A Cup Of Coffeedrip [2]

Jaya.
Dia adalah pelanggan tetap coffeehouse tempatku bekerja—Loe Dji. Dalam seminggu dia datang empat kali—Senin sampai Kamis—jarang absen. Kunjungan rutinnya tak terpaut jam tertentu. Kadang dia datang siang, kadang sore, kadang malam. Seringnya kulihat dia datang seorang diri, bergumul dengan buku atau laptop, meneguk minuman, lalu pergi. Sesekali saja kulihat dia ditemani seorang teman. Itupun orang yang sama. Seorang perempuan yang menyerupai musim panas. Sangat bergairah dan selalu mengajakku ngobrol tentang komposisi kopi yang kuramu. Usut punya usut, temannya itu ternyata bekas barista di sebuah coffeehouse yang jadi pelopor di daerah ini dan telah pensiun dini.


Meja di pojok dengan penerangan yang amat redup menjadi benteng kokohnya. Dia tidak banyak bertanya dan tidak banyak mencari perhatian. Setiap kali kuedarkan pandang, kulihat dia sedang mengeja layar atau mengetik. Terkadang tersenyum sendiri, terkadang linglung. Sampai suatu hari aku mengajaknya berkenalan. Bukan apa-apa, buatku dia perempuan yang cukup istimewa. Sementara, aku hanya ingin menamatkan rasa penasaranku saja.
“Nama lo siapa sih? Gue Jaya” kataku sambil mengulurkan tangan.
Itulah kali pertama aku mendatanginya tidak dalam rangka mengantar pesanan, tapi untuk berkenalan. Sengaja berkenalan, lebih tepatnya.
“Marian” ujarnya tanpa canggung.
“Oh Marian. Oke, silahkan dilanjut” pungkasku kemudian berlalu setelah membungkuk.

Marian dua tahun lebih tua dariku. Seorang wartawan lepas di sebuah redaksi majalah remaja. Tidak melulu harus di kantor dan tidak harus berpakaian rapi. Pagi hari dia mengoleksi data, siangnya merangkum materi dan mengirimnya lewat e-mail. Begitulah kira-kira pekerjaannya. Penghasilan yang dia dapat tak banyak tapi cukup untuk menghidupi diri sendiri, tandasnya.
“Lo suka baca buku apa?” tanyaku suatu hari saat dia menghampiriku di bar. Aku sedang membuat chocofruit waktu itu.
“Akhir-akhir ini sedang terobsesi dengan karya-karya sastrawan kawakan” ujarnya sambil mengamati gerakan tanganku.
“Oh, good! Kenapa baru akhir-akhir ini? Sebelumnya?” Kuseduh coklat dengan air panas.
“Sebelumnya terlidas arus metropop yang..” Dia menghentikan kalimat, “sedikit membosankan” lanjutnya dengan bisikan lalu terkikih. Aku tertawa. “tapi lumayan memperkaya, dan aku suka semua bacaan”

Paginya, sebelum berangkat ke Loe Dji, kucomot dua buku dari rak—Parta Krama karya Umar Kayam dan Lukisan Matahari-19 Cerpen Pilihan Bernas. Keduanya kumasukkan tas kumalku, lalu dengan motor butut kususuri jalanan yang masih becek.

Marian.
“Hei” sapaku sambil menumpu siku di bar hingga tubuhku sedikit condong ke depan. Jaya yang sedang menggiling kopi menoleh.
“Hei hei hei..” balasnya. “dari mana?”
“Dari rumah”
“Ow, tumben?”
“Sekali-kali lah..” Aku tertawa kecil. “coffeedrip dong”
“Siap!”

Kutinggalkan Jaya dan kutuju sofa empukku di pojokan. Tiba-tiba dari belakang Jaya menyodori dua buah buku, tangan satunya memegang nampan berisi minuman. Kuraih dengan cepat.
“Semoga suka” katanya.
“Yah, thank you” gumamku pelan hampir tak terdengar.

Parta Krama. Lukisan Matahari. Buku-buku lama yang sudah tidak beredar di pasaran. Kertasnya sudah mulai berbau apek. Kubaca sekilas halaman paling belakang. Kutatapi sampul mukanya, kusisir dengan ibu jari halaman demi halaman, dan aku tak sabar menghabisi seluruh isi buku itu.
Tepat lima belas menit, Jaya meletakkan cangkir coffeedrip di depanku. Aku menurunkan buku pertama yang kubaca—Parta Krama.
“Kamu mengoleksi buku-buku ini?” tanyaku.
“Punya bokap” jawabnya singkat. Dia masih berdiri di depanku.
“Oh”
**
Semarang.
Senja itu tiba. Matahari lengser keprabon, dan keindahan sore tak lagi kunikmati sendiri. Di tempat yang jauh dari kebisingan deru mobil dan gerakan tergesa-gesa ini aku merapikan kegamangan akan dongeng masa depan yang selalu dituturkan para orang tua—mereka yang lebih dulu mengecap asam garam kehidupan. Setelah masa berkabung itu sirna, setelah kututup lembar terakhir buku kita dengan paksa, dan setelah mataku tak lagi menyerupai mata panda, aku memutuskan pergi dari rumah.

