Semusim

Kuinjak bayang-bayangmu yang bersandar beku pada kusamnya pasir pantai. Seketika kakiku terhisap di sana. Dan ditengah keseimbanganku yang hilang, kuraih lenganmu. Mendadak, kita sama-sama goyah. Tubuhmu menahan beban. Sedang tubuhku mencari pegangan. Lalu kita sama-sama tertawa. Sama-sama mencoba bertahan ditengah deru ombak yang mengisi rongga telinga. Sama-sama merangkum sepi dalam ruih gemuruh.

“Ada apa?” tanyamu dengan suara kabur.
“Bosan di hotel,” kataku setelah melingkarkan tangan pada perutmu.
Kamu hanya manggut-manggut dan membiarkan aku larut dalam rengkuhanmu. Ada damai yang berkepanjangan. Ada lelap yang tenang dalam jengkal dekapanmu. Dan aku selalu merindukan saat-saat seperti ini. Saat-saat menjalani prosesi. Saat-saat melapangkan hati. Saat-saat memahami betapa cinta adalah sesuatu yang tidak terbatas.

Cinta bukan sebuah maha karya yang bisa disimpan dan dimiliki. Begitu pula dengan hati—ia bukanlah ruangan untuk menyimpan yang punya pintu buka-tutup otomatis. Dan kita sama-sama tahu itu. Kita tahu bahwa luka bukan berasal dari cinta. Luka hanyalah habit yang berhenti. Seperti kita berhenti makan, lalu sakit. Tapi kita tidak memiliki kebiasaan-kebiasaan. Kita tidak mengaturnya sedemikian rupa hingga kita wajib merasa sakit. Kita tidak pernah merasa begitu.
“Lusa aku pulang,” ujarmu setengah berteriak.
“Ke sini lagi kapan?” Aku menarik tubuhku.
“Enam bulan lagi kan jadwalnya?” Kamu memutar bola mata lalu tertawa.“Baik-baik ya!” aku ikut tertawa.
“Selalu!” Lalu kupeluk perutmu lagi.

Semusim kemudian.
“Mau ke mana?” tanya Dhira.
“Ke pantai,” jawabku sambil membersihkan permukaan meja kerjaku dari barang-barang mungil yang berserakan disana-sini.
“Dia nggak bakal datang, Rin.” Dhira menyeduh kopinya dengan air panas dari dispenser di dekat mejaku. “Mending ikut aku ke toko buku.”
“Aku tahu dia nggak datang,” kataku datar. “Aku pengen ke sana aja.”

Kularikan mobil menyusuri jalanan tanah yang terjal dan berdebu menuju batas daratan sebelum sore turun. Angkasa masih menyala biru muda. Segerombol burung terbang menyalip laju mobilku yang terlalu pelan akibat benjolan jalan. Beberapa motor di depanku yang ditumpangi muda-mudi berarak seperti iring-iringan pawai. Ada suka cita terpancar. Dan jari telunjukku memutar lagu. Lagu air. Lagu yang mengalir dan menyejukkan.

Ketika sampai di tepian, aku berjalan dengan kaki telanjang. Pasir terasa hangat pertanda senja tiba. Aku mengukir nama dengan potongan ranting yang terselip di antara butir pasir. Namamu. Dan aku duduk tepat di sebelah namamu. Kubiarkan angin liar yang membawa pekat menyapu wajahku.
“Aku baik-baik saja,” kataku sambil memandangi goresan namamu yang kutoreh pada pasir. “Urusan yang menjemukan sudah selesai, aku sudah bebas,” lalu kuraba lembut bingkai yang mengitari namamu.

Aku kembali pada hening yang panjang dan berusaha mengeja jejak air laut yang membasuh separuh kakiku. Tak jauh dari tempatku berpijak, seorang perempuan sedang melingkarkan tangannya ke perut seorang pria. Kulihat jejakmu di sana. Sendiri. Tanpa aku. Sekian lama.
“Kita tidak perlu takut apapun termasuk kehilangan, semuanya sudah ditulis” katamu suatu hari. Dan lambaian selamat tinggal itu bisa kurasakan lagi sensasinya.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk.
..aku tahu kamu di sana. Sendirian. I love you.

Aku menoleh ke belakang. Kulihat kamu berdiri di sana dengan seseorang. Tanganmu melambai-lambai. Aku membalasnya lalu berdiri dengan tertatih. Sebelum aku benar-benar berdiri, kamu menopang tubuhku.
“Apa kabar?” sapamu.
“Baik.”
“Ini Mia, calon istriku.”
“Hai Mia!!” Aku menyalami calon istri yang kamu perkenalkan.
“Hei Rin, Herman banyak cerita tentang kamu lho,” Mia tersenyum.
Dan kubiarkan namamu di atas pasir dibaca setiap mata.

So maybe it’s true
That I can’t live without you
And maybe two is better than one (Boys Like Girls)

Advertisements

5 thoughts on “Semusim

  1. Cantik, tulisannya 🙂
    “Luka hanyalah habit yang berhenti”. Ah, tapi tetep aja ndak enak rasanya 😛

    “makasii neng 😀 iya tetep aja nggak enak.. tp gimana ya haha”

  2. another story for herman? herman sopo si, nduk? herman felani opo herman ngantuk? *dibahas* ;).
    eniwei, i’ll have been home at Dec 18-Jan 01. Let’s meet up! 🙂

    “herman ngelih haha.. aku jg di rumah mbak, lg bed rest.. 😀 “

  3. ah sebel.
    Ceritane sedeh 😥

    *ngemeng2, two is always better, for me, maybe :mrgreen:

    “hahaha.. ah kamu.. pake sedeeehhh segalaaa 😀 cup cup cuppp..”

  4. Seharusnya dia teriak, “Apa…!?” Gitu biar dramatis dan laku di FTV :D.

    “haha Herman aja yang teriak ‘kok km ga kaget sih?!’ 😀 “

  5. suka kata-kata
    “luka hanyalah habit yang berhenti.”
    itulah mungkin yang membuat kehilangan begitu menyakitkan.
    karena dia tak ada lagi…
    😦

    “hehe mungkin jeng.. 🙂 “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s