Purnama Jelita

Aku masih ingat, Lebaran bulan lalu Mbak Nunik—kakak sepupuku—berbisik padaku, “Titip Habib ya, aku pengen dia banyak ngobrol sama kamu, dia anaknya tertutup. Aku pengen dia masuk Akpol”. Tapi, siapa menyangka hari itu terakhir kali aku mencium pipinya. Mbak Nunik telah berpulang pada rahim Tuhan. Menjadi kepompong. Terbungkus kain putih. Kaku.

Fajar belum genap ketika ibu menelpon. Aku yang disekap kantuk tak bersuara, kudengarkan saja ibu menyapa. Tapi begitu ibu bilang Mbak Nunik meninggal karena kecelakaan, mataku spontan menyala. Hatiku sakit. Kepergian ini terlalu cepat, batinku. Pikiranku langsung tertuju pada suami dan empat anak Mbak Nunik. Tak bisa kubayangkan bagaimana empat bocah itu bertahan hidup tanpa dewa mereka di rumah. Mbak Nunik adalah ibu rumah tangga yang berfungsi penuh. Tak pernah sekali pun aku melihat dia ongkang-ongkang kaki. Mbak Nunik mengelola segala masalah dengan sangat baik, meladeni suami dan anak-anak dengan keinginan mereka sendiri-sendiri, dan pengayom bagi keluarga besarnya.

“Siap-siap ya! Nanti kami jemput,” kata ibu.

“Nggih, Bu.”[1]

Ketika kami tiba di rumah mungil yang terletak di lilitan gang itu, suasana masih sepi. Hanya beberapa gelintir orang berbaju hitam yang datang melayat. Mungkin saja para tetangga telah melayat tadi pagi, karena kami datang sekitar pukul 12. Sedang jenazah masih dalam perjalanan dari Bondowoso dan diperkirakan empat jam lagi baru sampai di rumah duka di Wonosobo. Kami menunggu dalam cemas dan haru sembari mendengar sambil lalu kronologis kecelakaan yang dialami Mbak Nunik. Wanita tua keriput yang tak lain ibunda terkasih Mbak Nunik itu tak bosan menceritakan kejadian tragis pada tamu yang datang silih berganti. Tanpa airmata. Setelah itu beliau meminta maaf barangkali almarhumah punya salah dan minta didoakan.

Aku duduk bersila. Didepanku, selain ibu Mbak Nunik, anak tertua Mbak Nunik berlinangan airmata. Dia dikerubuti sepupu-sepupuku yang lain. Sebentar tenang, sebentar histeris sambil mencubiti punggung tangannya.

“Nisa pasti mimpi, Nisa pasti mimpi. Kemarin sore mama masih telpon Nisa,” lalu meledak tangisnya. Kami semua tanpa sadar larut dalam prosesi kehilangan ini. Mataku kadang-kadang basah bila kutemukan momentum yang mencabik hatiku. Kata ibuku, menangis pertanda belum ikhlas dan membuat perjalanan orang yang meninggal terhambat. Jadi, kuusahakan untuk tidak mencucurkan airmata. Dan tak lama berselang, aku pun meninggalkan ruangan itu karena terlalu lelah duduk. Kakiku kesemutan dan aku bermaksud melemaskan otot-otot yang menegang.

Di luar, bapak-bapak sibuk menata pembaringan terakhir untuk Mbak Nunik. Dibuat sebuah ruang bersekat dengan kain warna hijau. Di tengah-tengah ruang terdapat meja seluas tempat tidur yang telah dilapisi kain kafan dan plastik sebagai tempat persinggahan jenazah sementara sebelum dimakamkan. Beberapa ibu disebelahku berbisik-bisik, turut prihatin. Aku sendiri mengamati prosesi itu dengan pedih terselip. Kematian benar-benar seperti mimpi buruk yang datang tiba-tiba. Kepergian Mbak Nunik begitu mendadak. Tak ada yang benar-benar siap kehilangannya. Termasuk aku.

“Wes jam papat, kok durung teko yo,”[2] celetuk seorang ibu di sebelah kananku, “meh dikubur jam piro iki?”[3]

“Sekedap malih, Bu,” kataku. Ibu itu menatapku sendu, mengangguk pelan, lalu menyeka airmata yang tersembul di sudut mata.

Perkiraanku tidak meleset. Dari ujung gang, kulihat suami Mbak Nunik berjalan sambil menggendong anak bungsunya. Matanya sembab, wajahnya basah. Orang-orang dari dalam rumah seketika berhamburan keluar menyambut mereka dengan pelukan. Aku yang berdiri di dekat Nisa spontan melingkarkan lengan ke tubuhnya. Hanya ada gema “innalillahi” dan isak tangis di udara seiring digotongnya jenazah menuju rumah duka. Bulu kudukku meremang. Mataku panas dan ulu hatiku sakit karena menahan tangis. Aku tidak boleh ikut-ikutan menangis, janjiku dalam hati.

