Kepada R (Resah)

Kita tak semestinya berpijak di antara ragu yang tak berbatas.. Seperti berdiri di tengah kehampaan.. Mencoba untuk membuat pertemuan cinta..

Kamu memang impulsif. Mudah jatuh pada suasana yang memberimu ruang untuk bernostalgia dengan luka-luka. Perasaan sakit yang tanpa sadar selalu kau pelihara dengan apik di sudut hati. Barangkali kita sama. Bedanya, kau tak pernah lelah dengan perasaan-perasaan sentimentil semacam itu, sedangkan aku mulai tak percaya pelbagai harapan yang tumbuh di sekelilingku. Harapan yang hanya akan membuatku tidak produktif menjalani hidup. Harapan yang sering kali harus bertabrakan dengan kenyataan yang pahit. Maka aku bertekad hanya menjalani sebaik-baiknya apa yang kuyakini benar.

Dan sekarang kita sedang duduk berdua di bangku kayu yang lumutan, di tepi jalan. Berbagi malam, berbagi bintang, berbagi kisah yang berkebalikan, berbagi kasih, juga rindu. Saat ini, kau mungkin merindukan gadis berlesung pipit lain yang bukan aku. Sedang aku merindukan laki-laki impulsif lain yang pernah menjanjikan rumah sederhana dengan perpustakaan kecil untuk anak-anak kami yang lucu. Laki-laki yang mengenalkan aku pada Tolstoy dan Murakami saat usiaku 20 tahun.

Ini sebuah kencan yang aneh. Barangkali. Kencan nostalgia. Kencan konyol, lantaran kita abai satu sama lain dan menjadi medium masa lalu dan masa kini. Tiba-tiba saja semua ini membuat aku tersungkur pada kenangan yang berusaha kukemasi tanpa sisa. Kenangan yang tak pernah bisa kuanggap sebagai teman baik. Lebih tepatnya, kusebut saja musuh bebuyutan.

“Jogja itu pisau bermata dua. Di sini aku bahagia. Tapi aku harus pulang ke rumah. Aku disobek rindu. Kamu tahu? Rasanya seperti mencabut nanah. Pedih. Tapi bikin ketagihan,” ujarmu seraya menoleh ke arahku.

Aku tersenyum. Samar, kau mungkin mulai betah memandangi lesung pipitku yang tak jelas itu. Lalu kamu merindukan wajah lain, berharap waktu menarikmu mundur lekas-lekas, membawamu padanya yang sedang bermuram hati. Namun di depannya kau hanya akan bungkam seperti sepotong sajak Sapardi Djoko Damono, “Aku mencintaimu. Itulah sebabnya aku tak pernah berhenti mendoakanmu” yang pernah kau tuliskan untukku. Juga untuknya.

“Apa yang membuatmu kembali ke sini, selain menemuiku?” tanyamu.

“Entahlah.”

Dengan teaterikal aku mengisap rokok, menyusuri lekuk wajahmu yang garang, lalu kembali membuang muka pada gugur daun yang beringsut dari tempatnya berpijak. Tak ada yang ramah dari kota ini bagiku. Seluruh sudutnya selalu saja menatapku sinis, mengusirku, dan bahkan memperingatkan agar aku tidak kembali. Sekalipun untuk memburu rindu. Kota ini seolah diselimuti oleh pecahan-pecahan karang yang siap melukai kakiku kapan saja.

“Mungkin keberanian memaafkan,” gumamku lirih dan tak yakin, “seperti keberanianmu terus berharap menemukan perempuan berlesung pipit, berdahi lebar dengan hidung mungil yang kerap berubah indah ketika sebuah senyuman hadir tiba-tiba.”

Malam itu, mungkin 7 tahun yang lalu, di bangku kayu yang lumutan ini, aku duduk bersamanya. Kami berciuman dengan tak habis-habisnya seolah tak ada esok. Aku merakit awal, sedang dia mencari awal yang hilang. Awal bersama kekasihnya yang bermata teduh. Gairah masa muda yang meletup-letup membuatku lupa diri. Tak kusadari bahwa kita semua bisa menjelma menjadi orang lain yang sedang dirindukan seseorang. Seperti sekarang ini, kau menjelma menjadi lelaki yang pertama kali mengajari aku tentang percaya diri. Pun aku, sedang berubah menjadi perempuan yang tak akan pernah tahu seberapa sakitnya kau yang terkoyak rindu. Kita berdua sedang menjelma menjadi orang lain yang bukan kita. Kita sedang sama-sama membuat rasa sakit itu mencuat seperti cendawan.

