Katarsis

Dua jam sebelum aku keluar kantor, kutelepon Div dengan suara riang. Aku mengingatkan agar dia tak lupa menyiapkan sebotol bir untuk menyambut kedatanganku di ruang kerjanya. Seperti biasa dia tak mampu menolak permintaanku meski sebetulnya berat hati.

Div penganut hidup sehat. Ia tak makan daging, tidak merokok, tidak minum alkohol, dan tidak suka makanan cepat saji. Sayur dan buah dipercayainya sebagai asupan yang lebih cocok dikonsumsi tubuh, ketimbang beberapa hal yang kusebutkan tadi. Dia percaya bahwa tubuh yang sehat selaras dengan bersemayamnya jiwa yang baik. Itulah mengapa dia lebih suka pepatah, “Kamu adalah apa yang kau makan”. Aku tidak setuju sepenuhnya. Sebaliknya, aku pemakan daging, perokok berat, peminum, dan suka sekali makanan cepat saji. Aku jarang sakit. Amat jarang. Kalaupun sakit, itu juga penyakit sepele yang lekas sembuh dengan obat generik. Bagiku, jiwa adalah elemen utama yang menentukan kondisi tubuh kita. Jiwa yang sehat termanifestasi dalam perilaku yang baik, imbasnya tubuh pun ikut sehat.

Sudah lama aku tak bertemu Div. Dia terapis ayahku. Dulu aku sering mengunjunginya, membawakan pukis kesukaannya, dan kami akan mengobrol tentang banyak hal di beranda. Dua tahun lalu dia pindah tugas ke Surabaya. Kondisi itu memaksanya untuk pulang sebulan dua kali, untuk menjenguk pasien-pasiennya. Tak ada waktu lagi untuk kami ngobrol di beranda sembari menyaksikan senja turun. Kami bertukar kabar lewat telepon, kadang melalui surat elektronik. Selama dua tahun, sejak ia pindah ke Surabaya, kami hanya sekali berjumpa. Itu juga hanya beberapa menit sebelum pesawatnya tinggal landas. Meski begitu, aku dan Div sama-sama sepakat untuk menjaga pertemanan kami sebisa mungkin tanpa tendensi apa pun.

Sebulan lalu, Div mengabarkan berita bahagia, dia ditugaskan kembali ke Jogja. Aku masih berada di Jakarta saat dia menelepon dan sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju tempat prakteknya di Griya Medika.

“Hai, Myg!” Div melebarkan tangannya, menungguku menghambur ke pelukannya.
“Hah.. Dasar!” aku memeluknya sebentar kemudian melirik ke dalam ruangannya yang dingin.
“Ayo masuk!”

Aku duduk di sofa tunggalnya yang besar. Benar-benar sempurna ruangan ini. Rasanya seperti sedang berada di ruanganan Dokter Hannibal Lecter yang dipenuhi sentuhan vintage. Dengan gaya aristokrat, Div menyodorkan gelas berkaki padaku.

“Apa kabar, Myg?”
“Tidak begitu baik, Div.”
“Ya, aku bisa lihat.”
“Ah, kau selalu begitu, seolah-olah selalu jadi yang paling tahu soal aku. Ya, kupikir memang iya.” Aku tertawa kering.

Kuteguk sedikit bir lalu aku menceritakan keadaan ayahku yang sudah tak menggunakan kursi roda lagi. Div tampak lega. Insiden yang membuat kaki ayah patah sungguh membuat aku khawatir. Berulang kali Div meyakinkan aku bahwa ayah akan baik-baik saja, tapi toh nyatanya aku memang yang tak pernah bisa menerima kenyataan. Sampai suatu hari janji Div akan kondisi ayah bener-benar terpenuhi.

“Aku tidak menyangka ayah bisa berjalan lagi, Div. Sekarang bahkan sudah berani menyetir sendiri, dia pakai mobil matic.”
“Bagus kalau begitu. Ayahmu butuh jalan-jalan. Kamu belajar gerontologi, bukan?”
“Iya. Sudah kupertimbangkan. Ayah aktif lagi di komunitas setelah kecelakaan itu.”
“Ya, itu bagus, Myg..”

