Kumara Sadana

‘ah, gengsimu sebesar gedung MPR’ kata Fatya. ‘cepet samperin! Tanya apa kek’
Saya menghela nafas panjang.
‘tapi..’ sergah saya.

Belum sempat saya meneruskan kalimat, Fatya mendepak saya keluar ruangan dan saya gugup setengah mati. Kumara Sadana menatap saya dengan banyak tanda tanya berwarna-warni pada kemeja biru mudanya yang lengannya digulung sampai siku. Aduh, pria ini ketampanannya membuat saya mati gaya. Mendadak tanda tanya warna-warni pada kemejanya rontok, diganti senyum lebar.
‘hei’ sapanya.
‘oh hai’ balas saya dengan suara bergetar.
‘sudah ngopi?’ tanya Kumara.
‘tadi, ehm maksudku di rumah tadi sudah bikin kopi, tapi buat Meong’ Saya nyengir. ‘kucing’
Dana tertawa. Aduh, mampus! Kok dia makin ganteng ya kalau tertawa, batin saya.
‘kucing minum kopi?’ Dia bertanya.
‘iya’ Saya garuk-garuk kepala.
‘berarti kita bisa minum kopi bareng di basement nih?’
Saya mengangguk sambil tersenyum geli.

Kami berjalan bersisian menyusuri lorong. Rasanya saya ingin memantul seperti bola bekel. Saat saya menoleh ke belakang Fatya berkacak pinggang sambil tersenyum lalu mengacungkan jempol. Ah, jadi malu saya.

Kumara Sadana Si Pria Magnet dan saya duduk di meja nomer 11 yang letaknya di tengah ruangan. Saya rasa dia tidak pernah sadar kalau pesonanya memancar sekuat medan magnet yang akan menarik logam apa saja tanpa peduli. Sial, hampir semua wanita yang ada di ruangan ini menoleh seketika.
‘kamu pesan apa, Nana?’ tanya Dana.
Saya pesan kamu saja Sadana, batin saya. Biarkan saya menikmatimu pagi ini, sebagai ganti sarapan pagi. Ya ampun, apa-apaan saya ini?
‘sandwich tuna dan kopi saja’ kata saya.
‘oke, tunggu sebentar ya’

Aduh, semakin terpana. Berkali-kali saya tahan nafas. Ingin rasanya berlari mengelilingi gedung ini untuk menularkan rasa bahagia pada alam dan membuat gambar hati pada langit. Saya tergila-gila pada pria yang sebelumnya hanya saya pandangi dari jauh dan saya koleksi sosoknya dalam kepala.
‘aku kena mutasi’ kata Dana. Dia memindahkan cangkir kopi dari nampan ke depan saya.
‘hah?’ Saya kaget kemudian saya ambil piring sandwich tuna dari nampan. Mendadak saya tidak berselera menggigitnya barang sedikit saja.
‘iya, minggu depan aku berangkat ke Jepang’ katanya.
‘Jepang??’
Dana mengangguk.

Seminggu kemudian.
‘heh, sudahlah.. dia kan nggak selamanya di Jepang, Na’ Fatya merengkuh saya lalu menyandarkan kepalanya di pundak saya.
Saya termenung, merokok, sambil menghirup uap kopi yang sudah dicampur jahe. Kumara Sadana Si Pria Magnet, oh.. Kenapa waktu kita dibatasi oleh rencana-Nya?
‘coba gengsiku nggak sebesar gedung MPR ya, Fat..’
‘udahlah, Na.. jarak bukan sesuatu yang besar untuk ditakhlukkan, sms gih!’
Saya hanya melirik ponsel yang tergolek di meja dekat cangkir kopi. Berat sekali meraihnya untuk menakhlukkan jarak. Fatya mengambilnya untuk saya.
‘sms!’
‘malas..’ kata saya.
‘nana, dia nggak bakal tahu kamu merasa kehilangan kalau kamu nggak bilang, realistis aja deh’
‘tapi aku kan bukan pacarnya’ elak saya.
‘plis deh, Na.. teman juga boleh kehilangan kan??’
Kalau bukan karena ide Fatya yang masuk akal, saya enggan. Jari saya mengetik.

Hei, sdh sampe mana? jgn2 nyasar sampe saudi arabia? Wah, bsk ga ada yg ngajak aq minum kopi lg.. 😉

Sent.
Dua menit kemudian Kumara Sadana membalas.

Tokyo nyaman, apalagi apartemen ini. tp sayang, besok pagi ga ada yang kuajak minum kopi.. 😉

Dan hati saya ditumbuhi banyak sekali bunga warna-warni…

23 November 2009

Advertisements

3 thoughts on “Kumara Sadana

  1. Aq juga suka dgn semua inspirasi liar yang terangkum disini..kereenn…menulis lagi doooongg..

    “hehe makasiii ya.. 😀 semoga ada waktu untuk menulis lagi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s