parfummu yang legit. Andai saja ini bukan hanya kumpulan kata yang saya cipta untuk merangkum pertemuan kita yang singkat itu, barangkali saya akan membiarkan ribuan rencana dihempas angin. Saya akan ikuti kemana kakimu melangkah. Saya sudi membayar karma ini asal bisa bersamamu lagi.

‘jangan pedulikan semuanya, jalan saja ke depan’ pesanmu.
Saya mengangguk matap.
‘selalu begitu, selalu begitu’ kata saya.
‘bagus!’

Tiba-tiba saya masuki rumah kosong tak berpenghuni itu tanpa sepengetahuanmu. Dalam kegelapan ini saya bisa melihatmu, sedang kamu tak bisa melihat saya. Kamu masih saja duduk di bangku panjang yang terbuat dari besi itu. Kadang-kadang melamun, kadang-kadang tertawa, dan menangis sendirian. Ya, kalau saja kamu tahu, saya memandangimu sampai terik mengucapkan selamat pagi. Saya tidak pernah pergi. Saya hanya bersembunyi dalam ruangan kosong penuh debu ini. Menepati janji.

Dan sayup-sayup lagumu saya hayati dalam hati.
“One more time to say I love you always
and keeping faith letting love find a way
more time to say I love you always
and keeping faith letting love find a way…”

Pati, 9 November 2009

Earthquake

•November 9, 2009 • Leave a Comment

She had an earthquake on her mind
I almost heard her cry out as I left her far behind
and knew the world was crashing down around her

I sink to the ocean floor because I
know that we are more but
I’ve made this mess
I built this fire, Are you still mine?

She had an earthquake on her mind
apparently the kind that would
bury us alive
by putting all this weight on us foreve
I lie here on the ocean floor broken
castle by the shore and
I made this mess
I built this fire, Are you still mine?

Let me save us
I’ve slaughtered us, I’ve murdered our love
I can taste it, This blood in my mouth
This knife in my lungs
Have I murdered our love?

Please be all mine

Cause baby I’m not all right when you go
I’m not fine, Please be all mine
I never want you to go because I am all
yours so please be all mine.

by The Used

Kembang Api

•October 25, 2009 • 6 Comments

*backsound: olsen olsen – sigur ros*
Dia seperti kembang api—indah tetapi tidak untuk disentuh. Kalau hatimu terbakar, itu karena hatimu terbuat dari kertas dan kamu membiarkan percikan-percikan apinya menyentuhmu. Lalu sekarang hatimu berlubang kecil-kecil menyerupai polkadot dan kamu selalu ingin melompat-lompat kegirangan saat pesan-pesannya menyapamu di kantor.

Hmmm.. sarapan mr. burger dan teh anget di dekat kampus, nyet.

Aduh, kenapa sih harus laporan? Mendadak, dia membuat saya anemia. Hati saya yang lama tidak disentuh dan beku ini terurai jadi butiran pasir yang melorot jatuh dari genggaman. Sistem tubuh saya bekerja tidak normal—dagdigdug.com. Lalu saya akan berdiam sejenak, membaca pesan-pesan yang dia kirimkan untuk kedua kalinya atau ketiga kalinya bahkan kelima kalinya demi meyakinkan diri sendiri bahwa saya sedang tidak membaca novel romantis atau bermimpi di siang bolong.

Gue suka onion ring. Minta dong, kirim via merpati pos :D

Kesalahan berulang yang saya lakukan adalah membalas pesan-pesannya yang seolah-olah mengandung antibiotik itu. Bayangkan saja, pekerjaan saya yang menumpuk itu ibarat penyakit yang membuat saya tidak sehat dan dia ibarat antibiotik yang menyembuhkan. Sedangkan mengkonsumsi antibiotik berlebihan tanpa pengawasan dokter itu BAHAYA.

*ganti backsound: it’s oh so quite – bjork*
‘hei, nyet!’
Kamu tiba-tiba ada di depan saya dan membuat jantung saya hendak copot.
‘naik apa kesini?’ tanya saya.
‘ufo dong, nyet. Gue kan alien’ kamu terbahak.
Tanganmu langsung menyambar pergelangan tangan saya dan membawa saya masuk ke gedung bioskop. Huff.
‘nyet, gue beli bakpao dulu ya’ katamu
‘bakpoa?’ mata saya melotot. ‘nggak pop corn?’
‘ah, kita kan udah nggak ABG nyet, pop corn makanan ABG.. kita lebih berkelas dong, bakpao! Lagian, makan pop corn nggak bikin kita balik ke usia 17 tahun. Oke, tunggu aja disini!’

