Cemburu

Siti Zubaedah menelungkupkan wajahnya ke bantal. Airmatanya bercucuran deras dan hidungnya mampat oleh ingus. Orang-orang bisa saja mengira ia sedang berduka, patah hati, atau setidaknya ia habis menonton drama. Tapi, bukan. Perempuan berlesung pipit itu hanya sedang merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan asing itu dia sebut cemburu.

Ia datang seperti setan dalam film horor. Mendadak dan mengagetkan. Siti Zubaedah merasa seperti bayi. Hanya bisa menangis tanpa tahu harus berbuat apa. Di usianya yang bukan lagi remaja, cemburu seharusnya berbobot sama dengan soal matematika 1+1. Mudah ditaklukkan tanpa kalkulator. Nyatanya, Siti Zubaedah tak mampu berpikir jernih.

Beginilah ceritanya. Semua orang tahu Siti Zubaedah memelihara seekor kucing berbulu kuning keemasan. Kucing itu bernama Pampam. Siti Zubaedah mengambilnya dari pasar begitu saja karena rasa iba. Kemudian dipeiharalah kucing itu. Siti Zubaedah merawat Pampam dari kecil hingga berumur tiga tahun. Ia memberi makan kucing kesayangannya itu tiga kali sehari. Tak pernah telat. Saat Pampam masih kecil, tiap pagi Siti Zubaedah membuang kotorannya yang terkumpul di pasir. Pasirnya pun selalu dicuci dua hari sekali agar rumahnya tidak seperti kandang karena bau tai. Keduanya tidur sekasur tiap malam, meski tidak lagi setelah Pampam dewasa dan pandai berburu betina untuk dikawini.

Sejak Pampam hadir dalam kehidupannya, hari-hari Siti Zubaedah lebih berwarna. Ia punya teman yang bisa diajak bicara walaupun Pampam tak pernah mengajaknya berkomunikasi kecuali saat lapar dan butuh pelukan. Namun, dua kebutuhan itu cukuplah membuat Siti Zubaedah senang dan merasa ‘hidup’. Di dunia ini, barangkali Pampamlah yang menjadi cinta untuk perempuan yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah itu. Siti Zubaedah bahkan tak sanggup meninggalkan rumah barang beberapa jam. Ia selalu gelisah dalam kerumunan orang. Pikirannya hanya ada di rumah.

Kerap, ketika ia sedang bepergian, ia memikirkan betapa menyenangkannya bisa duduk bersama Pampam di sofa, membelai bulu emasnya yang halus, menciumi tengkuknya yang berbau tanah, dan menyiapkan makanan untuk kucingnya itu. Siti Zubaedah tidak pernah keberatan menjadi budak. Perasaan-perasaan seperti itu, tak pernah ia rasakan pada manusia. Tak ada yang lebih nyaman bagi Siti Zubaedah selain bisa menghabiskan hari dengan Pampam. Barangkali ia sekadar mendengarkan dengkuran halus saat kucingnya tertidur atau mendapat cakaran di kulitnya yang bersih saat Pampam bermain-main, namun hati Siti Zubaedah menjadi tenang setelahnya.

Lalu datanglah seorang kawan ke rumah Siti Zubaedah pada suatu hari. Pampam yang tak biasa bermanja dengan orang lain selain si pemberi makan, hari itu menunjukkan sikap yang berbeda. Saat Siti Zubaedah memanggilnya, kucing berekor bengkok itu tidak memedulikan. Ia berjalan ke arah kawan Siti Zubaedah yang bernama Marni. Siti Zubaedah merengkuhnya, namun Pampam berontak. Tak seperti biasa, ketika Siti Zubaedah membopongnya seperti bayi, Pampam langsung mendengkur. Kali ini Pampam melompat dari pelukan. Ia mendekati Marni yang sibuk menata barang dagangannya di meja ruang tamu Siti Zubaedah.

Pampam bergelut manja di atas pangkuan Marni. Siti Zubaedah merasa cemas ketika Marni mulai mengelus dagu dan punggung kucingnya. Dia ingin merebut Pampam dari pangkuan Marni, tapi bukankah itu lucu ketika dua orang yang sama-sama dewasa berebut kucing. Niatnya urung, ia hanya mampu memandangi betapa nyamannya Pampam dalam pelukan Marni. Sama nyamannya ketika Pampam berada dalam pelukannya. Siti Zubaedah bahkan mampu melihat Pampam lebih nyaman berada dalam dekapan Marni ketimbang dekapannya.

“Kembalikan kucingku,” jerit Siti Zubaedah dalam hati. Namun, kata-kata itu hanya membuat lehernya tercekat dan matanya panas.

Siti Zubaedah menyingkir dari ruangan itu. Ia ke dapur untuk membuat dua cangkir teh untuk tamunya dan dirinya sendiri. Sesekali dari pintu ia mengawasi Marni dan Pampam. Namun, kucing itu masih belum bergeser dari kenyamananya. Siti Zubaedah bertambah gelisah. Ia menyajikan teh untuk Marni sambil melirik Pampam.

“Pampam kok manja banget sama tamu ya..” ujar Siti Zubaedah.

“Lucu sekali kucingmu, Dah. Aku belum pernah bertemu kucing yang seperti ini. Aku berkali-kali memelihara kucing, tapi Pampam istimewa. Bagaimana caramu merawatnya?”

Siti Zubaedah tersenyum getir. Separuh hatinya senang karena pujian, separuhnya lagi pecah seperti gelas yang habis dibanting karena menyaksikan kemesraan itu.

“Mungkin karena dirawat sejak kecil,” kata Siti Zubaedah.

Tak lama kemudian, setelah Siti Zubaedah membeli barang dangangan Marni, perempuan berkerudung itu pamit pulang. Pampam enggan bergeser. Siti Zubaedah terpaksa mengangkatnya dari pangkuan Marni. Setelah itu, diantarnya Marni sampai gerbang. Anehnya, Pampam menguntit di belakang lalu duduk di teras sambil memandangi Marni.

“Sampai ketemu lagi, Pampam!” Marni melambaikan tangan sambil tertawa senang.

