Tongky Dimakan Televisi

Cempluk dan ibunya hari ini sedang malas berburu tikus. Mereka sudah kenyang. Tuan Besar yang baru saja pulang dari luar kota membawakan makan malam istimewa untuk mereka. Daging salmon kemasan yang gurih. Keduanya mendapat jatah di piring yang terpisah. Isinya sama, hanya porsinya yang berbeda. Ibunya dapat jatah lebih banyak, tentu saja. Tapi Cempluk boleh mengambil milik ibunya bila ia masih lapar.

“Kalau masih lapar, kamu boleh habiskan makanan ibu,” kata ibunya.

Cempluk yang piringnya sudah kosong berjalan mendekati ibunya.

“Ibu sudah kenyang?” tanya Cempluk.

“Lumayan. Habiskan saja!”

Tanpa basa-basi, Cempluk segera menghabiskan jatah ibunya. Setelah itu, mereka berjalan menuju ruang tengah. Seperti biasa, seusai makan mereka duduk di bawah sofa.  Hampir setiap malam ibunya bercerita sebelum ia tidur. Tentang banyak hal yang terjadi di rumah ini. Cempluk senang sekali.

“Ayo, Bu. Aku sudah siap mendengar cerita!” kata Cempluk semangat.

Lalu ibunya pun bercerita.

**

Setiap malam, saat penghuni rumah terlelap, semua benda yang ada di rumah ini bisa berbicara. Mereka saling bercerita tentang pengalaman mereka setiap hari. Ada televisi, AC, sofa, telepon, sapu, lemari, karpet, meja, toples, mainan dan masih banyak lagi. Selain berbicara, benda-benda itu juga bisa merasa. Mereka dapat bersedih dan berbahagia.

Pada suatu hari, beberapa dari mereka berkeluh kesah. Mereka adalah robot-robotan yang tertata rapi di dalam lemari. Dibeli dengan harga mahal dan tidak pernah disentuh oleh pemiliknya. Mereka merasa tidak berguna. Padahal semua barang diciptakan untuk digunakan sebagaimana fungsinya.

Si Sofa yang bijak hanya bisa diam. Ia membenarkan keluh kesah para robot mainan itu. Tongky, anak tunggal pemilik rumah ini hampir tidak pernah menyentuhnya. Setiap hari, anak laki-laki itu justru berdiam di sofa sambil memegang remote selama berjam-jam. Bangun tidur di depan televisi, sarapan di depan televisi, pulang sekolah di depan televisi, begitu seterusnya sampai malam. Dia selalu sendirian. Ayahnya sering ke luar kota, sedangkan ibunya mengurus toko. Pembantu di rumah ini hanya satu. Perempuan yang masih berusia belasan tahun itu hanya bekerja dan sesekali menonton televisi bila ada waktu luang. Dia pun jarang mengajak Tongky bicara.

“Ayahnya membeli kami semua dengan harga yang mahal,” kata robot berwarna kuning.

“Kami diberikan sebagai oleh-oleh agar Tongky senang,” timpal robot berwarna perak.

“Tapi nyatanya kami hanya dipajang dan tidak pernah dimainkan..”

Si Sapu yang berdiri di pojok terharu mendengar pengakuan para robot. Si Telepon pun demikian. Semua yang ada di ruangan itu bersimpati pada para robot. Kecuali televisi.

“Kalian semua memang tidak berguna! Aku adalah satu-satunya barang yang berguna di rumah ini. Tongky selalu suka padaku. Dia menyalakan aku sepanjang hari. Bahkan ibunya merasa aman bila Tongky bersamaku daripada bermain di luar. Begitupun ibu dan ayahnya. Selepas bekerja, mereka selalu menontonku. Di hari libur aku berjaga penuh. Apalagi di musim hujan. Orang-orang di rumah ini lebih suka menonton aku daripada bepergian keluar rumah di kala liburan. Bisakah kalian bayangkan betapa berartinya aku untuk mereka?” kata Si Televisi seraya terbahak.

“Jaga mulutmu, Televisi!” teriak Si Sofa. “Kamu terlalu sombong! Bukankah kamu yang membuat Tongky malas belajar? Bukankah kamu yang membuat Tongky tidak punya teman bermain? Apa kamu tidak kasihan pada Tongky?”

