Kembang Api

*backsound: olsen olsen – sigur ros*
Dia seperti kembang api—indah tetapi tidak untuk disentuh. Kalau hatimu terbakar, itu karena hatimu terbuat dari kertas dan kamu membiarkan percikan-percikan apinya menyentuhmu. Lalu sekarang hatimu berlubang kecil-kecil menyerupai polkadot dan kamu selalu ingin melompat-lompat kegirangan saat pesan-pesannya menyapamu di kantor.

Hmmm.. sarapan mr. burger dan teh anget di dekat kampus, nyet.


Aduh, kenapa sih harus laporan? Mendadak, dia membuat saya anemia. Hati saya yang lama tidak disentuh dan beku ini terurai jadi butiran pasir yang melorot jatuh dari genggaman. Sistem tubuh saya bekerja tidak normal—dagdigdug.com. Lalu saya akan berdiam sejenak, membaca pesan-pesan yang dia kirimkan untuk kedua kalinya atau ketiga kalinya bahkan kelima kalinya demi meyakinkan diri sendiri bahwa saya sedang tidak membaca novel romantis atau bermimpi di siang bolong.

Gue suka onion ring. Minta dong, kirim via merpati pos 😀

Kesalahan berulang yang saya lakukan adalah membalas pesan-pesannya yang seolah-olah mengandung antibiotik itu. Bayangkan saja, pekerjaan saya yang menumpuk itu ibarat penyakit yang membuat saya tidak sehat dan dia ibarat antibiotik yang menyembuhkan. Sedangkan mengkonsumsi antibiotik berlebihan tanpa pengawasan dokter itu BAHAYA.

*ganti backsound: it’s oh so quite – bjork*
‘hei, nyet!’
Kamu tiba-tiba ada di depan saya dan membuat jantung saya hendak copot.
‘naik apa kesini?’ tanya saya.
‘ufo dong, nyet. Gue kan alien’ kamu terbahak.
Tanganmu langsung menyambar pergelangan tangan saya dan membawa saya masuk ke gedung bioskop. Huff.
‘nyet, gue beli bakpao dulu ya’ katamu
‘bakpoa?’ mata saya melotot. ‘nggak pop corn?’
‘ah, kita kan udah nggak ABG nyet, pop corn makanan ABG.. kita lebih berkelas dong, bakpao! Lagian, makan pop corn nggak bikin kita balik ke usia 17 tahun. Oke, tunggu aja disini!’

Humormu membuat jantung saya bergetar lagi. Ah, setipis apa jarak kita hingga jantung saya yang tebal ini kamu getarkan berkali-kali.
‘yuk nyet masuk!’ Kini lenganmu sudah melingkar di bahu saya.

Hampir dua jam kita disuguhi tontonan yang mengocok perut. Bakpao sudah habis. Minuman sudah habis dan film hampir tuntas. Kita menyandarkan punggung di kursi, membiarkan penonton berdesakan keluar begitu film selesai.
‘nyet, pulangnya gue anter ya’
‘ya ampun, rumah gue deket dari sini’
‘ayolah nyet, gue cuman mau mastiin lo sampai rumah dengan selamat’
‘hah, lo udah kayak pahlawan bertopeng aja’
‘yuk!’

Kamu bersikeras mengantar saya sampai rumah. Ah, saya jadi menanti saat-saat berikutnya setalah kita sampai di depan rumah saya. Kencan ini ibarat undian kuis berhadiah, tidak disangka-sangka datangnya—seperti sedang bermimpi mengelilingi bumi naik sapu terbang.
‘thanks ya nyet, uhmmm.. minggu depan ada pembacaan puisi di sanggar, gue ada tiket buat lo’ katamu.
‘liat ntar ya, semoga nggak sibuk’ kata saya.

Seminggu kemudian.
*backsound: another rainy day – corrine bailey*
Di luar hujan deras. Saya tatapi jalanan dari atas gedung bertingkat ini dengan seember resah. Setengah jam lagi aula itu pasti sudah disesaki tepuk tangan, kemudian hening sepanjang puisi dibacakan. Tapi, kamu belum juga datang. Saya putuskan turun ke loby, siapa tahu kamu sudah menunggu saya di bawah. Tiba-tiba pesanmu masuk.

Nyet, gue udah diluar, basah kuyup hehe.. tapi masih ganteng kok 😉

Kamu berdiri di luar dengan baju basah kuyup. Topi dan tas ransel masih melekat pada tubuhmu. Saya menghampirimu.
‘kayaknya kita ga jadi nonton, nyet’ katamu.
‘kayaknya’ saya tersenyum lebar. ‘beli bakso aja yuk disana’ usul saya sambil menunjuk warung bakso langganan.
‘siappppp’ katamu.

Saya tidak pandai mengeja kata yang dibisikkan hujan kali ini. Tapi saya yakin, kamu merasakan apa yang saya rasakan. Dada saya masih bergemuruh riuh. Perlahan-lahan saya ukir cerita pada sunyi yang tak terjamah kata. Benarkah kadang-kadang cinta tak perlu dirangkum kata?

Pati, 24 Oktober 2009
Puanassss, sumuuukkk, gerahhhhh.. huh.

Advertisements

7 thoughts on “Kembang Api

  1. karena dia rasa…bahkan aksara pun tak cukup kaya untuk menyampaikan setiap rasa. Biarkan hati menunaikan tugasnya.

    “hiks.. hiks.. hahahahha iya jeng.. betul 😀 “

  2. hai…mbak q bleh request cerpen ttng kisah asmara dua sejoli. tp intinya yg sewek lbh tua 2 thun. dan waktunya berumah tangga. dia banyak yg naksir tp g mau. akhitnya yang cowok mundur dg alasan demi kebahagian si cewek. krn yg cowok kuliahnya lom kelar dan masa depannya lom jelas. klo yg cewek dh PN.sicewek menanggung rasa kcwa bersama keluarganya trhadap si cowok. sampai ibunya sakit..

    “makasii sudah mampir.. 😀 “

  3. hhhhmmm…..aliran rasa emang suka meletup2…nikmatin indahnya kembang api sebelum dia padam dan warna indahnya hilang.

    “hehehe yuk jeng.. mari menikmati keindahan 😀 “

  4. kalo buat cerita yang panjang..mungkin lebih mudah karena ruang begitu terasa. tapi cerita sependek ini dengan cerita yang dalam…saya musti belajar nih 🙂

    saya cuka ceritanya.

    “makasiii jeng 😀 “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s