I Quit

I quit.

Kadang, di satu titik kita harus berhenti, meskipun kita tak ingin. Kenapa harus? Lantaran di depan hanya ada lautan luas yang dipenuhi hiu kelaparan bila kita terus berjalan. Go with the flow? What flow? This is not flow. Pilihan yang bodoh ketika kita memutuskan terjun ke dalam lautan hanya untuk menunjukkan betapa heroiknya tindakan kita. Aku bukan orang seperti itu. Kamu juga. Dan kurasa kita sepakat dalam hal ini.

Pada pagi yang sama, aku terbangun. Sunyi yang kau janjikan datang tepat waktu. Aku telah bersiap sejak kemarin—sejak kakiku bergerak menjauh dari tempatmu berpijak. Aku tahu ini akan terjadi meski kuingkari dengan susah payah. Tapi, perpisahan yang kulakukan sepihak tetaplah berbuah lara. Lara yang kurasakan sendiri. Kamu? Aku tak tahu dan aku (mencoba) tak peduli. Kau sudah terbiasa dengan lara yang lebih perih dari yang kurasakan, barangkali, ini tak lebih dari gigitan semut. Cukup kau olesi balsem, esok bentolnya akan hilang. Kulitmu tak akan berbekas. Sesederhana itu.

Kita akan baik-baik saja dengan tidak tergesa-gesa. Aku akan bekerja seperti biasanya, kelelahan, lalu tertidur tanpa sapamu. Hal-hal yang melankolis berangsur akan hilang dengan sendirinya, seperti rutinitasmu yang pelan-pelan menguap ditelan bosan. Aku akan lebih banyak membaca buku. Aku akan belajar bahasa baru. Aku akan lebih sering menulis. Aku akan jadi penulis hebat seperti harapanmu. Novelku akan ada di toko buku akhir tahun nanti. Akan kutulis kau sebagai lakon yang samar. Aku akan jadi seseorang yang tak bisa kamu miliki dan kamu lupakan. Aku bersumpah. Kau akan bangga padaku.

Lalu kita akan bertemu lagi lain hari, pada senja yang basah di sebuah kota asing yang kita sepakati. Aku akan melihat wajahmu lebih sumringah dari sebelumnya. Tanpa sungkan kau akan merengkuhku di antara orang-orang yang berlalu lalang, menciumi kepalaku dengan rindu yang pelan-pelan tanggal, dan mengajakku makan di warung tenda seperti biasanya. Hari itu kau akan bilang, “Perempuanku, kau tambah cantik! Cantik sekali! Ayo kutraktir seember sayap ayam KFC!”, lalu aku akan tergelak karena kau masih ingat taruhan kita.

Setelahnya, kita akan menuju flatmu, berciuman di balik pintu, menghabiskan seember sayap ayam KFC berdua, lalu aku akan merokok, kau akan celentang di karpet abu-abu, mulai mengantuk dan mendengkur sampai pagi. Aku akan membiarkanmu lelap di sana, sedang aku tidur di sofa. Paginya, kau bangun terlambat, aku sudah pergi ke bandara, dan kau akan menemukan wangi parfumku yang tertinggal di sweatermu, serta secarik kertas bertuliskan, “I love you more..”. Kamu akan meneleponku. Tapi, sayang pesawat sudah tinggal landas. Lalu, kau akan menulis pesan yang akan kubuka setelah pesawat sampai tujuan, “Aku masih rindu, Sayang. Kembalilah setelah urusanmu selesai.”

