Puisi Dan Gendewa [2]

Gendewa.

Aku menemukan sebuah kertas lecek tersisip diantara novel Manjali dan Cakrabirawa milik Rengganis yang tertinggal di kamarku. Entah kenapa aku lebih tertarik dengan kertas yang tersembul itu ketimbang bukunya yang belum pernah kubaca sama sekali. Pelan-pelan kuambil, sambil mengingat-ingat halaman yang ditandai supaya aku tidak salah mengembalikannya.

Kertas itu hanya secuil dengan pinggir yang terbakar. Amat kusut seperti habis dilumat dengan kepalan tangan. Tapi aku bisa dengan jelas membaca isinya.

Waiting is-Taufiq Ismail

Waiting is loneliness

Waiting is poetry

Waiting is terror

Waiting is this:

A Railway station

In a strange land

Night stand here

Your face and mine

Is it really happening like this?

Hanya itu. Beberapa bait sisanya terpotong. Dan lekas-lekas kukambalikan kertas itu ke tempatnya.

Rengganis.

Kusebut ruangan itu istana. Di dalamnya hanya ada pemutar lagu, karpet warna merah yang hampir menutupi seluruh lantai, sebuah bantal besar yang selalu dipeluk setiap pendatang, kipas angin dan sebuah rak buku yang terletak di sudut ruangan. Dindingnya penuh coretan tak bertema. Disanalah, kuhabiskan sebagian waktuku akhir-akhir ini, dengan atau tanpa Gendewa. Bila dia sedang ada keperluan, aku cukup bersila di depan rak bukunya, membaca apa saja yang aku suka, atau mendengarkan lagu sambil menulis. Sebaliknya, bila Gendewa bersamaku, dia pasti akan membuatkan aku secangkir kopi, membiarkan aku membaca buku di pojokan, menjawab lontaran pertanyaanku yang tidak penting, lalu membacakan aku beberapa puisi sebelum aku pulang.

Tiba-tiba sepiku jadi semakin panjang. Dan semakin sepi, aku semakin menikmati setiap luka yang pernah tertoreh. Aku tak peduli. Kini aku bukan hanya disorientasi, tapi juga kehilangan diriku sendiri. Entah bagaimana mengakhirinya karena aku terlalu sibuk mencari awal yang telah hilang. Awal yang lahir lalu mati tergilas jaman. Awal yang tidak pernah hidup atau setidaknya tinggal untuk sementara. Dan luka tetaplah luka. Hanya perlu dihambarkan sampai tak mampu kukecap perihnya sedikit saja.

“Kamu mau minum apa? Teh? Kopi? Sirup? Atau air kran?” tanya Gendewa dari dapur. Aku terbahak di kamar.

“Kopi” teriakku.

“Pahit atau manis?”

“Atau”

“Sableng”

Kuselipkan buku tebal karya Seno Gumira yang belum selesai kubaca diantara teman-temannya. Bersamaan dengan itu Gendewa masuk. Dia berjongkok di depanku sambil menyodorkan segelas kopi yang uapnya masih mengepul. Kuterima dan kuucapkan terima kasih dengan setengah berbisik. Lalu Gendewa beringsut mendekati pemutar lagu.

“Bacakan aku puisi..” ujarku.

“Sebentar”

Sesaat kemudian istana ini dipenuhi denting musik Lipstik Lipsing, Early Express. Gendewa bersila di depanku. Aku tersenyum lebar. Inilah saat-saat yang kutunggu, mendengarnya membaca sepotong puisi untukku. Diraihnya kepalaku hingga bibirnya berdekatan dengan telingaku dan mulailah dia bersyair.

AGONY//lukaku adalah rindumu/yang kita kemasi sejam yang lalu//

Aku membeku dengan sebutir air menggantung di sudut mata yang akhirnya luruh begitu dia memelukku. Perih itu makin menjadi. Samar-samar aku lihat kertas itu melayang-layang di atas api. Kertas berisi sepotong puisi yang pernah kau beri, lalu kau rampas lagi. Waiting is..

Terima kasih untuk: Umam.

Advertisements

4 thoughts on “Puisi Dan Gendewa [2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s