Selepas tamunya menghilang dari pandangan, Siti Zubaedah masuk kamar. Ia menangis sejadinya. Seumur-umur, baru sekali perasaannya diaduk-aduk seperti ini. Ia tidak pernah merasakan cemburu pada siapapun dan apapun sebelumnya. Siti Zubaedah tidak pernah mengenal apa itu cemburu. Ia cukup senang berbagi apapun dengan orang lain, terlebih bisa menyenangkan orang lain. Tapi, kali ini ia tidak suka ketika melihat kawannya senang. Apalagi kesenangan itu disebabkan oleh Pampam. Kucing yang paling ia cintai.

Untuk pertama kalinya ia marah dan kecewa pada Pampam. Namun, ia tak tahu harus berbuat apa. Pampam hanya seekor kucing. Ia bebas memilih. Ia tak bisa diatur. Ia tak bisa dilarang. Meski hati Siti Zubaedah tak rela.

“Meowng.. meowng..”

Pampam mendekati majikannya yang sedang bersedih hati. Siti Zubaedah hanya memandanginya dengan mata sembab.

“Meowng.. meowng..” sekali lagi Pampam mengajaknya bicara.

Entah mengapa Siti Zubaedah luluh. Ia melebarkan tangannya dan Pampam menghambur ke pelukannya seperti biasa. Hari itu Siti Zubaedah belajar satu hal bahwa cemburu adalah anak emas dari cinta. Semua manusia akan merasakan cemburu, sebagai pertanda ia pernah mencintai.

Dalam beberapa detik, kucing itu menjadi manusia =)))

 

Tentang Al dan Sudut Kota Asing

Aku mengingat Al dengan samar-samar sebagai pemuda yang bargairah. Darahnya selalu mendidih. Kepalanya penuh pengetahuan. Barangkali itu yang membuatnya bersinar dan banyak digilai perempuan (juga laki-laki). Tentu saja Al tidak sengaja melakukannya. Persoalan “digilai” itu ketidaksengajaan. Bisa jadi itu hanya hadiah dari kelihaiannya menyihir orang-orang dengan bualan. Dari bualan satu ke bualan lain. Dari perdebatan satu ke perdebatan selanjutnya. Tak jarang hiruk pikuk diskusi memanas akibat ulahnya. Makin riuh, makin membuatnya senang sekaligus menambah panjang daftar penggemar. Kadang-kadang aku tak mengenalnya, karena dalam jarak yang tertempuh sekedipan mata Al menjadi sosok asing. Jauh dari kesan-kesan yang pernah ia berikan saat kami tidur bersama.

Tahun pertama berada di Kota Asing aku menerima surat dari Al. Surat panjang yang berisi tentang kegelisahan-kegelisahannya. Hampir setiap hari ia menulis surat. Tak semuanya kubalas lantaran aku tak punya banyak waktu untuk menulis. Di Kota Asing ini, aku tak hanya memerangi empat musim yang berganti dengan rutin, tapi juga memerangi perut yang selalu lapar. Membalas suratnya hanya kulakukan ketika akhir pekan. Lagipula tak banyak yang bisa kuceritakan selain kegiatanku sehari-hari dan tempat-tempat yang biasa kudatangi. Aku tak punya kegelisahan-kegelisahan semacam yang dimiliki Al. Lebih tepatnya mungkin kegelisahan kami berbeda. Aku gelisah pada menu makan siangku besok pagi, sedang Al gelisah pada nasib orang-orang yang lahannya diambilalih korporat. Begitulah, dalam banyak hal, kami berbeda. Aku praktis, Al sibuk berpikir. Tapi mungkin itu yang membuat kami bertaut satu sama lain. Aku tidak begitu paham juga.

Ada kalanya Al bosan menulis. Lebih sering menelpon. Dia akan bercerita, melaporkan apa saja yang sedang dia lakukan termasuk pipis dan sikat gigi di kamar mandi. Kadang, dia membacakan sebuah cerita. Al membaca cerita dengan sangat baik seperti membaca kitab suci. Aku seperti mendengar orang mengaji. Membuat hati “mak nyes” padahal dia hanya sedang membaca tulisan Seno Gumira. Pada hari yang lain, Al bersenandung. Suaranya pas-pasan, tapi sulit ditolak telinga. Pernah juga kami tidak saling bercakap tapi saluran tetep tersambung sampai salah satu dari kami bosan. Al menjadi bagian dalam hari-hariku selama aku berada di Kota Asing. Kami tidak pacaran. Dia punya pacar, begitupun aku. Kami tak saling jatuh cinta. Entah mengapa. Tapi, tidak bosan satu sama lain. Semacam perasaan yang lebih agung dari cinta.

Pada bulan Maret, tahun kedua aku berada di Kota Asing, Al datang dengan mantel hangatnya. Mantel berwarna coklat dengan tutup. Dia tampak lebih padat dengan mantel warna kayu itu. Di sudut Kota Asing kami menyantap yosenabe dan oden setelah episode berpelukan di stasiun kereta. Ia makan dengan lahap. Aku suka yang demikian bila menjamu tamu. Tak malu-malu dalam hal makan. Setelah itu, aku mengantarnya ke tempat tujuan. Kedatangan Al kali ini dalam rangka memenuhi undangan sebuah pameran seni rupa yang diselenggarakan sekelompok pemuda dari pelbagai negara. Al menjadi bagian dari mereka.

“Kenapa rambutmu dipotong?” tanya Al.

“Harus ada alasan?”

“Nggak sih, tapi baguslah berarti kamu belum putus dari pacarmu,” sambungnya.

“Ngarep?”

“Nggak juga. Aku kan punya pacar juga. Masa’ aku harus putus gara-gara kamu putus?”

“Ya kali aja kamu kayak yang kebanyakan,” aku terkikik.

“Ah, kamu ni! Ayo kita makan!”

Aku senang dia datang di musim dingin. Kami jadi punya alasan untuk saling memeluk. Tubuhnya masih sehangat Teddy Bear raksasa di kamar tidurku. Sama seperti yang sudah-sudah, bibirnya tak bisa berhenti berbicara. Aku senang mendengar apa saja yang meluncur dari sana. Cerita tentang perjalanan yang lucu, negara kami yang membikin badan gerah, dan cerita-cerita kecil lain. Bila tiba bibir itu bungkam, kami memilih berciuman. Meski di jalan.