Cinta, seperti katamu, bukan siapa yang lebih dulu datang atau lebih lama tinggal, tapi siapa yang terus bertahan dalam pergantian musim yang kekal. Akulah perempuan yang tak pernah bosan mendengar cerita-ceritamu, tentang dendam pada mertua kakakmu, tentang sahabatmu yang berkhianat dan telah kau maafkan, tentang mantan-mantan pacarmu yang kau sakiti dan menyakitimu, tentang perempuan berlesung pipit, tentang penyair yang membuatmu geram, tentang penyesalan-penyesalan sepeninggal kakakmu, tentang ayahmu dan istri-istrinya yang lain, tentang teman-temanmu yang baik, tentang masa kecilmu hingga remaja yang menggelikan, tentang rasa takutmu menghadapi kebosanan, dan tentang apapun. Aku akan mendengarkan dengan baik dengan mata juga telinga. Aku akan mengamini dendammu dan berdoa untuk kebahagiaanmu.

Kau tahu, tak ada salahnya mendendam. Itu manusiawi. Semua orang hidup dari dendam, mereka mencapai kompensasi-kompensasi tertentu untuk membalas dendam, dan seperti itu hidup terus berjalan. Seperti kau sekarang, seperti aku, seperti orang lain. Kita menghidupi dendam dengan nafas masing-masing.

Akulah perempuan yang tak memintamu berjanji untuk sering menelepon dan berkirim pesan. Aku selalu paham kau yang berubah haluan dalam waktu seper sekian detik. Aku tahan dengan kejutan-kejutan yang kau lakukan. Aku ingin jadi api yang membakarmu dan jadi embun yang menyelimuti pagimu.

Bila aku berhenti sekarang, itu bukan karena aku tak mencintaimu lagi. Aku justru sedang bertahan dalam pergantian musim yang kekal, menguji ketabahan, dan membuktikan bahwa ini semata-mata bukan lelucon semesta. Aku hanya akan melihatmu dari kejauhan, (sekali lagi) menuliskanmu dalam lakon yang samar, mendoakanmu setiap malam, belajar untuk tidak impulsif, dan menerima semua ini sebagai takdir yang indah. Tidak. Aku tidak sebijak itu sebenarnya.

I quit. Terima kasih untuk janji-janji yang kau tepati.

Pesan Seusai Rindu

Pada sore yang murung, setelah pertemuan kita yang dangkal, aku memikirkan banyak hal. Ada apa dengan diriku ini? Apa yang membuat muram tak jua mau pergi?

Kau mungkin mulai tak peduli padaku setelah pertemuan itu. Aku juga mencoba begitu. Tapi, aku terus-terusan merindukan aroma sweatermu yang usang, genggaman tanganmu yang hangat, pelukanmu, candamu, tuturmu, dan bibirmu yang manis. Semua itu menghantui hari-hariku yang akan kembali panjang dengan segala rutinitas. Aku membaca pesan-pesanmu dengan mata basah. Selalu. Kadang sambil tersenyum, kadang dengan nyeri di ulu hati.

“Aku tak akan berubah. Aku menyayangimu selalu. Kau harus bahagia, denganku atau dengan orang lain. Siapapun yang menyakitimu harus berhadapan dengan aku,” ujarmu sambil menggenggam erat tanganku saat kita menunggu pesanan iga bakar diantar.

Air mataku leleh seperti talang bocor. Aku mendadak impulsif. Aku tak mampu menghentikannya. Padahal aku ingin. Lalu kamu memegangi kedua pipiku sambil mengusap airmataku tanpa canggung di depan pemilik rumah makan. Bukannya berhenti, air mataku justru tambah deras. Aku tak mengerti kenapa ada orang seperti kau di dunia ini. Tuhan benar-benar baik padaku. Tapi entah kenapa aku takut berharap pada Tuhan. Aku takut sekali. Aku takut Tuhan hanya akan melukaiku untuk kedua kalinya.

“Sudah, ayo makan dulu. Nanti nangis lagi!” katamu seraya tertawa dengan jenaka. “Nanti dikira aku menghamili kamu!” bisikmu kemudian, sambil melirik ke arah pemilik rumah makan. Aku tertawa kecil dengan sisa-sisa air mata di ekor mata.

