I Love You always

•November 9, 2009 • 1 Comment

One more time to say I love you always
and keeping faith letting love find a way
(The Used – Find A Way)

‘hei..’
Begitu kamu menyapa saya setelah beberapa tahun kita dipisahkan tembok beku yang angkuhnya melebihi Everest. Saya sudah tak peduli lagi seberapa keras usaha saya untuk menghancurkan tembok besar itu, karena hari ini saya hanya melihat Sakura berguguran menutupi jalanan.
‘aku bisa jelaskan tentang..’
‘tidak perlu dijelaskan’ kamu memotong kalimat saya yang baru sepenggal. ‘aku tahu perasaanmu masih tetap sama’

Ada amarah yang menggantung manja di bahu saya. Amarah yang saya tujukan untuk diri saya sendiri. Lalu kita sibuk dengan basa-basi busuk. Mengenang beberapa kejadian masa lalu dan masih itu-itu saja. Memaki dunia dalam perspektif yang sama, membicarakan orang-orang hebat yang mati muda, dan berharap bisa meniru jejak mereka.

‘begitulah monster’ katamu.
Saya tertawa.
‘apa kabarmu?’ kamu bertanya setelah basa-basi busuk berakhir.
‘tidak begitu baik karena aku harus kehilanganmu’ kata saya.
‘ah, shit!’ kamu memaki saya dan saya tertawa.

Saya tidak percaya kita sedekat ini. Barangkali lebih dekat dari sekedar sentuhan. Kita tembus batas-batas tak berbatas itu hingga pelukanmu bukan lagi fantasi liar yang menjelma jadi mimpi-mimpi tak ber-ending, tapi nyaris saya ciumi parfummu yang legit. Andai saja ini bukan hanya kumpulan kata yang saya cipta untuk merangkum pertemuan kita yang singkat itu, barangkali saya akan membiarkan ribuan rencana dihempas angin. Saya akan ikuti kemana kakimu melangkah. Saya sudi membayar karma ini asal bisa bersamamu lagi.

‘jangan pedulikan semuanya, jalan saja ke depan’ pesanmu.
Saya mengangguk matap.
‘selalu begitu, selalu begitu’ kata saya.
‘bagus!’

Tiba-tiba saya masuki rumah kosong tak berpenghuni itu tanpa sepengetahuanmu. Dalam kegelapan ini saya bisa melihatmu, sedang kamu tak bisa melihat saya. Kamu masih saja duduk di bangku panjang yang terbuat dari besi itu. Kadang-kadang melamun, kadang-kadang tertawa, dan menangis sendirian. Ya, kalau saja kamu tahu, saya memandangimu sampai terik mengucapkan selamat pagi. Saya tidak pernah pergi. Saya hanya bersembunyi dalam ruangan kosong penuh debu ini. Menepati janji.

Dan sayup-sayup lagumu saya hayati dalam hati.
“One more time to say I love you always
and keeping faith letting love find a way
more time to say I love you always
and keeping faith letting love find a way…”

Pati, 9 November 2009

Earthquake

•November 9, 2009 • Leave a Comment

She had an earthquake on her mind
I almost heard her cry out as I left her far behind
and knew the world was crashing down around her

I sink to the ocean floor because I
know that we are more but
I’ve made this mess
I built this fire, Are you still mine?

She had an earthquake on her mind
apparently the kind that would
bury us alive
by putting all this weight on us foreve
I lie here on the ocean floor broken
castle by the shore and
I made this mess
I built this fire, Are you still mine?

Let me save us
I’ve slaughtered us, I’ve murdered our love
I can taste it, This blood in my mouth
This knife in my lungs
Have I murdered our love?

Please be all mine

Cause baby I’m not all right when you go
I’m not fine, Please be all mine
I never want you to go because I am all
yours so please be all mine.

by The Used

Kembang Api

•October 25, 2009 • 4 Comments

*backsound: olsen olsen – sigur ros*
Dia seperti kembang api—indah tetapi tidak untuk disentuh. Kalau hatimu terbakar, itu karena hatimu terbuat dari kertas dan kamu membiarkan percikan-percikan apinya menyentuhmu. Lalu sekarang hatimu berlubang kecil-kecil menyerupai polkadot dan kamu selalu ingin melompat-lompat kegirangan saat pesan-pesannya menyapamu di kantor.

Hmmm.. sarapan mr. burger dan teh anget di dekat kampus, nyet.

Aduh, kenapa sih harus laporan? Mendadak, dia membuat saya anemia. Hati saya yang lama tidak disentuh dan beku ini terurai jadi butiran pasir yang melorot jatuh dari genggaman. Sistem tubuh saya bekerja tidak normal—dagdigdug.com. Lalu saya akan berdiam sejenak, membaca pesan-pesan yang dia kirimkan untuk kedua kalinya atau ketiga kalinya bahkan kelima kalinya demi meyakinkan diri sendiri bahwa saya sedang tidak membaca novel romantis atau bermimpi di siang bolong.

Gue suka onion ring. Minta dong, kirim via merpati pos :D

Kesalahan berulang yang saya lakukan adalah membalas pesan-pesannya yang seolah-olah mengandung antibiotik itu. Bayangkan saja, pekerjaan saya yang menumpuk itu ibarat penyakit yang membuat saya tidak sehat dan dia ibarat antibiotik yang menyembuhkan. Sedangkan mengkonsumsi antibiotik berlebihan tanpa pengawasan dokter itu BAHAYA.

