Tentang Al dan Sudut Kota Asing

Aku mengingat Al dengan samar-samar sebagai pemuda yang bargairah. Darahnya selalu mendidih. Kepalanya penuh pengetahuan. Barangkali itu yang membuatnya bersinar dan banyak digilai perempuan (juga laki-laki). Tentu saja Al tidak sengaja melakukannya. Persoalan “digilai” itu ketidaksengajaan. Bisa jadi itu hanya hadiah dari kelihaiannya menyihir orang-orang dengan bualan. Dari bualan satu ke bualan lain. Dari perdebatan satu ke perdebatan selanjutnya. Tak jarang hiruk pikuk diskusi memanas akibat ulahnya. Makin riuh, makin membuatnya senang sekaligus menambah panjang daftar penggemar. Kadang-kadang aku tak mengenalnya, karena dalam jarak yang tertempuh sekedipan mata Al menjadi sosok asing. Jauh dari kesan-kesan yang pernah ia berikan saat kami tidur bersama.

Tahun pertama berada di Kota Asing aku menerima surat dari Al. Surat panjang yang berisi tentang kegelisahan-kegelisahannya. Hampir setiap hari ia menulis surat. Tak semuanya kubalas lantaran aku tak punya banyak waktu untuk menulis. Di Kota Asing ini, aku tak hanya memerangi empat musim yang berganti dengan rutin, tapi juga memerangi perut yang selalu lapar. Membalas suratnya hanya kulakukan ketika akhir pekan. Lagipula tak banyak yang bisa kuceritakan selain kegiatanku sehari-hari dan tempat-tempat yang biasa kudatangi. Aku tak punya kegelisahan-kegelisahan semacam yang dimiliki Al. Lebih tepatnya mungkin kegelisahan kami berbeda. Aku gelisah pada menu makan siangku besok pagi, sedang Al gelisah pada nasib orang-orang yang lahannya diambilalih korporat. Begitulah, dalam banyak hal, kami berbeda. Aku praktis, Al sibuk berpikir. Tapi mungkin itu yang membuat kami bertaut satu sama lain. Aku tidak begitu paham juga.

Ada kalanya Al bosan menulis. Lebih sering menelpon. Dia akan bercerita, melaporkan apa saja yang sedang dia lakukan termasuk pipis dan sikat gigi di kamar mandi. Kadang, dia membacakan sebuah cerita. Al membaca cerita dengan sangat baik seperti membaca kitab suci. Aku seperti mendengar orang mengaji. Membuat hati “mak nyes” padahal dia hanya sedang membaca tulisan Seno Gumira. Pada hari yang lain, Al bersenandung. Suaranya pas-pasan, tapi sulit ditolak telinga. Pernah juga kami tidak saling bercakap tapi saluran tetep tersambung sampai salah satu dari kami bosan. Al menjadi bagian dalam hari-hariku selama aku berada di Kota Asing. Kami tidak pacaran. Dia punya pacar, begitupun aku. Kami tak saling jatuh cinta. Entah mengapa. Tapi, tidak bosan satu sama lain. Semacam perasaan yang lebih agung dari cinta.

Pada bulan Maret, tahun kedua aku berada di Kota Asing, Al datang dengan mantel hangatnya. Mantel berwarna coklat dengan tutup. Dia tampak lebih padat dengan mantel warna kayu itu. Di sudut Kota Asing kami menyantap yosenabe dan oden setelah episode berpelukan di stasiun kereta. Ia makan dengan lahap. Aku suka yang demikian bila menjamu tamu. Tak malu-malu dalam hal makan. Setelah itu, aku mengantarnya ke tempat tujuan. Kedatangan Al kali ini dalam rangka memenuhi undangan sebuah pameran seni rupa yang diselenggarakan sekelompok pemuda dari pelbagai negara. Al menjadi bagian dari mereka.

“Kenapa rambutmu dipotong?” tanya Al.

“Harus ada alasan?”

“Nggak sih, tapi baguslah berarti kamu belum putus dari pacarmu,” sambungnya.

“Ngarep?”

“Nggak juga. Aku kan punya pacar juga. Masa’ aku harus putus gara-gara kamu putus?”

“Ya kali aja kamu kayak yang kebanyakan,” aku terkikik.

“Ah, kamu ni! Ayo kita makan!”