Iga bakar ini menjadi hambar dalam mulutku. Sedang kau makan dengan lahapnya. Bulir-bulir keringat mulai memenuhi dahimu yang lebar. Saking semangatnya, sebutir nasi terdampar di pipimu. Aku menjumputnya tanpa ragu-ragu, kamu tersenyum, lalu kembali menekuni makan siang kita. Setiap menatapmu, air mataku mengalir. Bersamamu, aku menjadi sangat lemah dan mudah patah. Rasanya seperti hendak jatuh ke jurang yang tak berdasar. Kau membuat hidupku begitu sempurna sebagai perempuan. Tapi aku sadar betul itu hanya sementara. Kau akan bersama orang lain, aku juga mungkin begitu. Atau mungkin memilih tidak bersama siapapun. Kau akan bahagia dengan perempuan yang amat mencintaimu. Aku akan bahagia sendiri dengan kenangan yang kita buat hari ini, lusa, atau nanti.

“Kau ingin aku bagaimana?” tanyamu. “Jadi milikmu selamanya?”

Aku tak mampu menjawab. Itu pertanyaan paling menakutkan buatku. Akan kau jamin dengan apa bila aku menginginkan kamu tinggal selamanya? Kesetiaan? Tak mungkin. Kau pembosan. Kau akan tertarik pada perempuan lain. Selalu. Dan aku tak pernah bisa berbagi dengan siapapun. Dengan lelaki lain, aku mungkin bisa berbagi. Denganmu, tidak sama sekali.

It’s so hard to breathe. I love you. Aku tak tahu kenapa aku mencintaimu sedalam ini. Bila yang kurasakan salah, lalu kenapa semesta membiarkan kita bertemu?

“Aku tak ingin apa-apa.”
“Jangan cemburu. Jangan sedih. Jangan menangis. Aku akan pergi kalau hanya membuatmu sedih,” kamu mengancam sambil menggenggam tanganku lagi. “Janji! Kau harus berjanji!”

Aku mengangguk. Leleh lagi air mataku sampai aku bosan dan ingin mengeluarkan kelenjar air mata dari sana. Aku kesal pada diriku sendiri. Aku tak ingin menangis di depanmu. Aku ingin tertawa. Tapi kau tahu aku tak bisa. Aku benci pertemuan ini.

“Kau akan jadi satu-satunya kekasihku. Sampai kapan pun! Lihat mataku! Aku sungguh-sungguh!”

Mungkin kau hanya menghiburku. Mungkin kau hanya menyenangkan aku. Mungkin kau hanya tak ingin melihatku menangis. Mungkin kau hanya sungkan pada pemilik rumah makan. Mungkin. Aku tak tahu. Masa lalu membuatku tidak lagi percaya pada apapun. Termasuk kau.

Muram dalam hatiku belum sirna. Tapi, tiba-tiba aku melihat punggungmu yang lapang, dengan sweater coklat, dengan bau sabun mandi yang bercampur keringat sisa persetubuhan semalam. Aku sandarkan kepalaku di sana, dengan mata terpejam. Sebelumnya, aku tak tahu bahwa punggung bisa begitu menenangkan hati yang sedang gundah. Kubiarkan kau berdendang bersama angin sore yang menerbangkan helai rambutku. Kita menyusuri jalan tanpa tujuan. Kadang kita tak perlu punya tujuan untuk bahagia. Seperti sekarang, di mana di sudut kalbu ada kebahagiaan yang tak pernah bisa kueja. Kamu.

Suburban Love

Listen to me just this one, you should know.. It won’t take much time, it’s all in my mind.. I’ve got so many things to say..

Langit-langit kamarku kian redup. Bisa jadi ini efek obat flu yang membikin aku mengantuk. Sudah dua hari aku demam, hidungku tersumbat, tenggorokanku seperti diikat, kepalaku berkunang-kunang hebat dan ah, malas sekali aku bersinggungan dengan penyakit murahan ini.

Di saat yang paling sekarat, tiba-tiba pesanmu datang mengusik.