Aku berajak dari sofa menuju jendela, menyibak tirai, lalu mendekati biola yang berdiri anggun di meja. Div pengikut Antonio Vivaldi yang piawai memainkan instrumen-instrumen megah. Kadang aku berdendang, kadang mendengarkan. Tergantung suasana hati. Div tak keberatan mendengar suaraku yang cempreng.

“Jadi, apa yang membawamu datang ke sini selain rindu aku?”
“Toby. Aku ingin melihat Toby.”
“Toby sedang jalan-jalan, baru saja pulang dari salon untuk potong kuku. Tunggulah, sebentar lagi dia pulang.”

Belum ada semenit, pintu diketuk. Toby menerobos lalu menyalak!
“Hei, ini Myg! Kau lupa, Tob?” Div menarik tali. Toby berjalan mengelilingiku, mengendus tubuhku, memastikan ini mengenali bauku dua tahun lalu. Anjing itu lalu kupeluk begitu ia duduk tegak di samping Div.
“Toby, aku rindu sekali!”
Anjing itu menjilati pipiku.

Div kembali duduk di sofa. Aku juga, dengan Toby dalam pelukanku.
“Kau harus menolongku, Div.”
“Kau akan menolong dirimu sendiri, Myg.”
“Aku tersesat. Jauh.”
“Apa yang kau rasakan?”
“Aku merasa linglung. Aku disergap sepi. Aku tak tahu jalan pulang. Dan aku putus asa.”
“Apa yang kau lihat?”
“Entahlah,” aku mengelus kepala Toby, “kadang putih, tanpa ornamen apa pun, sesekali kelam tanpa cahaya, tapi aku bisa melihat aku meringkuk di sana, sendirian.”
“Kau tak ingin mencoba beranjak?”
“Sudah. Aku mencoba berjalan, tapi tak ada pintu. Ruangan itu tak berpintu, tak berjendela. Aku terjebak dalam sebuah kebebasan,” ujarku, “tubuhku rentan sakit sebulan ini, mual, pusing, flu, dan kupikir itu tidak wajar. Aku selalu sehat, Div. Kamu tahu itu kan? Aku merasa respon tubuhku tidak tepat.”

Div memberiku selembar kertas origami warna ungu. Dia tahu warna kesukaanku.
“Buatlah sesuatu yang sekiranya bisa membawamu pergi dari sana.”
“Aku butuh orang.”
“Myg, dengar aku, kamu harus berusaha sendiri. Ini hidupmu!”

Aku tertegun. Kupandangi kertas origami yang masih terkulai di pangkuanku. Pesawat. Kapal. Ada dua hal yang kupikirkan. Kuputuskan membuat pesawat lantaran ia yang pertama muncul di kepalaku. Aku yang jago origami dengan terampil membentuk pesawat. Div tersenyum.

“Kamu TK berapa tahun?” tanya Div sambil tersenyum.
“Dua tahun,” jawabku cemberut.
“Ayolah, Myg. Kamu bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat dan mudah. Kau tak perlu terombang-ambing seperti ini. Aku tahu kamu bisa.”

Lama aku merenung. Dan aku dapat jawabannya. Aha!

Kepada R (Resah)

Kita tak semestinya berpijak di antara ragu yang tak berbatas.. Seperti berdiri di tengah kehampaan.. Mencoba untuk membuat pertemuan cinta..

Kamu memang impulsif. Mudah jatuh pada suasana yang memberimu ruang untuk bernostalgia dengan luka-luka. Perasaan sakit yang tanpa sadar selalu kau pelihara dengan apik di sudut hati. Barangkali kita sama. Bedanya, kau tak pernah lelah dengan perasaan-perasaan sentimentil semacam itu, sedangkan aku mulai tak percaya pelbagai harapan yang tumbuh di sekelilingku. Harapan yang hanya akan membuatku tidak produktif menjalani hidup. Harapan yang sering kali harus bertabrakan dengan kenyataan yang pahit. Maka aku bertekad hanya menjalani sebaik-baiknya apa yang kuyakini benar.