*ganti backsound: it’s oh so quite – bjork*
‘hei, nyet!’
Kamu tiba-tiba ada di depan saya dan membuat jantung saya hendak copot.
‘naik apa kesini?’ tanya saya.
‘ufo dong, nyet. Gue kan alien’ kamu terbahak.
Tanganmu langsung menyambar pergelangan tangan saya dan membawa saya masuk ke gedung bioskop. Huff.
‘nyet, gue beli bakpao dulu ya’ katamu
‘bakpoa?’ mata saya melotot. ‘nggak pop corn?’
‘ah, kita kan udah nggak ABG nyet, pop corn makanan ABG.. kita lebih berkelas dong, bakpao! Lagian, makan pop corn nggak bikin kita balik ke usia 17 tahun. Oke, tunggu aja disini!’

Humormu membuat jantung saya bergetar lagi. Ah, setipis apa jarak kita hingga jantung saya yang tebal ini kamu getarkan berkali-kali.
‘yuk nyet masuk!’ Kini lenganmu sudah melingkar di bahu saya.

Hampir dua jam kita disuguhi tontonan yang mengocok perut. Bakpao sudah habis. Minuman sudah habis dan film hampir tuntas. Kita menyandarkan punggung di kursi, membiarkan penonton berdesakan keluar begitu film selesai.
‘nyet, pulangnya gue anter ya’
‘ya ampun, rumah gue deket dari sini’
‘ayolah nyet, gue cuman mau mastiin lo sampai rumah dengan selamat’
‘hah, lo udah kayak pahlawan bertopeng aja’
‘yuk!’

Kamu bersikeras mengantar saya sampai rumah. Ah, saya jadi menanti saat-saat berikutnya setalah kita sampai di depan rumah saya. Kencan ini ibarat undian kuis berhadiah, tidak disangka-sangka datangnya—seperti sedang bermimpi mengelilingi bumi naik sapu terbang.
‘thanks ya nyet, uhmmm.. minggu depan ada pembacaan puisi di sanggar, gue ada tiket buat lo’ katamu.
‘liat ntar ya, semoga nggak sibuk’ kata saya.

Seminggu kemudian.
*backsound: another rainy day – corrine bailey*
Di luar hujan deras. Saya tatapi jalanan dari atas gedung bertingkat ini dengan seember resah. Setengah jam lagi aula itu pasti sudah disesaki tepuk tangan, kemudian hening sepanjang puisi dibacakan. Tapi, kamu belum juga datang. Saya putuskan turun ke loby, siapa tahu kamu sudah menunggu saya di bawah. Tiba-tiba pesanmu masuk.

Nyet, gue udah diluar, basah kuyup hehe.. tapi masih ganteng kok ;)

Kamu berdiri di luar dengan baju basah kuyup. Topi dan tas ransel masih melekat pada tubuhmu. Saya menghampirimu.
‘kayaknya kita ga jadi nonton, nyet’ katamu.
‘kayaknya’ saya tersenyum lebar. ‘beli bakso aja yuk disana’ usul saya sambil menunjuk warung bakso langganan.
‘siappppp’ katamu.

Saya tidak pandai mengeja kata yang dibisikkan hujan kali ini. Tapi saya yakin, kamu merasakan apa yang saya rasakan. Dada saya masih bergemuruh riuh. Perlahan-lahan saya ukir cerita pada sunyi yang tak terjamah kata. Benarkah kadang-kadang cinta tak perlu dirangkum kata?

Pati, 24 Oktober 2009
Puanassss, sumuuukkk, gerahhhhh.. huh.

Tatto Pada Punggungmu

•October 1, 2009 • 4 Comments

Tala Narendra.
Begitulah tulisan yang tak sengaja saya baca di punggungmu. Tatto.

Hari itu saya mampir ke rumahmu untuk mengambil file foto pre-wedding kami atas permintaan Kemal—calon suamiku yang notabene sahabat karibmu. Sebenarnya saya malas menyetir jauh-jauh, apalagi hari itu saya sedang memuaskan nafsu saya berbelanja di sebuah pertokoan yang jaraknya lumayan jauh dari rumahmu. Tapi, Kemal lembur sampai malam di kantor dan besok pagi foto-foto itu harus sudah berada ditangan designer undangan.

Saat saya tiba, pintu rumahmu sedikit terbuka. Saya panggil-panggil namamu.
‘Ren?’ Saya dorong pintu agar terbuka lebih lebar. ‘ini Tala’
Tidak ada jawaban. Kaki saya kini telah menginjak bagian dalam lantai ruang tamu, tentu saja masih dengan memanggil-manggil nama Si Empunya rumah.
‘Rendy?’
Kini saya tahu kamu sedang apa saat kaki saya sudah melewati ruang tamumu yang bersih dan harum itu. Kamu sedang memasak rupanya. Saya letakkan tas di sofa lalu berjalan lurus melewati lorong menuju dapur. Bau wangi memanggil-manggil nama saya agar bergegas mencicipi.

