Jeda

Di, saya sedang duduk di dalam bis yang akan membawa saya pulang ke rumah. Tak ada sisa penat yang saya gantungkan pada pundak, begitu pula risau yang menyiksa. Sebagai gantinya, saya bawa serta rasa bahagia yang kamu bagi kemarin sore sampai-sampai sepanjang perjalanan bibir saya tak henti tersungging. Bahagianya sudah bersenyawa dengan darah dalam tubuh saya, Di. Saya bahkan tak bisa lagi mengurainya dengan kata-kata. Saya terlalu bahagia seperti menemukan rumah untuk saya tinggali sejenak. Dan rumah itu kamu..


Loe Dji, 17.00 wib.
Sore itu kita mengungsi dari hiruk pikuk jalanan kota ke sebuah coffee shop untuk menamatkan sisa waktumu.Ya, kita hanya punya satu jam sebelum senja menjemput dan mengakhiri episode kebersamaan ini hingga saya tak punya kesempatan lagi mengabadikan segala kesan dalam dirimu. Setelah ini, barangkali saya akan merindukanmu jauh lebih rindu dari sebelumnya. Sedang kamu? Entahlah, saya tidak tahu dan tidak ingin menerka-nerka. Terlalu dini meraba sebuah kesimpulan yang saya sendiri tidak tahu dinamikanya. Ah, kenapa takdir kita hari ini hanya 2 jam?

Dari sudut ruangan ini, saya sibuk mendata semua gerak-gerikmu sambil menata detak jantung. Sedang kamu menuntaskan rasa penasaran pada perpustakaan mini yang terletak di ujung ruangan ini sembari menunggu pesanan kita diramu. Kamu ternyata lebih tampan dari dugaan saya dan kamu punya senyum yang mampu mendinginkan bara api. Matamu bersinar-sinar kocak dan saya suka caramu memperlakukan saya.

Tak lama kemudian kamu kembali, merebahkan tubuh di dekat saya setelah mencomot sebuah buku dari rak yang berjudul The Miracle of Caffein. Sebuah buku yang mengulas tentang sepak terjang kafein di planet bumi. Tak hanya kamu nikmati sendiri, sebentar-sebentar kamu meminta saya membaca bagian-bagian mengesankan dari buku itu. Lalu sesekali kita menertawakan hal-hal yang menurut kita lucu atau sekedar melontarkan pernyataan ringan tentang betapa nyamannya tempat ini. Kamu terlalu spontan dan apa adanya. Ibarat petasan, kamu meledak-ledak namun menghibur. Dan dalam hitungan menit saya menjelma jadi anak kecil yang kecanduan sensasi dari ledakan-ledakan itu.

Di sisi lain, ruangan ini seperti memancarkan magnet yang membuat kita tidak ingin beranjak. Baik kamu atau saya barangkali setuju bila tempat ini dinobatkan sebagai tempat bersejarah yang nantinya akan kita kunjungi untuk kedua kalinya, ketiga kalinya, atau bahkan setiap kamu singgah di kota saya. Lagi-lagi saya tatapi kamu yang sedang membaca pesan singkat di handphonemu. Pesonamu tak susut sama sekali. Saya lirik jam tangan yang melingkar di tangan kiri saya. Lalu kamu bertanya apakah saya punya janji dengan orang lain. Tentu saja tidak, Di. Saya sudah meniadakan segala macam janji hari ini khusus untuk menjamu kamu. Tak aneh kalau mendadak saya takut waktu mencuri moment ini. Dalam ketidakberdayaan, saya mengutuki kenapa satu menit terdiri dari 60 detik. Kenapa tidak 120 detik?

“Ah, sudah ada ahlinya. Kita nggak perlu mikir kenapa satu menit terdiri dari 60 detik” katamu lalu tertawa. Saya cemberut.
“Kenapa cepet bangettttt???” rengek saya.
“Jam berapa sih?” tanyamu.
“Tinggal setengah jam lagi” kata saya lesu.

Waktu kita habis saat jarum panjang jam tangan saya menunjuk angka enam. Kamu mengantar saya pulang, menjabat tangan saya, mengucapkan terima kasih lalu pelan-pelan punggungmu hilang di tikungan.

Di.. Tahukah kamu, ada satu bagian menarik dalam dirimu yang mengusik saya. Caramu mendominasi saya tanpa harus mengintimidasi. Tidak semua orang bisa melakukannya, tapi kamu cukup mahir membuat saya merasa dilindungi tanpa merasa lemah. Kamu begitu tenang dan kokoh. Tidak mendekat juga tidak menjauh. Diam-diam saya memujamu dalam hening. Sekali lagi saya menyunggingkan senyum sambil menatap sawah-sawah yang terbentang menghijau. Damai sekali rasanya. Sudah lama saya tidak merasa sebebas ini.

Jari-jari saya mengetik pesan untukmu.

..Di, aku sudah sampai rumah. kamu sampai mana?..

Tak ada balasan sampai saya membuka pintu rumah. Pesanmu mendarat.

..Pekalongan, Gee. Have a nice day..

Entah sampai kapan jeda ini..

I’m lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Lucky we’re in love every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

(Jason Mraz-Lucky)

Pati, 17 April 2010.
Ngantuk berat. Hoaaammm.. ^o^

Advertisements

One thought on “Jeda

  1. i am lucky i am in love with my bestfriend….. membaca tulisanmu ini seperti sedang membaca diriku,,haha, rasanya malu tapi lucu 🙂

    “xixixixixixiixix bagus lah jeng.. semoga terhibur sambil malu2 😀 “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s