“Ah kalian iri padaku!” dengus Si Televisi.

“Kami tidak iri padamu, kami justru kasihan. Bukankah dengan dinyalakan terus menerus kamu juga akan lelah?” tambah Si Toples.

Tiba-tiba pintu kamar Tongky terbuka. Anak itu mengusap matanya lalu menguap lebar. Rupanya gaduh pertengkaran di ruang tengah mengusik tidurnya. Tongky terpaku melihat pertengkaran itu. Dia berjalan pelan-pelan mendekati sofa. Televisi di depannya sedang bergerak-gerak. Lalu tiba-tiba keluar sinar putih dari layar televisi. Tongky tersedot ke dalam. Semua benda yang ada di ruangan itu berusaha menolong Tongky tapi percuma.

“Tongky dimakan Si Televisi,” gumam Si Sapu. “Kasihan sekali anak itu.”

Tongky terperangkap di dalam kotak itu berhari-hari. Dia melihat banyak kepalsuan di sana. Pemain-pemain sinetron yang kelelahan, adegan-adegan yang direkayasa, orang-orang yang tidak pernah tidur dan dipaksa bekerja, penjual-penjual iklan yang mengantri menjajakan dagangan, dan masih banyak lainnya. Tongky bergidik. Selama ini yang dilihatnya tidak benar-benar nyata. Tayangan misteri yang sangat disukainya ternyata bukan sungguhan. Orang-orang yang memerankan tokoh menyeramkan itu justru sedang bercakap-cakap dan tertawa-tawa. Itu hanya make-up.

“Tolong aku!” teriak Tongky dari dalam.

Benda-benda yang ada di ruangan itu kebingungan. Mereka tidak tahu bagaimana menyelamatkan Tongky dari kotak berwarna hitam itu. Para robot akhirnya berunding. Bagaimanapun juga Tongky harus keluar dari tubuh televisi.

“Kau punya usul?” tanya robot berwarna kuning.

“Tidak.”

“Aku punya!” bisik robot perak. “Kita suruh saja Cipluk mencabut kabel”

Cipluk—ibunya Cempluk—yang baru saja pulang berburu tikus dihadang oleh Si Sapu. Semua rencana yang telah disusun para robot diberitahukan. Cipluk setuju. Ia mengendap-endap keluar ruangan diikuti para robot. Mereka mencari kabel yang terhubung dengan televisi lewat atap karena televisi itu ditanam dalam tembok. Begitu ketemu, Cipluk dan para robot langsung bermain-main dengan kabel itu sampai terlepas dari stop kontak.

Tongky terlempar keluar dan semua benda kecuali televisi bersorak girang. Sejak hari itu, setiap Tongky ingat apa yang terjadi di dalam kotak hitam, ia langsung mematikan televisi. Dia hanya menonton film kartun yang disukainya saja. Dalam sehari, Tongky menonton televisi tak lebih dari dua jam. Dia tahu mana yang boleh ditonton dan mana yang tidak layak ditonton.

Sekarang dia lebih suka membuka lemari dan mengeluarkan robot-robotan pemberian ayahnya untuk dimainkan bersama tetangga-tetangganya atau bermain sepak bola di tanah lapang dekat rumahnya. Dengan begitu Tongky punya banyak waktu untuk belajar juga.

**

Cempluk mulai mengantuk.

“Wah, ibu hebat,” ujar Cempluk bangga.

“Dengan begitu tugas televisi tidak berat lagi. Tongky juga punya banyak kawan baru sekarang. Dan lebih sayang pada kita.”

“Iya, kemarin Tongky membawaku ke kamarnya. Dia mengajakku bermain dengan robot-robotnya.”

“Baiklah, sekarang kau harus tidur. Ibu harus berburu tikus agar mereka tidak meninggalkan kotoran dimana-mana. Tidurlah yang pulas, Nak!”

Cempluk pun lelap dengan senyum. Ia tak sabar menanti matahari terbit dan bermain bersama Tongky.

[Antologi Dongeng/Cerita Anak bertema Media Literasi, coming soon!!!].


Advertisements

6 thoughts on “Tongky Dimakan Televisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s