Tapi tiba-tiba saya terperanjat. Kamu sedang menggoreng sesuatu, memunggungi saya, dan tidak menyadari kehadiran saya. Punggungmu yang mengkilat karena basah keringat itu menyodori saya kejutan. Nama saya tergores disana. Abadi.
‘Halo’ sapa saya mengusikmu.
Spontan kamu menoleh dan membalik tubuh. Kamu matikan kompor gasmu yang apinya biru itu.
‘Eh Tala.. Mau ambil file foto ya?’ tanyamu.
‘Iya’ kataku.
‘Yuk!’ Kamu bawa aku melintasi beberapa ruangan sebelum sampai studiomu.

Saya duduk di sofa merah yang menghadap taman, sedang kamu selepas menyalakan komputer sibuk mencari-cari CD kosong di laci bufet. Ruangan ini mendadak jadi hening. Padahal biasanya saya sudah menelusur kesana kemari dan bertanya tentang barang-barang yang tidak saya kenal di kamarmu.
‘Ren?’
‘Heh?’ Kamu menoleh pada saya.
‘Apa maksud tatto di punggungmu?’ tanya saya.
Ah, barangkali pertanyaan saya barusan seperti petir yang menghanguskanmu. Tidak basa-basi. Lemas kamu duduk di depan komputer. Rautmu berubah. Raut yang sama sekali belum pernah saya lihat selama saya mengenalmu.
‘Mengabadikanmu saja’ katamu lalu berdiri, menyodori saya CD yang saya minta.
Lalu kamu berjalan mendekati sebuah pintu. Pintu yang selalu terkunci dan setiap saya tanyakan apa isi ruangan itu, kamu selalu bilang itu gudang. Kamu buka pintunya, dan kamu mematung disana.
‘Aku menyimpanmu disini’ katamu.

Ruangan itu hanya berukuran 3×3 meter, dindingnya penuh foto saya dalam berbagai pose. Di sudut ruangan ada meja yang diatasnya terdapat kotak rokok yang ditata rapi. Kotak rokok itu milik saya yang selalu tertinggal setiap saya dan Kemal berkunjung ke rumahmu. Dan yang paling membuat saya terperanjat adalah buku gambar yang berisi sketsa wajah saya. Mendadak saya ingat pertemuan pertama saya dengan Kemal.
‘Jadi kamu yang membuat sketsa itu?’
‘Iya, hari itu aku buru-buru dan menitipkan buku sketsa itu pada Kemal, dan ternyata kamu mengira itu milik Kemal’ kamu tersenyum pada saya.

Kita saling bisu.
‘Kemal adalah kehidupanku, Tala. Waktu aku SMA, aku pernah kecelakaan dan butuh banyak darah. Darah Kemal lah yang mengaliri tubuhku. Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa kebahaiaan Kemal selalu jadi tujuanku’ katamu.
‘Iya’ balas saya lalu saya pamitan pulang.

Sepulang dari rumahmu, saya pergi ke kantor Kemal untuk membawakannya makan siang. Dia sumringah sekali melihat saya.
‘Ini foto-fotonya’
‘Rendy memang fotografer handal’ gumam Kemal puas. ‘dan aku tidak sabar menjadikanmu Nyonya Kemal’

Semarang, 1 Oktober 2009.
Menulis sambil menahan lapar.

A Cup Of Coffee

•September 29, 2009 • 4 Comments
from http://secangkirkopipagi.wordpress.com/the-coffer/

from http://secangkirkopipagi.wordpress.com/the-coffer/

Coffee freeze.
‘ini tentang selera’ katamu. Lalu kamu teguk sedikit kopi panasmu yang berjudul Kopi Toraja. Selang sedetik kemudian, kamu raih kotak rokok dan korek api dari saku jaket.
‘kupikir ini tentang cara manusia me(nyaman)kan diri’ kata saya.
Kamu yang sedang menyalakan korek tiba-tiba mengacungkan ibu jarimu untuk saya seolah-olah pendapat saya itu begitu menggugah rasa ketertarikanmu yang lebih sering mati suri. Saya meringis. Senang rasanya melihatmu punya minat pada pembicaraan ini.
‘lalu kenapa kamu suka kopi dingin? Bukannya sensasi yang ditawarkan jadi..’ tiba-tiba kamu dekatkan bibirmu pada telingaku ‘sedikit..’ pelan-pelan kamu bisikkan kata itu. ‘berkurang..’
‘esensinya tetap sama kan?’ Kini saya memberi kamu kesempatan untuk berpikir, atau barangkali menyetujui pendapat saya.

Coffee freeze.
Barangkali tak jauh beda dengan permen kopi, krim kopi, lulur kopi, parfum kopi, biskuit kopi atau apalah yang berasa dan beraroma kopi. Hanya sebuah inovasi dimana manusia berusaha me(nyaman)kan dirinya. Waktu saya kecil, tidak pernah saya temui es kopi/kopi dingin. Kopi selalu dihidangkan dalam gelas bertelinga atau cangkir dan identik dengan uap panas diatasnya yang melayang-layang seperti ilustrasi setan dalam film kartun. Hitam kecoklatan, kasar, panas, pahit dan maskulin. Minuman ini cenderung mempengaruhi status sosial, entah kenapa. Lalu seiring perkembangannya, muncullah kopi instant. Lebih lembut dan tampak lebih elegan. Penikmat kopi jadi lebih beragam.

