Ilalang dan Senja

“Aku ini ilalang, disini dan selalu disini. Suatu hari akan mati karena terbakar matahari” kata Ilalang.

“Aku adalah senja yang berputar dan kembali ke tempat yang sama setiap waktu. Aku tak mungkin mati” ujar Senja sombong.

“Kalau begitu aku ingin mati dibawah senja” sambung Ilalang. “dan tidak ada yang menikmati keindahanmu lagi” Ilalang tergelak.

Senja duduk bersila di bawah pohon kelengkeng, mencabut ilalang dan menggigitnya sambil bertopang dagu. Ia rindu Ilalang.

Hari itu masih pagi ketika Ilalang minta diantar ke rumah sakit karena sesak nafas. Obatnya habis. Namun Ilalang pingsan di tengah jalan saat mobil yang dikemudikannya belum jauh meninggalkan rumah. Senja pun panik dan berusaha membawa mobilnya lebih cepat dari mobil ambulan yang biasanya meraung-raung di jalan. Setiap ada kesempatan dia mengumpat pada pengendara sepeda motor yang seenaknya menyesaki jalanan. Lalu Senja dapat imbalan umpatan yang sama dari tukang becak yang hampir di tabraknya.

Diliriknya Ilalang yang bisu dengan kepala miring. Matanya masih terpejam dan tiba-tiba Senja berharap punya tongkat ajaib untuk membuka mata Ilalang dalam hitungan detik. Sim salabim. Rumah sakit masih satu kilo lagi kira-kira. Senja tak sabar melihat palang rumah sakit dan belok di parkiran.

“Lang, bangun dong!” teriak Senja. Pelupuk matanya sudah digenangi airmata.

“Lalang! Ayo bangun! Kita udah sampe nih!” Senja menghentikan mobil di lobi rumah sakit.

Dia buru-buru meminta tolong perawat yang berjaga untuk segera membawa Ilalang masuk dan mendapatkan perawatan.

“Pokoknya dia harus bangun, suster!” kata Senja sambil mengancam seorang suster. “aku nggak mau tau gimana caranya”

Senja duduk di bangku panjang sambil menunggu dokter keluar dan memberikan kabar bahagia kalau Ilalang hanya kelelahan latihan drama yang akan dipentaskan besok pagi. Berkali-kali diliriknya jam dinding yang bergerak melambat dari biasanya. Tiba-tiba seorang anak kecil mendekati Senja.

“Om, tolong bukain ini” kata anak perempuan itu sambil menyodorinya makanan ringan rasa rumput laut. Senja bengong lalu meraih dan membukanya.

“Jangan banyak makan yang beginian” kata Senja. Anak perempuan berambut ikal itu mengangguk lalu pergi begitu saja setelah mengucap terima kasih.

Sesaat kemudian, dokter keluar dari ruangan. Senja buru-buru bangkit. Dokter favorit Ilalang itu membawanya ke ruangan, menjalaskan apa yang terjadi dan menepuk-nepuk punggungnya. Ya, Senja bahkan hafal semua dokter yang menangani Ilalang karena seringnya Ilalang masuk rumah sakit. Hubungan mereka bukan lagi dokter dan pasien, namun seperti seorang kawan baik yang siap direpotkan sewaktu-waktu.

“Dia besok pentas drama, Dok” Senja tertunduk.

“Berdoalah”

Senja melangkah dengan gontai menuju mushola di dekat parkiran. Dalam keputus-asaan yang teramat dalam dia bersujud untuk Ilalang. Sisa-sisa kesombongan dia tanggalkan di atas tanah, pun dengan segala macam keyakinan yang selalu dia yakini benar. Ilalang benar. Detik ini, Senja mendadak takut tidak ada yang mengagumi keindahannya lagi. Kesombongan itu luntur berbaur airmata yang membasahi sajadah. “Bila Kau ambil Ilalang.. Ambillah dia saat senja” bisik Senja pada penguasa alam. “aku ikhlas”

Selesai katarsis, Senja masuk ke ruangan dimana Ilalang terbujur tak berdaya dengan selang melintang sana sini. Dikecilkannya AC, Ilalang tidak suka ruangan yang terlalu dingin.

“Lang, bangun Lang..” gumam Senja.

“Iya aku bangun nih” gumam Senja menirukan suara Ilalang.

“Yuk beli bubur ayam” Senja menarik kursi agar dia bisa duduk di dekat kepala Ilalang.

“Males ah, rame kalo jam segini” Senja hancur berkeping-keping hatinya. Bisa jadi ini adalah awal dimana dia akan kesepian tanpa Ilalang. Bisa jadi ini adalah bagian yang membuatnya lebih bijaksana. Kehilangan bukan akhir, tetapi awal.

Senja berjalan mendekati jendela. Dia berharap senja tak datang hari ini. Dia berharap hujan turun atau setidaknya mendung menggantung. Tetapi senja merambat perlahan-lahan setelah Ashar. Panas bumi mereda lamat-lamat oleh hembusan angin. Matahari menjura berpamitan pada kefanaan yang resah. Senja mendekati Ilalang, memeriksa kurva pada monitor dan duduk lagi di kursi. “Hati-hati di jalan, Ilalang” bisik Senja tepat di telinga Ilalang. Dan kurva itu berganti dengan garis lurus. Senja memencet tombol darurat lalu berjalan mundur ke tembok. Tepat di depannya, jendela menghadirkan pemandangan senja yang indah. Cakrawala berhias gedung-gedung yang menjulang dan minimnya pepohonan. Seekor burung melintas cepat lalu hilang. Senja terpaku, sendi-sendinya lemas dan dia rubuh di lantai. Menangis sejadinya.

*backsound*

Ke semua yang tak sempat kuungkapkan

Ke semua yang tak tepat kukatakan

Yang tak usai kujalani

Yang tak ingin kuingkari

Dan semua..

(Semua Yang Terlambat – Marcell)

Selepas pemakaman, Senja duduk di bawah pohon Kambojo sambil memandangi makam Ilalang yang masih basah. Orang-orang sudah banya yang pergi, namun masih ada beberapa yang tinggal di sana. Ada dua pemakaman hari ini.

“Om, ibuku meninggal” Senja menoleh kaget. Anak perempuan berambut ikal yang dia temui di rumah sakit sedang berdiri di dekatnya. Disampingnya ada seorang perempuan muda berbalut baju hitam dengan wajah memerah karena habis menangis.

“Temanku juga meninggal” kata Senja. Ia memeluk anak itu.

“Oh ya, Om, ini kakakku” Anak itu memperkenalkan kakaknya. “kami tinggal di rumah itu” lanjutnya sambil menunjuk rumah yang hanya kelihatan separuh dari balik pagar makam.

“Senja” Senja memperkenalkan diri.

“Ilalang”

Semarang, 23 Maret 2010

Advertisements

2 thoughts on “Ilalang dan Senja

  1. Ilalang tak pernah mati…sekalipun sudah terbakar matahari akan tumbuh dan tumbuh lagi…

    love it

    “yeehaaawww.. macam sumberdaya yang bisa diperbaharui ya jeng, pelajaran IPS wkwkwkw”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s