Retribusi Terminal Terboyo Semarag

Posted in entahlah, warnawarni with tags , , on January 8, 2012 by catastrovaprima

Pernahkah mendengar kata ‘retribusi’? Retribusi menurut UU No. 28 tahun 2009 adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Kalau kita ingat, setiap kita masuk terminal pasti ada petugas berseragam yang menarik uang retribusi. Berkaitan dengan retribusi, saya punya pengalaman di Terminal Terboyo Semarang yang saya catat sejak lama.

Pernahkah kita jeli dengan pungutan itu? Atau pedulikah kita dengan hal-hal kecil seperti apakah nominal yang kita keluarkan sama dengan yang tertera di karcis. Atau sambil lalu kita asal mengeluarkan uang, membayar, dan tidak memeriksa jumlah uang kembalian yang diberikan petugas? Bagi pengguna jasa transportasi seperti saya yang setiap minggu pasti menyambangi terminal, ada beberapa hal yang saya keluhkan tentang pelayanan Terminal Terboyo kepada pengguna.

Saya punya pengalaman yang kurang menyenangkan, seorang petugas memberikan kembalian yang tidak sesuai dengan nominal yang tertera pada karcis. Karcis retribusi mencantumkan nominal sebesar Rp. 150,- sebagai beban yang ditanggung oleh pengguna jasa. Suatu hari saya membayar dengan selembar uang seribuan dan petugas hanya memberikan kembalian sebesar Rp. 500,-. Awalnya bisa saya maklumi karena waktu itu banyak sekali orang yang turun bersamaan dengan saya. Saya pun diberi dua karcis yang sebetulnya membuat saya bertanya-tanya, “Kan, aku sendirian?! Kok karcisnya dua sih?”.

Kemudian, pada lain waktu kejadian yang sama terulang lagi sampai beberapa kali sampai suatu hari saya mencoba asertif karena dalam karcis tertera tulisan “Mintalah karcis sesuai dengan jumlah uang yang dibayarkan”. Saya tak segan bertanya kepada petugas, “Berapa sih Pak retribusinya? Kok kembaliannya cuman segini? Karcisnya juga dua, saya kan sendirian”. Mau tak mau petugas pun menambah uang kembalian saya tanpa banyak bicara. Setelah saya pikir-pikir (dalam rangka berdamai dengan diri saya sendiri dan petugas) pada akhirnya saya selalu membawa koin Rp. 200,- setiap masuk terminal. Ya, kita tahu lah, pecahan Rp. 50,- kan memang langka atau malah sudah ditarik dari pasaran.

Pernah juga suatu hari saya membayar dan tidak diberi karcis oleh petugas. Sadar dengan hal itu, kontan saya menegur petugas dan minta karcis. Sejak saat itu setiap saya membayar retribusi, saya pasti meminta karcis karena saya pikir pendapatan yang diperoleh dari retribusi harusnya sama dengan habisnya karcis. Kalau sampai timpang, saya pikir petugas bisa saja melakukan korupsi.

Dan, kejadian baru-baru ini membuat saya sedikit tercengang. Sudah tiga kali saya mendapati karcis dengan robekan tidak sempurna. Petugas selalu menyobek karcis dengan posisi miring dan akhirnya jumlah nominal tidak tertera pada karcis. Anda bisa melihat pada gambar di bawah. Pernahkah Anda berpikir, dengan robekan yang tidak sempurna itu, petugas bisa memotong biaya retribusi jauh melebihi jumlah yang sebenarnya tanpa kita tahu karena memang tidak ada bukti.

Begitulah, saya hanya memberikan sedikit wacana bagi Anda yang merasa pengguna jasa terminal supaya bijak dalam membayar jasa retribusi. Pemerintah kota Semarang harusnya juga memperhatikan hal ini. Saya menghimbau untuk memberikan ketetapan yang jelas bagi pengguna jasa. Berapapun nominalnya sebenarnya tidak menjadi masalah, asalkan bukti berupa karcis yang diterima pengguna sama dengan nominal yang dibayarkan. Barangkali sudah saatnya karcis retribusi diganti dengan yang baru, dengan nominal Rp.200,- atau Rp.500,-.

karcis retribusi terminal terboyo

Sekian, selamat berakhir pekan.

