Radio Pemberontakan

Gambar diambil dari sini

Nenek mulai memijat punggungku, mengusir pegal akibat terlalu sering menggendong ransel selama perjalanan. Mula-mula seluruh punggungku diolesi dengan minyak telon. Jemarinya yang kapalan itu membuatku sedikit mengantuk. Tapi, aku berusaha tetap terjaga, menunggunya bercerita seperti yang sudah-sudah. Tentang masa mudanya yang seolah tak pernah kedaluwarsa, tentang Bung Tomo, juga tentang Yoesoef—pujaan hatinya. Bukan kakekku tepatnya. Kakekku bernama Tjipto. Ya, aku ingat betul nama kakekku Tjipto Soesanto. Bukan Yoesoef.

Tapi, nenek lebih suka bercerita tentang Yoesoef ketimbang kakekku. Rupanya nenekku masih saja terkenang pada lelaki yang tak diketahui keberadaannya setelah pertempuran berakhir itu. Perihal kakekku, aku sama sekali tak mengenalnya. Lima tahun setelah kakekku meninggal, aku lahir kemudian.

“Kenapa kau tak segera kawin, Tin!” tanya Nenek. Ibu jarinya menekan salah satu titik di tengkukku kemudian diurut agar otot yang mengkal kembali rata.

“Kamu terlalu sering bawa tas berat.” Aku meringis, mencengkeram bantal sambil mengaduh lirih.

Kuhujamkan wajah ke bantal yang berbau minyak kapak itu. Sial. Pijatan nenek membuat sebagian punggungku nyeri. Untung, nenek buru-buru mengolesi punggungku dengan balsem. Sekarang aku bisa merasakan hangatnya yang membuat kantukku makin menjadi. Tapi, belum ada sepatah kata pun keluar dari bibir nenek tentang Yoesoef, tentang peluru yang berdesing berapi-api dari segala penjuru, atau tentang Bung Tomo.

“Kenapa, Tin? Ha? Kawinlah mumpung masih muda,” lanjut Nenek.

“Aku masih ingin bepergian, Nek.”

“Kau kira kalau kau sudah kawin tak bisa bepergian?”

“Mungkin. Seperti nenek, tinggal di rumah. Mengurus anak-anak dan mengurus suami yang sakit.” Nenek tertawa mendengar ucapanku.

“Itu sudah jadi (akibat yang harus kutanggung) sebagai anak orang miskin yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, Tin. Jangan kau bandingkan dengan aku.”

Bisa kulihat dari cermin, nenek mulai tersenyum. Sebentar lagi cerita tentang hari di mana banyak korban berjatuhan pasti akan mengalir lancar dari bibirnya. Tentang Bung Tomo yang selalu berapi-api bila menyerukan pidato di Radio Pemberontakan. Tentang Yoesoef yang membunuh Brigadir Jendral Aubertin Mallaby. Dan sedikit tentang kakekku.

Aku hafal cerita itu. Nenek tak pernah ketinggalan menceritakannya bila sedang memijat cucu-cucunya. Sejarah baginya selalu kenyataan

***

Oktober 1945

Radio Pemberontakan mengudara. Lagu pembukanya Tiger Shark karya Peter Hodykinson yang dibawakan oleh Hawaiian Islanders. Ini bukan radio pemerintah dan aku tak tahu kenapa dinamai Radio Pemberontakan. Bung Tomo mendirikan radio ini tiga hari setelah kepulangannya ke Surabaya. Mula-mula gelombangnya pendek, hanya 34 meter. Hampir tiap hari aku pergi ke rumah Yoesoef untuk mendengarkan suara Bung Tomo. Kami biasanya berkumpul di ruang tamu rumah Yoesoef. Aku dan Siti—adik Yoesoef biasanya duduk paling depan karena kami masih kecil.

Radio tergolong benda langka. Hanya orang-orang pergerakan, priyayi dan orang berkedudukan yang memilikinya. Di rumahku tak ada radio. Kami orang miskin, bapakku hanya buruh dan ibuku tidak bekerja. Ibuku selalu menasihati agar kelak aku jadi istri pegawai supaya aku bisa punya radio dan barang lain yang tidak kami punyai. Tapi, aku tak ingin mempersuamikan pegawai. Aku ingin menjadi istri orang pergerakan, seperti Kang Yoesoef.

