Pesan Seusai Rindu

Pada sore yang murung, setelah pertemuan kita yang dangkal, aku memikirkan banyak hal. Ada apa dengan diriku ini? Apa yang membuat muram tak jua mau pergi?

Kau mungkin mulai tak peduli padaku setelah pertemuan itu. Aku juga mencoba begitu. Tapi, aku terus-terusan merindukan aroma sweatermu yang usang, genggaman tanganmu yang hangat, pelukanmu, candamu, tuturmu, dan bibirmu yang manis. Semua itu menghantui hari-hariku yang akan kembali panjang dengan segala rutinitas. Aku membaca pesan-pesanmu dengan mata basah. Selalu. Kadang sambil tersenyum, kadang dengan nyeri di ulu hati.

“Aku tak akan berubah. Aku menyayangimu selalu. Kau harus bahagia, denganku atau dengan orang lain. Siapapun yang menyakitimu harus berhadapan dengan aku,” ujarmu sambil menggenggam erat tanganku saat kita menunggu pesanan iga bakar diantar.

Air mataku leleh seperti talang bocor. Aku mendadak impulsif. Aku tak mampu menghentikannya. Padahal aku ingin. Lalu kamu memegangi kedua pipiku sambil mengusap airmataku tanpa canggung di depan pemilik rumah makan. Bukannya berhenti, air mataku justru tambah deras. Aku tak mengerti kenapa ada orang seperti kau di dunia ini. Tuhan benar-benar baik padaku. Tapi entah kenapa aku takut berharap pada Tuhan. Aku takut sekali. Aku takut Tuhan hanya akan melukaiku untuk kedua kalinya.

“Sudah, ayo makan dulu. Nanti nangis lagi!” katamu seraya tertawa dengan jenaka. “Nanti dikira aku menghamili kamu!” bisikmu kemudian, sambil melirik ke arah pemilik rumah makan. Aku tertawa kecil dengan sisa-sisa air mata di ekor mata.

Iga bakar ini menjadi hambar dalam mulutku. Sedang kau makan dengan lahapnya. Bulir-bulir keringat mulai memenuhi dahimu yang lebar. Saking semangatnya, sebutir nasi terdampar di pipimu. Aku menjumputnya tanpa ragu-ragu, kamu tersenyum, lalu kembali menekuni makan siang kita. Setiap menatapmu, air mataku mengalir. Bersamamu, aku menjadi sangat lemah dan mudah patah. Rasanya seperti hendak jatuh ke jurang yang tak berdasar. Kau membuat hidupku begitu sempurna sebagai perempuan. Tapi aku sadar betul itu hanya sementara. Kau akan bersama orang lain, aku juga mungkin begitu. Atau mungkin memilih tidak bersama siapapun. Kau akan bahagia dengan perempuan yang amat mencintaimu. Aku akan bahagia sendiri dengan kenangan yang kita buat hari ini, lusa, atau nanti.

“Kau ingin aku bagaimana?” tanyamu. “Jadi milikmu selamanya?”

Aku tak mampu menjawab. Itu pertanyaan paling menakutkan buatku. Akan kau jamin dengan apa bila aku menginginkan kamu tinggal selamanya? Kesetiaan? Tak mungkin. Kau pembosan. Kau akan tertarik pada perempuan lain. Selalu. Dan aku tak pernah bisa berbagi dengan siapapun. Dengan lelaki lain, aku mungkin bisa berbagi. Denganmu, tidak sama sekali.

It’s so hard to breathe. I love you. Aku tak tahu kenapa aku mencintaimu sedalam ini. Bila yang kurasakan salah, lalu kenapa semesta membiarkan kita bertemu?

“Aku tak ingin apa-apa.”
“Jangan cemburu. Jangan sedih. Jangan menangis. Aku akan pergi kalau hanya membuatmu sedih,” kamu mengancam sambil menggenggam tanganku lagi. “Janji! Kau harus berjanji!”

Aku mengangguk. Leleh lagi air mataku sampai aku bosan dan ingin mengeluarkan kelenjar air mata dari sana. Aku kesal pada diriku sendiri. Aku tak ingin menangis di depanmu. Aku ingin tertawa. Tapi kau tahu aku tak bisa. Aku benci pertemuan ini.

“Kau akan jadi satu-satunya kekasihku. Sampai kapan pun! Lihat mataku! Aku sungguh-sungguh!”

Mungkin kau hanya menghiburku. Mungkin kau hanya menyenangkan aku. Mungkin kau hanya tak ingin melihatku menangis. Mungkin kau hanya sungkan pada pemilik rumah makan. Mungkin. Aku tak tahu. Masa lalu membuatku tidak lagi percaya pada apapun. Termasuk kau.

Muram dalam hatiku belum sirna. Tapi, tiba-tiba aku melihat punggungmu yang lapang, dengan sweater coklat, dengan bau sabun mandi yang bercampur keringat sisa persetubuhan semalam. Aku sandarkan kepalaku di sana, dengan mata terpejam. Sebelumnya, aku tak tahu bahwa punggung bisa begitu menenangkan hati yang sedang gundah. Kubiarkan kau berdendang bersama angin sore yang menerbangkan helai rambutku. Kita menyusuri jalan tanpa tujuan. Kadang kita tak perlu punya tujuan untuk bahagia. Seperti sekarang, di mana di sudut kalbu ada kebahagiaan yang tak pernah bisa kueja. Kamu.

Advertisements

One thought on “Pesan Seusai Rindu

  1. good Sent from my BlackBerry 10 smartphone. From: Kamera KataSent: Saturday, 11 May 2013 20:00 PMTo: fery.cokroaminoto@gmail.comReply To: Kamera KataSubject: [New post] Pesan Seusai Rindu

    a:hover { color: red; } a { text-decoration: none; color: #0088cc; } a.primaryactionlink:link, a.primaryactionlink:visited { background-color: #2585B2; color: #fff; } a.primaryactionlink:hover, a.primaryactionlink:active { background-color: #11729E !important; color: #fff !important; }

    /* @media only screen and (max-device-width: 480px) { .post { min-width: 700px !important; } } */ WordPress.com

    Catastrova Prima posted: “Pada sore yang murung, setelah pertemuan kita yang dangkal, aku memikirkan banyak hal. Ada apa dengan diriku ini? Apa yang membuat muram tak jua mau pergi?

    Kau mungkin mulai tak peduli padaku setelah pertemuan itu. Aku juga mencoba begitu. Tapi, aku t”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s