Dan sekarang kita sedang duduk berdua di bangku kayu yang lumutan, di tepi jalan. Berbagi malam, berbagi bintang, berbagi kisah yang berkebalikan, berbagi kasih, juga rindu. Saat ini, kau mungkin merindukan gadis berlesung pipit lain yang bukan aku. Sedang aku merindukan laki-laki impulsif lain yang pernah menjanjikan rumah sederhana dengan perpustakaan kecil untuk anak-anak kami yang lucu. Laki-laki yang mengenalkan aku pada Tolstoy dan Murakami saat usiaku 20 tahun.

Ini sebuah kencan yang aneh. Barangkali. Kencan nostalgia. Kencan konyol, lantaran kita abai satu sama lain dan menjadi medium masa lalu dan masa kini. Tiba-tiba saja semua ini membuat aku tersungkur pada kenangan yang berusaha kukemasi tanpa sisa. Kenangan yang tak pernah bisa kuanggap sebagai teman baik. Lebih tepatnya, kusebut saja musuh bebuyutan.

“Jogja itu pisau bermata dua. Di sini aku bahagia. Tapi aku harus pulang ke rumah. Aku disobek rindu. Kamu tahu? Rasanya seperti mencabut nanah. Pedih. Tapi bikin ketagihan,” ujarmu seraya menoleh ke arahku.

Aku tersenyum. Samar, kau mungkin mulai betah memandangi lesung pipitku yang tak jelas itu. Lalu kamu merindukan wajah lain, berharap waktu menarikmu mundur lekas-lekas, membawamu padanya yang sedang bermuram hati. Namun di depannya kau hanya akan bungkam seperti sepotong sajak Sapardi Djoko Damono, “Aku mencintaimu. Itulah sebabnya aku tak pernah berhenti mendoakanmu” yang pernah kau tuliskan untukku. Juga untuknya.

“Apa yang membuatmu kembali ke sini, selain menemuiku?” tanyamu.

“Entahlah.”

Dengan teaterikal aku mengisap rokok, menyusuri lekuk wajahmu yang garang, lalu kembali membuang muka pada gugur daun yang beringsut dari tempatnya berpijak. Tak ada yang ramah dari kota ini bagiku. Seluruh sudutnya selalu saja menatapku sinis, mengusirku, dan bahkan memperingatkan agar aku tidak kembali. Sekalipun untuk memburu rindu. Kota ini seolah diselimuti oleh pecahan-pecahan karang yang siap melukai kakiku kapan saja.

“Mungkin keberanian memaafkan,” gumamku lirih dan tak yakin, “seperti keberanianmu terus berharap menemukan perempuan berlesung pipit, berdahi lebar dengan hidung mungil yang kerap berubah indah ketika sebuah senyuman hadir tiba-tiba.”

Malam itu, mungkin 7 tahun yang lalu, di bangku kayu yang lumutan ini, aku duduk bersamanya. Kami berciuman dengan tak habis-habisnya seolah tak ada esok. Aku merakit awal, sedang dia mencari awal yang hilang. Awal bersama kekasihnya yang bermata teduh. Gairah masa muda yang meletup-letup membuatku lupa diri. Tak kusadari bahwa kita semua bisa menjelma menjadi orang lain yang sedang dirindukan seseorang. Seperti sekarang ini, kau menjelma menjadi lelaki yang pertama kali mengajari aku tentang percaya diri. Pun aku, sedang berubah menjadi perempuan yang tak akan pernah tahu seberapa sakitnya kau yang terkoyak rindu. Kita berdua sedang menjelma menjadi orang lain yang bukan kita. Kita sedang sama-sama membuat rasa sakit itu mencuat seperti cendawan.

Jadi tak salah bila kusebut ini kencan yang konyol. Kencan yang menjembatani kita untuk menemukan lagi romansa-romansa yang diam-diam kita rindukan, dan terang-terangan kita musuhi. Kamu mungkin benar, perempuan selalu dihantui oleh kesalahan membuat pilihan. Sedang laki-laki dibayangi oleh ketidakmampuan memilih. Ini pertama kalinya kita tak selisih paham.

Barangkali memang rindu dan amarah membikin dendam di dadaku ini bertambah parah. Aku sudah bertahun-tahun menghamba pada takdir, mencari-cari kembaran, lalu menyadari bahwa tak satu pun serupa di dunia ini. Sama seperti ia yang berharap mata teduhku adalah mata kekasihnya. Sama seperti engkau yang menganggap lesung pipit ini adalah milik perempuan kesayanganmu yang memilih tempat berlabuh lain. Kau bilang ini tidak adil. Tapi, apalah yang adil di dunia ini? Lalu kau bilang bahwa masing-masing dari kita bisa berusaha bersikap adil. Ah, kau kadang-kadang naif.

