A Cup Of Coffeedrip [1]

Marian.
Dari sudut ruangan remang ini aku mengamatinya meramu kopi untukku. Secangkir coffeedrip dengan rasa yang sempurna diraciknya dalam waktu 15 menit. Tidak kurang, tidak lebih. Lalu dia sendiri yang akan mengantarnya ke mejaku. Namun tak bisa langsung kuteguk karena aku harus rela menunggu selama kopi menembus lubang drip setetes demi setetes. Lima menit kemudian barulah dia datang lagi untuk mengambil drip dari atas cangkir, mempersilahkan aku mencecap, kemudian membungkuk seperti pangeran sebelum berlalu. Begitulah ritualnya dan aku hafal betul karena aku telah puluhan kali datang kemari.

Sejujurnya aku datang ke tempat ini untuk dua alasan; secangkir coffeedrip dan dia—peramunya. Kedua alasan itu diam-diam telah bermetamorfosa jadi candu. Kenikmatannya setara meski keduanya bukanlah jenis yang serupa. Minuman dan manusia, entah kenapa bisa sama-sama menyita perhatianku. Campuran kopi arabica dan susu kental manis itu sudah seperti magnet bagi lidahku. Tanpa sebutir ampas. Tanpa kepul asap kuat, namun aromanya tak henti membelai hidung. Sedangkan peramunya adalah mahakarya terindah dari Tuhan sekaligus kudapan lezat untuk mata dan inspirasi liarku. Kurang komplit rasanya bila datang ke tempat ini tanpa menikmati keduanya.

Seperti yang sudah kukatakan tadi, aku datang ke tempat ini puluhan kali. Semua barista hafal sosokku. Begitu juga sebaliknya. Tapi kami tak saling tahu nama masing-masing Barangkali karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku bila bertandang ke tempat ini. Selebihnya, kugunakan untuk menikmati secangkir coffeedrip dan peramunya yang sedang bekerja di balik bar. Begitu minumanku habis, biasanya aku langsung membayar dan pulang. Tak pernah ada percakapan panjang dengan para peramu kopi. Lalu esoknya aku akan kembali, menyapa mereka sebentar, memesan menu yang sama, duduk dengan laptop tersambung internet, menyeruput minuman, membayar, lalu pamitan. Satu hal yang barangkali menarik bagi mereka adalah aku lebih sering datang sendirian. Tanpa teman, tanpa kekasih, tanpa menunggu siapapun.

Aku terbiasa sendiri. Sendiri bukan berarti sepi. Kuurus diriku dengan baik tanpa perlu mengeluh pada siapapun. Sesekali kujumpai teman-teman kalau hatiku longgar. Kutraktir mereka atau kuterima traktiran mereka. Bergantian. Kudengar mereka berkeluh kesah atau kuminta mereka mendengar keluh kesahku. Bertukar peran. Kadang-kadang tertawa, kadang-kadang mengumpat. Tak ada yang salah kan? Dan sisanya, aku bekerja, menulis, membaca, belajar, memasak, belanja dan jalan-jalan. Aku melakoninya bertahun-tahun setelah lulus kuliah.

Suatu hari dia menghampiriku tapi bukan untuk mengantar coffeedrip.
“Nama lo siapa sih? Gue Jaya” katanya seraya mengulurkan tangan.
Untuk pertama kali, kusentuh kulitnya yang bersenyawa dengan aroma kopi. Mata elang dibalik kacamatanya menatapku lekat dan senyumnya yang mahal itu tersungging juga.
“Marian” ujarku mantap.
“Oh Marian. Oke, silahkan dilanjut”
Begitu saja perkenalan singkat kami. Tapi, barangkali sempat membikin segerombol ABG yang duduk di meja seberang menatapku iri. Jaya. Aku yakin, setiap perempuan akan membiarkan mata mereka tergoda. Aku yakin, setiap perempuan berharap bisa mengenalnya atau sekedar tahu namanya.

Dengan postur tubuh yang tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, Jaya dianugerahi mata oriental yang tajam. Tubuhnya gempal, kulitnya bersih meski tidak begitu putih, dan rambutnya ikal. Bisakah kamu bayangkan dia dalam balutan t-shirt, jeans robek-robek di bagian lutut, sepatu Converse yang menjelma jadi selop, dan beberapa gelang di tangan? Pria tampan dengan gaya urakan macam dia memang tidak seharusnya terlewat dari pandangan. Jangan salahkan aku bila kamu mabuk setelah melihatnya.