Jadi tak salah bila kusebut ini kencan yang konyol. Kencan yang menjembatani kita untuk menemukan lagi romansa-romansa yang diam-diam kita rindukan, dan terang-terangan kita musuhi. Kamu mungkin benar, perempuan selalu dihantui oleh kesalahan membuat pilihan. Sedang laki-laki dibayangi oleh ketidakmampuan memilih. Ini pertama kalinya kita tak selisih paham.

Barangkali memang rindu dan amarah membikin dendam di dadaku ini bertambah parah. Aku sudah bertahun-tahun menghamba pada takdir, mencari-cari kembaran, lalu menyadari bahwa tak satu pun serupa di dunia ini. Sama seperti ia yang berharap mata teduhku adalah mata kekasihnya. Sama seperti engkau yang menganggap lesung pipit ini adalah milik perempuan kesayanganmu yang memilih tempat berlabuh lain. Kau bilang ini tidak adil. Tapi, apalah yang adil di dunia ini? Lalu kau bilang bahwa masing-masing dari kita bisa berusaha bersikap adil. Ah, kau kadang-kadang naif.

“Aku ingin menikahimu, akan kuberikan mahar 5000 buku,” katamu tiba-tiba.

“Apa?”

“Aku serius!”

Aku tertawa dengan mata berkaca. Selain impulsif, ternyata kamu lucu. Terlepas dari skenario yang telah kita bikin, ungkapanmu barusan membuat dadaku sesak. Kalimat yang kuharap keluar dari bibirnya yang legit, justru keluar dari bibirmu yang sama sekali belum pernah kukecup.

“Kamu gila, Al!” ujarku di sisa tawa. “Kamu pikir menikah seperti ajakan travelling keliling Eropa?”

“Mungkin. Ini hanya perkara keberanian,” katamu.

Aku beranjak, kamu bangkit. Bersisian, kita berjalan menjauhi lampu kota dan keramaian yang meninggalkan rasa rindu tak terperi.

“Jadi bagaimana?” tanyamu setengah berteriak saat kita lewati pengamen gondrong yang sedang berdendang di depan kerumunan anak muda berkalung kamera.

“Jangan bercanda, Al!” balasku sambil tertawa. Kakiku terus melangkah tanpa arah.

Malam ini, kita seperti anak SMP yang kasmaran. Kamu mengejar. Aku pura-pura malu dan jual mahal. Tapi, aku bukan lagi gadis berseragam putih biru yang gemar mengoleksi pernak pernik grup band idola dan berharap dipersunting gitarisnya. Begitupun kau yang sekarang lebih suka membaca The Story of Philosophy karya Bryan Magee ketimbang menonton MTV. Kita, dua orang yang berjumpa di tengah jalan untuk menegaskan keberanian pada tantangan hidup yang tak kunjung surut.

“Aku tidak pernah bercanda,” kau tersenyum tanpa menampakkan gigi.

Ada yang hendak meledak. Mataku mencari-cari kesungguhan di kedalaman matamu. Andai saja kau mengerti bahwa aku selalu takut dengan janji dan harapan, apalagi bila itu berkaitan dengan masa depan. Semua itu menyedot seluruh energi yang kupunya. Ujung-ujungnya aku harus jatuh dan sempoyongan berdiri tanpa penopang.

“Aku tidak bisa, Al. Jangan kau tanya kenapa,” lantas kukecup pipimu yang diselimuti sisa uap kopi.

Lalu ada hening selepas bibirku undur diri “Kau akan baik-baik saja, Al.”

“Ya.”

“Kau punya pacar yang cantik dan pandai. Dia juga ramah dan suka menolong. Apa yang kurang?”

“Satu-satunya yang kurang, dia bukan kamu.”