Sekarang ini, kopi lebih populer. Apalagi sepak terjangnya di dunia industri, sungguh luar biasa. Coffee shop yang semakin menjamur diatasnamakan sebagai penghormatan tertinggi pada kopi. Lulur kopi diminati para gadis dan ibu-ibu. Minuman kopi berkaleng mulai beredar di pasaran. Fantastis. Dan diantara itu semua, saya bertemu dengan seorang backpacker yang mencintai kemurnian kopi. Ganjil memang rasanya. Cenderung menggelitik.

Buat saya sendiri, tidak begitu masalah bila ‘sesuatu’ bermetamorfosis menjadi ‘sesuatu’ yang lain. Seperti kopi. Saya angkat gelas saya yang telah kosong. Coffee freeze rasa jeruk. Bisa kalian bayangkan seperti apa? Kopi yang begitu manis dengan rasa jeruk segar, tidak ada dominasi rasa tertentu. Kita masih bisa menikmati kemurnian kopi sekaligus kemurnian jeruk segar. Interaksi rasa yang rumit namun cantik.

‘lalu bagaimana dengan kemurniannya?’ tanyamu.
‘ah, kadang-kadang kita sulit beradaptasi dengan sesuatu yang murni’ kata saya.
Kamu tersenyum sambil memandangi gelas kopimu yang sudah dingin. Sensasinya barangkali telah berkurang—seperti katamu.
‘biar kuhabiskan’ kata saya. ‘sudah dingin kan?’
Kami berpandangan lalu sama-sama tertawa.

Pati, 29 September 2009

Tak Cukup

•September 16, 2009 • 3 Comments

Pagi itu bisu saat kutemukan sobekan-sobekan kertas di kantong jas hitammu yang lusuh. Seperti sebuah surat yang ditulis seorang wanita. Kuendus sekali dan baunya wangi bukan kepalang. Kertasnya yang setebal 80 gsm itu berkerut. Barangkali bekas diremas sebelum disobek. Aku gelisah sendirian di kamar itu, bukan karena takut kamu akan kembali dan memergoki aku berusaha menggabungkan potongan-potongan kertas itu tapi aku lebih takut akan reaksi atas diriku sendiri. Dadaku sesak gemuruh, tanganku gemetaran. Aku memang bukan pemasang puzzle yang handal, batinku.

“Inez? Kacamata hitamku ketinggalan di laci, bisa ambilkan untukku Sayang?”
“Iya” teriakku dari dalam kamar.
Kamu tak mungkin masuk rumah karena aku tahu kamu malas melepas sepatu bootsmu yang penuh lumpur itu. Buru-buru aku berlari keluar sambil membawa kacamata hitam kesayanganmu. Kulihat kamu berdiri di tengah-tengah pintu sambil berkacak pinggang.
“Makasih, Sayang. Aku buru-buru” katamu sambil mencium pipiku yang hangat. Semoga kamu tidak mencium kegelisahan yang sedang menyala-nyala seperti bara ini.

Selepas mengantarmu sampai gerbang, aku masuk dan menekuni puzzle itu lagi. Kali ini aku berhasil membaca kalimat pertama yang tertulis rapi dengan pena biru mahal pemberianku dan aku tahu siapa pengirimnya. Dalam kamar kita yang lapang itu aku menangis sendirian disisi tempat tidur. Rasanya campur aduk dan mustahil perasaan ini dapat dinikmati apalagi digambarkan. Kuseka airmataku lalu aku mandi. Pukul Sembilan aku harus stand by di kantor untuk mempersiapkan rapat bulanan. Tiba-tiba telpon rumah berdering.

“Lima menit lagi aku sampai di depan rumahmu” kata suara diseberang yang tak lain teman kantorku.
“Aku berangkat sendiri saja, harus mampir ke rumah sepupu soalnya” kataku.
“Kan sekalian bisa, searah kan?” suara diseberang masih menawari.
“Tinggal saja, aku ada sedikit urusan keluarga” kataku datar.
“Baiklah”
Klik.

Sesampai di kantor, gelisah itu makin jadi. Aku menyiapkan beberapa keperluan untuk rapat nanti siang. Bos ingin sesuatu yang istimewa dariku, dia ingin bunga-bunga segar dipasang di sudut-sudut ruangan, makan siang yang sederhana tapi menarik, dan perlengkapan yang bagus tetapi murah.
“Aku butuh beberapa spidol cadangan” kataku.
“Eh, aku punya banyak stok di laci, ambil saja” kata temanku. “lacinya tidak dikunci kok”
“Oke, kuambil sekarang daripada bos kita ngomel”

Kubuka laci itu dengan tergesa-gesa untuk mengambil stok spidol, tetapi justru yang kudapati beberapa amplop warna biru yang sisinya telah digunting. Amplop yang kukenal karena jari-jariku ini yang membuatnya. Amplop yang jadi ciri khas kami. Kubuka satu persatu. Sesuatu yang membahagiakan tentunya. Sesuatu yang pernah juga kamu berikan padaku dulu, barangkali juga perempuan-perempuan sebelum aku atau barangkali juga setelah aku. Ya, kamu memang amat menyenangkan untuk banyak orang tak terkecuali aku. Belum semua surat kubaca, komputer di meja yang menyala itu meletupkan bunyi tanda pesan.