Keesokan harinya Jaya menambah jenis pertanyaannya padaku. Setelah namaku, dia bertanya tentang pekerjaanku. Disusul kemudian tempat tinggalku, dan yang terakhir adalah tahun lahirku. Aku dua tahun lebih tua darinya. Informasi tentang aku yang dia kumpulkan lumayan gendut. Sayangnya, semua palsu. Sedang, aku hanya mengantongi nihil selain nama dan umurnya. Tapi, sejak hari itu kami jadi sering bercakap-cakap. Kadang-kadang aku yang memulai obrolan di bar saat dia bekerja, kadang-kadang dia yang menghampiriku di meja—tanpa duduk. Kami pun resmi berkawan.

**

Di suatu malam yang basah, aku masih jadi penghuni setia pojok ruangan ini. Coffee shop sepi dan semua barista berkumpul di sofa tengah. Mereka berenam. Seorang dari mereka tiba-tiba mengangkat kartu lalu diikuti anggukan tanda setuju dari yang lainnya. Aku dengan fokus yang dari tadi terpecah-pecah—antara layar serat optik, hentakan musik Dynamite-Taio Cruz, televisi yang menyala bisu, dan percakapan antar barista—pun tersenyum ke arah mereka sebentar, kemudian menekuni pekerjaanku lagi. Mereka sepakat main poker.
“Marian mau ikut?” tanya salah satu dari mereka. Aku menggeleng.
“Aku nggak bisa” kataku.

Dan mulailah mereka menderet kartu di depan wajah masing-masing. Hening. Lalu terdengar teriakan riuh atau pekik nyaring. Begitu berkali-kali.

Sekilas saat aku menoleh lagi ke arah mereka, kulihat mata elang Jaya menatapku dari balik deretan kartu. Langsung kualihkan pandangan. Tiba-tiba langkah kaki seseorang mendekatiku. Pergelangan tanganku digenggam.
“Kesana yuk!” ajak Jaya.
“Tapi..” Aku menatapnya seraya menunjuk layar. Kemudian mataku beralih ke arah gerombolan barista yang sedang memandang kami.
“Ayolah..” pinta Jaya sekali lagi.

Kutinggalkan pirantiku dan kubiarkan Jaya menyeretku ke arah gerombolan pemain poker. Aku rebah di sebelahnya. Permainan yang sempat terhenti dilanjutkan kembali.
“Bantu gue dong” bisiknya.
“Hah?”
Jaya menyuruhku memilih kartu mana yang harus dibuang. Kutunjuk satu kartu dan Jaya benar-benar membuang kartunya ke tengah. Seketika perminan usai dengan sorak sorai dan Jaya kalah. Wajahnya penuh coreng bedak dan berangsur gerombolan bubar. Tinggallah kami berdua di sofa coklat itu.
“Maaf, aku bikin kamu kalah” kataku.
“Ah, santai aja” Dia tertawa kecil dikulum lalu membersihkan sisa coreng bedak di wajahnya.

Malam merambat.  Hujan di luar makin deras. Dan dingin menyapu tiap senti ruangan dengan leluasa. Kami beku di sofa dengan kepala saling menempel.
“Begini lebih baik kan?” gumamnya.
“Lumayan” gumamku.
“Eh pulangnya gue anter ya? Udah malem”
“Nggak usah, aku bawa kendaraan”
“Ayolah.. ” Mata elangnya berhasil mencuri satu anggukan dari kepalaku.

Sayup-sayup terdengar Owl City yang mendendangkan Vanilla Twilight menjadi lagu latar keheningan ini. Sepi pun menjadi momentum usang yang tak pernah kucicipi lagi. Mendadak, kenangan itu satu persatu datang. Pertemuan, perpisahan, pertemuan, perpisahan. Dua pasang prosesi berbuntut sama. Dan rupanya aku sedang butuh banyak waktu untuk menghambar luka. Di tempat ini.

Bersambung..

 



Advertisements

3 thoughts on “A Cup Of Coffeedrip [1]

  1. coffedrip itu buat nyeduh kopi vietnam ya, nduk? *nanya serius*
    eh lapakku baru lhooo… *pamer* 🙂

    “kopi apa aja mbakyu hehe arabica, robusta, mandheling, flores, bali dll”

  2. i love this story … kopi, cinta dan sepi terkadang menjadi kombinasi yang sangat menarik untuk di sesap 😀

    “hahaha begitulah jeng.. lagi melo sesat nih haha”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s