Prosesi Patah Hati

*backsound: A Foggy Day – Michael Buble*

A foggy day in London Town..
Had me low and had me down..

London, 10 Mei 2010.
Hari ini aku disekap sepi dalam tube yang melenggang tenang menuju Richmond. Sungguh fantastis bisa menikmati hari kedua patah hati sendiri tanpa menangis. Sepanjang jalan, aku sibuk memikirkanmu dan tak kubiarkan ada jeda menyusup sedikit saja. Rasanya tidak adil ketika kamu datang dan menjejali hari-hariku dengan rutinitas lalu tiba-tiba kamu putuskan untuk mengambil cuti panjang. Ya, seolah-olah aku telah di persiapkan untuk patah hati sedini mungkin ketika akhirnya aku tahu kamu sudah dimiliki orang lain. Aku menghela nafas. Benar sekali katamu, jatuh cinta adalah proses ketagihan yang begitu indah dan menyiksa. Dan patah hati tak jauh beda dengan jatuh karena ditarik gravitasi tanpa henti. Sialnya, aku patah hati seorang diri.

Kamu tidak meninggalkan apa-apa kecuali kenangan bergaransi seumur hidup yang akan kusimpan sampai karatan. Tiba-tiba aku ingat janji kita untuk tidak saling jatuh cinta. Benar-benar seperti senjata makan tuan ketika lambat laun kamu meracuni hatiku yang serapuh kertas ini. Ah, hati memang tak pernah menepati janji.

Kupasang headset dan kuputar lagu-lagu kita yang menenangkan sambil menikmati keindahan rumah-rumah bercerobong asap dan berhalaman luas yang ada di sisi kiri. Ah, harusnya saat ini kamu ada di sebelahku. Bukannya kita berdua sama-sama suka jalan-jalan dan bercita-cita mengelilingi dunia bersama? Sepanjang jalan yang tersisa hanya ceracau hati tak berkesudahan.

Tiba di stasiun Richmond, kugendong ranselku menuju pintu keluar sampai kutemukan halte bus. Lagu-lagu kita masih mengalun lembut di telingaku. Kutunggu bis nomer R68 yang akan membawaku menyusuri jalanan Richmond yang begitu tenang dan ramah. Sepi sekali rasanya. Kalau saja aku cukup punya nyali mengatakan perasaanku padamu yang begitu dalam ini, mungkin aku bukan seorang pecundang yang sedang dalam pelarian di kota asing. Tapi rupanya keberanian tidak datang dari langit seperti hujan yang bisa turun sewaktu-waktu tanpa permisi.

Lamunanku buyar ketika bus nomor R68 berhenti tepat di depanku. Aku langsung masuk dan bus ini membuaiku seperti bayi yang butuh pelukan. Kutulis surat untukmu. Seperti biasa, surat yang tak pernah benar-benar kukirim.

Ky..
Aku patah hati.
Tapi, kamu tak perlu tahu.
Semua hanya lah konsekuensi dari ‘kesendirian’ yang kupilih.
Semoga kamu bahagia. Cheers.

Satu jam perjalanan lumayan membuatku mengalami fluktuasi suasana hati yang seimbang sampai akhirnya tinggal aku yang berada dalam bus ini. Sopir langsung membawaku ke tempat tujuanku: Hampton Court Palace. Diturunkannya aku di halte depan istana. Dan dari kejauhan kulihat Mas Aryo berjalan ke arahku sambil menyusupkan kedua tangannya pada saku mantel. Aku melambaikan tangan girang.

“Apa kabar, Nduk?”
“Sangat baik, Mas. Tapi aku sedang patah hati.”

Pati, 10 Mei 2010.
wer ar yu?

Advertisements

4 thoughts on “Prosesi Patah Hati

  1. “Kamu tidak meninggalkan apa-apa kecuali kenangan bergaransi seumur hidup yang akan kusimpan sampai karatan”
    kereeeen….
    seandainya aku pny bakat nulis kyk gini..

    “kowe leh mbem, kok tekan kene barang :D”

  2. walah.. ketahuan..
    aku wedi jane,hehe..

    “hehehe lapo kok wedi.. piye kbrmu? mugo2 selalu sehat ya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s