Humormu membuat jantung saya bergetar lagi. Ah, setipis apa jarak kita hingga jantung saya yang tebal ini kamu getarkan berkali-kali.
‘yuk nyet masuk!’ Kini lenganmu sudah melingkar di bahu saya.

Hampir dua jam kita disuguhi tontonan yang mengocok perut. Bakpao sudah habis. Minuman sudah habis dan film hampir tuntas. Kita menyandarkan punggung di kursi, membiarkan penonton berdesakan keluar begitu film selesai.
‘nyet, pulangnya gue anter ya’
‘ya ampun, rumah gue deket dari sini’
‘ayolah nyet, gue cuman mau mastiin lo sampai rumah dengan selamat’
‘hah, lo udah kayak pahlawan bertopeng aja’
‘yuk!’

Kamu bersikeras mengantar saya sampai rumah. Ah, saya jadi menanti saat-saat berikutnya setalah kita sampai di depan rumah saya. Kencan ini ibarat undian kuis berhadiah, tidak disangka-sangka datangnya—seperti sedang bermimpi mengelilingi bumi naik sapu terbang.
‘thanks ya nyet, uhmmm.. minggu depan ada pembacaan puisi di sanggar, gue ada tiket buat lo’ katamu.
‘liat ntar ya, semoga nggak sibuk’ kata saya.

Seminggu kemudian.
*backsound: another rainy day – corrine bailey*
Di luar hujan deras. Saya tatapi jalanan dari atas gedung bertingkat ini dengan seember resah. Setengah jam lagi aula itu pasti sudah disesaki tepuk tangan, kemudian hening sepanjang puisi dibacakan. Tapi, kamu belum juga datang. Saya putuskan turun ke loby, siapa tahu kamu sudah menunggu saya di bawah. Tiba-tiba pesanmu masuk.

Nyet, gue udah diluar, basah kuyup hehe.. tapi masih ganteng kok ;)

Kamu berdiri di luar dengan baju basah kuyup. Topi dan tas ransel masih melekat pada tubuhmu. Saya menghampirimu.
‘kayaknya kita ga jadi nonton, nyet’ katamu.
‘kayaknya’ saya tersenyum lebar. ‘beli bakso aja yuk disana’ usul saya sambil menunjuk warung bakso langganan.
‘siappppp’ katamu.

Saya tidak pandai mengeja kata yang dibisikkan hujan kali ini. Tapi saya yakin, kamu merasakan apa yang saya rasakan. Dada saya masih bergemuruh riuh. Perlahan-lahan saya ukir cerita pada sunyi yang tak terjamah kata. Benarkah kadang-kadang cinta tak perlu dirangkum kata?

Pati, 24 Oktober 2009
Puanassss, sumuuukkk, gerahhhhh.. huh.

Tatto Pada Punggungmu

•October 1, 2009 • 6 Comments

Tala Narendra.
Begitulah tulisan yang tak sengaja saya baca di punggungmu. Tatto.

Hari itu saya mampir ke rumahmu untuk mengambil file foto pre-wedding kami atas permintaan Kemal—calon suamiku yang notabene sahabat karibmu. Sebenarnya saya malas menyetir jauh-jauh, apalagi hari itu saya sedang memuaskan nafsu saya berbelanja di sebuah pertokoan yang jaraknya lumayan jauh dari rumahmu. Tapi, Kemal lembur sampai malam di kantor dan besok pagi foto-foto itu harus sudah berada ditangan designer undangan.

Saat saya tiba, pintu rumahmu sedikit terbuka. Saya panggil-panggil namamu.
‘Ren?’ Saya dorong pintu agar terbuka lebih lebar. ‘ini Tala’
Tidak ada jawaban. Kaki saya kini telah menginjak bagian dalam lantai ruang tamu, tentu saja masih dengan memanggil-manggil nama Si Empunya rumah.
‘Rendy?’
Kini saya tahu kamu sedang apa saat kaki saya sudah melewati ruang tamumu yang bersih dan harum itu. Kamu sedang memasak rupanya. Saya letakkan tas di sofa lalu berjalan lurus melewati lorong menuju dapur. Bau wangi memanggil-manggil nama saya agar bergegas mencicipi.