Jepang sudah kalah. Indonesia merdeka. Kami rakyat kecil hanya berharap bisa hidup tenang setelah melewati masa-masa sulit. Tapi, rupanya merdeka tidak sesederhana itu untuk diakui. Tak lama berselang setelah Radio Pemberontakan mengudara, orang-orang kulit putih datang lagi dengan dalih melucuti senjata tentara Jepang. Tapi, dalih itu berbuntut pada peristiwa dirobeknya bendera merah putih di atas Hotel Yamato dan diganti dengan bendera tiga warna.

Merah, putih, dan biru. Orang-orang pribumi marah, termasuk Yoesoef yang hari itu pergi membawa senapan. Harapan semua orang mendadak pupus. Tapi, pemuda-pemuda termasuk Yoesoef tak pernah gentar pada apa pun. Mati pun mereka rela untuk mempertahankan kemerdekaan.

Aku datang ke rumahnya untuk bertemu Siti.

“Siti mana, Kang?” tanyaku.

“Tak tahu, Pik. Coba kau cari di belakang!”

Aku hanya terpaku memandangi Yoesoef yang tengah bersiap pergi. Suara Bung Tomo menggema di radio. Suara yang memantik semangat pemuda-pemuda yang darahnya masih berdesir mendengar seruan merdeka.

Radio dimatikan. Yoesoef pergi setelah berpamitan padaku. Aku mencari Siti ke belakang. Dia sedang mencari kutu di kepala ibunya.

“Pik?” Siti menoleh. Pik nama panggilanku, kependekan dari Warpiah.

“Kalian tak usah pergi-pergi! Bisa celaka nanti!” Wak Maryam memperingatkan kami.

Aku duduk bersimpuh di dekatnya, memijat pundaknya yang telanjang. Mata Wak Maryam terpejam pelan-pelan lantaran pijatanku dan semilir angin. Namun, tiba-tiba terdengar bunyi tembakan. Tanpa pikir lagi kami berdiri, mencari tempat bersembunyi di dekat sumur. Wak Maryam mendekap tubuhku dan Siti erat.
Tak lama kemudian hening. Wak Maryam meminta kami berdua agar tak beranjak ke mana pun, sementara ia memeriksa ke dalam rumah. Radio dihancurkan. Aku dan Siti membuntutinya kemudian. Ruang depan diobrak-abrik. Wak Maryam memunguti kepingan-kepingan radio yang berserakan di tanah.

“Yoesoef pasti murka,” gumamnya. “Londo edan!”

Aku mengintip dari celah jendela, mengawasi rumahku.

“Jangan pergi dulu, Pik! Nanti kamu ketembak!” Wak Maryam menarik pergelangan tanganku. Aku dan Siti digelandang ke belakang melewati semak-semak kebun tebu.

Terdengar suara tembakan lagi dan karena kaget kakiku terantuk batu di pematang. Aku hampir terjerembab. Untung Siti menahan tubuhku. Wak Maryam menoleh.

“Cepatlah!”

***

Aku, Wak Maryam dan Siti akhirnya tinggal di dapur umum di Pregolan selama baku tembak antara pemuda-pemuda dan tentara Inggris berlangsung. Di sana, Wak Maryam membantu memasak. Sedangkan aku, Siti dan gadis-gadis kecil lainnya ikut membantu melayani pemuda-pemuda yang butuh makan.

Tak pernah kujumpai lagi Yoesoef di tempat pengungsian. Siti maupun Wak Maryam juga tak tahu keberadaannya. Di sana, kami mengikuti kabar pertempuran lewat radio. Setiap hari, Radio Pemberontakan tak berhenti menyiarkan keadaan di pusat Surabaya.

Mallaby tewas. Tak ada yang tahu siapa pembunuhnya, yang jelas pemuda pribumi. Pasukan Inggris murka dan mengumumkan perang. Kudengar Bung Tomo berpidato dengan semangat yang membakar jiwa semua orang.