Aku senang dia datang di musim dingin. Kami jadi punya alasan untuk saling memeluk. Tubuhnya masih sehangat Teddy Bear raksasa di kamar tidurku. Sama seperti yang sudah-sudah, bibirnya tak bisa berhenti berbicara. Aku senang mendengar apa saja yang meluncur dari sana. Cerita tentang perjalanan yang lucu, negara kami yang membikin badan gerah, dan cerita-cerita kecil lain. Bila tiba bibir itu bungkam, kami memilih berciuman. Meski di jalan.

“Kapan kamu pulang?” tanya Al sembari memeriksa gawainya.

“Secepat mungkin setelah kewajibanku selesai.”

“Berapa tahun lagi?”

“Rahasia.”

“Oh main rahasia-rahasiaan?”

“Bukankah itu bagian dari kesepakatan kita?”

“Oke!”

Al selalu memulai percakapan denganku dengan tanda tanya. Berakhir dengan tanda seru. Entah mengapa, menyenangkan rasanya membuat ia tersipu. Mata sipit dibalik kacamatanya akan menjadi sepasang garis tebal. Senyumnya menawan seketika dan dua lesung pipit hadir melengkapi. Kadang kepuasan itu dangkal dan tidak masuk akal. Seperti kepuasanku membuat Al tersipu. Lain hal denganku, seharian itu, Al memuaskan dirinya dengan keluar masuk kedai makan. Di Kota Asing ia seperti tak pernah kenyang. Mentang-mentang turis, mata dan perutnya selalu lapar. Malamnya, Al membawaku ke penginapan. Kami kedinginan diserbu suhu yang hampir mendekati 3 derajat celsius. Dia menyalakan televisi, aku membongkar karaage yang kami beli saat perjalanan menuju penginapan. Al tidak mengizinkan aku menuntaskan gigitanku karena tiba-tiba kami sudah berada di atas futon dan saling pagut.

**

Tidak ada kabar lagi dari Al sejak dia meninggalkan Kota Asing. Dia tak sekalipun menghubungiku. Aku pun demikian. Pada gawaiku, namanya pelan-pelan tergusur ke bawah oleh nama-nama lain. Hari-hariku menyisakan ruang kosong  dan tak punya daya tarik. Tapi aku tetap tidak ingin menghubunginya. Lebih-lebih untuk menuntut. Dia bukan pacarku. Bahkan pada pacarku aku tak menuntut. Lagi pula aku bukan jenis perempuan yang suka minta tanggung jawab setelah tidur dengan lelaki. Lama berselang, kudengar dari seorang kawan, Al kini sedang meniti ketenaran. Ia dikenal banyak kalangan terutama kawula muda intelek. Aku senang mengetahui kenyataan itu. Diam-diam aku mengikuti sepak terjang Al lewat wacana-wacana yang bertebaran di media sosial. Namun, aku masih tidak berniat untuk menjalin komunikasi dengannya lagi.

Saat hari kepulanganku, di Bandara Soekarno Hatta, aku menghubunginya karena aku sudah putus dengan pacarku. Sayang sekali, kali ini aku gagal meniru adegan romantis antara Rangga dan Cinta. Al hanya membaca pesan yang kutinggalkan. Tidak membalas sampai keesokan harinya. Dia mengirim selarik pesan pada pagi buta.

Ayo bertemu, aku rindu. Di tempat biasa. Jam 7 malam.

Tak hanya pesan dari Al yang kuterima. Ada pesan lain yang membuatku sulit percaya bahwa aku tidak bermimpi.

Sudah dapat undangan dari Al?

Aku datang terlambat. Sengaja. Begitu aku masuk, Al menutup pintu rapat-rapat. Ia lebih ramping dari yang terakhir kulihat di Kota Asing. Kulitnya cerah. Jambang dan kumis ia pelihara dengan baik. Dalam sepersekian detik tubuh kami saling menginginkan. Aku menerima meski tahu sebentar lagi aku akan menerima sebuah undangan pernikahan.

“Aku akan menikah,” ujarnya sembari menyeka titik keringat di dahiku.

“Foto pre weddingnya boleh juga,” kataku.

Ada jeda panjang yang tak terukur.

“Apa rencanamu setiba di sini?”

“Oh, aku kira kamu hendak bertanya kapan aku menikah.”

“Rahasia?”

Aku mengangguk. Tak ada guncangan. Tak ada amarah. Tak ada penyesalan. Sebagian nilai-nilai yang kuanut memberi peringatan, tapi tubuhku tetap menginginkan. Kami membiarkan kenikmatan itu berlangsung bertahun-tahun setelah hari ini. Baru aku tahu bahwa waktu serupa lingkaran. Tak ada gunanya bersedih.

Advertisements