Tapi tiba-tiba saya terperanjat. Kamu sedang menggoreng sesuatu, memunggungi saya, dan tidak menyadari kehadiran saya. Punggungmu yang mengkilat karena basah keringat itu menyodori saya kejutan. Nama saya tergores disana. Abadi.
‘Halo’ sapa saya mengusikmu.
Spontan kamu menoleh dan membalik tubuh. Kamu matikan kompor gasmu yang apinya biru itu.
‘Eh Tala.. Mau ambil file foto ya?’ tanyamu.
‘Iya’ kataku.
‘Yuk!’ Kamu bawa aku melintasi beberapa ruangan sebelum sampai studiomu.

Saya duduk di sofa merah yang menghadap taman, sedang kamu selepas menyalakan komputer sibuk mencari-cari CD kosong di laci bufet. Ruangan ini mendadak jadi hening. Padahal biasanya saya sudah menelusur kesana kemari dan bertanya tentang barang-barang yang tidak saya kenal di kamarmu.
‘Ren?’
‘Heh?’ Kamu menoleh pada saya.
‘Apa maksud tatto di punggungmu?’ tanya saya.
Ah, barangkali pertanyaan saya barusan seperti petir yang menghanguskanmu. Tidak basa-basi. Lemas kamu duduk di depan komputer. Rautmu berubah. Raut yang sama sekali belum pernah saya lihat selama saya mengenalmu.
‘Mengabadikanmu saja’ katamu lalu berdiri, menyodori saya CD yang saya minta.
Lalu kamu berjalan mendekati sebuah pintu. Pintu yang selalu terkunci dan setiap saya tanyakan apa isi ruangan itu, kamu selalu bilang itu gudang. Kamu buka pintunya, dan kamu mematung disana.
‘Aku menyimpanmu disini’ katamu.

Ruangan itu hanya berukuran 3×3 meter, dindingnya penuh foto saya dalam berbagai pose. Di sudut ruangan ada meja yang diatasnya terdapat kotak rokok yang ditata rapi. Kotak rokok itu milik saya yang selalu tertinggal setiap saya dan Kemal berkunjung ke rumahmu. Dan yang paling membuat saya terperanjat adalah buku gambar yang berisi sketsa wajah saya. Mendadak saya ingat pertemuan pertama saya dengan Kemal.
‘Jadi kamu yang membuat sketsa itu?’
‘Iya, hari itu aku buru-buru dan menitipkan buku sketsa itu pada Kemal, dan ternyata kamu mengira itu milik Kemal’ kamu tersenyum pada saya.

Kita saling bisu.
‘Kemal adalah kehidupanku, Tala. Waktu aku SMA, aku pernah kecelakaan dan butuh banyak darah. Darah Kemal lah yang mengaliri tubuhku. Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa kebahaiaan Kemal selalu jadi tujuanku’ katamu.
‘Iya’ balas saya lalu saya pamitan pulang.

Sepulang dari rumahmu, saya pergi ke kantor Kemal untuk membawakannya makan siang. Dia sumringah sekali melihat saya.
‘Ini foto-fotonya’
‘Rendy memang fotografer handal’ gumam Kemal puas. ‘dan aku tidak sabar menjadikanmu Nyonya Kemal’

Semarang, 1 Oktober 2009.
Menulis sambil menahan lapar.

A Cup Of Coffee

•September 29, 2009 • 5 Comments
from http://secangkirkopipagi.wordpress.com/the-coffer/

from http://secangkirkopipagi.wordpress.com/the-coffer/

Coffee freeze.
‘ini tentang selera’ katamu. Lalu kamu teguk sedikit kopi panasmu yang berjudul Kopi Toraja. Selang sedetik kemudian, kamu raih kotak rokok dan korek api dari saku jaket.
‘kupikir ini tentang cara manusia me(nyaman)kan diri’ kata saya.
Kamu yang sedang menyalakan korek tiba-tiba mengacungkan ibu jarimu untuk saya seolah-olah pendapat saya itu begitu menggugah rasa ketertarikanmu yang lebih sering mati suri. Saya meringis. Senang rasanya melihatmu punya minat pada pembicaraan ini.
‘lalu kenapa kamu suka kopi dingin? Bukannya sensasi yang ditawarkan jadi..’ tiba-tiba kamu dekatkan bibirmu pada telingaku ‘sedikit..’ pelan-pelan kamu bisikkan kata itu. ‘berkurang..’
‘esensinya tetap sama kan?’ Kini saya memberi kamu kesempatan untuk berpikir, atau barangkali menyetujui pendapat saya.

