Suratan

Meskipun terbatas..
Saling pandang..
Dan tak akan lebih lagi..
(Aku-Dirimu-Dirinya by Kahitna)

Jarak kita hanya satu meter dan saya bisa pandangi dengan jelas wajahmu yang kemarin hanya ada dalam angan-angan. Kamu bercerita, saya mendengar sambil menyusupkan tawa renyah pada bagian lucu dari ceritamu—tawa yang barangkali akan membuatmu tergila-gila nantinya. Apa yang terjadi antara kita ketika diluar sana semua orang sibuk dengan percakapan seputar politik dan gosip-gosip ganjil? Kamu baru saja pulang dari Rusia, menemui saya, dan sebulan lagi saya menikah.

‘Biar cerita ini berselimut tanda tanya, lalu lihat dimana Tuhan akan memberi tanda titik pada akhir cerita’ kata saya.
‘Aku akan menunggu’ katamu.
‘Menunggu.. aku tidak suka menunggu karena aku sudah pernah menunggu’ kata saya sinis.
‘Aku yakin kamu akan kembali padaku’ katamu. ‘tidak sekarang tapi nanti’
Keyakinanmu membuat saya bertanya-tanya, kemana kamu selama ini?

Lalu kita berjanji untuk tidak saling menyesal ketika saya terenggut oleh kewajiban. Kamu akan bahagia melihat saya bahagia. Bullshit, batin saya. Kamu tidak akan sekuat itu. Kamu pasti akan patah hati seperti kebanyakan orang meski saya tahu kamu bisa tersenyum.

Perayaan ulang tahunmu.
Kita bersepuluh duduk mengelilingi meja yang dipenuhi gelas-gelas berkaki dan piring berisi kudapan menggoda mata. Kamu mengucapkan terima kasih atas kehadiran sahabat-sahabat tercintamu termasuk saya lalu kamu angkat gelasmu, diikuti kami semua. Dalam keremangan saya melihat air matamu menggenang.
‘Yang ini untuk pernikahan Defrina dan Vincent’ katamu.
Saya tersenyum, begitu juga Vincent yang langsung melingkarkan lengannya di bahu saya. Ruangan ini riuh oleh ucapan selamat juga tawa bahagia. Para wanita mendaratkan ciuman di pipi saya, sedang para lelaki memeluk Vincent sambil menepuk-nepuk punggungnya.

Pulangnya saat kita berpapasan di lorong, tanganmu meraih pergelangan saya.
‘Kamu benar, aku tidak sekuat itu’ katamu.
‘Iya, aku tahu..’ kata saya.
‘Kamu sudah terlalu dalam memasuki hidupku, Rin..’
Seketika tanganmu terlepas. Di ujung lorong, Vincent menunggu saya dengan senyum. Saya benar-benar tidak tahu, kenapa saya tidak pernah berjuang untuk kamu.
‘Kami pulang dulu, Wil’ kata Vincent berpamitan.
‘Ya, hati-hati di jalan’ katamu sambil melambaikan tangan.

Tiga tahun kemudian.
‘Sudah seribu hari’ gumam saya. ‘aku rasa Vincent sudah benar-benar pergi dari kita’
‘Dia selalu ada dalam hati kita, Rin..’ katamu.

Aku, dirimu, dirinya..
Tak akan pernah mengerti..
Tentang suratan..
Aku, Dirimu, dirinya..
Tak resah bila sadari..
Cinta tak kan salah..

Semarang, 23 November 2009

Advertisements

2 thoughts on “Suratan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s