Riuh yang Sunyi

Apa yang bisa kau tertawakan dari sebuah kehidupan dalam teks? Banyak. Mungkin tentang sapa pagi yang membuat wajahmu cerah meski kran kamar mandi macet. Mungkin tentang rona pada pipi setelah kamu membaca penggalan puisi Sapardi Djoko Damono atau lirik lagu yang tak pernah kau tahu sebelumnya. Mungkin tentang betapa romantisnya ia yang tak pernah lupa membubuhkan tanda titik dua-bintang di akhir percakapan. Mungkin tentang kebiasaan-kebiasaan sederhana yang membuat hari-harimu tak lagi sepi. Atau tentang aksara-aksara yang bisa membuat suasana hatimu mendadak muram seperti langit yang hendak mendatangkan hujan. Kau tahu persis, sebenarnya itu hanya permainan murahan yang sudah sering kau jumpai. Terlalu sering malah. Tapi, kali ini kamu kesal setengah mati lantaran harapanmu yang terlalu tinggi pada sebuah kondisi tak sempurna. Kesal karena kamu terlanjur memprediksikan apa yang bakal terjadi.

Dalam segala keterbatasan, kamu mungkin marah seorang diri, mengumpat, dan frustasi. Kamu mungkin mulai mencari-cari kehidupan lain yang lebih nyata dari kehidupan teks yang mengecewakan. Tapi, berkali-kali kamu pulang ke tempat yang sama; pada dunia selebar kartu ATM yang senyap. Kamu masuk, duduk di sana, diam, dan tidak mendapati apa-apa. Kadang-kadang kau hanya menemukan sapaan yang ringkih, ciuman yang tidak berarti, ungkapan rindu yang hambar, dan segala yang tidak lagi hidup. Dari jarak yang hanya bisa kau jangkau dengan gelombang, ada keriuhan yang menyelimutinya. Keriuhan yang barangkali selalu ia rindukan setiap saat. Keriuhan yang tak cukup kau rengkuh dengan aksara-aksara bantat semacam ajakan bercumbu dan segala rupa obrolan melankolis. Keriuhan yang memberi jeda pada keintiman kalian yang dangkal. Dan kali ini gravitasi membuatmu luluh lantak menciumi tanah.

Kenapa hidup jadi tampak sulit tanpanya? Bukankah ia hanya tokoh imajinasi yang tak selalu jujur padamu? Bahkan kebohongannya telah menggiringmu pada titik di mana kau tak lagi bisa membedakan dusta dan kejujuran. Kamu dibutakan oleh kerinduan akan segala yang menyentuh dan utuh. Tentang remeh temeh yang sering kau anggap vital. Namun kau lupa bahwa segala bentuk kehidupan dalam teks hanyalah larik-larik yang fiktif, sesempurna pledoi yang membuat geger jagad. Ketika kau sadar bahwa semua tak lebih dari kegetiran dalam tulisan Puthut EA, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, kau telah jatuh. Jatuh pada ketidakberdayaanmu beranjak dari kubangan yang kau tahu akan mengotori baju barumu. Jatuh pada harapan yang kau sulam sendirian.

Berkali-kali kamu ingin berhenti. Berkali-kali kau jilat ludahmu sendiri. Setiap aksara yang timbul pada kanvas putih itu, pada obrolan-obrolan itu, ingin kau percayai sepenuh hati. Ingin kau simpulkan sebagai sebuah ketulusan. Tapi, kau tahu bahwa kau tak harus percaya. Bahkan kau sudah berjanji tak akan percaya pada apapun yang kau pikirkan. Tapi, separuh dirimu menginginkan percaya. Separuh lainnya tak mau tahu. Dan, hatimu yang tak pernah berbohong menyatakan bahwa kamu percaya. Kau percaya padanya, percaya pada angin yang membuatmu terobang-ambing di tengah lautan. Kebingungan, memutuskan bertahan atau karam. Semua teorimu dari A – Z salah. Hipotesismu melenceng jauh. Kau jatuh. Benar-benar jatuh.

Melihat keriuhan yang lama-lama membuatnya bosan, agaknya sama dengan membuatmu berkaca pada diri sendiri. Setiap orang barangkali punya rumah. Kau barangkali rumah paling mewah yang ia punya. Kau barangkali dinding-dinding yang membuatnya tak pernah malu untuk telanjang. Kau kehangatan yang membuatnya tampak begitu lemah. Anggap saja, saat ini ia sedang pergi jauh. Ya, anggap saja begitu. Barangkali sekarang, ia sedang menikmati keindahan Museum Louvre, mengagumi karya-karya Monet, Manet, Renoir, Van Gogh, dan Gauguin. Atau ia sedang tersesat pada kekagumannya sendiri akan Notre Dame. Kau tahu dia akan pulang. Hanya saja tak tahu kapan. Selama ia pergi, kau hanya perlu merawat dirimu sendiri, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik.

Dan, tunggulah ia pulang. Episode paling rawan di mana, kau akan selalu takut kehilangan.

Advertisements

3 thoughts on “Riuh yang Sunyi

  1. Pingback: Sepenggal dari Riuh yang Sunyi | mutzcoffee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s