I Quit

I quit.

Kadang, di satu titik kita harus berhenti, meskipun kita tak ingin. Kenapa harus? Lantaran di depan hanya ada lautan luas yang dipenuhi hiu kelaparan bila kita terus berjalan. Go with the flow? What flow? This is not flow. Pilihan yang bodoh ketika kita memutuskan terjun ke dalam lautan hanya untuk menunjukkan betapa heroiknya tindakan kita. Aku bukan orang seperti itu. Kamu juga. Dan kurasa kita sepakat dalam hal ini.

Pada pagi yang sama, aku terbangun. Sunyi yang kau janjikan datang tepat waktu. Aku telah bersiap sejak kemarin—sejak kakiku bergerak menjauh dari tempatmu berpijak. Aku tahu ini akan terjadi meski kuingkari dengan susah payah. Tapi, perpisahan yang kulakukan sepihak tetaplah berbuah lara. Lara yang kurasakan sendiri. Kamu? Aku tak tahu dan aku (mencoba) tak peduli. Kau sudah terbiasa dengan lara yang lebih perih dari yang kurasakan, barangkali, ini tak lebih dari gigitan semut. Cukup kau olesi balsem, esok bentolnya akan hilang. Kulitmu tak akan berbekas. Sesederhana itu.

Kita akan baik-baik saja dengan tidak tergesa-gesa. Aku akan bekerja seperti biasanya, kelelahan, lalu tertidur tanpa sapamu. Hal-hal yang melankolis berangsur akan hilang dengan sendirinya, seperti rutinitasmu yang pelan-pelan menguap ditelan bosan. Aku akan lebih banyak membaca buku. Aku akan belajar bahasa baru. Aku akan lebih sering menulis. Aku akan jadi penulis hebat seperti harapanmu. Novelku akan ada di toko buku akhir tahun nanti. Akan kutulis kau sebagai lakon yang samar. Aku akan jadi seseorang yang tak bisa kamu miliki dan kamu lupakan. Aku bersumpah. Kau akan bangga padaku.

Lalu kita akan bertemu lagi lain hari, pada senja yang basah di sebuah kota asing yang kita sepakati. Aku akan melihat wajahmu lebih sumringah dari sebelumnya. Tanpa sungkan kau akan merengkuhku di antara orang-orang yang berlalu lalang, menciumi kepalaku dengan rindu yang pelan-pelan tanggal, dan mengajakku makan di warung tenda seperti biasanya. Hari itu kau akan bilang, “Perempuanku, kau tambah cantik! Cantik sekali! Ayo kutraktir seember sayap ayam KFC!”, lalu aku akan tergelak karena kau masih ingat taruhan kita.

Setelahnya, kita akan menuju flatmu, berciuman di balik pintu, menghabiskan seember sayap ayam KFC berdua, lalu aku akan merokok, kau akan celentang di karpet abu-abu, mulai mengantuk dan mendengkur sampai pagi. Aku akan membiarkanmu lelap di sana, sedang aku tidur di sofa. Paginya, kau bangun terlambat, aku sudah pergi ke bandara, dan kau akan menemukan wangi parfumku yang tertinggal di sweatermu, serta secarik kertas bertuliskan, “I love you more..”. Kamu akan meneleponku. Tapi, sayang pesawat sudah tinggal landas. Lalu, kau akan menulis pesan yang akan kubuka setelah pesawat sampai tujuan, “Aku masih rindu, Sayang. Kembalilah setelah urusanmu selesai.”

Cinta, seperti katamu, bukan siapa yang lebih dulu datang atau lebih lama tinggal, tapi siapa yang terus bertahan dalam pergantian musim yang kekal. Akulah perempuan yang tak pernah bosan mendengar cerita-ceritamu, tentang dendam pada mertua kakakmu, tentang sahabatmu yang berkhianat dan telah kau maafkan, tentang mantan-mantan pacarmu yang kau sakiti dan menyakitimu, tentang perempuan berlesung pipit, tentang penyair yang membuatmu geram, tentang penyesalan-penyesalan sepeninggal kakakmu, tentang ayahmu dan istri-istrinya yang lain, tentang teman-temanmu yang baik, tentang masa kecilmu hingga remaja yang menggelikan, tentang rasa takutmu menghadapi kebosanan, dan tentang apapun. Aku akan mendengarkan dengan baik dengan mata juga telinga. Aku akan mengamini dendammu dan berdoa untuk kebahagiaanmu.

Kau tahu, tak ada salahnya mendendam. Itu manusiawi. Semua orang hidup dari dendam, mereka mencapai kompensasi-kompensasi tertentu untuk membalas dendam, dan seperti itu hidup terus berjalan. Seperti kau sekarang, seperti aku, seperti orang lain. Kita menghidupi dendam dengan nafas masing-masing.

Akulah perempuan yang tak memintamu berjanji untuk sering menelepon dan berkirim pesan. Aku selalu paham kau yang berubah haluan dalam waktu seper sekian detik. Aku tahan dengan kejutan-kejutan yang kau lakukan. Aku ingin jadi api yang membakarmu dan jadi embun yang menyelimuti pagimu.

Bila aku berhenti sekarang, itu bukan karena aku tak mencintaimu lagi. Aku justru sedang bertahan dalam pergantian musim yang kekal, menguji ketabahan, dan membuktikan bahwa ini semata-mata bukan lelucon semesta. Aku hanya akan melihatmu dari kejauhan, (sekali lagi) menuliskanmu dalam lakon yang samar, mendoakanmu setiap malam, belajar untuk tidak impulsif, dan menerima semua ini sebagai takdir yang indah. Tidak. Aku tidak sebijak itu sebenarnya.

I quit. Terima kasih untuk janji-janji yang kau tepati.

Advertisements

2 thoughts on “I Quit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s