Tatto Pada Punggungmu

Tala Narendra.
Begitulah tulisan yang tak sengaja saya baca di punggungmu. Tatto.

Hari itu saya mampir ke rumahmu untuk mengambil file foto pre-wedding kami atas permintaan Kemal—calon suamiku yang notabene sahabat karibmu. Sebenarnya saya malas menyetir jauh-jauh, apalagi hari itu saya sedang memuaskan nafsu saya berbelanja di sebuah pertokoan yang jaraknya lumayan jauh dari rumahmu. Tapi, Kemal lembur sampai malam di kantor dan besok pagi foto-foto itu harus sudah berada ditangan designer undangan.

Saat saya tiba, pintu rumahmu sedikit terbuka. Saya panggil-panggil namamu.
‘Ren?’ Saya dorong pintu agar terbuka lebih lebar. ‘ini Tala’
Tidak ada jawaban. Kaki saya kini telah menginjak bagian dalam lantai ruang tamu, tentu saja masih dengan memanggil-manggil nama Si Empunya rumah.
‘Rendy?’
Kini saya tahu kamu sedang apa saat kaki saya sudah melewati ruang tamumu yang bersih dan harum itu. Kamu sedang memasak rupanya. Saya letakkan tas di sofa lalu berjalan lurus melewati lorong menuju dapur. Bau wangi memanggil-manggil nama saya agar bergegas mencicipi.

Tapi tiba-tiba saya terperanjat. Kamu sedang menggoreng sesuatu, memunggungi saya, dan tidak menyadari kehadiran saya. Punggungmu yang mengkilat karena basah keringat itu menyodori saya kejutan. Nama saya tergores disana. Abadi.
‘Halo’ sapa saya mengusikmu.
Spontan kamu menoleh dan membalik tubuh. Kamu matikan kompor gasmu yang apinya biru itu.
‘Eh Tala.. Mau ambil file foto ya?’ tanyamu.
‘Iya’ kataku.
‘Yuk!’ Kamu bawa aku melintasi beberapa ruangan sebelum sampai studiomu.

Saya duduk di sofa merah yang menghadap taman, sedang kamu selepas menyalakan komputer sibuk mencari-cari CD kosong di laci bufet. Ruangan ini mendadak jadi hening. Padahal biasanya saya sudah menelusur kesana kemari dan bertanya tentang barang-barang yang tidak saya kenal di kamarmu.
‘Ren?’
‘Heh?’ Kamu menoleh pada saya.
‘Apa maksud tatto di punggungmu?’ tanya saya.
Ah, barangkali pertanyaan saya barusan seperti petir yang menghanguskanmu. Tidak basa-basi. Lemas kamu duduk di depan komputer. Rautmu berubah. Raut yang sama sekali belum pernah saya lihat selama saya mengenalmu.
‘Mengabadikanmu saja’ katamu lalu berdiri, menyodori saya CD yang saya minta.
Lalu kamu berjalan mendekati sebuah pintu. Pintu yang selalu terkunci dan setiap saya tanyakan apa isi ruangan itu, kamu selalu bilang itu gudang. Kamu buka pintunya, dan kamu mematung disana.
‘Aku menyimpanmu disini’ katamu.

Ruangan itu hanya berukuran 3×3 meter, dindingnya penuh foto saya dalam berbagai pose. Di sudut ruangan ada meja yang diatasnya terdapat kotak rokok yang ditata rapi. Kotak rokok itu milik saya yang selalu tertinggal setiap saya dan Kemal berkunjung ke rumahmu. Dan yang paling membuat saya terperanjat adalah buku gambar yang berisi sketsa wajah saya. Mendadak saya ingat pertemuan pertama saya dengan Kemal.
‘Jadi kamu yang membuat sketsa itu?’
‘Iya, hari itu aku buru-buru dan menitipkan buku sketsa itu pada Kemal, dan ternyata kamu mengira itu milik Kemal’ kamu tersenyum pada saya.

Kita saling bisu.
‘Kemal adalah kehidupanku, Tala. Waktu aku SMA, aku pernah kecelakaan dan butuh banyak darah. Darah Kemal lah yang mengaliri tubuhku. Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa kebahaiaan Kemal selalu jadi tujuanku’ katamu.
‘Iya’ balas saya lalu saya pamitan pulang.

Sepulang dari rumahmu, saya pergi ke kantor Kemal untuk membawakannya makan siang. Dia sumringah sekali melihat saya.
‘Ini foto-fotonya’
‘Rendy memang fotografer handal’ gumam Kemal puas. ‘dan aku tidak sabar menjadikanmu Nyonya Kemal’

Semarang, 1 Oktober 2009.
Menulis sambil menahan lapar.

Advertisements

6 thoughts on “Tatto Pada Punggungmu

  1. aaaaaaahhhhh,, bacanya jadi sediiiihhhhhh,,,hiiiiksssss…. Jadi inget salah satu scene di Love Actually 😉

    “iya cha, emang terinspirasi sm cerita itu kok 😉 “

  2. bimbang ga sih klo dapat situasi gini???
    ada yg mengabadikan nama kita di punggungnya….di punggungnya *pengagum punggung indah*

    “huffff.. rumit ya hehehe”

  3. i guess i’m one of your short story’s new fans, Pim…
    😉
    hey…we should have our next chat, kay.. 😉
    there’s some more question for you to answer ;p

    “okay, jeng 😀 makasiii pi..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s