Tentang Perjalanan

Gambar diambil dari sini

Aku selalu rindu perjalanan lantaran di sana ada ruang sempit untuk menaksir jarak antara hatiku dan hatimu. Tak peduli kulalui dengan apa perjalanan itu; bus, pesawat, kereta, kapal, angkutan, taksi, becak, sepeda, bahkan dengan kakiku. Dan, saat ini aku sedang berpikir tentang perjalanan yang tak butuh media. Perjalanan dengan sayap. Perjalanan dengan keteguhan hati.

Jadi, ayo pergilah bersamaku ke suatu tempat yang tidak membutuhkan jalanan untuk dipijak dan tak seorang pun tahu di mana kita akan mengakhiri perjalanan ini. Kita akan menyaksikan langit-langit yang warnanya pudar dan hijau dedaunan yang menjelma jadi sephia. Kita akan menyusuri kios-kios di jalur-jalur sempit kota impian atau terbang dari satu bintang ke bintang lainnya dengan mata terpejam.

Perjalanan, ke mana pun itu akan selalu kumaknai sebagai sebuah rute panjang menuju hatimu, pulang, merumah selamanya di sana. Aku selalu berharap kamu menjemputku di terminal, di stasiun, di bandara, di pelabuhan atau di mana pun itu, selama aku bisa menghambur ke pelukanmu setelahnya.

Aku ingin pulang ke rumah kita dimana aku bisa menyiapkan makan makan malam kita yang sederhana sembari melihatmu bersorak merayakan kemenangan tim sepak bola kesukaanmu. Aku ingin pulang ke rumah kita dimana kamu tak perlu lagi mengirimiku lagu-lagu rindu. Sebaliknya, kita akan mendengarkannya sebelum tidur sembari berpelukan di sofa. Atau berdansa di beranda diiringi Sunday Kind Of Love-nya Etta James.

Seperti hari ini, ketika aku hanya mampu duduk di dalam kereta bisnis yang akan membawaku meninggalkan Jakarta. Semua urusanku di kota mahapadat ini telah usai. Saatnya pulang untuk mengerjakan urusan lainnya yang masih terbengkelai. Aku tiba di stasiun pukul tujuh. Belum cukup malam memang, tapi hampir tak ada cahaya yang bisa menghiburku di luar sana. Kereta ini pun tak cukup membuatku betah berlama-lama duduk. Tak ada tontonan, yang ada hanya riuh anak-anak kecil. Mereka berlarian dan menyambangi jendela kaca sambil melambaikan tangan pada kerabat mereka yang ada di luar. Pedagang asongan dan penumpang lain sibuk merapikan bawaan mereka.

Udara kian hangat. Bau apek pun menguap. Punggungku rasanya rapuh. Pedagang-pedagang asongan itu keluar masuk sambil menawarkan barang dagangan. Sayangnya tak banyak yang tertarik membeli termasuk aku.
Aku sedang menantikan kehadiran orang yang menyewakan bantal. Begitu ia muncul, kusewa sebuah bantal untuk teman tidur nanti.

Seraya memeluk bantal, tak henti aku memikirkanmu. Aku tahu kamu akan menjemputku besok pagi di stasiun, berdiri di dekat bangku, memasukkan kedua tanganmu dalam saku jaket, dan tersenyum ketika kau dapati sosokku di kejauhan. Dan, entah kenapa senyumku mendadak pudar, buku kecil dalam genggaman tanganku sudah penuh goresan. Rasanya aku memang rindu. Rindu yang sepi. Padamu.

Bersanding Kepakan Di Bawah Senja*
Aku rindu gelak manjamu yang merajut senyum ke buluh waktu. Langkah ceriamu seperti sepasang kepakan yang mendendangkan angin berlalu.Kapan kita dapat bersanding langkah kembali, senja tanpa jiwamu menjadi kehilangan arti. Datanglah wahai beludru perduku, sebelum sinar terakhir menjadi kisah yang lalu. Karena tanpamu, sepasang sayapku hanyalah kenangan berdebu.

*Puisi Cahya Legawa

Advertisements

18 thoughts on “Tentang Perjalanan

  1. Oke! Pasti! Hahaha.. Sedang dalam proses mencari pasangan2 duet lain.. Biar jadi kumpulan kolaborasi. Tunggu cerita selanjutnya.

  2. I think the admin of this site is genuinely working hard in favor of his web page, because here every data is
    quality based information.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s