“Kapan kamu pulang?” tanya Al sembari memeriksa gawainya.

“Secepat mungkin setelah kewajibanku selesai.”

“Berapa tahun lagi?”

“Rahasia.”

“Oh main rahasia-rahasiaan?”

“Bukankah itu bagian dari kesepakatan kita?”

“Oke!”

Al selalu memulai percakapan denganku dengan tanda tanya. Berakhir dengan tanda seru. Entah mengapa, menyenangkan rasanya membuat ia tersipu. Mata sipit dibalik kacamatanya akan menjadi sepasang garis tebal. Senyumnya menawan seketika dan dua lesung pipit hadir melengkapi. Kadang kepuasan itu dangkal dan tidak masuk akal. Seperti kepuasanku membuat Al tersipu. Lain hal denganku, seharian itu, Al memuaskan dirinya dengan keluar masuk kedai makan. Di Kota Asing ia seperti tak pernah kenyang. Mentang-mentang turis, mata dan perutnya selalu lapar. Malamnya, Al membawaku ke penginapan. Kami kedinginan diserbu suhu yang hampir mendekati 3 derajat celsius. Dia menyalakan televisi, aku membongkar karaage yang kami beli saat perjalanan menuju penginapan. Al tidak mengizinkan aku menuntaskan gigitanku karena tiba-tiba kami sudah berada di atas futon dan saling pagut.

**

Tidak ada kabar lagi dari Al sejak dia meninggalkan Kota Asing. Dia tak sekalipun menghubungiku. Aku pun demikian. Pada gawaiku, namanya pelan-pelan tergusur ke bawah oleh nama-nama lain. Hari-hariku menyisakan ruang kosong  dan tak punya daya tarik. Tapi aku tetap tidak ingin menghubunginya. Lebih-lebih untuk menuntut. Dia bukan pacarku. Bahkan pada pacarku aku tak menuntut. Lagi pula aku bukan jenis perempuan yang suka minta tanggung jawab setelah tidur dengan lelaki. Lama berselang, kudengar dari seorang kawan, Al kini sedang meniti ketenaran. Ia dikenal banyak kalangan terutama kawula muda intelek. Aku senang mengetahui kenyataan itu. Diam-diam aku mengikuti sepak terjang Al lewat wacana-wacana yang bertebaran di media sosial. Namun, aku masih tidak berniat untuk menjalin komunikasi dengannya lagi.

Saat hari kepulanganku, di Bandara Soekarno Hatta, aku menghubunginya karena aku sudah putus dengan pacarku. Sayang sekali, kali ini aku gagal meniru adegan romantis antara Rangga dan Cinta. Al hanya membaca pesan yang kutinggalkan. Tidak membalas sampai keesokan harinya. Dia mengirim selarik pesan pada pagi buta.

Ayo bertemu, aku rindu. Di tempat biasa. Jam 7 malam.

Tak hanya pesan dari Al yang kuterima. Ada pesan lain yang membuatku sulit percaya bahwa aku tidak bermimpi.

Sudah dapat undangan dari Al?

Aku datang terlambat. Sengaja. Begitu aku masuk, Al menutup pintu rapat-rapat. Ia lebih ramping dari yang terakhir kulihat di Kota Asing. Kulitnya cerah. Jambang dan kumis ia pelihara dengan baik. Dalam sepersekian detik tubuh kami saling menginginkan. Aku menerima meski tahu sebentar lagi aku akan menerima sebuah undangan pernikahan.

“Aku akan menikah,” ujarnya sembari menyeka titik keringat di dahiku.

“Foto pre weddingnya boleh juga,” kataku.

Ada jeda panjang yang tak terukur.

“Apa rencanamu setiba di sini?”

“Oh, aku kira kamu hendak bertanya kapan aku menikah.”

“Rahasia?”

Aku mengangguk. Tak ada guncangan. Tak ada amarah. Tak ada penyesalan. Sebagian nilai-nilai yang kuanut memberi peringatan, tapi tubuhku tetap menginginkan. Kami membiarkan kenikmatan itu berlangsung bertahun-tahun setelah hari ini. Baru aku tahu bahwa waktu serupa lingkaran. Tak ada gunanya bersedih.

Katarsis

Dua jam sebelum aku keluar kantor, kutelepon Div dengan suara riang. Aku mengingatkan agar dia tak lupa menyiapkan sebotol bir untuk menyambut kedatanganku di ruang kerjanya. Seperti biasa dia tak mampu menolak permintaanku meski sebetulnya berat hati.

Div penganut hidup sehat. Ia tak makan daging, tidak merokok, tidak minum alkohol, dan tidak suka makanan cepat saji. Sayur dan buah dipercayainya sebagai asupan yang lebih cocok dikonsumsi tubuh, ketimbang beberapa hal yang kusebutkan tadi. Dia percaya bahwa tubuh yang sehat selaras dengan bersemayamnya jiwa yang baik. Itulah mengapa dia lebih suka pepatah, “Kamu adalah apa yang kau makan”. Aku tidak setuju sepenuhnya. Sebaliknya, aku pemakan daging, perokok berat, peminum, dan suka sekali makanan cepat saji. Aku jarang sakit. Amat jarang. Kalaupun sakit, itu juga penyakit sepele yang lekas sembuh dengan obat generik. Bagiku, jiwa adalah elemen utama yang menentukan kondisi tubuh kita. Jiwa yang sehat termanifestasi dalam perilaku yang baik, imbasnya tubuh pun ikut sehat.

Sudah lama aku tak bertemu Div. Dia terapis ayahku. Dulu aku sering mengunjunginya, membawakan pukis kesukaannya, dan kami akan mengobrol tentang banyak hal di beranda. Dua tahun lalu dia pindah tugas ke Surabaya. Kondisi itu memaksanya untuk pulang sebulan dua kali, untuk menjenguk pasien-pasiennya. Tak ada waktu lagi untuk kami ngobrol di beranda sembari menyaksikan senja turun. Kami bertukar kabar lewat telepon, kadang melalui surat elektronik. Selama dua tahun, sejak ia pindah ke Surabaya, kami hanya sekali berjumpa. Itu juga hanya beberapa menit sebelum pesawatnya tinggal landas. Meski begitu, aku dan Div sama-sama sepakat untuk menjaga pertemanan kami sebisa mungkin tanpa tendensi apa pun.

