Di Suatu Pesta

Entah kenapa segala gerak geriknya yang spontan dan menyulut tawa mengingatkanku padamu. Denganku, dia sangat berhati-hati bila berbicara, seolah-olah takut hatiku terkoyak oleh ucapannya. Padahal tidak juga. Aku justru terhibur dengan semua yang keluar dari bibirnya, baik serius atau bercanda. Ada semacam medan magnet yang terus menarikku hingga aku tersedot dalam kubangan waktu bertajuk pesona. Entahlah, tapi itu tak penting buatku.

Aku hanya sedang merasa senang dengan kehadirannya dalam acara yang tak resmi ini. Rasanya seperti sedang bersamamu dalam sosok yang lain. Tapi, aku memilih tidak terlalu sering berinteraksi. Menuntaskan penasaran kadang-kadang membuat kita kecewa. Selain itu, menurutku, terlalu cepat mengetahui sesuatu yang lambat laun akan kita ketahui juga, agaknya kurang bijaksana karena akan memperpendek proses petualangan. Lebih baik membiarkan semua mengalir pada jalannya seperti sungai yang menemukan muara dengan sendirinya.

Kedua mataku menerobos remang tajam yang memenuhi ruangan bergaya minimalis ini. Diiringi tiupan terompet Miles Davis, kurasa memang tak ada pencahayaan yang lebih bagus dari pendaran lampu warna kuning dan biru yang kini menyentuh kulitnya dengan lembut. Setahuku umurnya belum 30, dia bekerja di sebuah perusahaan swasta yang membuat siklus hidupnya kacau, dan dia punya kekasih. Itu saja. Aku tak tahu apa makanan kesukaannya, aku tak tahu warna yang dia suka, dan aku tak tahu apa-apa tentangnya selain tiga hal yang kusebutkan barusan. Untuk hal pertama dan kedua, aku mengetahuinya dari percakapan kami beberapa waktu lalu. Sedang untuk hal ketiga, kurasa semua orang tahu bagaimana dia memperlakukan kekasihnya seolah-olah hanya ada satu wanita di dunia ini.

Sekali lagi aku senang melihatnya dan sedikit iri pada kekasihnya yang manja. Perempuan bertubuh portable itu tiba-tiba saja sudah menempel di punggungnya seperti monyet, memeluknya sebentar, turun lalu pergi sebelum pesta usai. Wajahnya tidak terlalu cantik memang, tapi cukup atraktif dan pandai mencuri perhatian banyak orang. Perempuan itu seperti ditakdirkan menjadi pusat perhatian. Tapi, itu tidak penting. Aku hanya ingin berziarah pada harapan yang sudah kukubur. Dadaku berdesir mengingatmu sembari memandangnya.

Masih, desiran ini rupanya cukup mengganggu. Bahkan satu tegukan bir dingin tak mampu mengusir gugup. Sebaliknya, malahan aku tak hanya gugup tapi juga menjadi teramat sentimentil padamu. Mendadak, mataku berkaca tipis. Inilah kelemahan perempuan, mudah sekali mendramatisir sesuatu yang berhubungan dengan memanjakan hati. Entah kenapa hatiku begitu muram, bahkan lebih muram dari cardigan hitam yang membungkus tubuhku. Padahal seharusnya aku senang karena hari ini salah satu dari teman kami berulang tahun dan ini berarti perayaan asupan gizi.

Tapi, aku kecewa sedemikian rupa karena semuanya tak lagi sama seperti tahun-tahun yang lalu. Sepanjang musim ini hatiku bahkan telah merumah padamu. Aku sudah lelah dan ingin merebah. Tapi, hening yang kamu buat menyiksaku dan aku tak tahu bagaimana mengakhirinya selain menunggu malam menua dan jatuh terkulai karena lelah.
“Hei,” Dia duduk membungkuk di sebelahku seraya membuang asap rokok dari mulut dan hidung. “aku ingin dibaca” bisiknya sambil tertawa kecil.
“Apa zodiakmu?”
“….” ucapnya.
“Boleh aku duduk di sebelahmu selama 15 menit?”
Dia menoleh dengan dahi mengkerut. Pun demikian, ada senyum tersungging dan tatapan jenaka penuh tanda tanya—maksud loh—yang membuatku puas.
“Baiklah..”

Sekat antara kami melebur. Jeda kosong yang hanya sejengkal itu akhirnya ditutup dengan percakapan singkat.
“Kamu sedang bersedih,” gumamku.
“Hem..” Dia mengangguk-anggukkan kepala, menoleh ke arahku sebentar, lalu melambaikan tangan ke arah pintu karena ada teman kami yang baru saja datang.
“Kamu sedang terjebak dalam jenuh,” lanjutku.
“Sangat.. Ya, sangat jenuh dengan banyak hal. Tapi, kutatap wajar semampuku. Bukankah itu hidup?”
“Entahlah”

Malam telah pekat. Musik disetel keras dan sebagian orang dalam ruangan ini menyatu dengan permainan  Nina Simone yang elegan.
“Boleh kuminta bayaranku?” tanyaku.
Sekali lagi keningnya ditekuk. Kulirik orang-orang yang sedang menari dengan wajah penuh tawa. Dia mengikuti kemana mataku tertambat dan dengan sigap ditariknya aku ke tengah, menyusup di antara kerumunan, lalu aku berputar. Kami berputar dan terus berputar.

Hallo happiness, tell me where you’ve been
I miss the sound of your voice
I miss the touch of your skin.. [Difference In Me]

Advertisements

8 thoughts on “Di Suatu Pesta

  1. baru baca sampe “berziarah pada harapan yang sudah kukubur”
    *males bacanya, mesti cerito2 galau 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s