Belinda…
Aku terperanjat saat melihat siapa pengirimnya. Kamu, suamiku. Kulepaskan amplop-amplop itu lalu aku menutup pesanmu, menuju meja kerjaku, menyambung koneksi agar tersambung denganmu. Kamu tidak menyapaku sama sekali seperti kamu menyapa Belinda dengan mesra.
“Malah pacaran” Belinda tiba-tiba muncul sambil senyum-senyum.
“Iya ni, kangen” kataku.
“Uh uh uh.. Tiap malam juga ketemu” sambung Belinda.
Dan dalam hati aku menangis.

Sepanjang rapat aku berkonsentrasi pada laporan-laporan yang harus kukerjakan dalam sehari. Belinda sibuk dengan blackberry barunya. Sedang teman-teman yang lain termasuk bos menikmati suasana rapat yang santai ini. Begitu rapat selesai, aku minta ijin pulang lebih awal. Aku ingin memasak rica-rica ayam kesukaanmu. Belinda menghadangku di lorong dekat pintu keluar.
“Besok kita jadi nonton bertiga kan?” tanya Belinda.
“Mungkin” jawabku sambil tersenyum.
“Oke, have a nice day” kata Belinda.
“Ya”

Sepanjang perjalanan pulang, suratmu yang tertulis rapi untuk Belinda terbayang-bayang dikepalaku. Begitukah aku? Ataukah hanya kamu yang sebetulnya tidak mengenalku? Entahlah, aku ingin sekali memaklumi semua ini meski sulit.

Rupanya bagian terberat dari mencintaimu adalah saat aku tahu bahwa aku tak lagi ‘cukup’ untukmu..

Semarang, 16 September 2009

Lari

•September 3, 2009 • 4 Comments

 

“Aku ragu semuanya akan berjalan lancar” kata saya.
“Tinggal selangkah lagi, Nje. Bukankah masa depan yang indah yang diinginkan setiap wanita hampir kamu petik?” kata Sihab.
Kami berpandangan. Ada gelisah tipis yang kami sembunyikan dibalik kenyamanan ini.
“Tapi aku bertemu dengan orang lain, Sihab” kata saya. “Meski, entah” saya lempar muka jauh untuk menghindari kegelisahan yang makin kentara.

Kami berjalan menyusuri dua sisi jalanan yang bermuara pada peraduan matahari. Saya disebelah kiri, Sihab disebelah kanan ketika tiba-tiba sebuah mobil melintas dengan kencang dan berhasil menerbangkan selendang tipis yang bergelantung mesra pada leher saya.

“Shit!” teriak saya.
Sihab berlari mengejarnya. Dia turuni lintasan jalan sampai pada ladang penuh rerumputan hijau. Berhasil pula ia tangkap selendang tipis warna biru itu lalu dilambaikan ke arah saya. Saya tersenyum lalu berlari kearahnya.
“Nih” katanya sambil mengalungkannya ke leher saya. “Harusnya diikat seperti ini”
“Ah, ini kan hanya hiasan”
“Tapi begini lebih bagus, Nje” Sihab memandangi selendang yang melingkar manis di leher saya itu sambil tersenyum.

Angin makin kencang berhembus. Bayangan kami ditelan ilalang yang tingginya hampir selutut. Saya berjalan di belakang Sihab sambil berpegangan pada ujung kaosnya.
“Apakah kamu akan menunggu aku pulang?” tanya saya. “Ehmm, maksudku dalam beberapa tahun ini aku ingin mengunjungi hutan-hutan yang masih perawan dan pantai berkarang”
“Dalam rangka menghilang?” tanya Sihab.
Saya menghela nafas panjang.
“Mengurangi rasa bersalah pada dua keluarga yang hampir bersatu” kata saya.

Matahari semakin rendah. Kemilau langit jingga kian meredup bercampur dengan nafas malam yang baru dihembuskan. Sihab menarik saya ke jalanan.
“Kita ada diantara banyak manusia dan beberapa hal” kata Sihab.
“Ya” sahut saya.
“Bagaimana tunanganmu?” tanya Sihab.
“Kadang-kadang yang terbaik bukan yang kita butuhkan..”
Kami berpandangan lagi lalu dia menunduk sambil tersenyum. Saya ikut tersenyum lalu masuk mobil.
“Dengan kata lain aku bukan yang terbaik, begitu?” Sihab masih tersenyum sambil menyalakan mesin mobil.
“ya” saya tertawa “tapi setidaknya kamu tidak membuatku jadi orang lain”

Dan hari itu Sihab mengantar saya ke stasiun. Berat sekali berpisah dengannya. Sama beratnya dengan memikul ransel saya ini. Sekali lagi saya telusuri detailnya dari ujung rambut sampai ujung sepatunya. Saya akan kembali, janji saya dalam hati.
“Hati-hati” kata Sihab. Saya mengangguk lalu masuk kereta.
Sengaja saya masuk belakangan agar tidak terlalu lama berada dalam tema perpisahan. Namun saat saya hendak melambaikan tangan, Sihab sudah berbalik pergi.

Jakarta-Semarang-Surabaya. Disana saya akan bertemu dengan rekan lalu kami akan memulai petualangan. Ah, tidak sabar. Saya tersenyum lalu memejamkan mata. Biar kereta ini membawa saya pada masa yang lain. Siapa tahu banyak pelajaran berharga yang saya dapat dari pelarian ini.

