Sedu Sedan

Sedu sedan yang panjang memberi intro sedih pada malam yang belum cukup tua. Pekat di luar sana hanya mampu menatapmu iba. Kamu hanya butuh pelukan dari seorang sahabat. Lebih dari itu, kamu juga butuh ibu. Kamu butuh elusan ringan di punggung juga bisikan “You’ll be fine, Dear”. Tapi kamu yang hobi patah hati rupanya sedang berdiam seorang diri di kamarmu yang dipenuhi musik-musik melankoli. Kamu sibuk mengumpulkan kenangan-kenangan indah. Kamu merindukan antusias-antusias yang telah hilang. Kamu ditikam pedih berkepanjangan. Dan itulah, kenapa sedu sedan panjang tak jua berangsur reda.

Kamu sudah berusaha. Kamu terlalu keras berusaha. Bahkan mungkin kamu tak perlu memperbaiki dirimu sendiri untuk jadi lebih baik. Kamu tak perlu terlalu setia. Toh pada kenyataannya kamu tidak pernah mendapatkan cinta yang sempurna. Kamu dua kali dikecewakan oleh pria yang membawamu terbang. Kamu dijatuhkan tanpa alasan berdalih Tuhan. Sejujurnya mereka hendak berkata “Aku tidak pernah sungguh-sungguh mencintaimu, dan aku tidak bersungguh-sungguh menginginkanmu”. Kamu terluka, amat terluka. Dan kamu lelah dengan semua ini. Kamu hanya ingin bersandar pada kursi goyang yang membuatmu lelap. Kamu ingin melupakan semua ini barang sejenak karena keterbatasan kapasitas hati.

Kamu mungkin tidak butuh pria yang tampan dan gemilang. Kamu tak butuh mereka yang digilai banyak perempuan sampai-sampai perempuan sepertimu yang tidak mengincar apa-apa dari mereka justru lebih mudah untuk dilukai. Kamu mungkin hanya butuh pria sederhana yang rela menjemputmu tengah malam saat kamu pulang dari luar kota. Kamu mungkin hanya butuh pria sederhana yang mau menemanimu makan nasi bungkus di pinggir jalan mengingat kamu seorang vegetarian. Kamu mungkin butuh pria yang tenggelam dalam lautan aksara dan buku-buku—yang kadang hanyut dalam pemikiran-pemikiran liarnya sendiri. Kamu mungkin butuh pria yang sama-sama sering disakiti sepertimu—biar kalian bisa saling berempati.

Sedu sedan panjangmu melemah, meski dadamu masih begitu sakit. Tidak ada yang salah dengan kesetiaanmu. Tidak ada yang salah dengan ketulusan hatimu. Tidak ada yang salah dengan segala macam kebaikan yang kamu tanamkan. Tidak ada yang salah dengan dirimu. Tidak ada yang salah dengannya. Tidak ada yang salah dengan keadaan. Ini hanyalah momentum kecil yang harus kamu lakoni. Hingga pada akhirnya nanti, kamu akan tahu bahwa cinta adalah prosesi take and give yang berbelit-belit dan overdramatic. Butuh banyak sekali pembuktian. Butuh waktu. Butuh di uji biar jadi tangguh. Bukan sekedar kata.

“Yank! Yank!” Pintu kamarmu diketuk-ketuk sahabatmu.
Kamu keluar dengan wajah merah dan basah. Inilah gayamu yang paling berantakan.
“Yank? Kamu kenapa?” Dia tertawa kecil. Kamu tidak menjawab. “patah hati?” Lalu dia terbahak. Kamu lantas meninju perutnya.
Kembali kamu bersedu sedan pelan.
“Kesini..” Dia mendekatimu dan sebelum kamu menghambur ke pelukannya, lebih dulu dia merengkuhmu. “You’ll be fine, Dear”
Dan tangismu meledak. Parah.

Advertisements

5 thoughts on “Sedu Sedan

  1. “You’ll be fine, Dear”…oohh i need this words now 😦 … 😀 nice story mbak

    “makasi jeng, you’ll be fine dear..”

  2. Pingback: lintas-oto.info

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s