Radio Pemberontakan

Gambar diambil dari sini

Nenek mulai memijat punggungku, mengusir pegal akibat terlalu sering menggendong ransel selama perjalanan. Mula-mula seluruh punggungku diolesi dengan minyak telon. Jemarinya yang kapalan itu membuatku sedikit mengantuk. Tapi, aku berusaha tetap terjaga, menunggunya bercerita seperti yang sudah-sudah. Tentang masa mudanya yang seolah tak pernah kedaluwarsa, tentang Bung Tomo, juga tentang Yoesoef—pujaan hatinya. Bukan kakekku tepatnya. Kakekku bernama Tjipto. Ya, aku ingat betul nama kakekku Tjipto Soesanto. Bukan Yoesoef.

Tapi, nenek lebih suka bercerita tentang Yoesoef ketimbang kakekku. Rupanya nenekku masih saja terkenang pada lelaki yang tak diketahui keberadaannya setelah pertempuran berakhir itu. Perihal kakekku, aku sama sekali tak mengenalnya. Lima tahun setelah kakekku meninggal, aku lahir kemudian. Continue reading

Advertisements