Puisi Dan Gendewa [3]

Rengganis.

ANTONIM//kita adalah antonim/kamu bahagia aku luka//

Kutinggalkan puisi itu di istana Gendewa, di atas rak bukunya, tepat di sebelah jam weker putih dan kutindih dengan apel merah. Setelah itu aku berkemas karena pukul empat aku harus sudah sampai di stasiun. Aku hendak ke Surabaya untuk menamatkan beberapa urusan di sana.
“Berapa lama disana?” tanya teman satu kontrakan Gendewa.
“Dua puluh jam” ujarku sambil memasukkan barang-barang ke dalam ransel. “aku tadi masak sup buat kalian”
“Oh ya? Mana?”
“Masih di atas kompor, tinggal dipanasi lagi kalau dingin”
“Kuantar ke stasiun ya?”
“Ndak usah, aku naik bus kota saja” tandasku lalu bergegas ke depan.
“Hati-hati!”
“Pasti”

Gendewa.
Aku berjalan menuju kontrakan dengan langkah ringan. Di tanganku tergantung plastik berisi dua bungkus nasi padang, yang satu berlauk rendang, untukku, dan satu lagi berlauk telur, untuk Rengganis. Aku baru tahu semalam kalau dia ternyata tidak makan daging, jadi sekalian saja kuusili. Kusuruh dia membaca buku Seri Anti Globalisasi-Negeri Fast Food, biar dia semakin anti dengan daging. Aku tidak punya maksud apa-apa sebenarnya. Murni sebuah keusilan. Kuceritakan padanya bagaimana pabrik-pabrik itu mengolah daging dan bahan makanan beku, tentang buruh-buruh pekerja yang sering jadi korban keganasan mesin-mesin pengolah, tentang korporat yang tamak, tentang keganjilan-keganjilan seputar dunia Fast Food. Dan sukses.

Aku suka melihat wajahnya menerangkan kata ‘jijik’ dan ini keuntungan buatku karena jatah makanan berdaging bisa jatuh ke tanganku. Geli sendiri mengingatnya.
“Nis, Rengganis?” panggilku dari ruang tengah.
“Telat, dia baru saja pergi setengah jam yang lalu” kata teman kontrakanku yang tiba-tiba kepalanya tersembul dari pintu.
“Ha? Kemana?”
“Ke Surabaya”
“Surabaya? Kok nggak cerita dia” Dahiku kisut. Kuletakkan bungkusan yang kubawa di kursi lalu aku buru-buru naik ke kamarku yang ada di lantai dua.

Benar sekali. Barang-barang Rengganis raib bersama pemiliknya. Tak bersisa. Kuhubungi ponselnya tapi tidak aktif. Dan kutemukan secarik kertas yang ditindih apel merah. Puisi itu seperti pesan magis. Aku menuruni tangga terburu-buru, hampir menabrak temanku yang sedang berjalan menuju dapur, dan aku pamit pergi.
“Mau kemana?” teriak temanku.
“Stasiun”

Sampai di stasiun, kucari-cari Rengganis. Tidak ada. Kereta menuju Surabaya sudah mulai merambati rel pelan-pelan dan aku hanya bisa mondar-madir di luar sambil memeriksa setiap tempat duduk. Dimana anak itu, gerutuku. Untuk kedua kalinya kuhubungi dia barangkali ponselnya sudah aktif. Dan memang sudah aktif.
“Kamu dimana?” teriakku begitu panggilan diangkat. Suara-suara bising dari dalam dan luar justru yang kudengar.
“Di kereta”
“Gerbong berapa?”
“Gerbong satu”
Kususuri tepi kereta dengan berlari, tapi ular bertubuh mesin itu semakin cepat merambat, meninggalkan bising yang bersarang di telinga, dan membisikkan salam perpisahan sementara.
“Aku diluar” ujarku.
Dan tiba-tiba kulihat Rengganis duduk dengan ponsel menempel di telinga. Dia tersenyum lebar sambil menempelkan telapak tangan di kaca.
“Pulang sana!”
“Hati-hati, Ceroboh!!”
Klik. Sambungan terputus dan kereta api tak mampu kutahan lajunya, meski dengan sepotong puisi.

Advertisements

4 thoughts on “Puisi Dan Gendewa [3]

  1. Aku ndak suka naik bus kota, tapi lebih ndak suka lagi naik kereta api…

    “km sukanya kan naik pesawat 😀 iyo toooo??? apa naik balon udara???”

  2. gk usah maksa makan daging, daripada nanti dimuntahkan lagi.. 😀

    “hahahahah.. tidakkk oh tidakkkk.. apalagi burgerrr.. selamanya tidakkk :D”

  3. neng baru baca Puisi and Gendawa scr utuh…

    ahhhh kmu sungguh romantis dengan sentuhan kata yg hanya kamu yg memliki..

    nemu dmn puisi taufik ismailnya…nice bebi!!

    “xixixixi, thx u kakak.. 😀 nemu di kotak usang dan berdebu wkwkw”

  4. nah utuh juga akhirnya …. bacaan yang asik di sore hari
    *nunggu tulisan selanjutnya * :))

    “hehe.. yaelahhh ngikutin cerita ini juga ya, mbaaa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s