Begitulah caramu datang, selalu dadakan, seperti kebahagiaan, juga kesedihan. Dan nostalgia yang kamu bawa dalam setiap kata selalu saja berujung sedih. Kadang aku benci denganmu yang tak pernah mau beranjak dari dilema. Tapi itu kadang, bila pikiranku sedang semrawut. Seringnya, aku membiarkan semua yang kita pilih berjalan pada alurnya masing-masing.

Bagaimanapun juga konsisten terhadap pilihan itu penting buatku. Itulah kenapa kadang aku membencimu, karena kamu tidak pernah konsisten dengan pilihanmu. Kamu selalu mengajakku menepi di batas ketidakmungkinan lalu melarung sedih seolah-olah hatiku ini benda tahan banting. Asal kau tahu, aku tidak terbiasa bersedih dan kamu terlalu sering mengajariku bersedih. Ironisnya, aku mau bersedih demi kamu.

Kenyataan nyaris membuatku menyerah. Aku tidak punya banyak pilihan kecuali menunggu meski akulah yang sebenarnya kamu inginkan. Akulah yang kamu butuhkan. Tapi, pada kenyataannya aku tidak berarti apa-apa buatmu. Kamu tidak pernah memilih aku. Kamu memilih yang lain. Dan aku? Entahlah, mungkin semacam persinggahan yang sempurna. Tempatmu menanggalkan beban yang berlebihan. Barangkali tempatmu memperoleh energi sebesar matahari setelah lelah bekerja.

Dan, lagi-lagi kamu hanya datang ketika hatimu membiru tergores sepi. Kamu mengajakku untuk mengenang mimpi-mimpi kita yang rapuh. Tapi, entah kenapa rasa itu selalu menyambutmu dengan hangat layaknya tempat berteduh. Sepimu akan bermuara di sana hingga birunya pudar. Lalu kau akan pulang ke hati yang lain. Ya, kau akan pulang ke hati yang lain. Bukan hatiku.

Damar,
Semalam aku mimpi. Di sana, aku melihatmu. Hanya melihatmu dari tempat yang begitu jauh. Kakiku tak bisa bergerak, padahal aku ingin sekali menghampirimu. Kamu benar-benar tak bisa kujangkau. Tapi sungguh, aku tidak ingin kehilangan kamu.

Aku tak bisa berkata apa-apa. Barangkali ini pertanda bahwa semua harus diakhiri. Mungkin kita telah sampai pada pemberhentian. Seperti yang selalu kamu bilang padaku; takdir.

I don’t know where you come from, what you made from.. Something whisper me so good, how could you.. Send me a pack of lies..

Paginya, saat aku pergi ke klinik yang letaknya tak jauh dari kontrakan, kamu tiba-tiba datang. Membawa rantang berisi kudapan kesukaanku lengkap dengan buah-buahan dan secarik surat yang kamu selipkan di sisi rantang. Sepulang dari klinik, aku kaget, parfummu tertinggal di kamarku. Kudapati rantangmu berdiri tegak di dekat komputer, tapi tidak kudapati tubuhmu yang ingin sekali kupeluk biar flu ini cepat pergi dari tubuhku karena cemburu.

Cepat sembuh ya. Aku tidak suka kamu sakit!

Inilah yang tidak kumengerti, dari mana kamu tahu aku sedang sakit. Padahal aku tidak pernah koar-koar di televisi seperti artis yang haus perhatian. Selalu begitu. Kadang-kadang, kupikir kamu bukan manusia lantaran kamu selalu tahu apa yang kukerjakan. Lantas, kalau kamu bukan manusia, kenapa aku bisa memelukmu, aku bisa mengecup bibirmu yang basah dan selalu berbau stroberi. Sementara ini, asumsiku salah besar. Kamu manusia. Perempuan paling cantik yang pernah ada dalam hidupku. Perempuan asing yang membuatku tergila-gila. Noi.

