Suburban Love

Listen to me just this one, you should know.. It won’t take much time, it’s all in my mind.. I’ve got so many things to say..

Langit-langit kamarku kian redup. Bisa jadi ini efek obat flu yang membikin aku mengantuk. Sudah dua hari aku demam, hidungku tersumbat, tenggorokanku seperti diikat, kepalaku berkunang-kunang hebat dan ah, malas sekali aku bersinggungan dengan penyakit murahan ini.

Di saat yang paling sekarat, tiba-tiba pesanmu datang mengusik.

Begitulah caramu datang, selalu dadakan, seperti kebahagiaan, juga kesedihan. Dan nostalgia yang kamu bawa dalam setiap kata selalu saja berujung sedih. Kadang aku benci denganmu yang tak pernah mau beranjak dari dilema. Tapi itu kadang, bila pikiranku sedang semrawut. Seringnya, aku membiarkan semua yang kita pilih berjalan pada alurnya masing-masing.

Bagaimanapun juga konsisten terhadap pilihan itu penting buatku. Itulah kenapa kadang aku membencimu, karena kamu tidak pernah konsisten dengan pilihanmu. Kamu selalu mengajakku menepi di batas ketidakmungkinan lalu melarung sedih seolah-olah hatiku ini benda tahan banting. Asal kau tahu, aku tidak terbiasa bersedih dan kamu terlalu sering mengajariku bersedih. Ironisnya, aku mau bersedih demi kamu.

Kenyataan nyaris membuatku menyerah. Aku tidak punya banyak pilihan kecuali menunggu meski akulah yang sebenarnya kamu inginkan. Akulah yang kamu butuhkan. Tapi, pada kenyataannya aku tidak berarti apa-apa buatmu. Kamu tidak pernah memilih aku. Kamu memilih yang lain. Dan aku? Entahlah, mungkin semacam persinggahan yang sempurna. Tempatmu menanggalkan beban yang berlebihan. Barangkali tempatmu memperoleh energi sebesar matahari setelah lelah bekerja.

Dan, lagi-lagi kamu hanya datang ketika hatimu membiru tergores sepi. Kamu mengajakku untuk mengenang mimpi-mimpi kita yang rapuh. Tapi, entah kenapa rasa itu selalu menyambutmu dengan hangat layaknya tempat berteduh. Sepimu akan bermuara di sana hingga birunya pudar. Lalu kau akan pulang ke hati yang lain. Ya, kau akan pulang ke hati yang lain. Bukan hatiku.

Damar,
Semalam aku mimpi. Di sana, aku melihatmu. Hanya melihatmu dari tempat yang begitu jauh. Kakiku tak bisa bergerak, padahal aku ingin sekali menghampirimu. Kamu benar-benar tak bisa kujangkau. Tapi sungguh, aku tidak ingin kehilangan kamu.

Aku tak bisa berkata apa-apa. Barangkali ini pertanda bahwa semua harus diakhiri. Mungkin kita telah sampai pada pemberhentian. Seperti yang selalu kamu bilang padaku; takdir.

I don’t know where you come from, what you made from.. Something whisper me so good, how could you.. Send me a pack of lies..

Paginya, saat aku pergi ke klinik yang letaknya tak jauh dari kontrakan, kamu tiba-tiba datang. Membawa rantang berisi kudapan kesukaanku lengkap dengan buah-buahan dan secarik surat yang kamu selipkan di sisi rantang. Sepulang dari klinik, aku kaget, parfummu tertinggal di kamarku. Kudapati rantangmu berdiri tegak di dekat komputer, tapi tidak kudapati tubuhmu yang ingin sekali kupeluk biar flu ini cepat pergi dari tubuhku karena cemburu.

Cepat sembuh ya. Aku tidak suka kamu sakit!

Inilah yang tidak kumengerti, dari mana kamu tahu aku sedang sakit. Padahal aku tidak pernah koar-koar di televisi seperti artis yang haus perhatian. Selalu begitu. Kadang-kadang, kupikir kamu bukan manusia lantaran kamu selalu tahu apa yang kukerjakan. Lantas, kalau kamu bukan manusia, kenapa aku bisa memelukmu, aku bisa mengecup bibirmu yang basah dan selalu berbau stroberi. Sementara ini, asumsiku salah besar. Kamu manusia. Perempuan paling cantik yang pernah ada dalam hidupku. Perempuan asing yang membuatku tergila-gila. Noi.

Kau membuatku hidup kembali di sela keterpurukan yang sempat kucicipi sekilas. Ada banyak yang berubah dalam hidupku sejak kedatanganmu. Aku malas mengerjakan banyak hal yang sudah menjadi kebiasaanku; membaca, menulis, nonton film, main gitar dan merokok. Tapi, aku jadi lebih bersemangat bekerja dan menantikan pesan-pesanmu di kotak masuk sepulang kerja. Lantaran kupikir cinta adalah energi terdahsyat yang ada di muka bumi ini.