Coffee freeze.
Barangkali tak jauh beda dengan permen kopi, krim kopi, lulur kopi, parfum kopi, biskuit kopi atau apalah yang berasa dan beraroma kopi. Hanya sebuah inovasi dimana manusia berusaha me(nyaman)kan dirinya. Waktu saya kecil, tidak pernah saya temui es kopi/kopi dingin. Kopi selalu dihidangkan dalam gelas bertelinga atau cangkir dan identik dengan uap panas diatasnya yang melayang-layang seperti ilustrasi setan dalam film kartun. Hitam kecoklatan, kasar, panas, pahit dan maskulin. Minuman ini cenderung mempengaruhi status sosial, entah kenapa. Lalu seiring perkembangannya, muncullah kopi instant. Lebih lembut dan tampak lebih elegan. Penikmat kopi jadi lebih beragam.

Sekarang ini, kopi lebih populer. Apalagi sepak terjangnya di dunia industri, sungguh luar biasa. Coffee shop yang semakin menjamur diatasnamakan sebagai penghormatan tertinggi pada kopi. Lulur kopi diminati para gadis dan ibu-ibu. Minuman kopi berkaleng mulai beredar di pasaran. Fantastis. Dan diantara itu semua, saya bertemu dengan seorang backpacker yang mencintai kemurnian kopi. Ganjil memang rasanya. Cenderung menggelitik.

Buat saya sendiri, tidak begitu masalah bila ‘sesuatu’ bermetamorfosis menjadi ‘sesuatu’ yang lain. Seperti kopi. Saya angkat gelas saya yang telah kosong. Coffee freeze rasa jeruk. Bisa kalian bayangkan seperti apa? Kopi yang begitu manis dengan rasa jeruk segar, tidak ada dominasi rasa tertentu. Kita masih bisa menikmati kemurnian kopi sekaligus kemurnian jeruk segar. Interaksi rasa yang rumit namun cantik.

‘lalu bagaimana dengan kemurniannya?’ tanyamu.
‘ah, kadang-kadang kita sulit beradaptasi dengan sesuatu yang murni’ kata saya.
Kamu tersenyum sambil memandangi gelas kopimu yang sudah dingin. Sensasinya barangkali telah berkurang—seperti katamu.
‘biar kuhabiskan’ kata saya. ‘sudah dingin kan?’
Kami berpandangan lalu sama-sama tertawa.

Pati, 29 September 2009

Tak Cukup

•September 16, 2009 • 3 Comments

Pagi itu bisu saat kutemukan sobekan-sobekan kertas di kantong jas hitammu yang lusuh. Seperti sebuah surat yang ditulis seorang wanita. Kuendus sekali dan baunya wangi bukan kepalang. Kertasnya yang setebal 80 gsm itu berkerut. Barangkali bekas diremas sebelum disobek. Aku gelisah sendirian di kamar itu, bukan karena takut kamu akan kembali dan memergoki aku berusaha menggabungkan potongan-potongan kertas itu tapi aku lebih takut akan reaksi atas diriku sendiri. Dadaku sesak gemuruh, tanganku gemetaran. Aku memang bukan pemasang puzzle yang handal, batinku.

“Inez? Kacamata hitamku ketinggalan di laci, bisa ambilkan untukku Sayang?”
“Iya” teriakku dari dalam kamar.
Kamu tak mungkin masuk rumah karena aku tahu kamu malas melepas sepatu bootsmu yang penuh lumpur itu. Buru-buru aku berlari keluar sambil membawa kacamata hitam kesayanganmu. Kulihat kamu berdiri di tengah-tengah pintu sambil berkacak pinggang.
“Makasih, Sayang. Aku buru-buru” katamu sambil mencium pipiku yang hangat. Semoga kamu tidak mencium kegelisahan yang sedang menyala-nyala seperti bara ini.