“Ah, aku hanya mengingatkanmu pada perempuan berlesung pipit itu.”

“Pun begitu kau bukan dia. Dan kau lebih nyata di sini.”

Mungkin aku yang keliru. Kamu tidak pernah tersesat. Akulah yang tersesat. Tersesat dalam penat yang tak berkesudahan, menduga-duga kau adalah dia, dan memasang batas setinggi menara agar kau tak berlarian dalam ruang kosong itu. Kemeriahan yang kau bawa amat menyiksaku. Aku hanya perempuan melankolis yang butuh tempat mengutuk. Kau lain, kau punya banyak hal yang membuatmu bisa lebih berkembang dari sekarang. Kau bahkan bisa menemukan perempuan yang lebih cantik dari Emma Watson. Bukan aku, perempuan berusia 30 tahun yang bahkan merasa tak pernah aman dengan lelaki yang menawarinya pernikahan.
Langit makin pekat dirundung mendung. Tetes air berjatuhan seperti kembang api dan jalanan mulai kocar kacir. Pelancong dan penghuni kota ini sibuk menyelamatkan diri dari pasukan langit. Kamu menunjuk emper toko tak berpenghuni. Kita berlari kecil, menjauhi riuh dengan jaketmu yang menjelma jadi payung dadakan. Di sana semuanya usai.

“Kita adalah sisa-sisa keikhlasan yang tak diikhlaskan.. Bertiup tak berarah.. Berarah ke ketiadaan.. Akankah bisa bertemu kelak di dalam perjumpaan.. Abadi..”. Ponselmu bernyanyi. Lalu mati sebelum kau angkat.

“Siapa?” tanyaku.

“Pacarku.”

“Apa kau diminta datang?”

“Tidak, dia di Bali.”

“Oh.”

Hujan pun merinai santun. Seperti air mata laki-laki yang jatuh diam-diam tanpa pesan. Dan aku hanya bisa menggenggam jemarimu yang mulai kisut.

“Aneh ya, kadang kamu, mungkin aku mengembangkan perasaan-perasaan yang tidak seharusnya ada,” bisikmu.

Aku tersenyum. Membenarkan ucapanmu dengan isyarat. Dalam hatiku yang berkabut, aku berdoa untuku. Sepertinya aku telah jatuh dan sedang sempoyongan berdiri.

Cerpen ini pernah dimuat di Jakartabeat 11 Mei 2013.

Riuh yang Sunyi

Apa yang bisa kau tertawakan dari sebuah kehidupan dalam teks? Banyak. Mungkin tentang sapa pagi yang membuat wajahmu cerah meski kran kamar mandi macet. Mungkin tentang rona pada pipi setelah kamu membaca penggalan puisi Sapardi Djoko Damono atau lirik lagu yang tak pernah kau tahu sebelumnya. Mungkin tentang betapa romantisnya ia yang tak pernah lupa membubuhkan tanda titik dua-bintang di akhir percakapan. Mungkin tentang kebiasaan-kebiasaan sederhana yang membuat hari-harimu tak lagi sepi. Atau tentang aksara-aksara yang bisa membuat suasana hatimu mendadak muram seperti langit yang hendak mendatangkan hujan. Kau tahu persis, sebenarnya itu hanya permainan murahan yang sudah sering kau jumpai. Terlalu sering malah. Tapi, kali ini kamu kesal setengah mati lantaran harapanmu yang terlalu tinggi pada sebuah kondisi tak sempurna. Kesal karena kamu terlanjur memprediksikan apa yang bakal terjadi.

Dalam segala keterbatasan, kamu mungkin marah seorang diri, mengumpat, dan frustasi. Kamu mungkin mulai mencari-cari kehidupan lain yang lebih nyata dari kehidupan teks yang mengecewakan. Tapi, berkali-kali kamu pulang ke tempat yang sama; pada dunia selebar kartu ATM yang senyap. Kamu masuk, duduk di sana, diam, dan tidak mendapati apa-apa. Kadang-kadang kau hanya menemukan sapaan yang ringkih, ciuman yang tidak berarti, ungkapan rindu yang hambar, dan segala yang tidak lagi hidup. Dari jarak yang hanya bisa kau jangkau dengan gelombang, ada keriuhan yang menyelimutinya. Keriuhan yang barangkali selalu ia rindukan setiap saat. Keriuhan yang tak cukup kau rengkuh dengan aksara-aksara bantat semacam ajakan bercumbu dan segala rupa obrolan melankolis. Keriuhan yang memberi jeda pada keintiman kalian yang dangkal. Dan kali ini gravitasi membuatmu luluh lantak menciumi tanah.

