Rindu Untuk Herman

“..dengan tidak pernah berkomitmen, mungkin kami tidak akan saling kehilangan. Begitulah cara kami dalam menyayangi..”

Malam belum cukup tua ketika hujan merinai. Mendadak kota pun menjadi panik. Kendaraan melaju terburu-buru. Orang-orang menggerutu, memaki-maki Tuhan secara tak langsung. Akibatnya angin kencang menampar wajah mereka tanpa ampun. Lalu tak lama kemudian, lengang. Semua penghuni kota ini memutuskan menepi. Dan hujan menjajah dengan leluasa tiap lekukan.

Aku yang sedari tadi membeku di dekat jendela kaca, memutuskan beranjak dari sana. Ada secangkir Chocolate Americano panas di meja yang menunggu kuteguk. Juga sekelumit rasa yang hendak kuendapkan. Kupadatkan. Tak apalah untuk kali ini. Aku selalu penuh maklum. Apalagi untukmu.

“Kamu seperti malaikat yang sedang patah hati” Almira mengolok-olok.
“Emberrr” sahutku setelah melewatkan dua tegukan.
“Sms!” Almira menyodorkan ponselku. Aku menggeleng. Almira mengangkat alisnya. Memaksa. Aku tetap menggeleng. “gengsi?” Aku menggeleng lagi. “lalu?” Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
“Dua smsku tidak berbalas” keluhku.
“Coba lagi!” Almira menusuk-nusuk lenganku dengan ponsel.
Aku menggigit jari. Berpikir. Lalu menggeleng. Kuteguk Chocolate Americano-ku sampai habis tak bersisa.
“Kayak minum bir aja” ledek Almira. “untung haram”

Hujan belum tamat. Almira sibuk bermanja di telpon. Sedang aku sibuk membuat keputusan. Ah, Herman. Menahun aku menunggu kata-kata itu kamu rangkum dengan sempurna. Tapi, rupanya kamu hanya memberiku bungkam yang membuat detik waktu tak berani bergetar. Masihkah aku menjadi tempatmu bermuara nantinya? Aku tiba-tiba takut kita tak punya banyak waktu. Ah, sudahlah. Jari-jariku mengetik dengan cepat. Kuhapus. Kuketik lagi kalimat yang sama. Kuhapus satu kata. Kulanjutkan.

“…kapan kita bisa sama-sama dewasa? Beginikah cara kita saling menyayangi? Don’t make me sad, Herman..”

Kupandangi layar ponsel. Kuletakkan ponselku di meja, dekat kunci mobil Almira. Almira menoleh kearahku sekilas—menelanjangi wajahku dengan tatapan curiga. Dia hanya bertanya dengan alis yang dinaikkan, sedang bibirnya sibuk berseloroh dalam Bahasa Jerman yang tak kumengerti. Kuambil lagi ponselku. Sekali lagi kubaca sederet kata itu. Kuturunkan dari pandanganku. Kunaikkan lagi, kubaca setelahnya. Tidak. Sms ini akan mengganggunya. Sangat mengganggunya, menurunkan kinerjanya yang meluap. Dan aku tahu persis dia tidak suka.

Clear text. Aku benar-benar telah putus asa.
“Sudah?” tanya Almira. Aku menggeleng lesu.
“Herman gak bakal ngerti disini kamu sedang sekarat kalo kamu nggak bilang” ujar Almira sewot.
“Bukannya itu keunikan wanita? Pengen semua orang tahu isi hatinya tanpa harus berucap” kataku.
“Emangnya cenayang?” Almira mencibir. Aku menghela nafas panjang.

Hampir satu jam hujan menggagahi bumi dan tak ada tanda-tanda hendak menyingkir. Aku masih memikirkanmu, Herman. Tentunya sambil mendekap lutut dan membiarkan wangi parfum pemberianmu tertahan di dada hingga bisa kuhirup sepuasnya. Kamu bahkan tahu seleraku. Kamu selalu tahu bagaimana menyenangkan aku tanpa harus bertanya. Kamu benar-benar sahabatku. Andai saja kamu disini, barangkali aku tak perlu menanggung rindu selaknat ini.
“Al, aku tidak pernah serindu ini padanya” gumamku.
“Ya, sayangnya Herman nggak tahu”

Dan hujan pun reda. Almira mengajakku pulang. Sebelum masuk mobil, aku melirik langit. Tak ada bias larik pelangi yang menghantarku pada malam yang lembab. Buru-buru aku masuk dan membiarkan Almira menguasai jalanan. Sedang hatiku masih saja berceloteh tentang Herman Si Petualang. Dia memang  ibarat pelangi yang menghadirkan pesona keindahan sesaat di akhir musim penghujan. Sebentar lalu pergi. Ujung-ujungnya aku terpenjara pada jeda musim panas yang gersang. Tapi malam tak mungkin menyajikan pelangi. Sekali lagi, itulah kenapa aku tak cukup berani menautkan hati padamu, Herman.

Meeting Room.
Langkah sepatu boot menuju ruangan meeting terdengar berisik. Pria itu langsung membungkam ponselnya dalam saku kemeja. Dikunci rapat hatinya biar tak pernah berkeliaran mengganggu logika. Dia memang pria luar biasa. Dia Herman. “Yak, terima kasih untuk kedatangannya. Rapat kita mulai!” kata Herman semangat. 

Advertisements

3 thoughts on “Rindu Untuk Herman

  1. “..dengan tidak pernah berkomitmen, mungkin kami tidak akan saling kehilangan. Begitulah cara kami dalam menyayangi..”

    suuuukkkkaa dengan kalimat awal ini..
    i like postinganmu inih.

    Salam kenal jeng,, tukeran link boleh ?

    “salam kenal jeng.. makasiii.. 😀 “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s