Sebulan lalu, Div mengabarkan berita bahagia, dia ditugaskan kembali ke Jogja. Aku masih berada di Jakarta saat dia menelepon dan sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju tempat prakteknya di Griya Medika.

“Hai, Myg!” Div melebarkan tangannya, menungguku menghambur ke pelukannya.
“Hah.. Dasar!” aku memeluknya sebentar kemudian melirik ke dalam ruangannya yang dingin.
“Ayo masuk!”

Aku duduk di sofa tunggalnya yang besar. Benar-benar sempurna ruangan ini. Rasanya seperti sedang berada di ruanganan Dokter Hannibal Lecter yang dipenuhi sentuhan vintage. Dengan gaya aristokrat, Div menyodorkan gelas berkaki padaku.

“Apa kabar, Myg?”
“Tidak begitu baik, Div.”
“Ya, aku bisa lihat.”
“Ah, kau selalu begitu, seolah-olah selalu jadi yang paling tahu soal aku. Ya, kupikir memang iya.” Aku tertawa kering.

Kuteguk sedikit bir lalu aku menceritakan keadaan ayahku yang sudah tak menggunakan kursi roda lagi. Div tampak lega. Insiden yang membuat kaki ayah patah sungguh membuat aku khawatir. Berulang kali Div meyakinkan aku bahwa ayah akan baik-baik saja, tapi toh nyatanya aku memang yang tak pernah bisa menerima kenyataan. Sampai suatu hari janji Div akan kondisi ayah bener-benar terpenuhi.

“Aku tidak menyangka ayah bisa berjalan lagi, Div. Sekarang bahkan sudah berani menyetir sendiri, dia pakai mobil matic.”
“Bagus kalau begitu. Ayahmu butuh jalan-jalan. Kamu belajar gerontologi, bukan?”
“Iya. Sudah kupertimbangkan. Ayah aktif lagi di komunitas setelah kecelakaan itu.”
“Ya, itu bagus, Myg..”

Aku berajak dari sofa menuju jendela, menyibak tirai, lalu mendekati biola yang berdiri anggun di meja. Div pengikut Antonio Vivaldi yang piawai memainkan instrumen-instrumen megah. Kadang aku berdendang, kadang mendengarkan. Tergantung suasana hati. Div tak keberatan mendengar suaraku yang cempreng.

“Jadi, apa yang membawamu datang ke sini selain rindu aku?”
“Toby. Aku ingin melihat Toby.”
“Toby sedang jalan-jalan, baru saja pulang dari salon untuk potong kuku. Tunggulah, sebentar lagi dia pulang.”

Belum ada semenit, pintu diketuk. Toby menerobos lalu menyalak!
“Hei, ini Myg! Kau lupa, Tob?” Div menarik tali. Toby berjalan mengelilingiku, mengendus tubuhku, memastikan ini mengenali bauku dua tahun lalu. Anjing itu lalu kupeluk begitu ia duduk tegak di samping Div.
“Toby, aku rindu sekali!”
Anjing itu menjilati pipiku.

Div kembali duduk di sofa. Aku juga, dengan Toby dalam pelukanku.
“Kau harus menolongku, Div.”
“Kau akan menolong dirimu sendiri, Myg.”
“Aku tersesat. Jauh.”
“Apa yang kau rasakan?”
“Aku merasa linglung. Aku disergap sepi. Aku tak tahu jalan pulang. Dan aku putus asa.”
“Apa yang kau lihat?”
“Entahlah,” aku mengelus kepala Toby, “kadang putih, tanpa ornamen apa pun, sesekali kelam tanpa cahaya, tapi aku bisa melihat aku meringkuk di sana, sendirian.”
“Kau tak ingin mencoba beranjak?”
“Sudah. Aku mencoba berjalan, tapi tak ada pintu. Ruangan itu tak berpintu, tak berjendela. Aku terjebak dalam sebuah kebebasan,” ujarku, “tubuhku rentan sakit sebulan ini, mual, pusing, flu, dan kupikir itu tidak wajar. Aku selalu sehat, Div. Kamu tahu itu kan? Aku merasa respon tubuhku tidak tepat.”

Div memberiku selembar kertas origami warna ungu. Dia tahu warna kesukaanku.
“Buatlah sesuatu yang sekiranya bisa membawamu pergi dari sana.”
“Aku butuh orang.”
“Myg, dengar aku, kamu harus berusaha sendiri. Ini hidupmu!”

Aku tertegun. Kupandangi kertas origami yang masih terkulai di pangkuanku. Pesawat. Kapal. Ada dua hal yang kupikirkan. Kuputuskan membuat pesawat lantaran ia yang pertama muncul di kepalaku. Aku yang jago origami dengan terampil membentuk pesawat. Div tersenyum.

“Kamu TK berapa tahun?” tanya Div sambil tersenyum.
“Dua tahun,” jawabku cemberut.
“Ayolah, Myg. Kamu bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat dan mudah. Kau tak perlu terombang-ambing seperti ini. Aku tahu kamu bisa.”

Lama aku merenung. Dan aku dapat jawabannya. Aha!

Kepada R (Resah)

Kita tak semestinya berpijak di antara ragu yang tak berbatas.. Seperti berdiri di tengah kehampaan.. Mencoba untuk membuat pertemuan cinta..

Kamu memang impulsif. Mudah jatuh pada suasana yang memberimu ruang untuk bernostalgia dengan luka-luka. Perasaan sakit yang tanpa sadar selalu kau pelihara dengan apik di sudut hati. Barangkali kita sama. Bedanya, kau tak pernah lelah dengan perasaan-perasaan sentimentil semacam itu, sedangkan aku mulai tak percaya pelbagai harapan yang tumbuh di sekelilingku. Harapan yang hanya akan membuatku tidak produktif menjalani hidup. Harapan yang sering kali harus bertabrakan dengan kenyataan yang pahit. Maka aku bertekad hanya menjalani sebaik-baiknya apa yang kuyakini benar.