Kenapa hidup jadi tampak sulit tanpanya? Bukankah ia hanya tokoh imajinasi yang tak selalu jujur padamu? Bahkan kebohongannya telah menggiringmu pada titik di mana kau tak lagi bisa membedakan dusta dan kejujuran. Kamu dibutakan oleh kerinduan akan segala yang menyentuh dan utuh. Tentang remeh temeh yang sering kau anggap vital. Namun kau lupa bahwa segala bentuk kehidupan dalam teks hanyalah larik-larik yang fiktif, sesempurna pledoi yang membuat geger jagad. Ketika kau sadar bahwa semua tak lebih dari kegetiran dalam tulisan Puthut EA, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, kau telah jatuh. Jatuh pada ketidakberdayaanmu beranjak dari kubangan yang kau tahu akan mengotori baju barumu. Jatuh pada harapan yang kau sulam sendirian.

Berkali-kali kamu ingin berhenti. Berkali-kali kau jilat ludahmu sendiri. Setiap aksara yang timbul pada kanvas putih itu, pada obrolan-obrolan itu, ingin kau percayai sepenuh hati. Ingin kau simpulkan sebagai sebuah ketulusan. Tapi, kau tahu bahwa kau tak harus percaya. Bahkan kau sudah berjanji tak akan percaya pada apapun yang kau pikirkan. Tapi, separuh dirimu menginginkan percaya. Separuh lainnya tak mau tahu. Dan, hatimu yang tak pernah berbohong menyatakan bahwa kamu percaya. Kau percaya padanya, percaya pada angin yang membuatmu terobang-ambing di tengah lautan. Kebingungan, memutuskan bertahan atau karam. Semua teorimu dari A – Z salah. Hipotesismu melenceng jauh. Kau jatuh. Benar-benar jatuh.

Melihat keriuhan yang lama-lama membuatnya bosan, agaknya sama dengan membuatmu berkaca pada diri sendiri. Setiap orang barangkali punya rumah. Kau barangkali rumah paling mewah yang ia punya. Kau barangkali dinding-dinding yang membuatnya tak pernah malu untuk telanjang. Kau kehangatan yang membuatnya tampak begitu lemah. Anggap saja, saat ini ia sedang pergi jauh. Ya, anggap saja begitu. Barangkali sekarang, ia sedang menikmati keindahan Museum Louvre, mengagumi karya-karya Monet, Manet, Renoir, Van Gogh, dan Gauguin. Atau ia sedang tersesat pada kekagumannya sendiri akan Notre Dame. Kau tahu dia akan pulang. Hanya saja tak tahu kapan. Selama ia pergi, kau hanya perlu merawat dirimu sendiri, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik.

Dan, tunggulah ia pulang. Episode paling rawan di mana, kau akan selalu takut kehilangan.

Suburban Love

Listen to me just this one, you should know.. It won’t take much time, it’s all in my mind.. I’ve got so many things to say..

Langit-langit kamarku kian redup. Bisa jadi ini efek obat flu yang membikin aku mengantuk. Sudah dua hari aku demam, hidungku tersumbat, tenggorokanku seperti diikat, kepalaku berkunang-kunang hebat dan ah, malas sekali aku bersinggungan dengan penyakit murahan ini.

Di saat yang paling sekarat, tiba-tiba pesanmu datang mengusik.

Begitulah caramu datang, selalu dadakan, seperti kebahagiaan, juga kesedihan. Dan nostalgia yang kamu bawa dalam setiap kata selalu saja berujung sedih. Kadang aku benci denganmu yang tak pernah mau beranjak dari dilema. Tapi itu kadang, bila pikiranku sedang semrawut. Seringnya, aku membiarkan semua yang kita pilih berjalan pada alurnya masing-masing.

