Semut Dan Pacarku

Wynton Marsalis sedang memainkan The Party’s Over ketika pacarku menemukan selusin semut sedang terapung di atas air. Diambilnya gelas yang kupakai minum semalam, lalu dekatkan ke mukanya yang telanjang tanpa sapuan make-up. Matanya mengamati dengan seksama hingga menyisakan kerutan tipis ditengah dahi. Seperti biasa, dicarinya semut-semut yang masih bernafas untuk diselamatkan. Ah, entah kenapa aku suka memandanginya sehabis bangun tidur seperti ini, dengan roll menggantung di poni dan piyama tidur bermotif strip.
“Ada yang hidup?” tanyaku.
“Sepertinya”

Kini pacarku sedang mengamati gelas dari atas. Dia tampak lebih serius dari seorang ilmuwan pemenang nobel yang sedang meneliti organisme langka. Hampir dua minggu aku tak melihatnya begitu karena aku harus pergi ke luar kota untuk seminar. Dan pagi ini aku ingin berlama-lama bersamanya sebelum pergi ke bank untuk menyetor sedikit penghasilan.
“Kasihan..” gumam pacarku.

Dia beranjak dari kursi dan mengambil sehelai kapas di keranjang make-up yang diinventariskan dalam kamarku, lalu kembali menekuni binatang-binatang malang yang masih terapung tak berdaya dalam gelas. Dimasukkan jari telunjuknya ke dalam gelas. Satu persatu semut-semut itu dientaskan dari sana, baik yang masih hidup atau sudah mati dan dibaringkan di atas kapas agar air yang membungkus tubuh mereka segera meresap.
“Sudah?” tanyaku.
Pacarku menoleh, mengangguk sambil tersenyum, lalu mengamati semut-semut yang terkapar di atas kapas. Ah, gemas aku melihatnya begitu. Kuhampiri dia.
“Apa istimewanya semut-semut ini buatmu? Aku jadi cemburu dan ingin berubah jadi semut saja”
Pacarku terbahak seketika sampai matanya berair. Aku ikut tertawa akhirnya.
“Aku suka saja dengan mereka. Apa harus beralasan?”
“Tidak sih. Baiklah.. Tapi sejak kapan kamu suka?”

Pacarku adalah pahlawan bagi negeri semut. Dia ibarat dewa karena selalu menyelamatkan mereka dari petaka. Di kamar mandi, di gelas, di wastafel, atau dimana saja yang tertangkap mata sipitnya. Pernah suatu hari saat kami hendak menghadiri resepsi pernikahan salah satu teman kami, pacarku menunda keberangkatan hanya karena melihat semut-semut bergelempangan di bak mandi. Ah, awalnya aku benar-benar tak habis pikir. Tapi lama-lama terbiasa juga meski berakhir dengan tanda tanya besar di kepala. Aku membayangkan di negeri semut terpampang gambarnya di sudut-sudut kota. Dia di puja-puja karena selalu menjadi penyelamat makhluk ringkih yang bisa membuat kulit manusia gatal dan bentol itu. Geli sendiri membayangkannya. Ah, pacarku yang hanya bisa tertawa dan menangis. Kukecup ringan kepalanya lalu aku ke dapur membuat dua gelas kopi.
“Aku merasa tidak jauh beda dari semut-semut ini kadang-kadang” Pacarku mengekor di belakangku sambil membawa kapas. “aku merasa begitu kecil..”
“Oh ya?”

Kupanaskan air dan kusiapkan dua cangkir kembar milik kami. Pacarku duduk di sebelah meja makan, meletakkan kapasnya tepat di bawah lampu, beringsut ke jendela, membiarkan matahari pagi dan udara basah sehabis hujan menyapa kami, dan kembali duduk.
“Aku iri sama semut” katanya.
“Kenapa?” tanyaku tanpa menoleh. Kuseduh kopi dengan air yang sudah mendidih, kuaduk, lalu kubawa ke meja. Kusudorkan segelas pada pacarku.
“Karena dia milyaran kali lebih kecil dari kita, dunianya jadi teramat luas, kemungkinan-kemungkinan akan pertemuan jadi makin sempit”
Kugenggam tangannya.
“Coba sini.. Aku lihat”
Pacarku menggeser kapas lebih dekat denganku. Ada dua belas semut, sebelas sudah tak bernafas, dan seekor sedang mencoba berjalan dengan sisa-sisa tenaga.
“Dia pasti sedih sekali, bayangkan saja, dalam satu kecelakaan hanya dia yang hidup” kata pacarku.
“Tidak, Sayang. Sedih itu hanya sementara.. Lihat ini”

Kami duduk merapat, melihat seekor semut yang baru saja diselamatkan pacarku berjalan menuruni kapas dengan terseok-seok. Semut itu berjalan perlahan menuju cangkir kopi milikku lalu tiba-tiba seekor semut berjalan cepat dari arah yang berlawanan. Keduanya bertemu, diam sesaat, lalu semut yang ditolong pacarku berjalan mengikuti semut yang baru saja ditemuinya. Keduanya menjauh dari gelas kopiku yang masih panas. Entah kemana. Dan pacarku tersenyum.

Untuk: Lelaki Kesayangan 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Semut Dan Pacarku

  1. aah … maknanya dalem 🙂

    mungkin itu artinya saudara, sahabat baik yang selalu akan memberi kita semangat baru ketika kita terpuruk dan berusaha bangkit 😀

    “hihihihi, mba yuyuk bisa aja :D”

  2. kamuuuu…selalu saja bisaaa….idemu seperti tidak pernah habisss….ajari aku, ajari akuuuu

    “haha yuk.. hayukkk kesini, cinnnn..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s