Puisi dan Gendewa [5]

Rengganis.
Aku berdiri di depan Kantor Pegadaian, memandangi cincin berlian bermata satu pemberian ibu, meminta maaf dalam hati, berjanji akan menebusnya setelah gaji keluar, dan melangkah masuk. Dua pria berseragam yang berada di balik loket menyapaku ramah. Wajahnya penuh manis yang palsu.
“Mau nebus, Mbak?” tanya petugas yang berbadan kurus.
“Nggak, mau gadai” Kusudorkan cincin itu.
“Tunggu sebentar ya”
Aku mengangguk lalu menoleh ke kiri. Kulihat seorang pria sedang menelpon dengan raut cemas. Lalu dia mondar-mandir di depan jendela kaca.
“KTP, Mbak”
“Oh iya”
Dalam 15 menit cincin itu menyublim jadi lembaran uang yang cukup banyak. Petugas yang satu lagi memintaku tanda tangan pada surat bukti kredit dan menjelaskan aturan-aturan yang harus kupatuhi bila tak ingin cincin itu lenyap. Bunga 1,3% harus kubayar per dua minggu. Aku boleh mencicil bila tak bisa melunasi secara penuh. Aku harus segera memperpanjang kontrak pinjaman bila dalam waktu empat bulan tak bisa menebus. Pembayaran boleh diwakilkan asalkan aku menandatangani surat kuasa yang tertera di belakang surat bukti kredit.
“Ini uangnya, Mbak. Adminstrasi enam ribu rupiah”
“Potong saja lah, Pak”

Begitu uang diserahkan, aku bergegas pergi ke rumah bibi. Hatiku ngilu mengingat peristiwa semalam. Suami bibi minta uang karena renternir terus menagih akibat hutang yang bertumpuk. Sedang bibi tak punya sepeserpun malam itu.
“Bibi”
“Rengganis?”
“Bi, aku harus pulang. Ini buat bibi, dari aku, jangan ditolak”
Kupaksa bibi menerima uang yang baru saja kudapat.
“Apa ini?”
“Hutang bibi harus lunas! Kalau bibi perlu sesuatu tinggal telpon aku. Aku pamit, Bi”
Kupeluk bibi yang hanya bisa membisu, lalu aku pulang sebelum suami bibi datang. Tak sudi aku melihat mukanya.

Gendewa.
Aku duduk di ruang tunggu stasiun. Menanti deru kereta mendekat, membawa pulang Rengganis. Lalu dia akan turun dari kereta dan berteriak “Hai Gendewa..!!”. Setelah itu aku tidak sabar mengacak poninya dan melihat tawanya merekah. 20 jam berpisah dengannya seperti ada yang hilang. Ah entahlah.

Kulirik jam yang melingkar di tanganku. Setengah jam lagi. Dan udara malam yang dingin mulai menusuki pori-pori. Beberapa orang mulai berdatangan, duduk di kanan kiriku dalam jeda beberapa jengkal saja. Seorang lelaki tua bertopi, pria tengah baya berkaos biru muda, perempuan muda yang menghisap rokok, dan seorang remaja berkacamata yang duduk sederet denganku. Tiba-tiba ponselku bergetar. Rengganis calling..
“Sudah sampai mana?”
“Aku tersesat”
“Apa? Tersesat?”
“Iya”
“Dimana? Kok bisa?”
“Dihatimu, habis hatimu nggak ada petunjuknya”
“Oooo.. Dasar bocah!”
Aku tertawa.
“Bentar lagi, bawel”
“Oke”
Klik. Sambungan tiba-tiba terputus. Kupandangi ponselku.
“Dasar aneh..”

Kereta mendekat beberapa saat kemudian. Stasiun tak lagi hening setelah suara petugas menggema di sana-sini. Para penjemput meninggalkan tempat duduknya dan berjalan mendekati rel kereta. Tinggal aku yang masih betah duduk di bangku tunggu. Biar Rengganis saja yang mencari aku.
“Gendewa!!” Aku menoleh.
Bocah tengil itu dari ujung melambai-lambaikan tangan. Ah, dia benar-benar berlebihan sampai orang-orang di sekeliling kami menoleh. Aku memalingkan muka pura-pura tidak melihat. Lalu kudengar tawanya begitu dia duduk disebelahku.
“Wah, sombong..”
“Kamu tuh malu-maluin pakai teriak-teriak kayak film India”
“Jadi makan pecel Yu Jum, nggak????”
Aku meringis, mengacak poninya yang kusut lalu menariknya pulang.

Advertisements

3 thoughts on “Puisi dan Gendewa [5]

  1. Pingback: Menikmati Hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s