Dan sekarang kita sedang duduk berdua di bangku kayu yang lumutan, di tepi jalan. Berbagi malam, berbagi bintang, berbagi kisah yang berkebalikan, berbagi kasih, juga rindu. Saat ini, kau mungkin merindukan gadis berlesung pipit lain yang bukan aku. Sedang aku merindukan laki-laki impulsif lain yang pernah menjanjikan rumah sederhana dengan perpustakaan kecil untuk anak-anak kami yang lucu. Laki-laki yang mengenalkan aku pada Tolstoy dan Murakami saat usiaku 20 tahun.

Ini sebuah kencan yang aneh. Barangkali. Kencan nostalgia. Kencan konyol, lantaran kita abai satu sama lain dan menjadi medium masa lalu dan masa kini. Tiba-tiba saja semua ini membuat aku tersungkur pada kenangan yang berusaha kukemasi tanpa sisa. Kenangan yang tak pernah bisa kuanggap sebagai teman baik. Lebih tepatnya, kusebut saja musuh bebuyutan.

“Jogja itu pisau bermata dua. Di sini aku bahagia. Tapi aku harus pulang ke rumah. Aku disobek rindu. Kamu tahu? Rasanya seperti mencabut nanah. Pedih. Tapi bikin ketagihan,” ujarmu seraya menoleh ke arahku.

Aku tersenyum. Samar, kau mungkin mulai betah memandangi lesung pipitku yang tak jelas itu. Lalu kamu merindukan wajah lain, berharap waktu menarikmu mundur lekas-lekas, membawamu padanya yang sedang bermuram hati. Namun di depannya kau hanya akan bungkam seperti sepotong sajak Sapardi Djoko Damono, “Aku mencintaimu. Itulah sebabnya aku tak pernah berhenti mendoakanmu” yang pernah kau tuliskan untukku. Juga untuknya.

“Apa yang membuatmu kembali ke sini, selain menemuiku?” tanyamu.

“Entahlah.”

Dengan teaterikal aku mengisap rokok, menyusuri lekuk wajahmu yang garang, lalu kembali membuang muka pada gugur daun yang beringsut dari tempatnya berpijak. Tak ada yang ramah dari kota ini bagiku. Seluruh sudutnya selalu saja menatapku sinis, mengusirku, dan bahkan memperingatkan agar aku tidak kembali. Sekalipun untuk memburu rindu. Kota ini seolah diselimuti oleh pecahan-pecahan karang yang siap melukai kakiku kapan saja.

“Mungkin keberanian memaafkan,” gumamku lirih dan tak yakin, “seperti keberanianmu terus berharap menemukan perempuan berlesung pipit, berdahi lebar dengan hidung mungil yang kerap berubah indah ketika sebuah senyuman hadir tiba-tiba.”

Malam itu, mungkin 7 tahun yang lalu, di bangku kayu yang lumutan ini, aku duduk bersamanya. Kami berciuman dengan tak habis-habisnya seolah tak ada esok. Aku merakit awal, sedang dia mencari awal yang hilang. Awal bersama kekasihnya yang bermata teduh. Gairah masa muda yang meletup-letup membuatku lupa diri. Tak kusadari bahwa kita semua bisa menjelma menjadi orang lain yang sedang dirindukan seseorang. Seperti sekarang ini, kau menjelma menjadi lelaki yang pertama kali mengajari aku tentang percaya diri. Pun aku, sedang berubah menjadi perempuan yang tak akan pernah tahu seberapa sakitnya kau yang terkoyak rindu. Kita berdua sedang menjelma menjadi orang lain yang bukan kita. Kita sedang sama-sama membuat rasa sakit itu mencuat seperti cendawan.

Jadi tak salah bila kusebut ini kencan yang konyol. Kencan yang menjembatani kita untuk menemukan lagi romansa-romansa yang diam-diam kita rindukan, dan terang-terangan kita musuhi. Kamu mungkin benar, perempuan selalu dihantui oleh kesalahan membuat pilihan. Sedang laki-laki dibayangi oleh ketidakmampuan memilih. Ini pertama kalinya kita tak selisih paham.

Barangkali memang rindu dan amarah membikin dendam di dadaku ini bertambah parah. Aku sudah bertahun-tahun menghamba pada takdir, mencari-cari kembaran, lalu menyadari bahwa tak satu pun serupa di dunia ini. Sama seperti ia yang berharap mata teduhku adalah mata kekasihnya. Sama seperti engkau yang menganggap lesung pipit ini adalah milik perempuan kesayanganmu yang memilih tempat berlabuh lain. Kau bilang ini tidak adil. Tapi, apalah yang adil di dunia ini? Lalu kau bilang bahwa masing-masing dari kita bisa berusaha bersikap adil. Ah, kau kadang-kadang naif.

“Aku ingin menikahimu, akan kuberikan mahar 5000 buku,” katamu tiba-tiba.

“Apa?”

“Aku serius!”

Aku tertawa dengan mata berkaca. Selain impulsif, ternyata kamu lucu. Terlepas dari skenario yang telah kita bikin, ungkapanmu barusan membuat dadaku sesak. Kalimat yang kuharap keluar dari bibirnya yang legit, justru keluar dari bibirmu yang sama sekali belum pernah kukecup.

“Kamu gila, Al!” ujarku di sisa tawa. “Kamu pikir menikah seperti ajakan travelling keliling Eropa?”

“Mungkin. Ini hanya perkara keberanian,” katamu.

Aku beranjak, kamu bangkit. Bersisian, kita berjalan menjauhi lampu kota dan keramaian yang meninggalkan rasa rindu tak terperi.

“Jadi bagaimana?” tanyamu setengah berteriak saat kita lewati pengamen gondrong yang sedang berdendang di depan kerumunan anak muda berkalung kamera.

“Jangan bercanda, Al!” balasku sambil tertawa. Kakiku terus melangkah tanpa arah.

Malam ini, kita seperti anak SMP yang kasmaran. Kamu mengejar. Aku pura-pura malu dan jual mahal. Tapi, aku bukan lagi gadis berseragam putih biru yang gemar mengoleksi pernak pernik grup band idola dan berharap dipersunting gitarisnya. Begitupun kau yang sekarang lebih suka membaca The Story of Philosophy karya Bryan Magee ketimbang menonton MTV. Kita, dua orang yang berjumpa di tengah jalan untuk menegaskan keberanian pada tantangan hidup yang tak kunjung surut.

