Dokter Div

Pada suatu sore, di penghujung musim hujan aku berkemas dengan wajah sumringah. Kue pukis aneka rasa yang kubuat sejak siang juga sudah siap dalam kotak—ada rasa kismis, coklat, keju, kacang, dan pandan. Tinggal menyematkan pita di atasnya. Ada seseorang yang hendak kutemui. Seseorang yang sangat penting. Dialah Dokter Div, terapis ayahku.

Dia tinggal di sebuah rumah mungil yang terletak di beranda bukit, di apit dua pohon besar yang rindang—tempat kami biasa merenung. Tak jauh dari situ, dibangun sebuah aula. Aula yang tak pernah sepi, kecuali hari Sabtu dan Minggu karena banyak orang berbondong-bondong datang kesana untuk membuat bibir mereka tersungging. Alih-alih, membuat mereka terpingkal-pingkal. Orang-orang dari bermacam kalangan dan beragam masalah. Namun kesemuanya bermuara di tempat yang lapang, di beranda bukit itu.

Griya Medika—begitu orang-orang menyebutnya. Sebuah ruangan yang cukup luas dengan banyak jendela untuk bernafas. Diterangi beberapa lampu yang dinyalakan ketika matahari absen. Tidak ada kipas angin atau AC di sana. Namun kemampuannya mempertahankan kesejukan yang dikirim alam ibarat termos. Ada deret lukisan di dinding sebelah kanan dan lemari tempat menyimpan alat-alat di sisi kiri. Lantainya tertutup karpet warna hijau lumut. Beberapa sofa warna kuning cerah ada di sudut-sudut ruangan. Membuat setiap orang betah berlama-lama duduk disana.

“Aku berangkat dulu, Yah” Kucium punggung tangan ayahku.

“Hati-hati ya, salam buat Dokter Div” kata ayah.

“Ya, nanti kusampaikan” balasku sambil tersenyum lebar.

Waktu aku tiba, Dokter Div sedang bercakap-cakap dengan seorang pasien di halaman. Dia mengenakan setelan celana bahan warna coklat dan kemeja warna putih. Baju kebesaran itu selalu membuatnya tampak sederhana dan sahaja. Disebelahnya berdiri seorang wanita tengah baya yang mengenakan gamis lengkap dengan kerudungnya yang gemerlap. Keduanya kelihatan begitu kontras. Karena tidak ingin mengganggu, akhirnya aku hanya melambaikan tangan sekilas namun tidak berjalan kearahnya. Dia membalas lambaianku sambil tersenyum. Setelah itu aku menuju salah satu pohon besar yang mengapit rumah mungil Dokter Div.

Di bawah pohon besar itu ada bangku panjang yang terbuat dari besi. Disanalah aku biasa duduk sambil menunggu ayah terapi. Menulis. Kadang-kadang bercakap-cakap dengan Dokter Div sambil menyaksikan matahari lengser dan menikmati secangkir cappuccino di musim kemarau. Bila musim hujan, kami menghabiskan waktu di aula bersama pasien-pasiennya. Tapi, ini akhir musim penghujan. Langit lebih sering tampak cerah. Hujan turun menjelang tengah malam. Itupun sebentar, sekedar menyegarkan tanah dan membuat orang-orang menggigil di tengah tidur lelap mereka.

“Hei” Dokter Div sudah duduk di sebelahku. “mana ayah?”

“Ayah tidak bisa datang. Beliau titip salam” kataku.

“Salam kembali buat ayah ya” katanya sambil melirik kotak di pangkuanku. “apa itu?”

“Oh” Buru-buru kusudorkan padanya. “pukis buatanku” Aku meringis.

“Oh ya?” Dia tertawa sambil membuka penutup kotak. “wah, terima kasih Myg. Boleh kucicipi?”

“Silahkan”

“Aku sedang rindu rumah, Myg” katanya kemudian. Digigitnya ujung kue pukis pandan yang sedikit gosong. “uhm, enak” gumamnya.

“Ada rencana pulang?” tanyaku.

“Belum ada Myg, barangkali bulan depan”

Dokter Div menjatuhkan pandangan jauh dibalik segaris awan yang menutupi matahari. Ada guratan gundah yang terlukis tipis pada wajahnya saat aku menoleh. Sejujurnya, belum pernah kulihat dia semelankolis ini. Ada sesuatu yang dia sembunyikan. Sesuatu yang barangkali amat rahasia. Sesuatu yang datang lebih awal dari seharusnya. Firasat.

“Kalau aku pulang, titip Toby ya” Dokter Div meraih Toby yang sedang mengendus kakinya, mengelus kepalanya, lalu membiarkan Toby berlari-lari kecil menuju rumah.

“Iya, serahkan saja padaku”

“Makasih Myg”

Sebulan kemudian,

Pagi-pagi, kubawa ayah jalan-jalan dengan kursi roda menyusuri gang. Kata Dokter Div, sesekali ayah juga perlu menghirup udara segar agar penat tidak memenjara tubuhnya. Sejak ayah pulang dari rumah sakit dan menjalani terapi di tempat Dokter Div, ayah tak sempat jalan-jalan. Kondisinya tidak memungkinkan untuk diajak berkeliling. Tapi sejak seminggu yang lalu, kondisi ayah mulai membaik. Dokter Div menyarankan supaya sesekali aku membawanya jalan-jalan dengan kursi roda. Ayah mungkin butuh hiburan, bertemu dengan tetangga, dan bercakap-cakap ringan dengan mereka.

Waktu ayah ngobrol dengan seorang tukang kebun yang sedang memangkas rumput majikannya, aku menerima sebuah pesan. Dari Dokter Div.

Myg, aku sakit. Mungkin akan lama tinggal di sini. Tolong rawat Toby ya. Terima kasih. Aku akan merindukanmu..

Advertisements

5 thoughts on “Dokter Div

  1. Wah, jangan-jangan itu dokternya jadi-jadian lagi, masa di dekat pohon rimbun, biasanya kan angker tuh :D. *merinding dan kabur*

    “hahaha teruskanlah kau begitu *menakut2i aku* 😀 “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s