Puisi dan Gendewa [6]

Rengganis.
Malam telah menua ketika aku memilih bersembunyi di balik punggung Gendewa. Dari stasuin, kami hendak ke Simpang Lima untuk menyambangi warung pacel Yu Jum. Menamatkan lapar yang menyiksa. Angin lembab yang membawa sisa aroma hujan menyerang kami dari segala penjuru hingga aku mendesis kedinginan. Akhirnya, aku menyusupkan kedua tanganku ke dalam saku jaket Gendewa.

Tiba-tiba ada yang membuat aku diam tertegun. Bayangan itu sekelebat datang seperti gelagat aneh. Samudera. Spontan kutarik kedua tanganku keluar dari saku Gendewa hingga dia menoleh kaget. Kuremas-remas jemariku sendiri di balik punggung Gendewa. Lalu, seperti biasa dadaku merasakan nyeri. Hampir empat tahun semua itu berlalu, tapi kenapa semua tampak sama seperti hari itu. Perihnya tak pernah berkurang.
“Halo?” Suara Gendewa membangunkan aku dari beku.
“Heh..”
“Kita hampir sampai”
“Yap, aku sudah mau pingsan nih”

Sampailah kami di warung pecel Yum Jum yang sesak pelanggan. Gendewa dan aku dapat tempat duduk paling ujung, tepat di depan Yu Jum yang sedang beraksi dengan piring-piringnya.
“Pecel dua, Yu!” kata Gendewa.
“Dari mana, Mas?” tanya Yu Jum kemayu.
“Dari jalan-jalan malam, Yu”
Aku nyengir. Entah kenapa aku jadi malas bicara. Bayangan-bayangan itu masih menggangguku seperti teror. Tidak bisakah aku meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang sering kulakukan bersama Samudera? Tak bisakah aku berhenti mencari-cari diri Samudera dalam diri orang lain? Kenapa? Sebegitu pentingnya kah dia? Sepenting apa?
“Rengganis?” Gendewa menepuk-nepuk punggung tanganku.
“Hem?” Aku menoleh.
“Kenapa sih?”
“Nggak”
“Yakin?”
“Ya”

Gendewa.
Rengganis tiba-tiba aneh. Dia lebih banyak diam. Mata sayunya itu kembali mengisyaratkan sedih yang dalamnya tak bisa kuukur. Dan aku sebenarnya tidak suka melihat Rengganis bersedih, tapi aku juga tidak tahu apa yang bisa kulakukan untuknya, mengingat tak banyak yang aku tahu tentang kehidupannya. Keadaan seperti ini membuat nafsu makanku turun drastis.
“Selamat makan” kataku.
“Selamat makan, Gendewa”
Tiba-tiba ponselku bergetar. Sms dari teman satu kontrakanku.

Ajak Rengganis kesini saja, sesekali dia butuh pesta

Rengganis.
Seusai makan, Gendewa menawariku mampir ke kontrakannya. Aku setuju dengan satu pertimbangan; berharap tidak larut dalam bayangan-bayangan yang datang sekelebat itu.

Sampai di kontrakan Gendewa, kami terkejut karena tak satu pun lampu menyala. Aku melangkah pelan-pelan di belakang Gendewa dan ketika kami tiba di ruang tengah lampu menyala diikuti orang-orang yang keluar dari persembunyian.
“Selamat datang..!!!”
Aku ternganga. Bisa kurasakan bibirku menyunggingkan senyum yang aneh. Sedang Gendewa tertawa terbahak-bahak lalu mengenalkan temannya satu persatu padaku. Mereka bersepuluh. Semuanya tampak sama di mataku, seperti tentara dari kerajaan pesta yang siap dengan topi-topi kerucut warna warni dan terompet.

Gendewa menamai pesta ini; Gin dalam Semangka. Kami semua bersila mengeliling semangka yang masih utuh kulitnya namun tanpa daging didalamnya—menyerupai tempayan air. Tak lama kemudian salah satu dari mereka mengeluarkan panci berisi daging semangka yang sudah lebur dengan buah-buahan lain dalam keadaan dingin. Dimasukkan sebagian isi panci itu ke dalam mangkuk semangka, lalu dituang sebotol minuman bersoda dan perasan jeruk nipis. Yang terakhir, seorang dari mereka menuang sedikit gin di kedalam semangka.

Setelah itu kami semua dapat jatah sedotan lalu semangka diputar agar kami bisa mencicipinya satu persatu. Aku tertawa kecil melihat ulah mereka. Apalagi Gendewa yang begitu bersemangat. Ya, aku dan Gendewa memang diciptakan berkebalikan. Dia tetap menjadi bahagia dan aku tetap menjadi luka.

Advertisements

5 thoughts on “Puisi dan Gendewa [6]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s