Selepas mengantarmu sampai gerbang, aku masuk dan menekuni puzzle itu lagi. Kali ini aku berhasil membaca kalimat pertama yang tertulis rapi dengan pena biru mahal pemberianku dan aku tahu siapa pengirimnya. Dalam kamar kita yang lapang itu aku menangis sendirian disisi tempat tidur. Rasanya campur aduk dan mustahil perasaan ini dapat dinikmati apalagi digambarkan. Kuseka airmataku lalu aku mandi. Pukul Sembilan aku harus stand by di kantor untuk mempersiapkan rapat bulanan. Tiba-tiba telpon rumah berdering.

“Lima menit lagi aku sampai di depan rumahmu” kata suara diseberang yang tak lain teman kantorku.
“Aku berangkat sendiri saja, harus mampir ke rumah sepupu soalnya” kataku.
“Kan sekalian bisa, searah kan?” suara diseberang masih menawari.
“Tinggal saja, aku ada sedikit urusan keluarga” kataku datar.
“Baiklah”
Klik.

Sesampai di kantor, gelisah itu makin jadi. Aku menyiapkan beberapa keperluan untuk rapat nanti siang. Bos ingin sesuatu yang istimewa dariku, dia ingin bunga-bunga segar dipasang di sudut-sudut ruangan, makan siang yang sederhana tapi menarik, dan perlengkapan yang bagus tetapi murah.
“Aku butuh beberapa spidol cadangan” kataku.
“Eh, aku punya banyak stok di laci, ambil saja” kata temanku. “lacinya tidak dikunci kok”
“Oke, kuambil sekarang daripada bos kita ngomel”

Kubuka laci itu dengan tergesa-gesa untuk mengambil stok spidol, tetapi justru yang kudapati beberapa amplop warna biru yang sisinya telah digunting. Amplop yang kukenal karena jari-jariku ini yang membuatnya. Amplop yang jadi ciri khas kami. Kubuka satu persatu. Sesuatu yang membahagiakan tentunya. Sesuatu yang pernah juga kamu berikan padaku dulu, barangkali juga perempuan-perempuan sebelum aku atau barangkali juga setelah aku. Ya, kamu memang amat menyenangkan untuk banyak orang tak terkecuali aku. Belum semua surat kubaca, komputer di meja yang menyala itu meletupkan bunyi tanda pesan.

Belinda…
Aku terperanjat saat melihat siapa pengirimnya. Kamu, suamiku. Kulepaskan amplop-amplop itu lalu aku menutup pesanmu, menuju meja kerjaku, menyambung koneksi agar tersambung denganmu. Kamu tidak menyapaku sama sekali seperti kamu menyapa Belinda dengan mesra.
“Malah pacaran” Belinda tiba-tiba muncul sambil senyum-senyum.
“Iya ni, kangen” kataku.
“Uh uh uh.. Tiap malam juga ketemu” sambung Belinda.
Dan dalam hati aku menangis.

Sepanjang rapat aku berkonsentrasi pada laporan-laporan yang harus kukerjakan dalam sehari. Belinda sibuk dengan blackberry barunya. Sedang teman-teman yang lain termasuk bos menikmati suasana rapat yang santai ini. Begitu rapat selesai, aku minta ijin pulang lebih awal. Aku ingin memasak rica-rica ayam kesukaanmu. Belinda menghadangku di lorong dekat pintu keluar.
“Besok kita jadi nonton bertiga kan?” tanya Belinda.
“Mungkin” jawabku sambil tersenyum.
“Oke, have a nice day” kata Belinda.
“Ya”

Sepanjang perjalanan pulang, suratmu yang tertulis rapi untuk Belinda terbayang-bayang dikepalaku. Begitukah aku? Ataukah hanya kamu yang sebetulnya tidak mengenalku? Entahlah, aku ingin sekali memaklumi semua ini meski sulit.

Rupanya bagian terberat dari mencintaimu adalah saat aku tahu bahwa aku tak lagi ‘cukup’ untukmu..