Kau membuatku hidup kembali di sela keterpurukan yang sempat kucicipi sekilas. Ada banyak yang berubah dalam hidupku sejak kedatanganmu. Aku malas mengerjakan banyak hal yang sudah menjadi kebiasaanku; membaca, menulis, nonton film, main gitar dan merokok. Tapi, aku jadi lebih bersemangat bekerja dan menantikan pesan-pesanmu di kotak masuk sepulang kerja. Lantaran kupikir cinta adalah energi terdahsyat yang ada di muka bumi ini.

We could make it simple.. Why you always set me in trouble.. I’ve never been so sure, my feeling lack to show.. But you don’t even care I know..

Setelah aku sembuh dari flu keparat itu, kamu datang ke kontrakanku lagi. Aku sedang memetik gitar di kamar ketika kamu berdiri di pintu dengan jeans dan kaos strip. Kakimu yang jenjang berdiri sejajar. Senyummu merekah seperti anak kecil yang baru saja dapat kembang gula dan es krim. Dinda yang dilantunkan Kla Project tak kulanjutkan.

“Sudah sembuh?” tanyamu seraya menurunkan tas dari bahu. Masih belum beranjak dari pintu.
“Sudah,” jawabku, “masuklah, tidak ada virus di sini.”

Kamu tergelak lalu menghujaniku dengan ciuman. Ah, sudah lama aku tidak menghidu aroma stroberi dari bibirmu yang basah. Tubuhmu makin kurus saja. Rasanya pelukanku dulu penuh, tapi kali ini seperti ada rongga tersisa. Apa kamu sakit, Noi?
“Kamu kurusan?”
“Harus diet.”
“Kenapa harus?”
“Biar pakaianku muat.”

Tanpa kusadari, seseorang telah berdiri di pintu saat kita sibuk melepas rindu. Sesuatu terjatuh, dan kita menoleh bersamaan. Miranda berdiri dengan airmata mengalir lalu berlari ketika kita menoleh bersamaan. Aku meninggalkan kamar, mengejar Miranda tapi perempuan itu lebih dulu kabur dengan mobilnya sebelum sempat kucegah.
Ketika aku kembali, kamu sedang berbicara dengan ponselku.

“Iya, aku pacarnya Damar. Memangnya kenapa? Nggak suka?”
Langsung kurebut ponselku dari tanganmu.
“Noi, kumohon jangan membuat masalah!”
“Habis dia rese!”
Kamu cemberut. Wajahmu memerah.
“Tapi, kamu kan tidak harus bohong. Kita tidak pernah pacaran!”

Kali ini kamu menatapku marah. Matamu berkaca, bisa pecah sewaktu-waktu, tanganmu mengepal geram padaku. Kau mengambil tas dan hendak pergi. Aduh, kenapa perempuan selalu bertindak tanpa berpikir? Kalau sudah begini, pasti airmata jadi senjata paling ampuh. Sebelum kamu meninggalkan kamarku, kuraih tanganmu.
“Maaf, maafkan aku, Noi!” ucapku penuh sesal.

Tapi, kamu terlanjur tak peduli. Tak ada secuil kata keluar dari bibirmu yang beberapa menit lalu kupagut dengan mesra.
Tak ada. Kamu pergi.

You can fill your eyes with tears.. Wreath your face with smile.. Somehow I can’t deny.. But, I’m trying to let you go..

Lama kamu tidak pernah datang sejak pertengkaran itu. Pun tak ada pesan yang mendarat di ponselku. Aku sekarat karena menahan rindu dan aku tak tahu ke mana harus mencarimu. Pesan-pesanku tak pernah berbalas. Panggilanku tak pernah kau terima, malahan terkadang sengaja kau alihkan ke nomor lain. Aku benar-benar tak tahu bagaimana memperbaiki semuanya. Kamu seperti sedang menghukumku, Noi.

