Puisi Dan Gendewa [4]

Rengganis.
Ular besi raksasa ini akhirnya berhenti. Dalam pandanganku yang kabur, orang-orang sibuk menurunkan bawaan mereka dari laci di atap kereta, anak-anak yang tertidur dibangunkan dengan belaian lembut, dan petugas memastikan tidak ada bawaan yang tertinggal. Aku menguap lebar, masih mendekap jaket  dengan kelopak mata layu, mengeluarkan ponsel dari saku celana, memeriksa layar, memasukkannya lagi, dan terlonjak kaget ketika dering dan getar ponselku meraung. Gendewa calling..
“Hsss..shitt.. Bikin kaget aja” gumamku lalu kuangkat. “Hem?”
“…”
“Iya, udah sampai.. Ngantuk parah”
“…”
“Besok malam  jemput di stasiun ya!”
“…”
“Heleh, gitu aja minta bayaran..” Aku tertawa. “okey, see ya”

Gendewa.
Klik.
Sambungan terputus. Aku lega Rengganis sudah sampai Surabaya dengan suara seriang tadi. Itu pertanda baik. Setidaknya dia sehat. Dia minta dijemput besok malam di stasiun. Kuiyakan, tapi dengan syarat aku minta traktir nasi pecel Yu Jum di Simpang Lima. Entah kenapa dia selalu membuatku geli. Kebaikannya luar biasa langka untuk ukuran orang-orang jaman sekarang dimana segala sesuatu menjadi serba individu. Tapi, tidak dengan Rengganis, dia orang yang senang membuat orang lain merasa senang meski dia sendiri mungkin sedang merasa tidak senang.
“Ada wayang, mo ikut nonton nggak?” tanya teman satu kontrakanku.
“Bentar, sebatang rokok lagi” kataku.

Rengganis.
Rumah itu masih sama. Penerangannya kurang dan setiap malam udara dingin menerobos sesukanya lewat celah-celah dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Aku telah puluhan kali datang kesini, menjenguk keluarga bibi. Pun kedatanganku hari ini yang atas permintaan bibi karena Pujo—sepupuku—sering menanyakan aku. Jujur saja aku memang kangen Pujo, tapi aku malas datang. Aku tidak suka dengan suami sambung bibi yang kerjaannya hanya memukul dan meminta uang bibi. Kalau saja bibi bukan saudara ibu satu-satunya, mungkin aku tidak perlu terlalu peduli. Tapi, ibu sudah berpesan sebelum beliau meninggal supaya aku ikut membantu bibi.
“Assalamu’alaikum” Kuberi salam tepat di depan pintu.
Hening. Tak ada sahutan. Lalu kuputuskan berjalan menuju samping, mencari jendela kamar bibi, dan gedebuk! Tubuhku terhempas di kubangan tanah basah. Bunyinya berisik, karena tak hanya tubuhku yang terjembab tapi kakiku rupanya menyenggol pot bunga dan ember berisi alat-alat bercocok tanam.

Pintu depan tiba-tiba dibuka.
“Bibi?”
“Rengganis!” Bibi buru-buru membantuku bangun dengan kepayahan karena tubuhku jauh lebih besar dari tubuh bibi yang lama kelamaan makin kurus. “ati-ati tho, Nduk”
“Aku mau ngetuk jendela bibi” ujarku sambil meringis.

Begitu aku masuk, bibi memanggil Pujo. Kuletakkan tas di bangku pajang dekat pintu lalu kuikuti bibi masuk ke dalam kamar Pujo. Tirai kusibak pelan-pelan. Dan kulihat Pujo duduk di tempat tidur, menatapku dengan wajah sumringah. Dia hendak berkata-kata, tapi gerak bibir yang begitu terbatas hanya mengijinkannya untuk ternganga.
“Pujo!” Langsung kupeluk dia. Kurasakan tangan Pujo yang kaku menepuk-nepuk punggungku.
“Sudah.. sudah.. Kamu istirahat dulu, Nis. Bibi buatkan teh ya”

Kupapah sepupuku yang berusia 15 tahun itu menuju ruang tamu. Sama sekali tak ada perubahan sejak terakhir kali aku melihatnya setahun lalu. Kakinya masih memakai sepatu besi agar mampu berpijak dengan baik. Tubuhnya kurus dan makin legam warna kulitnya. Matanya cekung. Pipinya kempot. Jari-jarinya kaku dan gerakan-gerakan tak berguna itu masih melekat pada beberapa bagian tubuhnya. Tapi Pujo tidak pernah merasa menderita. Mengeluhpun enggan.

Kami bercakap-cakap di ruang tamu sampai larut sambil menikmati teh bening buatan bibi. Lalu bibi menyuruhku beristirahat di kamar Pujo. Sedang Pujo tidur bersama bibi. Suami sambung bibi kebetulan tidak di rumah. Entah kemana. Tapi baru setengah jam aku merebahkan tubuh di ranjang reyot tempat Pujo biasa tidur, kudengar gaduh diluar. Terdengar pintu di ketuk dengan kasar. Lalu ada pertengkaran antara bibi dan suami sambungnya. Aku bangkit dari tidurku, beringsut ke pojok ranjang hingga suara dencit terdengar beberapa kali. Lalu kudengar suara tamparan dan bibi mengaduh. Kuraih ponselku yang tergeletak di seberang bantal.
“Halo.. Gendewa..”
“…”
“Nggak, nggak ada apa-apa.. Jangan tutup telponnya, ya?! Tapi diam saja..”
“…”
Dan dadaku dipenuhi tabuhan genderang.

Advertisements

One thought on “Puisi Dan Gendewa [4]

  1. byaaakkk, ……..padang hanelak. kocap kacarita, caritamu lelenanging jagad sanget del. sweeerrr dueh, sego lodeh

    “haha suwunnnn”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s