Puisi Dan Gendewa [1]

Gendewa.
Sejak hari itu kami dekat. Ia menginap di kontrakanku belakangan ini. Setiap pagi menulis, siangnya duduk di dekat rak buku atau mendekam di pojok kamar, menghabiskan lembar demi lembar bacaan, sorenya mengajakku keliling kampung cari penjual gorengan dan malamnya minta di bacakan puisi sebelum tidur. Perempuan yang aneh.

Sejujurnya aku tidak begitu mengenalnya. Kami bertemu atas nama alam, dua kali, dan tak sengaja. Aku menyebut ini misteri. Kubiarkan dia mondar-mandir di antara rutinitasku. Lagipula dia orang yang asyik diajak ngobrol tentang apa saja, baik yang dia sukai atau tidak. Kalau berminat dia akan menanggapi dengan antusias, tapi bila tidak dia cukup mendengarkan. Aku suka bagaimana dia melihat sesuatu. Bukan benar atau salah. Bukan hitam atau putih.

Saat aku bilang, “Kapan-kapan ikutlah aku meneguk bir dingin”, kebanyakan perempuan akan mengerutkan dahinya atau bahkan sibuk dengan nasihat-nasihat yang tak pernah kupahami, kebanyakan lelaki akan merangkulku lalu kami akan berburu minuman itu untuk teman menanti pagi. Tapi kala kutawarkan itu padanya, dia yang sedang duduk bersila di depanku malah tersenyum. Dia suapkan satu sendok es krim rasa vanilla ke mulutku yang sudah mulai kecut rasanya lantaran seharian tidak merokok. “Bagaimana kalau kapan-kapan kamu mencoba sup ayam buatanku, tidak kalah memabukkannya dengan segelas bir dingin.”

Aku terbahak. Kuacak-acak poninya dan dia hanya tersenyum. Matanya bersinar palsu. Meski senyum itu terbit sempurna tapi aku tahu banyak yang pelik di dalam sana. Ada banyak ketakutan, ragu yang mengharu biru, juga kekecewaan-kekecewaan terpendam. Dan aku memilih tidak mau tahu karena dia juga begitu padaku. Kadang-kadang saja dia bertanya tentang apa saja yang menggugah minatnya akan diriku. Kalau bisa kujawab, aku pasti mejawabnya dengan jujur. Kalau tidak, aku paling-paling hanya menggeleng atau berujar, “Tidak tahu.”

Rengganis.

Lelaki itu bernama Gendewa. Aku terpikat padanya saat dia membaca puisi di depan puluhan pasang mata yang memadati acara patangpuluhan meninggalnya Ki Trontong. Semua orang dibuatnya senang malam itu, termasuk aku. Para sesepuh berseloroh ringan, anak-anak menagih, dia meminta tepuk tangan setelah satu puisi dibacakan, dan aku larut dalam kagum yang tak bisa kueja.

Setelah tiga puisi dia baca, dia kembali duduk di sebelahku. Kami hampir tak berjarak dan aku merasa dia seperti malaikat yang menjagaku dari ancaman petaka. Kalau saja bisa, aku ingin tinggal lebih lama di sana, bukan lagi sejam, dua jam atau tiga jam. Tapi, kami harus berpisah tepat pukul dua belas malam.

Sejak hari itu kami berkawan. Aku sering menghabiskan waktuku di kontrakannya. Memang tak banyak yang kulakukan selain membuat rak bukunya acak-acakan, kadang-kadang menulis, mengajaknya membeli gorengan, atau ngobrol di teras kontrakannya. Tapi di balik itu semua ada satu hal penting yang jadi motivasiku bertemu dengannya. Aku hanya ingin mendengar dia membaca puisi.

Ketika malam menjelang, itulah saat yang selalu aku tunggu. Dia membaca puisi. Aku mendengarkan sambil menghimpun kantuk. Tak jauh beda dengan mendengarkan pengajian. Sama-sama membuat sejuk kalbu. Matanya yang jenaka, senyumnya yang mengembang, dan tuturnya yang ringan seperti serangkaian prosesi yang tak bisa kulewatkan. Aku mati kutu tanpa dia tahu dan biarkan saja dia tidak pernah tahu.

Advertisements

6 thoughts on “Puisi Dan Gendewa [1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s