“Aku tidak pernah bercanda,” kau tersenyum tanpa menampakkan gigi.

Ada yang hendak meledak. Mataku mencari-cari kesungguhan di kedalaman matamu. Andai saja kau mengerti bahwa aku selalu takut dengan janji dan harapan, apalagi bila itu berkaitan dengan masa depan. Semua itu menyedot seluruh energi yang kupunya. Ujung-ujungnya aku harus jatuh dan sempoyongan berdiri tanpa penopang.

“Aku tidak bisa, Al. Jangan kau tanya kenapa,” lantas kukecup pipimu yang diselimuti sisa uap kopi.

Lalu ada hening selepas bibirku undur diri “Kau akan baik-baik saja, Al.”

“Ya.”

“Kau punya pacar yang cantik dan pandai. Dia juga ramah dan suka menolong. Apa yang kurang?”

“Satu-satunya yang kurang, dia bukan kamu.”

“Ah, aku hanya mengingatkanmu pada perempuan berlesung pipit itu.”

“Pun begitu kau bukan dia. Dan kau lebih nyata di sini.”

Mungkin aku yang keliru. Kamu tidak pernah tersesat. Akulah yang tersesat. Tersesat dalam penat yang tak berkesudahan, menduga-duga kau adalah dia, dan memasang batas setinggi menara agar kau tak berlarian dalam ruang kosong itu. Kemeriahan yang kau bawa amat menyiksaku. Aku hanya perempuan melankolis yang butuh tempat mengutuk. Kau lain, kau punya banyak hal yang membuatmu bisa lebih berkembang dari sekarang. Kau bahkan bisa menemukan perempuan yang lebih cantik dari Emma Watson. Bukan aku, perempuan berusia 30 tahun yang bahkan merasa tak pernah aman dengan lelaki yang menawarinya pernikahan.
Langit makin pekat dirundung mendung. Tetes air berjatuhan seperti kembang api dan jalanan mulai kocar kacir. Pelancong dan penghuni kota ini sibuk menyelamatkan diri dari pasukan langit. Kamu menunjuk emper toko tak berpenghuni. Kita berlari kecil, menjauhi riuh dengan jaketmu yang menjelma jadi payung dadakan. Di sana semuanya usai.

“Kita adalah sisa-sisa keikhlasan yang tak diikhlaskan.. Bertiup tak berarah.. Berarah ke ketiadaan.. Akankah bisa bertemu kelak di dalam perjumpaan.. Abadi..”. Ponselmu bernyanyi. Lalu mati sebelum kau angkat.

“Siapa?” tanyaku.

“Pacarku.”

“Apa kau diminta datang?”

“Tidak, dia di Bali.”

“Oh.”

Hujan pun merinai santun. Seperti air mata laki-laki yang jatuh diam-diam tanpa pesan. Dan aku hanya bisa menggenggam jemarimu yang mulai kisut.

“Aneh ya, kadang kamu, mungkin aku mengembangkan perasaan-perasaan yang tidak seharusnya ada,” bisikmu.

Aku tersenyum. Membenarkan ucapanmu dengan isyarat. Dalam hatiku yang berkabut, aku berdoa untuku. Sepertinya aku telah jatuh dan sedang sempoyongan berdiri.

Cerpen ini pernah dimuat di Jakartabeat 11 Mei 2013.

Riuh yang Sunyi

Apa yang bisa kau tertawakan dari sebuah kehidupan dalam teks? Banyak. Mungkin tentang sapa pagi yang membuat wajahmu cerah meski kran kamar mandi macet. Mungkin tentang rona pada pipi setelah kamu membaca penggalan puisi Sapardi Djoko Damono atau lirik lagu yang tak pernah kau tahu sebelumnya. Mungkin tentang betapa romantisnya ia yang tak pernah lupa membubuhkan tanda titik dua-bintang di akhir percakapan. Mungkin tentang kebiasaan-kebiasaan sederhana yang membuat hari-harimu tak lagi sepi. Atau tentang aksara-aksara yang bisa membuat suasana hatimu mendadak muram seperti langit yang hendak mendatangkan hujan. Kau tahu persis, sebenarnya itu hanya permainan murahan yang sudah sering kau jumpai. Terlalu sering malah. Tapi, kali ini kamu kesal setengah mati lantaran harapanmu yang terlalu tinggi pada sebuah kondisi tak sempurna. Kesal karena kamu terlanjur memprediksikan apa yang bakal terjadi.

Dalam segala keterbatasan, kamu mungkin marah seorang diri, mengumpat, dan frustasi. Kamu mungkin mulai mencari-cari kehidupan lain yang lebih nyata dari kehidupan teks yang mengecewakan. Tapi, berkali-kali kamu pulang ke tempat yang sama; pada dunia selebar kartu ATM yang senyap. Kamu masuk, duduk di sana, diam, dan tidak mendapati apa-apa. Kadang-kadang kau hanya menemukan sapaan yang ringkih, ciuman yang tidak berarti, ungkapan rindu yang hambar, dan segala yang tidak lagi hidup. Dari jarak yang hanya bisa kau jangkau dengan gelombang, ada keriuhan yang menyelimutinya. Keriuhan yang barangkali selalu ia rindukan setiap saat. Keriuhan yang tak cukup kau rengkuh dengan aksara-aksara bantat semacam ajakan bercumbu dan segala rupa obrolan melankolis. Keriuhan yang memberi jeda pada keintiman kalian yang dangkal. Dan kali ini gravitasi membuatmu luluh lantak menciumi tanah.

Kenapa hidup jadi tampak sulit tanpanya? Bukankah ia hanya tokoh imajinasi yang tak selalu jujur padamu? Bahkan kebohongannya telah menggiringmu pada titik di mana kau tak lagi bisa membedakan dusta dan kejujuran. Kamu dibutakan oleh kerinduan akan segala yang menyentuh dan utuh. Tentang remeh temeh yang sering kau anggap vital. Namun kau lupa bahwa segala bentuk kehidupan dalam teks hanyalah larik-larik yang fiktif, sesempurna pledoi yang membuat geger jagad. Ketika kau sadar bahwa semua tak lebih dari kegetiran dalam tulisan Puthut EA, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, kau telah jatuh. Jatuh pada ketidakberdayaanmu beranjak dari kubangan yang kau tahu akan mengotori baju barumu. Jatuh pada harapan yang kau sulam sendirian.

