Surat Tak Terkirim

Dingin menjejaki malam seolah menelan semua benda yang ada di muka bumi. Kamu yang sedari tadi lelap akhirnya terbangun karena angin malam yang menyusup dari celah jendela kamar kini sudah menerobos kulitmu. Tidak ada yang kamu pikirkan, kamu haus. Lalu kakimu melangkah menuju dapur dengan meninggalkan suara derit dari engsel yang tidak berminyak. Kamu hanya mengambil botol, menuangkan ke dalam gelas, lalu meneguknya habis. Setelah itu kamu tidak langsung kembali. Kamu duduk di kursi makan sendirian. Ada rindu terdalam yang kamu tahan dan berusaha kamu singkirkan setengah mati. Lama kamu terdiam disana sambil memutar-mutar gelas.

“Aku kangen kamu” gumammu. “nggak boleh ya kangen kamu?”

Kamu mendadak ingin jalan-jalan di tengah malam. Sebenarnya tidak masalah, karena kotamu tak pernah tidur. Sendirian pun kamu aman, apalagi rumah mungilmu yang bertingkat itu terletak di kawasan strategis—dekat pos satpam yang siaga 24 jam. Kakimu pun beranjak dari sana, mengambil mantel, memasukkan dompet dan ponsel ke saku, memakai sandal lalu keluar rumah.

Kamu berjalan menyusuri trotoar sendiri sambil bersedekap. Beberapa toko dan coffee shop langgananmu masih buka. Lampu-lampu jalan menyala sempurna dan ada dua orang anak kecil tidur berselimut koran di emper toko. Kamu berhenti di sebuah taman dan duduk di bangku besi panjang yang basah oleh embun.

“Aku masih kangen kamu” gumammu. “apa yang harus aku lakukan?”

Tepat di depanmu ada gerobak milik penjual es krim yang ditutupi terpal. Tiba-tiba kamu tersenyum sendiri. Kamu ingat saat pertama kali dia mengajakmu makan es krim rasa durian dan kamu muntah-muntah karena sebenarnya kamu tidak suka.

“Makanya kalo ga suka bilang” katanya padamu.

“Aku kan cuman pengen nemenin kamu” ujarmu dengan mata berair.

Sekali lagi kamu tersenyum, kemudian menengadah ke langit dimana bintang-bintang bertebaran seperti lautan berlian. Hatimu berdesir-desir.

“Apakah kita sedang berada pada langit yang sama?” gumammu lagi.

Dingin menggayuti hatimu, namun kamu sendiri tak juga ingin pergi. Rindu itu makin serakah saja rasanya. Kamu begitu menikmati sepi hingga semua penghuni malam melirik iri. Lagi-lagi rindumu tak bertuan dan hanya menjadi medan kosong tak terjamah.

“Tengah malam duduk sendirian bahaya lho” Tiba-tiba seorang pria sudah duduk di dekatmu.

“Aman disini” Kamu tersenyum ramah pada kenalan barumu. “kamu? Ngapain disini?”

“Pulang kantor, suntuk, jalan-jalan dulu” Pria itu menjawab pertanyaanmu dengan jelas.

Kamu meniupi telapak tanganmu untuk mengusir dingin. Pria itu melirik jam tangannya sekilas lalu mengganti posisi duduk.

“Minum coklat atau kopi disana yuk!” ajakmu.

“Tapi di luar aja ya, aku malas masuk ke dalam, banyak musik”

Kamu mengangguk lalu kalian berjalan bersisian menuju coffee shop yang letaknya 100 meter dari tempat kalian berpijak. Kamu masih berkubang rindu dan berharap bukan pria itu yang berjalan disisimu, tapi dia.

Pria itu bernama Kemal. Hanya itu yang kamu tahu dari hasil perkenalan sebelum akhirnya kalian memesan dua gelas hot cappuccino. Kalian sibuk mengobrol di gazebo dan berusaha tidak mempedulikan dingin yang membuat nafas kalian membentuk kepul-kepul menyerupai asap rokok. Dia membisikkan sesuatu yang lucu padamu, lalu kamu tertawa terpingkal-pingkal. Namun dia hanya tersenyum simpul seolah-olah melucu adalah pekerjaan sampingannya.

Setengah jam kemudian kalian meninggalkan coffee shopo itu. Kemal mengantarmu pulang—sengaja dengan jalan kaki dan meninggalkan mobilnya di depan coffee shop. Sampai di depan rumahmu, Kemal menunggumu mengunci pagar.

“Terima kasih, Kemal” ucapmu dengan senyum dan masih menahan tawa.

“Sama-sama, Serena. Selamat tidur” kata Kemal. Dia tersenyum lalu berbalik pergi.

Kamu masuk ke rumah setelah Kemal hilang di tikungan. Kamu pijak lantaimu yang senyap. Rindu itu mengada lagi sebelum kamu memanggilnya. Di kamar, kamu menulis surat.

Untuk Abimanyu,

Aku kangen kamu..

Kenapa jeda ini begitu lama..

Aku..

Lalu matamu terpejam oleh kantuk. Entah sudah berapa kali kamu menulis surat, dan tak pernah terkirim.

Semarang 25 Maret 2010

Advertisements

3 thoughts on “Surat Tak Terkirim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s