“Ikhlas, Nisa,” bisikku.

Nisa mengangguk sambil bergumam, “Mama..”

Tubuhnya benar-benar tanpa daya begitu jenazah mamanya dibaringkan. Orang-orang bergerak semakin cepat dan panik. Semua ingin menonton jenazah. Suasana sedikit kisruh seperti hiruk pikuk menonton konser Radiohead. Kubantu Nisa berdiri untuk melihat mamanya. Begitu kafan dibebaskan dari ikatan dan disibak, sendi kakinya melemas, tubuhnya ditarik gravitasi paksa, dan dia pingsan. Aku hampir terjengkang karena menahan tubuhnya yang berat. Orang-orang sesenggukan makin keras melihat Nisa pingsan. Aku memekik minta tolong dan kami menepikan tubuh Nisa. Setelahnya prosesi tetap berjalan. Kyai tetap membaca doa dengan khusyu’.

Aku berdiri tepat disisi pembaringan, ikut berdoa, dan kulihat darah itu merembes di bagian betis. Lagi-lagi aku merinding. Kepalaku tak berhenti merangkai-rangkai imajinasi sebab kecelakaan itu. Sungguh ingin kulihat jasad Mbak Nunik yang belum sempat kulihat karena tadi aku harus menepikan tubuh Nisa.

Tak berapa lama kemudian, datanglah anak kedua Mbak Nunik. Habib—yang sempat dititipkannya padaku. Bocah yang baru menginjak remaja itu langsung menubruk kakaknya sambil meraung-raung.

“Maafin Habib, Kak Nisa.. Maafin Habib.. Ampun, Kak Nisa.. Habib nggak bisa jagain mama..”

Kali ini airmataku terlanjur jatuh.

“Udah, Bib.. Ini musibah, kamu harus kuat,” ujar Nisa. Mereka berpelukan erat sekali.

“Maafin Habib, Kak Nisa.. Habib nggak sengaja..”

Jauh diatas sana, separuh langit memar oleh kelabu yang menyiratkan duka mendalam. Tak ada semburat merah penutup hari. Udara dingin Wonosobo menyelimuti tubuh orang-orang yang berjalan bergerombol menuju masjid. Jenazah hendak di sholati agar bisa segera dimakamkan. Dan kabutpun mulai turun, disusul rintik gerimis. Aku memikirkan Habib. Hanya bocah itu yang kupikirkan. Tiba-tiba aku teringat cerita Mbak Nunik perihal Habib yang hatinya tak sebesar ketiga saudaranya. Habib paling pemalu dan kurang percaya diri. Habib paling pendiam. Habib tertutup. Habib yang paling patuh pada kedua orangtuanya. Setelah kejadian ini, bisa jadi dia semakin jadi individu yang sengaja mengisolasi diri dengan rasa bersalah. Bisa jadi, dialah yang paling tertekan secara lahir juga batin.

Kuputar kembali kronologis kecelakaan yang merenggut nyawa Mbak Nunik berdasarkan tutur ibu Mbak Nunik. Sore itu Habib menelpon Mbak Nunik dari rumah sakit. Habib diserempet becak dan jatuh dari motor. Tapi, tidak ada luka yang serius. Hanya lecet dan sisa kaget yang masih tinggal di dadanya. Habib meyakinkan ibunya bahwa dia baik-baik saja dan akan segera pulang ke rumah. Tapi, ibu mana yang tidak cemas mendengar berita kecelakaan menimpa anaknya? Mbak Nunik bergegas menuju rumah sakit dengan kekhawatiran, ditemani adiknya yang baru saja datang dari Wonosobo.

Sampai di rumah sakit dan mengetahui Habib baik-baik saja Mbak Nunik bersyukur. Diperiksanya seluruh tubuh Habib yang masih dibalut seragam sekolah. Lecet di bagian siku yang tidak serius. Lalu mereka pulang. Adik Mbak Nunik membawa motor yang dipakai Habib, sedang Mbak Nunik membonceng Habib dengan motor yang mereka bawa dari rumah. Senja hampir merapat pada malam. Separuh langit telah merona dengan warna merah memukau. Habib berusaha mengatur nafasnya yang tak beraturan akibat kecelakaan tadi. Entah melamun atau apa, Habib tidak menyadari ada becak di dekatnya. Rok Mbak Nunik yang berkibar ditiup angin tersangkut pada penutup roda becak. Tubuh besar Mbak Nunik kehilangan keseimbangan seketika, dia terlepas dari motor, berguling-guling di jalan raya, dan kepalanya jadi santapan ban truk.

“Mbak Nunik dimakan candikala,” bisik salah satu sepupuku.