Berkali-kali kamu ingin berhenti. Berkali-kali kau jilat ludahmu sendiri. Setiap aksara yang timbul pada kanvas putih itu, pada obrolan-obrolan itu, ingin kau percayai sepenuh hati. Ingin kau simpulkan sebagai sebuah ketulusan. Tapi, kau tahu bahwa kau tak harus percaya. Bahkan kau sudah berjanji tak akan percaya pada apapun yang kau pikirkan. Tapi, separuh dirimu menginginkan percaya. Separuh lainnya tak mau tahu. Dan, hatimu yang tak pernah berbohong menyatakan bahwa kamu percaya. Kau percaya padanya, percaya pada angin yang membuatmu terobang-ambing di tengah lautan. Kebingungan, memutuskan bertahan atau karam. Semua teorimu dari A – Z salah. Hipotesismu melenceng jauh. Kau jatuh. Benar-benar jatuh.

Melihat keriuhan yang lama-lama membuatnya bosan, agaknya sama dengan membuatmu berkaca pada diri sendiri. Setiap orang barangkali punya rumah. Kau barangkali rumah paling mewah yang ia punya. Kau barangkali dinding-dinding yang membuatnya tak pernah malu untuk telanjang. Kau kehangatan yang membuatnya tampak begitu lemah. Anggap saja, saat ini ia sedang pergi jauh. Ya, anggap saja begitu. Barangkali sekarang, ia sedang menikmati keindahan Museum Louvre, mengagumi karya-karya Monet, Manet, Renoir, Van Gogh, dan Gauguin. Atau ia sedang tersesat pada kekagumannya sendiri akan Notre Dame. Kau tahu dia akan pulang. Hanya saja tak tahu kapan. Selama ia pergi, kau hanya perlu merawat dirimu sendiri, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik.

Dan, tunggulah ia pulang. Episode paling rawan di mana, kau akan selalu takut kehilangan.

Pada Resepsi Pernikahan Itu

Taksi warna biru berhenti di depan hotel dengan mendadak. Menyisakan suara decit ban yang terngiang di telinga dan debar jantung. Lelaki berjaket kulit itu turun dengan tergesa-gesa setelah mengucapkan terima kasih pada sopir taksi yang menggerutu dalam hati lantaran hampir menabrak penyeberang jalan. Ia menggaruk-garuk kepalanya sambil memandangi hotel yang menjulang menembus malam. Diliriknya jam tangan sekilas, lantas bergegas masuk.

Begitu memasuki lobi, ia disambut tiga karibnya dengan pelukan erat, tawa, dan umpatan. Seperti dulu, ia hanya mampu tersenyum, sesekali mengumpat, tanpa banyak bicara. Dia hampir menangis. Pertemuan dengan karib semasa kuliah ini sudah lama ia nantikan. Namun, baru hari ini semesta berbaik hati mengabulkan, di acara pernikahan Leo yang akan dilangsungkan besok pagi di hotel ini.

Tahun-tahun sebelumnya ia selalu absen. Di pernikahan Sam, ia tak bisa pulang lantaran harus dikirim ke Peru untuk membuat liputan tentang Machu Picchu. Tahun berikutnya, saat Haidar mengundang mereka ke acara pembukaan rumah makannya di Jakarta, dia harus terbang ke Sulawesi sebagai wali nikah adiknya. Sedangkan tahun lalu saat Irwan menikah dengan Alia, ia juga tak bisa datang karena dikirim ke Bali untuk meliput Konferensi Pemuda Internasional. Ia melewatkan banyak momen penting di mana empat karibnya selalu memelihara harapan akan kehadirannya.

“Dinda, mana Sam?” tanya lelaki itu.
“Wah, repot kalau diajak. Dinda hamil 7 bulan.”

Lelaki itu tersenyum. Hatinya bungah, namun juga canggung menghadapi pertemuan ini. Sam yang dulu kutu buku dan jarang mandi, kini wangi dan modis. Jam tangannya Rolex. Kemeja dan celananya juga bermerek. Tapi, tak banyak yang berubah selain persoalan penampilan. Sam tetap rendah hati dan selalu antusias bila ditanya perihal sepak bola. Tahun ini barangkali ia resmi dipanggil ‘bapak’. Begitupun Irwan. Lelaki paling tampan dalam geng mereka itu masih mata keranjang, suka menggoda perempuan cantik, apalagi bila si perempuan jual mahal, seperti yang baru saja dilakukannya pada seorang resepsionis. Namun, di tengah-tengah obrolan mereka, Irwan menelepon Alia yang sedang di rumah, mengingatkan untuk makan malam dan minum vitamin. Irwan jadi suami yang perhatian. Lelaki itu tertawa kecil ketika Irwan menutup telepon. Sedangkan Haidar, ia masih banyak bicara dan belum menikah, padahal sudah hampir sembilan tahun pacaran dengan Citra. Tampilannya tak jauh beda dengan Bob Sadino, pengusaha kaya yang jadi idolanya. Masih gandrung dengan celana pendek dan kaos oblong di mana pun berada.

“Kawinlah, Man!” Irwan menepuk-nepuk bahunya. Ia menanggapi dengan tawa. “Leo saja bisa kawin. Masa kau tidak? Ngg.. atau jangan-jangan kau..” Irwan menunjuk wajahnya dengan curiga.

“Ah tidak, dia masa lalu,” lelaki itu menimpali seolah-olah ia tahu apa yang dimaksud Irwan, “sudah jangan dibahas, sudah kawin juga.”

Seketika meja menjadi riuh. Lelaki itu seperti dipaksa membaca lagi buku harian yang bertahun-tahun lalu ia tulis. Ia memikirkan gadis bergigi gingsul yang kerap menculiknya dari ruang kuliah. Aria. Perempuan yang dikenalnya melalui Leo pada suatu sore yang hangat di lapangan basket kampus.