“Aku ingin menikahimu, akan kuberikan mahar 5000 buku,” katamu tiba-tiba.

“Apa?”

“Aku serius!”

Aku tertawa dengan mata berkaca. Selain impulsif, ternyata kamu lucu. Terlepas dari skenario yang telah kita bikin, ungkapanmu barusan membuat dadaku sesak. Kalimat yang kuharap keluar dari bibirnya yang legit, justru keluar dari bibirmu yang sama sekali belum pernah kukecup.

“Kamu gila, Al!” ujarku di sisa tawa. “Kamu pikir menikah seperti ajakan travelling keliling Eropa?”

“Mungkin. Ini hanya perkara keberanian,” katamu.

Aku beranjak, kamu bangkit. Bersisian, kita berjalan menjauhi lampu kota dan keramaian yang meninggalkan rasa rindu tak terperi.

“Jadi bagaimana?” tanyamu setengah berteriak saat kita lewati pengamen gondrong yang sedang berdendang di depan kerumunan anak muda berkalung kamera.

“Jangan bercanda, Al!” balasku sambil tertawa. Kakiku terus melangkah tanpa arah.

Malam ini, kita seperti anak SMP yang kasmaran. Kamu mengejar. Aku pura-pura malu dan jual mahal. Tapi, aku bukan lagi gadis berseragam putih biru yang gemar mengoleksi pernak pernik grup band idola dan berharap dipersunting gitarisnya. Begitupun kau yang sekarang lebih suka membaca The Story of Philosophy karya Bryan Magee ketimbang menonton MTV. Kita, dua orang yang berjumpa di tengah jalan untuk menegaskan keberanian pada tantangan hidup yang tak kunjung surut.

“Aku tidak pernah bercanda,” kau tersenyum tanpa menampakkan gigi.

Ada yang hendak meledak. Mataku mencari-cari kesungguhan di kedalaman matamu. Andai saja kau mengerti bahwa aku selalu takut dengan janji dan harapan, apalagi bila itu berkaitan dengan masa depan. Semua itu menyedot seluruh energi yang kupunya. Ujung-ujungnya aku harus jatuh dan sempoyongan berdiri tanpa penopang.

“Aku tidak bisa, Al. Jangan kau tanya kenapa,” lantas kukecup pipimu yang diselimuti sisa uap kopi.

Lalu ada hening selepas bibirku undur diri “Kau akan baik-baik saja, Al.”

“Ya.”

“Kau punya pacar yang cantik dan pandai. Dia juga ramah dan suka menolong. Apa yang kurang?”

“Satu-satunya yang kurang, dia bukan kamu.”

“Ah, aku hanya mengingatkanmu pada perempuan berlesung pipit itu.”

“Pun begitu kau bukan dia. Dan kau lebih nyata di sini.”

Mungkin aku yang keliru. Kamu tidak pernah tersesat. Akulah yang tersesat. Tersesat dalam penat yang tak berkesudahan, menduga-duga kau adalah dia, dan memasang batas setinggi menara agar kau tak berlarian dalam ruang kosong itu. Kemeriahan yang kau bawa amat menyiksaku. Aku hanya perempuan melankolis yang butuh tempat mengutuk. Kau lain, kau punya banyak hal yang membuatmu bisa lebih berkembang dari sekarang. Kau bahkan bisa menemukan perempuan yang lebih cantik dari Emma Watson. Bukan aku, perempuan berusia 30 tahun yang bahkan merasa tak pernah aman dengan lelaki yang menawarinya pernikahan.
Langit makin pekat dirundung mendung. Tetes air berjatuhan seperti kembang api dan jalanan mulai kocar kacir. Pelancong dan penghuni kota ini sibuk menyelamatkan diri dari pasukan langit. Kamu menunjuk emper toko tak berpenghuni. Kita berlari kecil, menjauhi riuh dengan jaketmu yang menjelma jadi payung dadakan. Di sana semuanya usai.

