A Cup Of Coffee

Coffee freeze.
‘ini tentang selera’ katamu. Lalu kamu teguk sedikit kopi panasmu yang berjudul Kopi Toraja. Selang sedetik kemudian, kamu raih kotak rokok dan korek api dari saku jaket.
‘kupikir ini tentang cara manusia me(nyaman)kan diri’ kata saya.
Kamu yang sedang menyalakan korek tiba-tiba mengacungkan ibu jarimu untuk saya seolah-olah pendapat saya itu begitu menggugah rasa ketertarikanmu yang lebih sering mati suri. Saya meringis. Senang rasanya melihatmu punya minat pada pembicaraan ini.
‘lalu kenapa kamu suka kopi dingin? Bukannya sensasi yang ditawarkan jadi..’ tiba-tiba kamu dekatkan bibirmu pada telingaku ‘sedikit..’ pelan-pelan kamu bisikkan kata itu. ‘berkurang..’
‘esensinya tetap sama kan?’ Kini saya memberi kamu kesempatan untuk berpikir, atau barangkali menyetujui pendapat saya.

Coffee freeze.
Barangkali tak jauh beda dengan permen kopi, krim kopi, lulur kopi, parfum kopi, biskuit kopi atau apalah yang berasa dan beraroma kopi. Hanya sebuah inovasi dimana manusia berusaha me(nyaman)kan dirinya. Waktu saya kecil, tidak pernah saya temui es kopi/kopi dingin. Kopi selalu dihidangkan dalam gelas bertelinga atau cangkir dan identik dengan uap panas diatasnya yang melayang-layang seperti ilustrasi setan dalam film kartun. Hitam kecoklatan, kasar, panas, pahit dan maskulin. Minuman ini cenderung mempengaruhi status sosial, entah kenapa. Lalu seiring perkembangannya, muncullah kopi instant. Lebih lembut dan tampak lebih elegan. Penikmat kopi jadi lebih beragam.

Sekarang ini, kopi lebih populer. Apalagi sepak terjangnya di dunia industri, sungguh luar biasa. Coffee shop yang semakin menjamur diatasnamakan sebagai penghormatan tertinggi pada kopi. Lulur kopi diminati para gadis dan ibu-ibu. Minuman kopi berkaleng mulai beredar di pasaran. Fantastis. Dan diantara itu semua, saya bertemu dengan seorang backpacker yang mencintai kemurnian kopi. Ganjil memang rasanya. Cenderung menggelitik.

Buat saya sendiri, tidak begitu masalah bila ‘sesuatu’ bermetamorfosis menjadi ‘sesuatu’ yang lain. Seperti kopi. Saya angkat gelas saya yang telah kosong. Coffee freeze rasa jeruk. Bisa kalian bayangkan seperti apa? Kopi yang begitu manis dengan rasa jeruk segar, tidak ada dominasi rasa tertentu. Kita masih bisa menikmati kemurnian kopi sekaligus kemurnian jeruk segar. Interaksi rasa yang rumit namun cantik.

‘lalu bagaimana dengan kemurniannya?’ tanyamu.
‘ah, kadang-kadang kita sulit beradaptasi dengan sesuatu yang murni’ kata saya.
Kamu tersenyum sambil memandangi gelas kopimu yang sudah dingin. Sensasinya barangkali telah berkurang—seperti katamu.
‘biar kuhabiskan’ kata saya. ‘sudah dingin kan?’
Kami berpandangan lalu sama-sama tertawa.

Pati, 29 September 2009

Advertisements

5 thoughts on “A Cup Of Coffee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s