Bagaimanapun juga konsisten terhadap pilihan itu penting buatku. Itulah kenapa kadang aku membencimu, karena kamu tidak pernah konsisten dengan pilihanmu. Kamu selalu mengajakku menepi di batas ketidakmungkinan lalu melarung sedih seolah-olah hatiku ini benda tahan banting. Asal kau tahu, aku tidak terbiasa bersedih dan kamu terlalu sering mengajariku bersedih. Ironisnya, aku mau bersedih demi kamu.

Kenyataan nyaris membuatku menyerah. Aku tidak punya banyak pilihan kecuali menunggu meski akulah yang sebenarnya kamu inginkan. Akulah yang kamu butuhkan. Tapi, pada kenyataannya aku tidak berarti apa-apa buatmu. Kamu tidak pernah memilih aku. Kamu memilih yang lain. Dan aku? Entahlah, mungkin semacam persinggahan yang sempurna. Tempatmu menanggalkan beban yang berlebihan. Barangkali tempatmu memperoleh energi sebesar matahari setelah lelah bekerja.

Dan, lagi-lagi kamu hanya datang ketika hatimu membiru tergores sepi. Kamu mengajakku untuk mengenang mimpi-mimpi kita yang rapuh. Tapi, entah kenapa rasa itu selalu menyambutmu dengan hangat layaknya tempat berteduh. Sepimu akan bermuara di sana hingga birunya pudar. Lalu kau akan pulang ke hati yang lain. Ya, kau akan pulang ke hati yang lain. Bukan hatiku.

Damar,
Semalam aku mimpi. Di sana, aku melihatmu. Hanya melihatmu dari tempat yang begitu jauh. Kakiku tak bisa bergerak, padahal aku ingin sekali menghampirimu. Kamu benar-benar tak bisa kujangkau. Tapi sungguh, aku tidak ingin kehilangan kamu.

Aku tak bisa berkata apa-apa. Barangkali ini pertanda bahwa semua harus diakhiri. Mungkin kita telah sampai pada pemberhentian. Seperti yang selalu kamu bilang padaku; takdir.

I don’t know where you come from, what you made from.. Something whisper me so good, how could you.. Send me a pack of lies..

Paginya, saat aku pergi ke klinik yang letaknya tak jauh dari kontrakan, kamu tiba-tiba datang. Membawa rantang berisi kudapan kesukaanku lengkap dengan buah-buahan dan secarik surat yang kamu selipkan di sisi rantang. Sepulang dari klinik, aku kaget, parfummu tertinggal di kamarku. Kudapati rantangmu berdiri tegak di dekat komputer, tapi tidak kudapati tubuhmu yang ingin sekali kupeluk biar flu ini cepat pergi dari tubuhku karena cemburu.

Cepat sembuh ya. Aku tidak suka kamu sakit!

Inilah yang tidak kumengerti, dari mana kamu tahu aku sedang sakit. Padahal aku tidak pernah koar-koar di televisi seperti artis yang haus perhatian. Selalu begitu. Kadang-kadang, kupikir kamu bukan manusia lantaran kamu selalu tahu apa yang kukerjakan. Lantas, kalau kamu bukan manusia, kenapa aku bisa memelukmu, aku bisa mengecup bibirmu yang basah dan selalu berbau stroberi. Sementara ini, asumsiku salah besar. Kamu manusia. Perempuan paling cantik yang pernah ada dalam hidupku. Perempuan asing yang membuatku tergila-gila. Noi.

Kau membuatku hidup kembali di sela keterpurukan yang sempat kucicipi sekilas. Ada banyak yang berubah dalam hidupku sejak kedatanganmu. Aku malas mengerjakan banyak hal yang sudah menjadi kebiasaanku; membaca, menulis, nonton film, main gitar dan merokok. Tapi, aku jadi lebih bersemangat bekerja dan menantikan pesan-pesanmu di kotak masuk sepulang kerja. Lantaran kupikir cinta adalah energi terdahsyat yang ada di muka bumi ini.

