Cinta Satu Masa

Karena kusanggup, walau ku tak mau..
Berdiri sendiri tanpamu..
Ku mau kau tak usah ragu..
Tinggalkan aku..
Kalau memang harus begitu..
(Agnes Monica-Karena Ku Sanggup)

Penjelasanmu yang dangkal tentang kenapa aku harus bisa berdiri sendiri tanpamu masih terpatri jelas dalam ingatan. Rasanya wajahku ini tak pernah kering dari airmata, meski pagi selalu datang dengan matahari yang sahaja pada embun pagi. Hatiku masih saja sepi dimakan sakit hati, dan tubuhku ini kehilangan kekebalannya sampai tak mampu lagi kutahan dingin hanya dengan senyuman. Tiba-tiba kamar mandi ini laksana lautan es yang membekukan tubuhku, gemertakan gigiku beradu dengan kepala yang rasanya berkerut-kerut. Aku bisa mati disini, batinku. Buru-buru kuselesaikan aktivitas mandiku yang tidak lengkap lalu aku berjingkat ke kamar dengan baju tidur tipis tanpa lengan.

Kutarik selimut sampai dagu dan kutindih kepalaku dengan bantal biar hangat mengaliri tubuh dengan sempurna. Namun dalam beberapa detik tenggorokanku seperti tercekat, perutku mual sekali, dan aku ingin mati rasanya. Aku butuh pelukanmu, Yo’. Tindakan kecil sejuta makna yang dulu selalu kamu lakukan tiap aku menangis setelah kau marahi. Kita memang terlalu menjiwai peran sebagai pasangan sado-masokis mungkin. Kamu puas menyakitiku, dan aku puas disakiti olehmu. Syarafku hampir tersumbat. Tak bisa lagi kurasakan bahagia yang dirasakan kebanyakan orang. Biar begitu, tak pernah sedikitpun terbesit dalam kepalaku untuk pergi meninggalkan kamu. Seperti ayah tak pernah meninggalkan ibu. Seperti langit tak pernah marah pada petir yang meledak-ledak meski ia harus kehilangan reputasi baiknya dihadapan penghuni bumi. Urat marahku tak sepeka dulu lagi sejak kuputuskan mengabdi padamu dalam cinta sado-masokis, Yo’.

Tangisku belum usai. Dibawah bantal aku sesenggukan sambil meniupi telapak tanganku yang pucat—berharap hangat nafasku menjalar sampai ujung jari kaki. Sesak sekali dadaku. Kata-katamu kuurai satu-satu, berharap aku bisa mengerti kenapa kamu meninggalkan aku secepat ini. Tidak. Aku tidak mengerti. Aku tidak sedikitpun mau mengerti. Kesetiaanku jauh lebih agung bila dibandingkan kesetiaan kayu pada api yang akhirnya hanya menjadikannya abu. Kamu tidak pantas meninggalkan aku dengan cara ini.

6 tahun kemudian,
Dear, Yo’..
Yo’ tadi sore kulihat kamu duduk sendirian di warung kopi dekat kampus sambil mendekap tas. Senang rasanya mengetahui kamu masih sama seperti dulu, tak pernah menyambangi Starbucks dan semacamnya. Kamu tampak lebih berantakan dari enam tahun lalu. Apakah tidak ada perempuan lain yang mengurusmu setelah aku kau tinggalkan?

Meski begitu, ketampananmu tak luntur Yo’ dan bisa kurasakan lagi bagaimana tubuhmu pernah mendekapku dengan penuh cinta. Kamu memujaku seperti dewi dan kamu tanamkan ribuan keyakinan yang mempengaruhi pemikiran-pemikiranku pada dunia. Yo’, kamulah pria paling sempurna yang pernah kutemui. Tak satupun bisa menggantikanmu.

Lama sekali aku tertegun. Ingin aku mengalahkan spasi antara kita yang tak lebih dari lima meter lalu menyapamu sambil tersenyum. Namun ada belukar yang seolah-olah menjeratku. Belukar itu adalah kewaspadaan dan ketakutan tak rasional akan sebuah kehilangan. Rupanya mencintaimu dengan cara seperti ini pun sanggup kulakukan Yo’. Apakah aku masih tak pantas untuk kamu perjuangkan? Sedang di luar sana aku sendiri tak yakin ada perempuan lain yang melakukannya.

Kamu mematik korek apimu lalu menghisap rokok dalam-dalam. Seorang pria disebelahmu yang dari tadi menanti api akhirnya permisi untuk memintamu berbagi. Kamu menarik bibirmu sedikit. Itu senyum. Ya aku tahu itu senyum tapi kamu tak pernah menariknya lebih lebar.
“Terima kasih, mas” kata pria itu dan kamu hanya mengangguk tanpa menatap mata lawan bicaramu. Kamu bahkan masih sedingin itu Yo’..

Akhirnya aku membuntuti kamu pulang. Kamu jalan kaki menuju rumah mungilmu yang diapit toko roti dan sebuah rumah yang belum selesai di bangun. Rumah yang dulu pernah kita bangun dalam angan-angan itu rupanya sudah kamu bangun sendiri Yo’. Rumah dengan perpustakaan mini untuk anak-anakmu biar mereka tidak jadi korban keganasan kuntilanak yang suka memangsa para artis. Air mataku menitik. Ingin aku berlari dan membenamkan wajah pada punggungmu yang dilapisi jas hitam. Lagi-lagi belukar itu menahanku lebih erat dari sebelumnya.

Dan tiba-tiba pintu rumahmu terbuka. Seorang perempuan yang kukenal keluar dari sana, menggendong seorang anak laki-laki. Mantan pacarmu.
“Ayah pulang” katanya.
Kamu hanya diam dan berjalan masuk melewati mereka tanpa kata-kata. Tapi perempuan itu dengan cerianya berdendang sambil mendekap anaknya lalu membuntutimu sebelum akhirnya pintu tertutup. Sempurna Yo’. Tubuhku lemas setengah mati, lalu aku berbalik pulang dengan airmata menggenang di pelupuk. Nafasku memburu. Aku menjerit sekerasnya di tengah jalanan sepi. Dan tiba-tiba hembusan angin hadir disusul hujan deras.

***

“Mbak Mimi, apakah yang tertulis dalam novel anda merupakan kisah nyata?” tanya seorang wartawan.
“Bukan. Itu fiksi, murni fiksi” jawabku tenang.
Dan tiba-tiba mataku beradu dengan mata seseorang yang berdiri kaku di antara gerombolan pengunjung. Matamu. Dan untuk pertama kalinya setelah perpisahan kita yang panjang, aku melihatmu tersenyum padaku sambil mengacungkan jempol. Lega sekali rasanya.
“Lalu siapa Yo’ yang anda tulis di halaman persembahan?”
“Kekasih hati saya. Dia sudah meninggal”

Advertisements

2 thoughts on “Cinta Satu Masa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s