Aku bertemu dia. Jaya. Pria muda yang sangat mencintai kehidupan. Tepatnya kehidupan yang berirama. Pria bebas. Pria yang tidak pernah takut apapun. Pria yang loyal pada pekerjaannya—yang [barangkali] tidak pernah istimewa di mata para orang tua konvensional macam orang tuaku. Peramu kopi. Ya, dia hanya seorang peramu kopi di sebuah kedai yang minim sinar. Tapi dia bercahaya seperti kunang-kunang. Dia paling bersinar di tempat itu, bahkan lebih terang dari lampu yang biasa menemaniku mengetik. Butiran-butiran kopi menyerah pasrah ditangannya seperti abdi dalem yang mengabdi pada raja. Ah, begitu luar biasa kelincahannya mengolah segenggam kopi.

Aku beranjak dari sofa itu dengan jantung berdegup. Sebuah file bertajuk A Cup Of Coffeedrip, halaman 56 baru saja kubaca. Marian menulis tentang aku. Siapa sebenarnya Marian? Tiba-tiba ponsel yang tergeletak di dekat laptopnya berkedip-kedip. Ada sebuah nama tertera disana. PENERBIT. Pelan-pelan aku menjauhi meja itu sebelum Marian kembali dari kamar mandi.

Jaya.
Sebulan kemudian. Marian tidak pernah datang lagi dan seluruh toko buku di kota ini men-display buku terbarunya yang berjudul A Cup Of Coffeedrip. Dia seperti botol yang dihanyutkan lautan. Hilang begitu saja tanpa pesan dan menyisakan sejuta tanda tanya. Buku-bukuku diletakkan di atas meja sebelum dia menghilang. Jumlahnya bertambah satu. Parta Krama, Lukisan Matahari dan A Cup Of Coffeedrip. Sudah kubaca bukunya sampai habis. Jantungku berdesir-desir. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku merasakan kehilangan ketika kujatuhkan pandangan pada bentengnya di pojok.

Marian.
Masih kusimpan segenggam biji kopi arabica yang dia berikan padaku malam itu. Memang, dari sederet toples yang dipajang, aku paling suka kopi arabica karena baunya yang paling berkesan. Jaya mengambil segenggam untukku, katanya cukup untuk membikin secangkir coffeedrip di rumah. Sayangnya, aku tidak punya drip. Lalu sengaja aku membuat sebuah kantong kecil sebagai wadah. Kumasukkan biji-biji beraroma itu kedalamnya dan hampir selalu kubawa kemanapun aku pergi.
“Hidup itu pahit seperti kopi” bisik Jaya. Mataku memejam.

Dan bersamaan dengan turunnya kabut di Klaten sore ini, mendadak aku rindu sekali pada Jaya. Kurogoh tas mungilku dan kuambil kantong kopi yang tersisih di siku tas. Kulonggarkan serutannya, dan biji-biji kopi itu bermunculan. Aromanya memperparah rinduku.
“Monggo diunjuk, Mbak”  [“Silahkan diminum, Mbak”] Seorang pemuda muncul dari balik pintu sambil membawa nampan berisi gelas-gelas teh.
“Matur nuwun” [“Terima kasih”] balasku. “njenengan sinten?” [“kamu siapa?”]
“Kulo larene Pak Jarwo ingkang ragil, Mbak” [“Saya anaknya Pak Jarwo yang bungsu, Mbak”]
Aku membulatkan bibir, lalu tersenyum sebelum akhirnya dia masuk ke rumah. Sepertinya, di tempat ini aku akan menulis lagi.

Jaya.
Surat itu berstempel Klaten. Tanpa nama pengirim. Ditulis tangan dengan kertas surat sedikit lecek dan berbau. Kopi arabica campur belerang.

Jaya,
Masih maukah jemarimu meramu coffeedrip untukku?
Semusim lagi aku kembali.
Setelah Merapi damai.

Catatan:
Terima kasih untuk:
1. My real soulmate; Visi Asrining Njani.
2. Loe Dji dan segenap penghuninya yang selalu ramah pada saya.
3. Peramu kopi favorit saya; Jaya.

Advertisements

One thought on “A Cup Of Coffeedrip [2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s