We could make it simple.. Why you always set me in trouble.. I’ve never been so sure, my feeling lack to show.. But you don’t even care I know..

Setelah aku sembuh dari flu keparat itu, kamu datang ke kontrakanku lagi. Aku sedang memetik gitar di kamar ketika kamu berdiri di pintu dengan jeans dan kaos strip. Kakimu yang jenjang berdiri sejajar. Senyummu merekah seperti anak kecil yang baru saja dapat kembang gula dan es krim. Dinda yang dilantunkan Kla Project tak kulanjutkan.

“Sudah sembuh?” tanyamu seraya menurunkan tas dari bahu. Masih belum beranjak dari pintu.
“Sudah,” jawabku, “masuklah, tidak ada virus di sini.”

Kamu tergelak lalu menghujaniku dengan ciuman. Ah, sudah lama aku tidak menghidu aroma stroberi dari bibirmu yang basah. Tubuhmu makin kurus saja. Rasanya pelukanku dulu penuh, tapi kali ini seperti ada rongga tersisa. Apa kamu sakit, Noi?
“Kamu kurusan?”
“Harus diet.”
“Kenapa harus?”
“Biar pakaianku muat.”

Tanpa kusadari, seseorang telah berdiri di pintu saat kita sibuk melepas rindu. Sesuatu terjatuh, dan kita menoleh bersamaan. Miranda berdiri dengan airmata mengalir lalu berlari ketika kita menoleh bersamaan. Aku meninggalkan kamar, mengejar Miranda tapi perempuan itu lebih dulu kabur dengan mobilnya sebelum sempat kucegah.
Ketika aku kembali, kamu sedang berbicara dengan ponselku.

“Iya, aku pacarnya Damar. Memangnya kenapa? Nggak suka?”
Langsung kurebut ponselku dari tanganmu.
“Noi, kumohon jangan membuat masalah!”
“Habis dia rese!”
Kamu cemberut. Wajahmu memerah.
“Tapi, kamu kan tidak harus bohong. Kita tidak pernah pacaran!”

Kali ini kamu menatapku marah. Matamu berkaca, bisa pecah sewaktu-waktu, tanganmu mengepal geram padaku. Kau mengambil tas dan hendak pergi. Aduh, kenapa perempuan selalu bertindak tanpa berpikir? Kalau sudah begini, pasti airmata jadi senjata paling ampuh. Sebelum kamu meninggalkan kamarku, kuraih tanganmu.
“Maaf, maafkan aku, Noi!” ucapku penuh sesal.

Tapi, kamu terlanjur tak peduli. Tak ada secuil kata keluar dari bibirmu yang beberapa menit lalu kupagut dengan mesra.
Tak ada. Kamu pergi.

You can fill your eyes with tears.. Wreath your face with smile.. Somehow I can’t deny.. But, I’m trying to let you go..

Lama kamu tidak pernah datang sejak pertengkaran itu. Pun tak ada pesan yang mendarat di ponselku. Aku sekarat karena menahan rindu dan aku tak tahu ke mana harus mencarimu. Pesan-pesanku tak pernah berbalas. Panggilanku tak pernah kau terima, malahan terkadang sengaja kau alihkan ke nomor lain. Aku benar-benar tak tahu bagaimana memperbaiki semuanya. Kamu seperti sedang menghukumku, Noi.

If this is your game.. You’re the only one who makes the rules.. I’ve tried to play this one.. If this is your game.. But you never let me find the rules.. I’m tired to play this one.. And I loose myself for nothing..

“Sudah dapat undangan? Noi menikah hari Minggu besok.” Temanku tiba-tiba masuk kamar.
Aku lemas.

Keesokan harinya, sepulang kerja, kembali kudapati kamarku penuh dengan bau parfum yang kukenal. Kamu datang. Sebuah undangan tergeletak di kasurku. Dan sebuah surat bersampul ungu muda.

Aku tidak pernah jatuh cinta sebelum ini. Seumur hidup, aku jatuh cinta sekali. Padamu, Damar.. Tapi, ternyata hidup tak sebebas yang kukira.