**

Lelaki itu memasang dasi kupu-kupu pada lehernya, lalu membetulkan letak kacamatanya di depan cermin. Rambutnya tak kalah mengkilat dengan ujung sepatu yang baru saja disemir. Jas yang ia kenakan membuatnya sedikit tidak nyaman. Maklum, ia jarang memakai pakaian resmi. Hampir setiap hari ia hanya memakai kaos dan celana jin dalam berbagai acara. Kemeja ia kenakan sesekali saja. Itupun sebagai penutup kaos.

“Buruan, Man!” teriak Haidar dari pintu.
“Oke!” Sekali lagi, lelaki itu membetulkan letak dasi kupu-kupunya yang menurutnya miring, lantas meninggalkan kamar hotel.

Mereka berempat masuk ke dalam barisan keluarga mempelai pria. Lelaki itu berdiri di sebelah Sam. Irwan dan Haidar berdiri di belakang mereka. Ia tampak tegang di antara kerumunan keluarga mempelai pria. Sebetulnya dia tidak begitu suka prosesi seperti ini. Sejak dulu. Pertama kali dia mengikuti prosesi upacara pernikahan, saat adik semata wayangnya menikah. Ia menjadi wali nikah lantaran ayahnya sudah meninggal. Detik-detik sakral yang membuatnya tidak nyaman terpaksa harus dilalui demi sang adik. Dan selama prosesi berlangsung ia hanya berharap acara lekas selesai.

“Nggak usah tegang gitu, Man!” bisik Irwan.

Ia tertawa renyah. Kemudian memandang berkeliling untuk mengalihkan kebosanan. Ruangan resepsi disulap begitu megah dalam nuansa ungu dan perak. Bunga-bunga yang diimpor dari luar negeri bertebaran di mana-mana. Pesta ini rupanya dirancang khusus untuk sanak saudara dekat dan teman-teman baik Leo. Tak sembarang orang bisa masuk ke dalam ruangan ini.

“Saatnya makan!” bisik Haidar.

Lagi-lagi ia tertawa. Mempelai sudah duduk di singgasana. Keluarga dan tamu mulai berpencar. Lelaki itu menghentikan pramusaji, mengambil segelas minuman. Dia berdiri di dekat vas bunga besar, meneguk minumannya. Beberapa teman yang ia kenal datang menghampiri, begitu juga sebaliknya. Sesekali ia menyambut teman lama yang datang, berbasa-basi, lalu saling berlalu.

“Man! Man!” Sam menepuk pundaknya saat ia hendak mengambil makanan kecil. “Lihat, Man!”

Lelaki itu menoleh, dan tertegun. Dari pintu masuk, seorang perempuan bergigi gingsul berjalan sambil mengamit lengan seorang lelaki. Keduanya mengenakan batik senada. Perempuan itu perutnya mulai buncit. Si lelaki tak kalah buncit tapi bukan karena hamil. Aria. Ia membiarkan dirinya terpaku bersama tamu-tamu yang lain. Hanya Aria yang melenggang di karpet itu. Kulitnya yang pualam, rambutnya yang legam panjang, lehernya yang jenjang, dan senyumnya yang serupa malaikat itu membuat seisi ruangan tiba-tiba hitam putih.

Sam berjalan menghampiri Aria di tengah jalan, menjabat tangannya, juga tangan suaminya yang berperut buncit seperti Santa Clause. Lelaki itu berjalan kemudian. Ia tersenyum menatap Aria. Aria juga tersenyum.

“Hai, Man!” sapa Aria dengan mata berbinar.
“Hai!”

Keduanya bersalaman, lalu ia menjabat tangan suami Aria dengan santun. Dadanya bergemuruh setelah keduanya berlalu. Matanya tak bisa lepas dari Aria. Namun buru-buru ia berpaling. Lima tahun berlalu dengan cepat dan ia merasa hatinya tak jua pergi ke mana-mana. Aria masih menjadi penghuni tetap lorong-lorong gelap yang berusaha ia ungsikan.

Sekali lagi, saat keduanya bersitatap, lelaki itu menangkap seraut wajah yang ia rindukan tiap malam. Yang ingin ia kecupi sampai subuh tiba dan kokok ayam membangunkan seisi alam. Ia tiba-tiba ingat ciuman pertama mereka di balik pohon dekat kampus. Aria memberinya kabar gembira. Gadis itu lolos sebagai kandidat mengikuti pertukaran mahasiswa ke Amerika. Sebuah ciuman yang tergesa-gesa dan kilat. Lalu ia mengulanginya dengan lebih bermakna. Aria tersipu lalu mengajaknya pergi ke kantin untuk makan siang.

“Hai semua, aku pulang dulu ya!” Aria tiba-tiba menyentuh punggungnya.
“Yah, kok buru-buru? Sekalian reuni lho ini,” ujar Irwan.
“Ah, kalian main-mainlah ke rumah!” kata Aria. “Kamu ni ngilang ke mana aja sih, Man?”

Lelaki itu gugup dengan pertanyaan yang baru saja keluar dari bibir Aria. Ia hanya tersenyum, berusaha menjalin kata-kata agar tak membelit lidahnya.
“Dia sibuk cari calon istri,” bisik Sam lalu terkekeh.
“Aku di Surabaya.”
“Oh di Surabaya.. Pantes kayak ditelan bumi!”
Mereka tertawa.
“Oke, sampai ketemu lagi, bye!” Aria melambaikan tangan dengan riang.

**

Esoknya lelaki itu pulang, diantar salah satu karibnya sampai bandara. Haidar yang kali ini mengantar.

Di dalam pesawat, sesaat setelah pesawat tinggal landas, lelaki itu menulis.

pada resepsi pernikahan sahabat kita itu
kuingat ciuman pertama kita, Aria

perutmu sudah buncit lima bulan

kelak, kau akan menamai anakmu berbeda
melupakan nama-nama
yang pernah kita rencanakan di masa muda

kau menggandeng suamimu
lalu aku pulang menggandeng tangan bayanganmu*

*) Puisi ‘pada resepsi pernikahan itu’ karya Irwan Bajang #KepulanganKelima