If this is your game.. You’re the only one who makes the rules.. I’ve tried to play this one.. If this is your game.. But you never let me find the rules.. I’m tired to play this one.. And I loose myself for nothing..

“Sudah dapat undangan? Noi menikah hari Minggu besok.” Temanku tiba-tiba masuk kamar.
Aku lemas.

Keesokan harinya, sepulang kerja, kembali kudapati kamarku penuh dengan bau parfum yang kukenal. Kamu datang. Sebuah undangan tergeletak di kasurku. Dan sebuah surat bersampul ungu muda.

Aku tidak pernah jatuh cinta sebelum ini. Seumur hidup, aku jatuh cinta sekali. Padamu, Damar.. Tapi, ternyata hidup tak sebebas yang kukira.

Kamu benar-benar perempuan tercantik yang pernah kulihat, Noi. Mungkin benar kau tinggal di balik awan, karena perempuan yang tinggal di bumi tak pernah ada yang sepertimu. Gaun putih itu membalut tubuhmu dengan sempurna. Bibirmu selalu melengkung tiap menjabat tamu yang sudah berbaris dengan rapi. Sedangkan aku hanya berdiri di dekat meja soft drink, meneguk minuman warna-warni itu sambil memandangimu yang tak sadar dengan kehadiranku.

I wonder if you know.. Suddenly you changed my mind.. I wonder why yougo.. I can’t believe what we’ve become now.. I wonder if you know.. Suddenly you make me drown.. I wonder why you go.. I’ve only got myself to blame.. *

Cerpen ini adalah salah satu cerita yang terdapat dalam buku Suburban Love, karya saya.

*Lirik Suburban Love – Lipstik Lipsing.

Untuk Kau yang Tak Bisa Kusebut

Gambar diambil dari sini.

Hai, kau yang tak pernah bisa kusebut; nyata.
Apakah dingin masih menyelimuti kotamu yang sepi? Apakah sakit di pinggangmu sudah pulih? Apakah ibumu menanyakan aku saat ia mengurut tubuhmu? Apakah kamu masih sibuk menulis surat untukku? Ah, entah mengapa banyak sekali yang kutanyakan. Aku memang cerewet saat menulis, tapi tidak ketika nafasmu menyusup lewat gelombang telepon. Kau tahu, itu karena aku sibuk berbahagia.

Tak banyak yang ingin kutumpahkan di sini. Barangkali sedikit kekesalan yang kujumpai sehari-hari di jalan, di kedai kopi, di mini market, atau dalam lingkaran pertemanan. Seperti yang selama ini kau tahu, barangkali aku termasuk orang yang terbiasa menyimpan banyak kekesalan dalam hati. Kadang-kadang malah salah menumpahkan kemarahan pada hal-hal yang tak seharusnya. Hampir selalu begitu.

Aku bukan orang mudah ditindas sebenarnya. Tetapi sering bermasalah dengan hal-hal kecil yang dimaklumi orang lain atau mungkin tidak dipedulikan orang lain. Ya, sedikit aneh. Tapi begitulah aku. Belakangan, aku sering dibuat kesal oleh pengendara-pengendara sepeda motor yang seenaknya. Kau tahu kan seenaknya? Pengendara yang tak memakai helm, remaja berseragam yang kebut-kebutan dengan piranti yang dibeli orang tua dengan keringat dan air mata, berhenti di luar markah saat lampu merah menyala, ah! Sungguh aku ingin marah!

Aku benci polisi yang bergeming, meski aku tahu alasan mengapa mereka bersikap seperti itu. Tetap tak bisa kumaafkan. Mereka bikin aku darah tinggi. Mereka bikin aku mual. Maka, ketika aku punya kesempatan untuk mendamprat pemakai jalan, kugunakan sebaik-baiknya. Aku sering berteriak, “Lihat markah tidak?? Bego!” sambil membuka kaca helmku. Seorang bapak kaget dan berteriak menghardik. Aku menyumpahi dia mati! Kepada anak muda era twitter yang otaknya sebesar kerikil, aku sering mengajak mereka adu mulut di jalan, “Pakai helm kalau nggak pengin otak kocar kacir di jalan!”. Oh Tuhan, aku seperti orang gila. Tak apa, hanya “seperti” buka benar-benar gila.