Kamu benar-benar perempuan tercantik yang pernah kulihat, Noi. Mungkin benar kau tinggal di balik awan, karena perempuan yang tinggal di bumi tak pernah ada yang sepertimu. Gaun putih itu membalut tubuhmu dengan sempurna. Bibirmu selalu melengkung tiap menjabat tamu yang sudah berbaris dengan rapi. Sedangkan aku hanya berdiri di dekat meja soft drink, meneguk minuman warna-warni itu sambil memandangimu yang tak sadar dengan kehadiranku.

I wonder if you know.. Suddenly you changed my mind.. I wonder why yougo.. I can’t believe what we’ve become now.. I wonder if you know.. Suddenly you make me drown.. I wonder why you go.. I’ve only got myself to blame.. *

Cerpen ini adalah salah satu cerita yang terdapat dalam buku Suburban Love, karya saya.

*Lirik Suburban Love – Lipstik Lipsing.

Resistance Radio Station

Grandma started to give me a back massage, relieving the pain caused by carrying a backpack too often. She applied telon oil and her callused hands made me sleepy. I tried to stay awake, waiting for her to tell stories like she always did. Stories about her lasting youth, about Bung Tomo, about Kang Yoesoef—her idol—who was not my grandpa. My grandpa’s name was Tjipto. Yes, I remember my grandpa’s name correctly. It was Tjipto Soesanto, not Yoesoef.

However, Grandma preferred to tell stories about Yoesoef rather than about my grandpa. She still remembered the man whose whereabouts were unknown even after the war ended. I never knew my grandpa. I was born five years after he died. Continue reading

Jeda Untuk Merenung

Gambar diambil dari sini

Segalanya sedang berhenti pada ujung hening yang meletup-letup. Kau tahu, kita berdua seharusnya tidak terjebak dalam perenungan riuh yang panjang ini. Aku sakit, kamu sakit, kita sama-sama sakit. Tapi, aku hanya ingin jujur padamu, jujur pada diriku sendiri bahwa secara perlahan-lahan hatiku tidak lagi bergetar seperti dulu. Jujur bahwa saat kita bersama aku hanya bisa bersikap dingin. Continue reading

Satu Tahun…. (sebuah giveaway)

Yuk ikutan! Dapat hadiah buku #SuburbanLove lho 😉

celoteh .:tt:.

Bulan Februari hampir berakhir, bulan Maret segera datang. Waktu begitu cepat berlalu ya? Apakah teman-teman merasakan hal yang sama? Masih ingat bukan, 1 tahun yang lalu adalah sebuah duka bagi Jepang. 11 Maret 2011, gempa berkekuatan 9SR yang diikuti tsunami mengguncang daerah Tohoku, menyebabkan hilangnya nyawa dan harta benda. Gempa dan tsunami juga menyebabkan bocornya reaktor nuklir Fukushima yang menyebabkan kekhawatiran bagi banyak pihak. Tak terkecuali kekhawatiran bagi keluarga dan rekan-rekan saya. Ya, karena sepuluh hari setelah kejadian itu adalah keberangkatan saya ke Jepang. Dua puluh Maret duaribu sebelas, saya melambaikan tangan pada Bapak dan saudara-saudara saya di bandara.

Bulan depan tanggal 11 adalah 1 tahun bencana Tohoku di Jepang. Bulan depan tanggal 21 adalah 1 tahun saya berada di Jepang. Mengenang kedua hal itu, saya bermaksud mengadakan giveaway kecil-kecilan. Dan ini adalah giveaway pertama saya. Adapun ketentuannya adalah sebagai berikut.

Kategori 1: Mengenang 1 tahun gempa Tohoku (non fiksi)

View original post 371 more words

Purnama Jelita

Aku masih ingat, Lebaran bulan lalu Mbak Nunik—kakak sepupuku—berbisik padaku, “Titip Habib ya, aku pengen dia banyak ngobrol sama kamu, dia anaknya tertutup. Aku pengen dia masuk Akpol”. Tapi, siapa menyangka hari itu terakhir kali aku mencium pipinya. Mbak Nunik telah berpulang pada rahim Tuhan. Menjadi kepompong. Terbungkus kain putih. Kaku. Continue reading