Ketika kereta berhenti di Surabaya. Mendadak saya merasakan sepi yang amat sangat ditengah-tengah keramaian. Inikah yang disebut menunggu? Saya buru-buru turun diantara orang-orang yang berisik memastikan barang mereka aman dan tak ada satupun yang ketinggalan. Untuk pertama kalinya saya hirup udara kebebasan. Dan, ups.
“Maaf” kataku spontan saat aku menabrak seseorang di depanku.
Lalu aku terperanjat kaget saat orang itu membuka topi.
“Sihab?”
Sihab merengkuh bahuku, mendekatkan bibirnya pada telingaku dan berbisik.
“Kita akan lari bersama”

Semarang, 03-09-2009

Hari Ini Kita Berkenalan

•July 1, 2009 • 3 Comments

Malam itu, di bawah sinar lampu kota yang temaram dan kabur oleh rintik hujan saya dan kamu bertemu. Pertemuan dua orang asing yang benar-benar asing. Diawali dengan senyuman dan diakhiri dengan lambaian tangan.

‘sebaiknya kita masuk kesana’ katamu. Bibirmu yang indah itu pucat dan hampir beku.
‘ya,’ kata saya.
Kita berlari-lari kecil menyebrangi jalanan yang sesak kendaraan, kemudian masuk coffee shop yang diapit toko buku dan butik sepatu yang sedang menawarkan diskon besar-besaran. Kamu berjalan didepan saya, memilih meja paling pojok dekat kaca yang membuat kita tampak seperti ikan dalam akuarium.
‘tunggu! Biar aku menebak apa yang hendak kamu pesan’ katamu.
Saya tertawa renyah dengan mata menyipit tak percaya. Ah, tak mungkin kamu tahu apa yang saya pikirkan, batin saya dalam hati.

‘teh cammomile’ katanya dan seketika membuat saya ternganga.
Lalu kamu tertawa kecil, tampak bangga karena kamu berhasil membuat saya terheran-heran.
‘dari mana kamu tahu?’ tanyaku.
‘matamu yang berkata’ katanya.

Akhirnya saya memesan apa yang telah kamu tebak, sedang kamu memesan segelas Kopi Aceh tanpa gula. Sembari menunggu pesanan, saya keluarkan sekotak coklat yang tadi sore saya beli di toko roti dekat kantor. Sebenarnya kotak coklat itu hendak saya berikan pada seorang teman, namun urung. Saya sedang ingin menikmati sekotak coklat ini bersama kamu.

‘kenapa malam ini kita berdua duduk di satu melingkari meja yang sama?’ tanyamu sambil mengambil sebutir coklat sebesar tai kambing.
‘karena aku mau, dan kamu juga mau’ kata saya.
‘lalu apakah hari ini kita akan berkenalan?’ kamu bertanya lagi.
‘kurasa tidak’ kata saya mantap.
Kamu sepertinya setuju dengan pendapat saya yang terdengar sedikit ganjil.  Tapi sungguh saya tidak ingin mengenalmu lebih jauh. Barangkali karena saya tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Sayup-sayup suara Corrine Bailey Rae menyusup. Kamu dan saya sama-sama memandang keluar. Hujan masih merintik lembut dan saya yakin akan lama.

Beberapa tahun kemudian,
Malam ini, kali kedua saya masuk coffee shop ini. Saya duduk berdua dengan tas ransel saya yang berisi properti pribadi. Sejam yang lalu saya baru saja turun dari pesawat. Empat tahun ini saya mengelilingi sebagian dunia. Empat tahun ini saya tambatkan keasingan pada tiap tempat yang saya pijak. Namun kota ini selalu menarik-narik saya untuk pulang. Kota yang pernah menjadi tempat asing untuk saya. Kota yang pernah saya hakimi karena ketidakadilannya.

Waitres menghampiri, saya memesan teh cammomile tanpa membaca menu.

‘anda dapat surat dari orang itu’ waitres itu menyodori saya amplop sambil menunjuk sosok yang duduk di seberang meja.
Saya tak dapat melihat dengan jelas siapa sosok yang ditunjuk waitres itu karena lampu coffee shop ini begitu redup. Akhirnya saya buka amplop itu. Secarik kertas kecil berisi deretan kata itu berbunyi:

APAKAH HARI INI KITA AKAN BERKENALAN?

Saya tersenyum lebar.  Diluar tiba-tiba hujan turun rintik-rintik.

Silahkan dilanjutkan sendiri bila ingin mencari ending hehehe..
Untuk: seorang teman yang sedang galau hatinya.. Semoga cerita ini menghibur.. everybody loves you..

Kinan

•June 9, 2009 • 4 Comments

Kami bertemu lagi di sebuah pesta kebun usang yang penuh basabasi. Mendadak hujan deras mengguyur kami yang sedang menciumi aroma barbeque dan kulihat dia berlari-lari kecil mencari tempat berteduh sambil menutup kepalanya dengan clutch. Yogi di belakangnya dan mereka bergandengan tangan seperti pasangan pengantin baru. Serasi sekali dan tentu saja membuatku iri setengah mati.