We could make it simple.. Why you always set me in trouble.. I’ve never been so sure, my feeling lack to show.. But you don’t even care I know..

Setelah aku sembuh dari flu keparat itu, kamu datang ke kontrakanku lagi. Aku sedang memetik gitar di kamar ketika kamu berdiri di pintu dengan jeans dan kaos strip. Kakimu yang jenjang berdiri sejajar. Senyummu merekah seperti anak kecil yang baru saja dapat kembang gula dan es krim. Dinda yang dilantunkan Kla Project tak kulanjutkan.

“Sudah sembuh?” tanyamu seraya menurunkan tas dari bahu. Masih belum beranjak dari pintu.
“Sudah,” jawabku, “masuklah, tidak ada virus di sini.”

Kamu tergelak lalu menghujaniku dengan ciuman. Ah, sudah lama aku tidak menghidu aroma stroberi dari bibirmu yang basah. Tubuhmu makin kurus saja. Rasanya pelukanku dulu penuh, tapi kali ini seperti ada rongga tersisa. Apa kamu sakit, Noi?
“Kamu kurusan?”
“Harus diet.”
“Kenapa harus?”
“Biar pakaianku muat.”

Tanpa kusadari, seseorang telah berdiri di pintu saat kita sibuk melepas rindu. Sesuatu terjatuh, dan kita menoleh bersamaan. Miranda berdiri dengan airmata mengalir lalu berlari ketika kita menoleh bersamaan. Aku meninggalkan kamar, mengejar Miranda tapi perempuan itu lebih dulu kabur dengan mobilnya sebelum sempat kucegah.
Ketika aku kembali, kamu sedang berbicara dengan ponselku.

“Iya, aku pacarnya Damar. Memangnya kenapa? Nggak suka?”
Langsung kurebut ponselku dari tanganmu.
“Noi, kumohon jangan membuat masalah!”
“Habis dia rese!”
Kamu cemberut. Wajahmu memerah.
“Tapi, kamu kan tidak harus bohong. Kita tidak pernah pacaran!”

Kali ini kamu menatapku marah. Matamu berkaca, bisa pecah sewaktu-waktu, tanganmu mengepal geram padaku. Kau mengambil tas dan hendak pergi. Aduh, kenapa perempuan selalu bertindak tanpa berpikir? Kalau sudah begini, pasti airmata jadi senjata paling ampuh. Sebelum kamu meninggalkan kamarku, kuraih tanganmu.
“Maaf, maafkan aku, Noi!” ucapku penuh sesal.

Tapi, kamu terlanjur tak peduli. Tak ada secuil kata keluar dari bibirmu yang beberapa menit lalu kupagut dengan mesra.
Tak ada. Kamu pergi.

You can fill your eyes with tears.. Wreath your face with smile.. Somehow I can’t deny.. But, I’m trying to let you go..

Lama kamu tidak pernah datang sejak pertengkaran itu. Pun tak ada pesan yang mendarat di ponselku. Aku sekarat karena menahan rindu dan aku tak tahu ke mana harus mencarimu. Pesan-pesanku tak pernah berbalas. Panggilanku tak pernah kau terima, malahan terkadang sengaja kau alihkan ke nomor lain. Aku benar-benar tak tahu bagaimana memperbaiki semuanya. Kamu seperti sedang menghukumku, Noi.

If this is your game.. You’re the only one who makes the rules.. I’ve tried to play this one.. If this is your game.. But you never let me find the rules.. I’m tired to play this one.. And I loose myself for nothing..

“Sudah dapat undangan? Noi menikah hari Minggu besok.” Temanku tiba-tiba masuk kamar.
Aku lemas.

Keesokan harinya, sepulang kerja, kembali kudapati kamarku penuh dengan bau parfum yang kukenal. Kamu datang. Sebuah undangan tergeletak di kasurku. Dan sebuah surat bersampul ungu muda.

Aku tidak pernah jatuh cinta sebelum ini. Seumur hidup, aku jatuh cinta sekali. Padamu, Damar.. Tapi, ternyata hidup tak sebebas yang kukira.

Kamu benar-benar perempuan tercantik yang pernah kulihat, Noi. Mungkin benar kau tinggal di balik awan, karena perempuan yang tinggal di bumi tak pernah ada yang sepertimu. Gaun putih itu membalut tubuhmu dengan sempurna. Bibirmu selalu melengkung tiap menjabat tamu yang sudah berbaris dengan rapi. Sedangkan aku hanya berdiri di dekat meja soft drink, meneguk minuman warna-warni itu sambil memandangimu yang tak sadar dengan kehadiranku.

I wonder if you know.. Suddenly you changed my mind.. I wonder why yougo.. I can’t believe what we’ve become now.. I wonder if you know.. Suddenly you make me drown.. I wonder why you go.. I’ve only got myself to blame.. *

Cerpen ini adalah salah satu cerita yang terdapat dalam buku Suburban Love, karya saya.

*Lirik Suburban Love – Lipstik Lipsing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s