#Read2Share

Posted in warnawarni with tags on December 2, 2011 by catastrovaprima

Berikut ini daftar penulis yang masuk dalam buku #read2share yang telah dilaunch 26 November 2011 di Fimela Fest, level one East Mal, Grand Indonesia:

1. 9 Matahari Inspirasiku – @AyyCiiPlukz

2. Aku dan Semangatku – Adi Chandra

3. Annie’s Baby – Khusnul Khotimah, @rhuna_chan

4. Bermimpilah Wahai Sang Pemimpi – Iik Iklimah, @gueiik

5. Cacing dan kotorannya – Ona Machfudha, @QUEEN_OF_BEE

6. Dari Toko Musik, Baju Hingga Buku – Nyi Penengah Dewanti, @ungnyi

7. Hingga Detak Jantungku Berhenti – Dian Utami

8. Imaji Terindah – Septianessty Sutjipto, @netkirei

9. Inginku : Barbara Cartlandnya Indonesia – Juliana Wina Rome

10. Jangan Bersedih – Intan Darmawan

11. Jaring Laba-Laba – Aditia Yudis, @adit_adit

12. Jogjakarta – Catastrova Prima, @pima96

13. Kisah Ketulusan yang Menginspirasi -

14. Mutia Rachma Rinta, @mutekute

15. Magical – Hilda Nurina, @hildabika

16. Memilih Bahagia – Sary Ahd , @saryahd

17. Para Priyayi – Winda Oei, @w1ndoet

18. Pepatah Cina Kuno, Shidney Sheldon Hingga John Grisham – Yulia Purnama Sari, @lia3x

19. Sang Terpilih – Anindhita Rustiyan K, @pusbangsawan

20. Sahabat atau Pacar? – Adyta Dhea Purbaya, @dheaadyta

21. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya – Juliana, @julia_ryan

22. Supernova Yang Mengubah Saya – Rahma Hayati Nurdin, @rahma_hayati

23. The Alchemist – Randy Lung

24. The Power of Fave Books: Reading, Learning, and Parenting – Niken Tf Alimah

Buat yang berminat silahkan kirim email ke admin@nulisbuku.com sertakan nama, alamat, no hp. Subject: buku #read2share.

Sedu Sedan

Posted in inspirasi liar with tags , on October 22, 2011 by catastrovaprima

Sedu sedan yang panjang memberi intro sedih pada malam yang belum cukup tua. Pekat di luar sana hanya mampu menatapmu iba. Kamu hanya butuh pelukan dari seorang sahabat. Lebih dari itu, kamu juga butuh ibu. Kamu butuh elusan ringan di punggung juga bisikan “You’ll be fine, Dear”. Tapi kamu yang hobi patah hati rupanya sedang berdiam seorang diri di kamarmu yang dipenuhi musik-musik melankoli. Kamu sibuk mengumpulkan kenangan-kenangan indah. Kamu merindukan antusias-antusias yang telah hilang. Kamu ditikam pedih berkepanjangan. Dan itulah, kenapa sedu sedan panjang tak jua berangsur reda.

Kamu sudah berusaha. Kamu terlalu keras berusaha. Bahkan mungkin kamu tak perlu memperbaiki dirimu sendiri untuk jadi lebih baik. Kamu tak perlu terlalu setia. Toh pada kenyataannya kamu tidak pernah mendapatkan cinta yang sempurna. Kamu dua kali dikecewakan oleh pria yang membawamu terbang. Kamu dijatuhkan tanpa alasan berdalih Tuhan. Sejujurnya mereka hendak berkata “Aku tidak pernah sungguh-sungguh mencintaimu, dan aku tidak bersungguh-sungguh menginginkanmu”. Kamu terluka, amat terluka. Dan kamu lelah dengan semua ini. Kamu hanya ingin bersandar pada kursi goyang yang membuatmu lelap. Kamu ingin melupakan semua ini barang sejenak karena keterbatasan kapasitas hati.