Apakah kau menyesal mengenalku yang dikutuk para pengguna jalan lantaran sering membuat mereka naik pitam? Kota ini mulai sesak. Lahan-lahan kosong, bukit-bukit yang dipapras, semua itu disulap jadi festival urban yang marak dipamerkan di pertokoan. Perumahan-perumahan menjelma jadi cendawan di musim kemarau yang gersang. Pohon-pohon tumbang oleh ambisi. Anak-anak tak punya lapangan untuk bermain bola dan layang-layang. Padatnya penduduk membuat aku sesak nafas. Itulah sebab aku ingin lekas kaya. Aku ingin membeli perumahan-perumahan itu lalu kuhancurkan seketika dan kujadikan kebun kota. Ya ampun, lihatlah, aku sungguh menyedihkan.

Masihkah kamu mau membaca sumpah serapahku? Baiklah akan kulanjutkan. Aku marah pada mini market yang menipu konsumen dengan menempel label harga palsu. Aku marah karena harus mengumpulkan permen dari uang kembalian. Aku marah pada orang yang menyerobot antrian di kasir. Aku marah pada mini market yang membuat toko kelontong menjadi mahal dan tidak laku. Aku benci cara mereka memonopoli harga. Aku benci acara investigasi di televisi yang membuat orang-orang takut pergi ke toko kelontong dengan alasan maraknya pemalsuan produk. Acara yang menggiring kita untuk masuk ke dalam sensasi peradaban yang menjual kenyamanan. Aku benci hal-hal yang diabaikan orang-orang, layaknya diminta memaklumi penindasan.

Kupikir dengan majunya teknologi, orang-orang akan makin pintar. Tapi tidak. Mereka justru semakin bodoh. Mereka jadi mudah dirayu iklan. Mereka mudah teperdaya. Atau mereka sebenarnya tahu tapi diam saja. Tapi tidak dengan aku. Tempo lalu aku bertengkar di mini market dengan seorang kasir gara-gara label harga. Aku minta dia menurunkan label yang tidak sesuai, aku tidak mau mengembalikan barang, juga tidak akan membayar kecuali dengan harga yang tertera dalam label. Aku membuat antrian tambah panjang. Tapi aku tak peduli. Pelanggaran macam ini tak bisa kubiarkan begitu saja. Kalau kita abai, mereka akan lebih semena-mena pada kita. Oh, semoga kau tak pernah bersamaku ketika aku berperilaku sangat memalukan ini.

Aku orang yang aneh. Tapi entah mengapa kau tak pernah bosan bilang rindu dan bertanya, “Apakah kau bahagia?”. Kau tak seharusnya merindukan perempuan pemarah seperti aku. Di kedai kopi yang terletak di antara dua pohon beringin yang kokoh dan rindang, aku marah pada televisi yang dinyalakan sepanjang hari. Aku marah melihat anak-anak dijadikan komoditas. Aku marah pada drama kontes bakat yang mengeksploitasi perasaan penonton, termasuk perasaan ayah ibuku. Ah, untuk benda laknat yang bernama televisi ini, aku tidak pernah berusaha menjadikannya kebutuhan; baik itu primer, sekunder atau tersier.

Hai, kau yang tak pernah bisa kusebut nyata.
Aku selalu ingin lekas pulang. Mendengarkan musik di kamar, membaca buku, menonton film, merokok di jendela, minum kopi, mengunyah keripik kentang, telanjang tanpa sungkan, mendengar suaramu yang berdendang, lalu rebah dan pasrah dalam pelukan malam. Di kamar ini aku menikmati banyak hal. Aku bahagia. Aku punya ruang untuk sendiri. Aku punya senyap yang begitu riuh oleh detak jantungku yang dikacaukan rindu. Aku benci saat-saat tak mampu menulis, tapi aku bahagia lantaran bisa terlelap dengan senyum. Aku bahagia. Bahagia yang amat sederhana. Kebahagiaan yang barangkali tak pernah dimengerti siapapun.