“Kita adalah sisa-sisa keikhlasan yang tak diikhlaskan.. Bertiup tak berarah.. Berarah ke ketiadaan.. Akankah bisa bertemu kelak di dalam perjumpaan.. Abadi..”. Ponselmu bernyanyi. Lalu mati sebelum kau angkat.

“Siapa?” tanyaku.

“Pacarku.”

“Apa kau diminta datang?”

“Tidak, dia di Bali.”

“Oh.”

Hujan pun merinai santun. Seperti air mata laki-laki yang jatuh diam-diam tanpa pesan. Dan aku hanya bisa menggenggam jemarimu yang mulai kisut.

“Aneh ya, kadang kamu, mungkin aku mengembangkan perasaan-perasaan yang tidak seharusnya ada,” bisikmu.

Aku tersenyum. Membenarkan ucapanmu dengan isyarat. Dalam hatiku yang berkabut, aku berdoa untuku. Sepertinya aku telah jatuh dan sedang sempoyongan berdiri.

Cerpen ini pernah dimuat di Jakartabeat 11 Mei 2013.

Riuh yang Sunyi

Apa yang bisa kau tertawakan dari sebuah kehidupan dalam teks? Banyak. Mungkin tentang sapa pagi yang membuat wajahmu cerah meski kran kamar mandi macet. Mungkin tentang rona pada pipi setelah kamu membaca penggalan puisi Sapardi Djoko Damono atau lirik lagu yang tak pernah kau tahu sebelumnya. Mungkin tentang betapa romantisnya ia yang tak pernah lupa membubuhkan tanda titik dua-bintang di akhir percakapan. Mungkin tentang kebiasaan-kebiasaan sederhana yang membuat hari-harimu tak lagi sepi. Atau tentang aksara-aksara yang bisa membuat suasana hatimu mendadak muram seperti langit yang hendak mendatangkan hujan. Kau tahu persis, sebenarnya itu hanya permainan murahan yang sudah sering kau jumpai. Terlalu sering malah. Tapi, kali ini kamu kesal setengah mati lantaran harapanmu yang terlalu tinggi pada sebuah kondisi tak sempurna. Kesal karena kamu terlanjur memprediksikan apa yang bakal terjadi.

Dalam segala keterbatasan, kamu mungkin marah seorang diri, mengumpat, dan frustasi. Kamu mungkin mulai mencari-cari kehidupan lain yang lebih nyata dari kehidupan teks yang mengecewakan. Tapi, berkali-kali kamu pulang ke tempat yang sama; pada dunia selebar kartu ATM yang senyap. Kamu masuk, duduk di sana, diam, dan tidak mendapati apa-apa. Kadang-kadang kau hanya menemukan sapaan yang ringkih, ciuman yang tidak berarti, ungkapan rindu yang hambar, dan segala yang tidak lagi hidup. Dari jarak yang hanya bisa kau jangkau dengan gelombang, ada keriuhan yang menyelimutinya. Keriuhan yang barangkali selalu ia rindukan setiap saat. Keriuhan yang tak cukup kau rengkuh dengan aksara-aksara bantat semacam ajakan bercumbu dan segala rupa obrolan melankolis. Keriuhan yang memberi jeda pada keintiman kalian yang dangkal. Dan kali ini gravitasi membuatmu luluh lantak menciumi tanah.

Kenapa hidup jadi tampak sulit tanpanya? Bukankah ia hanya tokoh imajinasi yang tak selalu jujur padamu? Bahkan kebohongannya telah menggiringmu pada titik di mana kau tak lagi bisa membedakan dusta dan kejujuran. Kamu dibutakan oleh kerinduan akan segala yang menyentuh dan utuh. Tentang remeh temeh yang sering kau anggap vital. Namun kau lupa bahwa segala bentuk kehidupan dalam teks hanyalah larik-larik yang fiktif, sesempurna pledoi yang membuat geger jagad. Ketika kau sadar bahwa semua tak lebih dari kegetiran dalam tulisan Puthut EA, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, kau telah jatuh. Jatuh pada ketidakberdayaanmu beranjak dari kubangan yang kau tahu akan mengotori baju barumu. Jatuh pada harapan yang kau sulam sendirian.