Kamu mungkin tidak butuh pria yang tampan dan gemilang. Kamu tak butuh mereka yang digilai banyak perempuan sampai-sampai perempuan sepertimu yang tidak mengincar apa-apa dari mereka justru lebih mudah untuk dilukai. Kamu mungkin hanya butuh pria sederhana yang rela menjemputmu tengah malam saat kamu pulang dari luar kota. Kamu mungkin hanya butuh pria sederhana yang mau menemanimu makan nasi bungkus di pinggir jalan mengingat kamu seorang vegetarian. Kamu mungkin butuh pria yang tenggelam dalam lautan aksara dan buku-buku—yang kadang hanyut dalam pemikiran-pemikiran liarnya sendiri. Kamu mungkin butuh pria yang sama-sama sering disakiti sepertimu—biar kalian bisa saling berempati.

Sedu sedan panjangmu melemah, meski dadamu masih begitu sakit. Tidak ada yang salah dengan kesetiaanmu. Tidak ada yang salah dengan ketulusan hatimu. Tidak ada yang salah dengan segala macam kebaikan yang kamu tanamkan. Tidak ada yang salah dengan dirimu. Tidak ada yang salah dengannya. Tidak ada yang salah dengan keadaan. Ini hanyalah momentum kecil yang harus kamu lakoni. Hingga pada akhirnya nanti, kamu akan tahu bahwa cinta adalah prosesi take and give yang berbelit-belit dan overdramatic. Butuh banyak sekali pembuktian. Butuh waktu. Butuh di uji biar jadi tangguh. Bukan sekedar kata.

“Is..!” Aku mengetuk pintu kamarmu.

Kamu keluar dengan wajah merah dan basah. Inilah gayamu yang paling berantakan.

“Kamu kenapa?” Aku tertawa kecil. Kamu tidak menjawab. “patah hati?” Lalu aku terbahak. Kamu lantas meninju perutku.

Kembali kamu bersedu sedan pelan.

“Kesini..” Kamu mendekatiku dan sebelum kamu menghambur ke pelukanku, lebih dulu kurengkuh engkau yang ringkih. “You’ll be fine, Dear”

Dan tangismu meledak. Parah.

Harusnya kamu memilih aku, Is. Aku satu-satunya yang setia sejak dulu.

FFDadakan – @nulisbuku

Purnama Jelita

Posted in inspirasi liar with tags , , , , on October 13, 2011 by catastrovaprima

Aku masih ingat, Lebaran bulan lalu Mbak Nunik—kakak sepupuku—berbisik padaku “Titip Habib ya, aku pengen dia banyak ngobrol sama kamu, dia anaknya tertutup. Aku pengen dia masuk Akpol”. Tapi, siapa menyangka hari itu terakhir kali aku mencium pipinya. Mbak Nunik telah berpulang pada rahim Tuhan. Menjadi kepompong. Terbungkus kain putih. Kaku. Read more »

Kembali Rindu

Posted in inspirasi liar on October 13, 2011 by catastrovaprima

Segalanya sedang berhenti pada ujung hening yang meletup-letup dan kita terjebak dalam perenungan riuh yang panjang. Aku sakit, kamu sakit, kita berdua sama-sama sakit. Tapi, aku hanya ingin jujur. Jujur padamu, jujur pada diriku sendiri bahwa secara perlahan-lahan hatiku tak lagi bergetar. Read more »