Kinan tersenyum kecil ke arahku dan langsung melepaskan tangannya dari genggaman Yogi. Aku membalas dengan senyum hambar lalu menghilang dari tatapannya. Baru kemarin kulihat matanya merah karena menangis di tangga darurat, dan hari ini dia seperti bidadari jatuh cinta pada Jaka Tingkir. Wanita memang sulit dipahami.

“Tapi Yogi tidak punya cela. Seandainya kami putus, dia yang harus mengucapkan kata-kata itu” begitu katanya.
“Ya, aku tahu dan aku menunggu sampai Yogi punya cela” kataku.
Dan Kinan membisu. Matanya berkaca-kaca. Sungguh wanita memang aneh.

Pesta barbeque usai di dalam ruangan. Yogi Sang Pangeran bergitar unjuk kebolehan. Kinan sibuk mengobrol dengan teman kami namun tetap mengamati gerak gerikku seperti pengintai profesional. Kami berdua seperti sepasang penjahat yang bergerilya. Ah Kinan, kenapa harus ada Yogi diantara kita? Kenapa tak kamu biarkan semua orang-orang disini tahu bahwa kamu pernah berkata ‘aku sayang kamu’ padaku? Lagi-lagi, wanita memang aneh.

Beberapa bulan kemudian. Sandiwara Kinan terlaksana sempurna. Kinan dan Yogi putus, lalu kami melegalkan hubungan diatas luka hati Yogi. Dunia serasa milik berdua. Aku lupa siapa aku sebenarnya. Dia seperti sinar terang yang menyinari gelap duniaku. Ah, Kinan. Kubaca lagi file surat yang pernah kukirimkan pada Kinan.

Kinan..
Setiap hal dalam kehidupan memiliki setiap ketidakwajaran yg terlihat wajar. Teringat akan ucapanmu mengenai semua orang berhak untuk dapat kebahagiaan, sepatutnya aku akan mengejawantahkan hak kebahagiaan tersebut sebagai ungkapan syukur bahwa aku masih memiliki kehidupan, dan itu sudah kuamini laiknya kebahagiaan yang dimaksud. Aku bahagia, aku tidak bahagia, bagi mereka bahagia, bagi orang lain tidak, bagiku persetan dengan kebahagiaan. Sudah diberi nyawa sebagai manusia dan dilahirkan sebagai seorang Muslim saja sudah merupakan kebahagiaan yang tak terkira. Lalu apa? Apakah aku harus marah pada dunia? -Jika saja aku merasa tak bahagia dan terkadang aku masih beranggapan itu- Tapi segera saja kutepis dengan bentuk syukurku tadi, walaupun itu terasa hambar dan papa. Dalam sunyi aku menangis, dalam sunyi aku merinding, dalam sunyi aku semakin menikmati. Sepi. Sepi dan sepi. Lalu selalu saja aku mengumpat; ‘anjing’, dalam hati, dalam benak, terkadang malah secara lisan, bila menemukan momentum yang memungkinkan untuk menutupi kemarahanku yang sebenarnya.

Untuk itulah aku menyukai kesunyian, namun aku telah muak dengan sunyi, dengan sepi, itu semua termanipulasi dalam sosialisasi-sosialisasi usang yang kuciptakan dan coba kurenungi baik-baik. Kemudian aku mencoba menikmati keramaian, yang tenang, yang berirama dan terkadang bergejolak. Karena itulah aku mensyukuri kawan-kawan maupun musuh yang datang silih berganti, dan pernah juga mereka bertukar peran dan fungsi. Namun, mereka adalah harta-hartaku yang berharga. Bentuk manifestasi anugerah Tuhan yang dititipkan padaku. Namun, sejujurnya aku masih merasa mengkhianati Tuhan, aku malu pada-Nya, sekaligus sangat-sangat berterimakasih pada-Nya, dan aku bersyukur sampai saat ini aku tak pernah marah pada-Nya. Jangan sampai itu terjadi, karena aku akan menjadi makhluk paling menjijikkan, karena Iblis pun tak pernah berani marah pada-Nya.
Aku heran. Semenjak beberapa waktu berselang, aku menyadari kalau aku tak pernah benar-benar memiliki rasa cinta yang tulus. Walau demikian, aku masih memiliki rasa sayang yang layak. Kalau begitu, apakah bedanya ‘cinta’ dan ‘sayang’. Bahkan dalam bahasa Inggris pun kedua kata tersebut dijabarkan dalam definisi yang sama. Entah dengan bahasa kita. Tapi, aku memiliki pedoman tersendiri dalam memaknai kedua kata tersebut.

‘Cinta’ terhadap lawan jenis, aku pernah memproklamirkan bahwa aku sudah menemukan cinta. Pada akhirnya, aku menyadari bahwa itu semua hanyalah wacana semu dari perasaan yang selalu kontemporer. Lalu, aku menyadari bahwa untuk menemukan ‘cinta’ harus mengalami proses ‘kasih sayang’ yang berbelit-belit dan overdramatik. Harus mengalami proses take and give yang tulus dan membahagiakan. Untuk itu, bagiku saat ini rasa ‘cinta’ku yang kuanggap tulus baru terpaut pada 2 hal; Tuhan dan Ayahku. Untuk masa selanjutnya, mungkin rasa itu akan mencakup kepada anak dan istriku kelak.