Berkali-kali kamu ingin berhenti. Berkali-kali kau jilat ludahmu sendiri. Setiap aksara yang timbul pada kanvas putih itu, pada obrolan-obrolan itu, ingin kau percayai sepenuh hati. Ingin kau simpulkan sebagai sebuah ketulusan. Tapi, kau tahu bahwa kau tak harus percaya. Bahkan kau sudah berjanji tak akan percaya pada apapun yang kau pikirkan. Tapi, separuh dirimu menginginkan percaya. Separuh lainnya tak mau tahu. Dan, hatimu yang tak pernah berbohong menyatakan bahwa kamu percaya. Kau percaya padanya, percaya pada angin yang membuatmu terobang-ambing di tengah lautan. Kebingungan, memutuskan bertahan atau karam. Semua teorimu dari A – Z salah. Hipotesismu melenceng jauh. Kau jatuh. Benar-benar jatuh.

Melihat keriuhan yang lama-lama membuatnya bosan, agaknya sama dengan membuatmu berkaca pada diri sendiri. Setiap orang barangkali punya rumah. Kau barangkali rumah paling mewah yang ia punya. Kau barangkali dinding-dinding yang membuatnya tak pernah malu untuk telanjang. Kau kehangatan yang membuatnya tampak begitu lemah. Anggap saja, saat ini ia sedang pergi jauh. Ya, anggap saja begitu. Barangkali sekarang, ia sedang menikmati keindahan Museum Louvre, mengagumi karya-karya Monet, Manet, Renoir, Van Gogh, dan Gauguin. Atau ia sedang tersesat pada kekagumannya sendiri akan Notre Dame. Kau tahu dia akan pulang. Hanya saja tak tahu kapan. Selama ia pergi, kau hanya perlu merawat dirimu sendiri, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik.

Dan, tunggulah ia pulang. Episode paling rawan di mana, kau akan selalu takut kehilangan.

Museum Barang Hilang

Gambar diambil dari sini

Sekarang Hari Selasa, pukul tujuh pagi. Tuan Melur duduk di balik meja kerjanya yang berhadapan langsung dengan jendela. Seperti yang sudah-sudah, hari ini jadwalnya membaca buku. Dia tak ingin diganggu siapa pun kecuali aku—untuk mengantar kopi. Tapi, di dalam dia tidak sendiri, ada Leo, seekor anjing St. Bernard berumur dua tahun yang menemaninya. Anjing malas yang sedang tidur di bawah kursi.

Di luar sana, langit cerah tanpa cacat. Meski matahari sudah tinggi, namun dedaunan masih basah oleh embun. Sejauh matanya memandang, Tuan Melur hanya mendapati lanskap kultur tamannya yang teduh. Suasana yang membuatnya betah berlama-lama berada di kamar besar itu. Dia mengambil buku dari ujung mejanya dengan gerakan pelan, membuka dan mulai menjelajah halaman demi halaman. The Art Museum. Continue reading

Sofis

Sebuah taksi berhenti tepat di depan sebuah rumah yang diapit sebuah bistro dan persewaan sepeda. Dua orang perempuan turun dengan terhuyung-huyung. Yang satu membuka gerbang dengan tangan tremor, yang satu lagi membanting pintu taksi dengan sedikit kasar sembari bergumam tidak jelas lalu keduanya tertawa sambil berangkulan masuk rumah. Taksi pun berlalu menjemput penumpang yang lain. Sedang pintu rumah dibiarkan terbuka hingga suara berisik dari dalam menarik perhatian pria tengah baya yang sedang menggembala anjing. Pria itu sempat berhenti, menoleh ke arah pintu, lalu geleng-geleng kepala, dan melanjutkan perjalanannya.

Continue reading

Tokek dan Sepatu


Aku seekor semut yang tinggal di balik lemari buku milik perempuan yang suka pulang malam. Rumahku berada di dekat kaki lemari, lubang ke dua setelah kamu melewati sepasang sepatu yang dibalut sarang laba-laba. Tiga bulan lalu, sepasang sepatu itu dilempar pemiliknya ke bawah lemari buku ini, dan hampir menutup tempat tinggalku. Untunglah terpantul dan kejadian itu sempat membuat rumahku diguncang gempa sementara. Continue reading