Lamunanku buyar. Mendadak mitos yang selalu didengungkan orang-orang tua saat kami kecil bergema di kepalaku. Senja selalu penuh dengan raksasa jahat yang kami sebut candikala. Jangan pernah keluar di waktu senja karena raksasa membuat semua panca indera kita tertipu. Banyak sekali kecelakaan yang terjadi saat senja. Bahkan aku ingat setahun yang lalu ayahku kecelakaan juga saat raksasa candikala berkuasa. Mobil ayah menabrak pohon menjelang Maghrib.

Senja. Candikala. Setelah dewasa aku tahu bahwa candikala merupakan fenomena alam yang menakjubkan. Semburat merah yang merona itu selalu menyita perhatianku. Aku lupa mitos- mitos yang ditasbihkan para orangtua. Aku bahkan sering jalan-jalan ke pantai dengan pacarku di waktu senja karena kami ingin mengabadikan kilauan sinar itu dalam bidikan kamera. Senja menjadi inspirasi dalam tulisan-tulisanku karena dia menyimpan banyak sekali rahasia. Senja yang misterius. Aku benar-benar lupa bahwa ada negeri para raksasa disana. Ah.. Mana bisa hal-hal seperti ini dipercaya?

Lima tahun kemudian.

“Habib tadi telpon” kata suamiku begitu aku turun dari mobil.

“Telpon rumah? Kok ga telpon hp?” tanyaku.

“Nonaktif katanya,” Suamiku mengambil anak kami dari gandonganku, “penting katanya.”

Selepas mengganti baju kerja dengan piyama, aku berjalan ke balkon. Kutelpon keponakanku yang sekarang tinggal di Kalimantan itu. Tak lama berselang setelah ibunya meninggal, Habib masuk Akademi Kepolisian dan dia sekarang sedang bertugas di Kalimantan. Persis seperti keinginan Mbak Nunik sebelum meninggal. Sedang Nisa baru saja jadi PNS dan tetap tinggal di Bondowoso bersama ayahnya. Dua adiknya sekarang sudah duduk di SMP dan SMA. Tahun lalu ayah mereka pensiun dan secara otomatis baik Nisa maupun Habib menjadi menopang utama keluarga. Aku benar-benar menyaksikan mereka jatuh bangun sepeninggal Mbak Nunik. Anak-anak belajar makan apa yang telah disajikan, tidak lagi santapan sesuai keinginan mereka masing-masing. Nisa belajar mengerjakan pekerjaan rumah. Ayah mereka belajar mengelola uang, tidak hanya mencari dan setor. Habib belajar menjadi pria tangguh. Dan dua adiknya belajar tidur sendirian.

“Ono opo, Bib?”[4]

“Tante ada waktu kapan? Habib pengen ketemu tante.”

“Weekend. Di rumah ya. Ada apa sih?”

Bocah itu cengar-cengir di telpon. Baru kali ini dia tampak ceria.

“Mau ngenalin pacar Habib sama Tante.”

Spontan aku tertawa sampai suamiku menengok ke arahku. Kuberi tanda dengan kedipan mata lalu kutekan loudspeaker biar suamiku ikut mendengar percakapan kami. Lantas suamiku tertawa kecil.

“Myggi apa kabar, Tante? Udah bisa apa dia?” Habib menanyakan kabar anakku.

Suamiku langsung berseloroh, “Myggi udah bisa merangkak, Bib.. Sayangnya belum bisa jatuh cinta” Dari seberang Habib tertawa riuh.

Kugendong anakku dan kubiarkan suamiku mengobrol dengan Habib. Tiba-tiba aku rindu Mbak Nunik. Seminggu lagi kalau ada waktu mungkin akan kusempatkan mengunjungi makamnya.

“Sepertinya dia sudah benar-benar sembuh dari luka itu,” kata suamiku. Aku menyetujuinya.

“Tugasku selesai.”

Dari balkon ini kusaksikan langit bergradasi. Biru menjelma jadi jingga yang sahaja lalu sekumpulan bercak merah keemasan menyapa. Burung-burung berbondong-bondong pulang ke negeri mereka yang jauh dan tak terjangkau manusia. Senja masih datang dan menjadi bukti keabadian perputaran waktu.


[1] “Ya, Bu”

[2] “Sudah jam empat, kok belum datang ya”

[3] “Mau dikubur jam berapa ini”

[4] “Ada apa, Bib?”

[Dimuat di Tabloid Cempaka Edisi 28 – XXII – 8-14 Oktober 2011].

Advertisements

6 thoughts on “Purnama Jelita

  1. aku kok nangis ya baca ini sekarang.. aku lupa sudah pernah baca cerita ini atau blm sebelumnya.. apa karena skg turut merasakan ya kehilangan orangtua? kalau di crita ini ibu, kalau sy bapak.. 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s