Senja Pada Suatu Jeda

Kamu selalu datang sebentar. Satu jam. Dua jam. Tapi tak pernah tiga jam. Minum kopi, merokok, atau makan malam lalu diakhiri dengan percakapan yang membuat dadaku sesak dan nafasku mampat. Ujung-ujungnya, kamu akan meninggalkanku dengan hampa tak bertepi. Bahkan aku tak cukup berani untuk merindu. Aku tak cukup berani berharap. Aku tak cukup berani menautkan hati. Sayangnya, kamu datang ribuan kali. Sebentar. Selalu sebentar. Lalu pergi dengan senyum keparat itu. Ah!

Aku sedang duduk bergerombol dengan teman-teman saat namamu berkedip-kedip di layar ponselku. Kupandangi sebentar lalu kuangkat. Seperti biasa, suaramu yang riang menyapaku mesra. Kamu sedang di kota ini, mendadak ingin bertemu. Menagih janji. Ada nada rindu menyusup dalam gendang telingaku. Lalu hatiku berbunga kembali. Ah, kamu memang kurang ajar. Sialnya, hatiku membujuk kaki untuk pulang. Berdandan. Menyiapkan penyambutan ringan untukmu dengan riasan sederhana namun elegan.

Saat aku keluar, kamu berdiri di pintu, memandangiku dengan senyum mengembang. Matamu bersinar-sinar lalu kita saling menggenggam tangan. Ah. Aku sungguh rindu padamu, tapi enggan mengadu. Kamu tidak suka aku mendramatisir keadaan. Kamu tidak suka perubahan suasana hati yang begitu drastis. Kamu tak cukup peka untuk hal-hal yang berkaitan dengan memanjakan hati.

“Kamu tambah cantik” bisikmu tepat ditelingaku.

“Ah” Aku memukul lenganmu lalu kamu tertawa kecil.

“Temenin ke masjid dulu ya” pintamu.

“He em”

Aku memilih tinggal di mobil karena aku sudah selesai berkewajiban. Kulihat kamu berjalan menaiki tangga sampai akhirnya hilang di tikungan. Malam ini kamu tampan sekali. Ah. Kenapa kita terdampar pada ruang yang tak pernah nyata? Kamu membuat hatiku sakit tapi juga bahagia sampai aku tak punya cukup alasan untuk mencucurkan airmata. Apakah memang seperti ini takdir kita?

Aku selalu menyaksikan kemesraanmu dengan perempuan-perempuan itu. Kamu pun tak keberatan aku memuja pria-priaku. Aku sendiri, kamu sibuk mengejar perempuan lain. Kamu patah hati, aku jatuh cinta dengan pria lain. Aku putus dari pacarku, kamu punya kekasih baru. Kamu dikhianati, aku dikhianati. Tapi, kita sibuk berkubang sepi. Jeda sebentar itu seperti tertutup jelaga tebal. Lalu ketika kamu bilang kamu sayang, aku berstatus pacar orang. Aku putus, kamu sibuk berhubungan dengan seorang perempuan. Dan aku patah hati. Aku punya pacar, kamu datang. Ah. Sudahlah. Cukup. Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Meski kita sudah terbiasa, kenyataannya kita selalu terjebak dalam situasi ‘sulit’ seperti ini.

“Hei.. Makan dimana kita?” tanyamu membuyarkan lamunanku tentang masa lalu.

“Kamu pengen makan apa? Yuk jalan aja, nti kan ketemu”

Kamu menurut. Kubawa kamu ke sebuah rumah makan. Disana kita menyantap menu makan malam yang tidak begitu esensial. Sebaliknya, kebersamaan ini lah yang kita butuhkan. Mengambilkan nasi untukmu, mengelap sendok garpu, dan menyaksikan kamu bersantap. Lega rasanya.

“Selamat makan” katamu sumringah.

Setelah acara makan malam selesai, kita memutuskan untuk pulang, duduk di kursi panjang, sambil menghitung sisa waktu yang kami punya sampai jarum jam menunjuk angka sembilan. Kamu bercerita tentang banyak hal, aku menimpali, kamu mengecek ponsel, lalu menerima panggilan dari bos tersayang. Kamu bertanya tantang hidupku, aku malas bercerita, tapi akhirnya berbagi juga.

“Jangan pernah diam lagi, aku sungguh tidak bisa, kamu membuatku kacau. Kamu boleh cari pacar, biar hidupmu tenang. Aku tidak apa-apa. Aku punya kehidupan sendiri” kataku. Lalu kamu menatapi aku tajam. Kamu tidak percaya apa yang aku katakan. Matamu tersenyum nakal. Kamu tahu persis aku cemburu. Dan aku tidak pernah bisa berbohong tentang perasaanku.

“Bener..?” tanyamu halus.

“Iya bener!” kataku tanpa menatap matamu.

Mega merapat, malam kian pekat. Jam tangan digitalmu menunjukkan pukul sembilan kurang. Inilah saat-saat menyebalkan ketika kebersamaan direnggut paksa oleh waktu. Aku mencoba beradaptasi seperti hari-hari kemarin saat kamu pergi meninggalkan aku. Lalu aku merasa ini adalah bagian paling penting dalam hubungan kita. Entah kenapa, rasanya kamu seperti mendidik aku untuk menjadi bagian dalam kehidupanmu. Tanpa kamu sadari kamu menanamkan banyak pemahaman mengenai dirimu; tentang tidak pernah bergantung pada orang lain, tentang keberanian, tentang kekuatan, tentang komunikasi, tentang banyak hal yang kamu inginkan dalam hidupmu. Sialnya, aku tak pernah tahu kenapa aku mematuhi kata-katamu.

“Aku pulang ya”

“Nanti laaah..”

Kamu memandangi aku.

“Kenapa? Masih kangen?” godamu.

“Nggak”

“Pulang ah, kita masih punya banyak waktu”

Sebelum kamu pergi, kita saling menggenggam tangan lagi. Saling memandang. Bertukar pesan yang tak tersampaikan oleh bibir yang telah beku. “Aku akan merindukanmu”. Lalu kamu tempelkan punggung tanganmu ke pipiku. Entah kenapa kali ini aku merasa baik-baik saja.

“Hati-hati di jalan, yank..” kataku. Kamu mengangguk. Ah, lagi-lagi senyum keparat itu.

Sayup-sayup kudengar suara Michael Buble dari seberang.

..so hold on to me tight, hold on to me tonight, we are stronger here together, than we could ever be alone, so hold on to me, don’t you ever let me go..

Advertisements

2 thoughts on “Senja Pada Suatu Jeda

  1. Lha, kok malah terakhir muncul Michael B. Bukannya lantunan suara soprano berlatar sungai themes yang indah :).

    “hihihihihi.. iyaaaaaa!!! benerrrr..!! 😀 “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s