‘Sayang’ perasaan ini begitu umum melanda setiap manusia tanpa mereka pernah menyadarinya. Rasa ini juga merupakan elemen kuat sekaligus akar dari ‘cinta’. Aku menyayangi kawan-kawanku, musuh-musuh, wanita-wanita itu dan [semoga] diriku sendiri. Bahkan ada ungkapan; ‘dekatkan musuhmu lebih dekat dari kawan dekatmu’. Hmm..Tapi aku tak sehebat itu. Bahkan mungkin saja musuh terbesarku adalah diriku sendiri. Rasa ini juga bertingkat-tingkat, sama halnya seperti tingkatan rasa ‘cinta’. Lebih tepatnya rasa ini dapat dikatakan selalu dinamis dan progresif, bertambah, berkurang, berulang-ulang sampai ke arah titik di mana dapat dikatakan mencapai ‘cinta’ atau ‘benci’  atau mungkin tetap menjadi rasa sayang yang ‘biasa’.

Aku terlalu lelah. Aku sangat merindukan rasa sayang yang menggebu-gebu seperti masa yang dulu. Tapi entah kenapa, kemarin dan saat ini atau mungkin selanjutnya tak pernah mencapai hasil yang bagiku akan membahagiakan orang lain. Aku seakan telah dikecewakan oleh berbagai pengalaman hidup yang sangat akumulatif dan cenderung memberi semacam peringatan untuk tidak terbuai oleh kefanaan ekstase cinta manusia. Cinta yang sejati hanya milik Tuhan. Tapi setidaknya wujud kecintaan kita kepada-Nya dapat diaplikasikan melalui proses pencarian cinta itu sendiri.

Inilah yang menjadi alasan-alasan utama tentang sikapku terhadap rasa cinta dan sayang. Aku telah menjadi orang yang sedingin embun dan membeku terbungkus selimut pagi. Tapi aku bukanlah orang yang menyesali hidup. Aku tak marah pada Tuhan. Aku mencintai-Nya seperti aku mencintai hidup, walaupun aku sedikit jenuh dengan kehidupan.

Selang beberapa waktu, aku dan Kinan berpisah. Perpisahan yang kulakukan sendiri. Perpisahan yang terpaksa kulakukan karena aku sendiri tidak pernah yakin bisa membahagiakan dia seperti dia membahagiakan aku. Berkali-kali kutasbihkan bahagia untuknya dalam pertengkaran kami yang terakhir. Dia meraung-gaung sampai tak bisa bernafas. Tak tega aku melihatnya, tapi aku harus menjadi jahat agar Kinan tahu aku tak pantas untuknya.

Hari ini, aku menerima undangan pernikahan Kinan. Aku menangis. Sekali lagi, buatku cinta hanyalah wacana semu dari perasaan yang selalu kontemporer.. Maafkan aku, Kinan.. Barangkali selamanya aku tidak bahagia kalau tidak melihatmu bahagia.. Terima kasih, kamu adalah wanita istimewa dalam hidupku.

Munky Smile

•May 2, 2009 • 5 Comments

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada jeng ini, karena beliaulah yang berbaik hati memberi saya monyet-monyet lucu bernama Munky Smile. Awalnya saya lihat gambar-gambar gerak itu di kulkas-nya si jeng hihi trus spontan saya memohon supaya si jeng mau membagi monyet-monyet itu pada saya dan si jeng dengan senang hati akan mengirimkannya via email. lumayan lama, karena si jeng juga sibuk sampai tidak sempat mengisi kulkasnya sendiri. Pada suatu hati si jeng pun mengirimkan file Munky Smile pada saya via email seperti janjinya. Waw, senang bukan kepalang dong. Download-buka-dan gagal hiks

Saya langsung kirim komplain pada si jeng. Alasannya saya tidak tahu bagaimana cara membukanya. Dan si jeng memberi tahu kalau caranya amat sangat mudah. Aduh-aduh-ini saya yang bego kayaknya. Biasalah, meski sudah lama pegang komputer tapi tetap saja tidak maju-maju ilmunya mikir Mau tanya lagi sungkan. Sudah minta, eh tanya melulu hehe Saya pendam hasrat bermain Munky Smile pemberian si jeng. Saya pikirkan pagi-siang-malam. Oh Mungky Smile. Kapan saya bisa memainkanmu..

Hari ini, ketika kebosanan melanda, iseng-iseng saya matikan laptop dan berpindah ke warnet. Entah kenapa, saya mulai curiga dengan laptop saya. Wah, hasrat ingin tahu saya semakin tinggi setinggi langit. Saya download file Mungky Smile dari warnet dan SUKSES pemirsa! koprol Tapi mendadak terjadi kesalahan prosedur saat saya hendak menggunakannya. Disini kesabaran dan akal saya mulai diuji. Saya tetap bersemangat! lalu saya panggil teman saya yang kebetulan operator warnet “Pan, Topan, bisa minta tolong nggak?”

Saya jelaskan pada teman saya itu, bla-bla-bla. Dan cling! nyembah Topan membuat semuanya jadi indah. Mata saya langsung bersinar-sinar. Akhirnya.. Lega..

Semarang, 3 Mei 2009
Terima kasih untuk Jeng Frozzy & Topan