“Saudara-saudara pemuda-pemuda Indonesia di seluruh tanah air, terutama saudara-saudara pemuda Indonesia yang sedang bertempur di Surabaya pada waktu ini. Banyak teman-teman kita yang telah gugur, Saudara-saudara. Darah telah mengalir di kota ini. Banyak di antara Saudara-saudara yang tidak akan melihat lagi teman-teman Saudara yang tidak bisa kembali ke rumahnya masing-masing. Saudara-saudara, mereka semua telah gugur pada pertempuran-pertempuran yang telah lalu ini. Sudah banyak korban kita, Saudara-saudara. Tapi, percayalah! Mereka ini, Saudara-saudara, mereka semuanya ini, daging, darah, tulang-tulang mereka ini akan menjadi rabuk dari suatu negara merdeka di kelak kemudian hari, di mana, Saudara-saudara, kemakmuran dan keadilan yang merata akan menjadi bagian anak-anak mereka di kelak kemudian hari. Maka, Saudara-saudara teruskan perjuangan. Kita mati, kita lenyap dari dunia ini, tetapi masa depan akan penuh dengan kemakmuran dan keadilan, Saudara-saudara. Marilah, Saudara-saudara, teruskan perjuangan, kemenangan pasti akan di pihak kita. Allahu Akbar!! Allahu Akbar!! Allahu Akbar!! Merdeka!!”

Aku meninggalkan ruangan tempat orang-orang berkumpul untuk menyusul ibuku di dapur umum. Dua hari yang lalu kami mendapat kabar bahwa bapakku dibunuh tentara Inggris. Sedihnya bukan main hatiku. Aku meraung-raung di halaman. Sekarang aku lebih takut lagi kalau ibuku juga dibunuh atau terbunuh. Hidup sebatang kara bukan hal yang mudah.

“Pik! Pik!” Sebuah suara memanggilku setengah berbisik dari balik pepohonan.

“Kang Yoesoef?” Aku menghampiri Yoesoef.

“Kau baik-baik saja?”

“Baik, Kang!” Aku mengangguk.

“Aku turut bersedih atas meninggalnya bapakmu! Tapi sudah kubalaskan dendammu, Pik. Aku sudah menembak Mallaby!”

“Apa?” aku terbelalak. “Kau harus sembunyi, Kang!”

“Aku akan pergi ke Kedung Cowek, Pik!”

Tak lama berselang setelah kedudukan Mallaby diganti Robert Mansergh, kudengar dari Radio Pemberontakan bahwa semua penduduk yang membawa senjata harus menyerahkan diri. Aku merahasiakan kedatangan Yoesoef tempo hari dari siapa pun termasuk Wak Maryam dan Siti, juga ibuku. Tak boleh ada yang tahu tentang Yoesoef yang telah membunuh Brigadir Jendral itu.

Perang meletus beberapa hari kemudian. Bom-bom dijatuhkan dari udara ke gedung-gedung pemerintahan. Surabaya jadi lautan asap dan api. Kami pindah dari pengungsian ke pengungsian lain karena persembunyian sudah tidak aman. Banyak yang terluka dan meninggal, termasuk ibuku. Untung ada Wak Maryam yang berjanji akan menjagaku. Benar-benar hari yang panjang dan melelahkan.

Tiap hari aku mendengarkan perkembangan peperangan dari Radio Pemberontakan. Radio gelap itu kadang-kadang justru membawa petaka bagi orang-orang pribumi. Suara Bung Tomo yang menyihir semua pemuda sering dimanfaatkan pasukan Inggris untuk mendahului tindakan, seperti tadi pagi. Bung Tomo memperingatkan penembak meriam yang ada di Undaan. Tak lama kemudian tersiar kabar bahwa Inggris telah mengahancurkan meriam di Undaan.

“Kang Yoesoef ke mana ya, Mak?” tanya Siti.

Aku hampir tersedak mendengar pertanyaan Siti. Kulirik Wak Maryam yang sedang mengaduk beras.

“Kakangmu ikut perang, hidup atau mati kita hanya bisa menunggunya sampai perang ini selesai.”

Aku ingin memberitahu Siti, tapi urung. Aku tak boleh terlalu gegabah, bisa-bisa nyawa Yoesoef terancam. Banyak mata-mata di sini. Orang pribumi bisa jadi musuh bangsanya sendiri lantaran keserakahan.

“Kalian ikut bantu bungkus nasi sana!” Wak Maryam mengusir kami.

Aku dan Siti buru-buru pergi. Dalam hati aku khawatir dengan keadaan Yoesoef. Tapi benar kata Wak Maryam, aku hanya bisa menunggu sampai perang ini berakhir. Kemungkinannya tiga, hidup, mati, atau tak kembali.

“Aku khawatir dengan keadaan Kang Yoesoef, Pik,” kata Siti muram.

