Radio Pemberontakan

Gambar diambil dari sini

Nenek mulai memijat punggungku, mengusir pegal akibat terlalu sering menggendong ransel selama perjalanan. Mula-mula seluruh punggungku diolesi dengan minyak telon. Jemarinya yang kapalan itu membuatku sedikit mengantuk. Tapi, aku berusaha tetap terjaga, menunggunya bercerita seperti yang sudah-sudah. Tentang masa mudanya yang seolah tak pernah kedaluwarsa, tentang Bung Tomo, juga tentang Yoesoef—pujaan hatinya. Bukan kakekku tepatnya. Kakekku bernama Tjipto. Ya, aku ingat betul nama kakekku Tjipto Soesanto. Bukan Yoesoef.

Tapi, nenek lebih suka bercerita tentang Yoesoef ketimbang kakekku. Rupanya nenekku masih saja terkenang pada lelaki yang tak diketahui keberadaannya setelah pertempuran berakhir itu. Perihal kakekku, aku sama sekali tak mengenalnya. Lima tahun setelah kakekku meninggal, aku lahir kemudian. Continue reading

Advertisements

Museum Barang Hilang

Gambar diambil dari sini

Sekarang Hari Selasa, pukul tujuh pagi. Tuan Melur duduk di balik meja kerjanya yang berhadapan langsung dengan jendela. Seperti yang sudah-sudah, hari ini jadwalnya membaca buku. Dia tak ingin diganggu siapa pun kecuali aku—untuk mengantar kopi. Tapi, di dalam dia tidak sendiri, ada Leo, seekor anjing St. Bernard berumur dua tahun yang menemaninya. Anjing malas yang sedang tidur di bawah kursi.

Di luar sana, langit cerah tanpa cacat. Meski matahari sudah tinggi, namun dedaunan masih basah oleh embun. Sejauh matanya memandang, Tuan Melur hanya mendapati lanskap kultur tamannya yang teduh. Suasana yang membuatnya betah berlama-lama berada di kamar besar itu. Dia mengambil buku dari ujung mejanya dengan gerakan pelan, membuka dan mulai menjelajah halaman demi halaman. The Art Museum. Continue reading

Sofis

Sebuah taksi berhenti tepat di depan sebuah rumah yang diapit sebuah bistro dan persewaan sepeda. Dua orang perempuan turun dengan terhuyung-huyung. Yang satu membuka gerbang dengan tangan tremor, yang satu lagi membanting pintu taksi dengan sedikit kasar sembari bergumam tidak jelas lalu keduanya tertawa sambil berangkulan masuk rumah. Taksi pun berlalu menjemput penumpang yang lain. Sedang pintu rumah dibiarkan terbuka hingga suara berisik dari dalam menarik perhatian pria tengah baya yang sedang menggembala anjing. Pria itu sempat berhenti, menoleh ke arah pintu, lalu geleng-geleng kepala, dan melanjutkan perjalanannya.

Continue reading

Tokek dan Sepatu


Aku seekor semut yang tinggal di balik lemari buku milik perempuan yang suka pulang malam. Rumahku berada di dekat kaki lemari, lubang ke dua setelah kamu melewati sepasang sepatu yang dibalut sarang laba-laba. Tiga bulan lalu, sepasang sepatu itu dilempar pemiliknya ke bawah lemari buku ini, dan hampir menutup tempat tinggalku. Untunglah terpantul dan kejadian itu sempat membuat rumahku diguncang gempa sementara. Continue reading

Gigi Pacarku

Pacarku rajin gosok gigi. Dia gosok gigi tiga kali sehari, dua kali di waktu mandi dan sekali sebelum pergi tidur. Berkat kebiasaan yang ditanamkan ibunya sejak kecil itu, alhasil gigi pacarku putih meski tiap pagi dia minum kopi. Selain minum kopi, dia juga merokok dan rata-rata perokok selalu memiliki gigi kecoklatan, berkerak dan bahkan mulai rontok.

Kalian tahu, aku suka melihatnya tertawa. Saat dia tertawa, kuperhatikan giginya yang berderet rapi itu. Kuamati lekuk-lekuk antar gigi, serta gusinya yang merah muda. Sama sekali tak ada karang gigi di sana.

Continue reading

Kopi

Ini tentang dingin yang menyekap hati. Hatiku. Bukan hatimu.
Pagi itu, sepanjang mata memandang, aku hanya melihat kabut tipis yang turun menyelimuti pemandangan. Udara kian basah, rimbun dedaunan dilapisi embun, dan para malaikat sibuk mengemasi mimpi orang-orang yang tengah lelap. Sunyi yang panjang itu menerkam hatiku yang patah hingga ngilunya terasa sampai tulang. “Ah, sudahlah, sudahlah” gumamku berat. Aku enggan menangis, tapi airmata ini ingin meluap. Aku ingin marah, tapi amarahku tak bertuan. Dan aku hanya bisa diam.
Continue reading