Tidakkah kau tahu, bahwa bayang-bayang seringkali lebih menghibur. Kita yang tak pernah nyata, kita yang tak pernah ada, kita yang kadang sendu, kadang meledak, membuat masing-masing dari kita terkoyak oleh harapan. Terkoyak harapan adalah bagian yang paling aku hindari sebenarnya. Aku tak begitu suka janji akan masa depan karena aku sudah berkali-kali dikecewakan. Tapi, untukmu yang tidak pernah benar-benar nyata, aku rela berbagi harapan dan menjadi melankolis sesekali. Bersamamu, aku yang barangkali tidak berwujud ini menemukan kebahagiaan yang sunyi. Kebahagiaan yang kuamini sendiri dan tak perlu repot-repot kubagi di jejaring sosial.

Aku sungguh merindukanmu, wahai kau yang tak pernah benar-benar ada. Aku merindukanmu dengan keras kepala. Sama sepertimu.

Boneka Untuk Risa

Gambar diambil dari sini.

Bayu berjalan lebih cepat, berusaha menjajari langkah kaki ayahnya yang lebar. Hatinya senang sebab ayahnya baru saja pulang dari luar kota dan mengajaknya ke toko mainan. Bayu diizinkan memilih mainan sesuka hati dan itu berarti Bayu bisa membeli mainan untuk Risa juga.

Ayah melihat-lihat mainan di etalase. Sedang Bayu sudah tak terdeteksi di mana keberadaannya. Disusurinya tiap-tiap lorong dengan berlari. Toko ini seperti surga baginya. Banyak sekali mainan yang belum ia punya, tapi entah kenapa dia tak tertarik untuk memilih salah satu. Bayu justru mencari mainan untuk Risa. Continue reading

Resistance Radio Station

Grandma started to give me a back massage, relieving the pain caused by carrying a backpack too often. She applied telon oil and her callused hands made me sleepy. I tried to stay awake, waiting for her to tell stories like she always did. Stories about her lasting youth, about Bung Tomo, about Kang Yoesoef—her idol—who was not my grandpa. My grandpa’s name was Tjipto. Yes, I remember my grandpa’s name correctly. It was Tjipto Soesanto, not Yoesoef.

However, Grandma preferred to tell stories about Yoesoef rather than about my grandpa. She still remembered the man whose whereabouts were unknown even after the war ended. I never knew my grandpa. I was born five years after he died. Continue reading

Radio Pemberontakan

Gambar diambil dari sini

Nenek mulai memijat punggungku, mengusir pegal akibat terlalu sering menggendong ransel selama perjalanan. Mula-mula seluruh punggungku diolesi dengan minyak telon. Jemarinya yang kapalan itu membuatku sedikit mengantuk. Tapi, aku berusaha tetap terjaga, menunggunya bercerita seperti yang sudah-sudah. Tentang masa mudanya yang seolah tak pernah kedaluwarsa, tentang Bung Tomo, juga tentang Yoesoef—pujaan hatinya. Bukan kakekku tepatnya. Kakekku bernama Tjipto. Ya, aku ingat betul nama kakekku Tjipto Soesanto. Bukan Yoesoef.

Tapi, nenek lebih suka bercerita tentang Yoesoef ketimbang kakekku. Rupanya nenekku masih saja terkenang pada lelaki yang tak diketahui keberadaannya setelah pertempuran berakhir itu. Perihal kakekku, aku sama sekali tak mengenalnya. Lima tahun setelah kakekku meninggal, aku lahir kemudian. Continue reading