Semarang, 16 September 2009

Lari

•September 3, 2009 • 4 Comments

 

“Aku ragu semuanya akan berjalan lancar” kata saya.
“Tinggal selangkah lagi, Nje. Bukankah masa depan yang indah yang diinginkan setiap wanita hampir kamu petik?” kata Sihab.
Kami berpandangan. Ada gelisah tipis yang kami sembunyikan dibalik kenyamanan ini.
“Tapi aku bertemu dengan orang lain, Sihab” kata saya. “Meski, entah” saya lempar muka jauh untuk menghindari kegelisahan yang makin kentara.

Kami berjalan menyusuri dua sisi jalanan yang bermuara pada peraduan matahari. Saya disebelah kiri, Sihab disebelah kanan ketika tiba-tiba sebuah mobil melintas dengan kencang dan berhasil menerbangkan selendang tipis yang bergelantung mesra pada leher saya.

“Shit!” teriak saya.
Sihab berlari mengejarnya. Dia turuni lintasan jalan sampai pada ladang penuh rerumputan hijau. Berhasil pula ia tangkap selendang tipis warna biru itu lalu dilambaikan ke arah saya. Saya tersenyum lalu berlari kearahnya.
“Nih” katanya sambil mengalungkannya ke leher saya. “Harusnya diikat seperti ini”
“Ah, ini kan hanya hiasan”
“Tapi begini lebih bagus, Nje” Sihab memandangi selendang yang melingkar manis di leher saya itu sambil tersenyum.

Angin makin kencang berhembus. Bayangan kami ditelan ilalang yang tingginya hampir selutut. Saya berjalan di belakang Sihab sambil berpegangan pada ujung kaosnya.
“Apakah kamu akan menunggu aku pulang?” tanya saya. “Ehmm, maksudku dalam beberapa tahun ini aku ingin mengunjungi hutan-hutan yang masih perawan dan pantai berkarang”
“Dalam rangka menghilang?” tanya Sihab.
Saya menghela nafas panjang.
“Mengurangi rasa bersalah pada dua keluarga yang hampir bersatu” kata saya.

Matahari semakin rendah. Kemilau langit jingga kian meredup bercampur dengan nafas malam yang baru dihembuskan. Sihab menarik saya ke jalanan.
“Kita ada diantara banyak manusia dan beberapa hal” kata Sihab.
“Ya” sahut saya.
“Bagaimana tunanganmu?” tanya Sihab.
“Kadang-kadang yang terbaik bukan yang kita butuhkan..”
Kami berpandangan lagi lalu dia menunduk sambil tersenyum. Saya ikut tersenyum lalu masuk mobil.
“Dengan kata lain aku bukan yang terbaik, begitu?” Sihab masih tersenyum sambil menyalakan mesin mobil.
“ya” saya tertawa “tapi setidaknya kamu tidak membuatku jadi orang lain”

Dan hari itu Sihab mengantar saya ke stasiun. Berat sekali berpisah dengannya. Sama beratnya dengan memikul ransel saya ini. Sekali lagi saya telusuri detailnya dari ujung rambut sampai ujung sepatunya. Saya akan kembali, janji saya dalam hati.
“Hati-hati” kata Sihab. Saya mengangguk lalu masuk kereta.
Sengaja saya masuk belakangan agar tidak terlalu lama berada dalam tema perpisahan. Namun saat saya hendak melambaikan tangan, Sihab sudah berbalik pergi.

Jakarta-Semarang-Surabaya. Disana saya akan bertemu dengan rekan lalu kami akan memulai petualangan. Ah, tidak sabar. Saya tersenyum lalu memejamkan mata. Biar kereta ini membawa saya pada masa yang lain. Siapa tahu banyak pelajaran berharga yang saya dapat dari pelarian ini.

Ketika kereta berhenti di Surabaya. Mendadak saya merasakan sepi yang amat sangat ditengah-tengah keramaian. Inikah yang disebut menunggu? Saya buru-buru turun diantara orang-orang yang berisik memastikan barang mereka aman dan tak ada satupun yang ketinggalan. Untuk pertama kalinya saya hirup udara kebebasan. Dan, ups.
“Maaf” kataku spontan saat aku menabrak seseorang di depanku.
Lalu aku terperanjat kaget saat orang itu membuka topi.
“Sihab?”
Sihab merengkuh bahuku, mendekatkan bibirnya pada telingaku dan berbisik.
“Kita akan lari bersama”

Semarang, 03-09-2009