Tongky Dimakan Televisi

Posted in inspirasi liar on October 12, 2011 by catastrovaprima

Cempluk dan ibunya hari ini sedang malas berburu tikus. Mereka sudah kenyang. Tuan Besar yang baru saja pulang dari luar kota membawakan makan malam istimewa untuk mereka. Daging salmon kemasan yang gurih. Keduanya mendapat jatah di piring yang terpisah. Isinya sama, hanya porsinya yang berbeda. Ibunya dapat jatah lebih banyak, tentu saja. Tapi Cempluk boleh mengambil milik ibunya bila ia masih lapar. Read more »

Di Suatu Pesta

Posted in entahlah on August 2, 2011 by catastrovaprima

Entah kenapa segala gerak geriknya yang spontan dan menyulut tawa mengingatkanku padamu. Denganku, dia sangat berhati-hati bila berbicara, seolah-olah takut hatiku terkoyak oleh ucapannya. Padahal tidak juga. Aku justru terhibur dengan semua yang keluar dari bibirnya, baik serius atau bercanda. Ada semacam medan magnet yang terus menarikku hingga aku tersedot dalam kubangan waktu bertajuk pesona. Entahlah, tapi itu tak penting buatku. Read more »

Pulang Selepas Hujan

Posted in inspirasi liar with tags , on June 28, 2011 by catastrovaprima

If everything has been written, so why worry..

Damar.
Pesanmu selalu datang tiba-tiba dan nostalgia yang kamu bawa dalam tiap kata selalu saja berujung sedih. Kadang aku benci denganmu yang tak pernah mau beranjak dari dilema. Tapi itu kadang, bila pikiranku sedang semrawut. Seringnya, aku membiarkan semua yang kita pilih berjalan pada alurnya masing-masing. Bagaimanapun juga konsisten terhadap pilihan itu penting buatku. Itulah kenapa kadang aku membencimu, karena kamu tidak pernah konsisten dengan pilihanmu. Kamu selalu mengajakku menepi di batas ketidakmungkinan lalu melarung sedih begitu saja. Asal kau tahu, aku tidak terbiasa bersedih dan kamu terlalu sering mengajariku bersedih. Ironisnya, aku mau bersedih demi kamu. Read more »

Suburban Love

Posted in inspirasi liar with tags , , on June 9, 2011 by catastrovaprima

Listen to me just this one, you should know
It won’t take much time, it’s all in my mind
I’ve got so many things to say

Langit-langit kamarku lama-lama kian redup. Bisa jadi ini efek dari obat flu yang membikin aku mengantuk. Ah, malas sekali aku bersinggungan dengan flu. Dan mendadak, aku melihat wajahmu ada dimana-mana dengan senyum merekah. Aduh, ada apa ini? Aku menutup wajahku dengan bantal berharap setelah ini wajahmu tak lagi memenuhi kamarku. Terlalu banyak yang kupikirkan dan ingin kukatakan padamu, tapi aku tidak tahu dimana aku bisa menemukanmu. Kamu tak pernah beralamat. Sama sekali. Bahkan ketika kuminta alamat rumahmu, kamu bilang “Rumahku ada di balik awan, Darling.. Kamu harus naik karpet milik Aladin kalau ingin ke rumahku” Read more »

Sofis

Posted in inspirasi liar with tags on February 19, 2011 by catastrovaprima

Sebuah taksi berhenti tepat di depan sebuah rumah yang diapit sebuah bistro dan persewaan sepeda. Dua orang perempuan turun dengan terhuyung-huyung. Yang satu membuka gerbang dengan tangan tremor, yang satu lagi membanting pintu taksi dengan sedikit kasar sembari bergumam tidak jelas lalu keduanya tertawa sambil berangkulan masuk rumah. Taksi pun berlalu menjemput penumpang yang lain. Sedang pintu rumah dibiarkan terbuka hingga suara berisik dari dalam menarik perhatian pria tengah baya yang sedang menggembala anjing. Pria itu sempat berhenti, menoleh ke arah pintu, lalu geleng-geleng kepala, dan melanjutkan perjalanannya.

Read more »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.