Lagi-lagi aku hanya bisa bungkam. Kurengkuh bahunya. Dia menangis memikirkan nasib kakak satu-satunya yang sampai sekarang tak ada kabarnya.

“Kang Yoesoef pasti kembali,” bisikku menenangkannya. Sekaligus menenangkan hatiku sendiri.

Pemuda-pemuda berdatangan. Ada yang membawa senapan, ada yang membawa luka-luka pada tubuhnya. Aku membantu Wak Maryam membagikan nasi pada mereka. Di dekat pohon, kulihat salah satu teman Yoesoef sedang duduk bergerombol. Kakiku melangkah ke sana dengan sendirinya. Kubagikan nasi pada mereka.

“Lihat Kang Yoesoef, Kang?” tanyaku.

“Tidak, Pik. Sudah dua hari aku tak ketemu Yoesoef.”

Jantungku sekejap berhenti. Aku tersenyum kecil, kemudian berlalu meninggalkan mereka setelah membagi jatah nasi. Kubantu Siti yang sedang menuang minuman. Dapur umum disesaki pemuda-pemuda yang kelaparan dan kelelahan. Kulihat Wak Maryam bersendau gurau dengan seorang perempuan berbalut karung goni. Mereka sibuk membungkusi nasi.

“Kang, lihat Kang Yoesoef tidak?” tanya Siti pada salah seorang teman Yoesoef.

Pemuda yang ditanyai hanya menggeleng lantaran mulutnya belum selesai mengunyah. Siti berlalu dari hadapannya, menanyai teman Yoesoef yang lain. Tapi tak ada yang tahu keberadaan Yoesoef dan dia menangis sambil berlari ke arah Wak Maryam. Wak Maryam mengelus-elus kepalanya dan bilang bahwa Yoesoef akan kembali.

Aku berlari ke ruangan di mana orang-orang sedang mendengarkan berita bahwa Kedung Cowek dihujani meriam. Tempat gudang senjata itu dihancurkan dua jam setelah Bung Tomo memberi komando agar semua senjata dibagikan pada rakyat lewat Radio Pemberontakan. Ah, Bung Tomo memang gegabah. Tiba-tiba aku ingat Yoesoef. Ya, dia ada di Kedung Cowek untuk mengambil senjata bersama rombongan yang membawa truk.

Korban makin banyak yang berjatuhan. Selama 24 jam rumah sakit berjaga penuh karena korban bisa datang terus menerus. Dapur umum juga selalu bersiaga meski pasokan bahan makanan mulai menipis. Pasar-pasar mulai tutup. Para pedagang mengungsi ke perbatasan untuk menghindari bom yang dijatuhkan sewaktu-waktu. Semua orang merasakan ketakutan yang mencekam.

Untung saja kami dapat bantuan dari Sidoharjo beberapa hari kemudian. Banyak sayuran dan beras yang dikirim ke dapur umum sampai bertumpuk-tumpuk di gudang. Aku dan Siti biasanya membantu mengangkut sayuran-sayuran dari gudang ke dapur umum. Kami bersemangat untuk masa depan yang tak bisa diraba.
Sampai dengan perang usai, aku tak pernah bertemu Yoesoef. Aku tinggal dengan Wak Maryam dan dijodohkan dengan seorang tentara bernama Tjipto Soesanto. Dia lebih tua dariku 15 tahun, gagah, dan sangat baik. Sejak menikah dengannya aku dibawanya ikut serta ke Ambarawa. Kutinggalkan Wak Maryam yang membesarkanku dengan kasih sayang seperti ibuku sendiri. Juga Siti—teman baikku.

Pada satu titik, ketika Radio Pemberontakan menyiarkan tentang Kedung Cowek yang dikuasai tentara Inggris, aku sebetulnya yakin bahwa Yoesoef sudah meninggal di antara senjata-senjata yang hendak diangkutnya dengan truk itu. Tapi, aku memilih menenangkan hatiku sendiri. Yoesoef hanya sedang pergi berperang. Dia selalu hidup dalam ingatanku.

***

Suara Nenek memudar. Matanya yang berkaca-kaca mencerminkan masa yang lampau itu.

Radio Pemberontakan pernah diterbitkan Dalang Publishing Amerika Serikat dalam format Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Advertisements

2 thoughts on “Radio Pemberontakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s