Tak Cukup

Pagi itu bisu saat kutemukan sobekan-sobekan kertas di kantong jas hitammu yang lusuh. Seperti sebuah surat yang ditulis seorang wanita. Kuendus sekali dan baunya wangi bukan kepalang. Kertasnya yang setebal 80 gsm itu berkerut. Barangkali bekas diremas sebelum disobek. Aku gelisah sendirian di kamar itu, bukan karena takut kamu akan kembali dan memergoki aku berusaha menggabungkan potongan-potongan kertas itu tapi aku lebih takut akan reaksi atas diriku sendiri. Dadaku sesak gemuruh, tanganku gemetaran. Aku memang bukan pemasang puzzle yang handal, batinku.

“Inez? Kacamata hitamku ketinggalan di laci, bisa ambilkan untukku Sayang?”
“Iya” teriakku dari dalam kamar.
Kamu tak mungkin masuk rumah karena aku tahu kamu malas melepas sepatu bootsmu yang penuh lumpur itu. Buru-buru aku berlari keluar sambil membawa kacamata hitam kesayanganmu. Kulihat kamu berdiri di tengah-tengah pintu sambil berkacak pinggang.
“Makasih, Sayang. Aku buru-buru” katamu sambil mencium pipiku yang hangat. Semoga kamu tidak mencium kegelisahan yang sedang menyala-nyala seperti bara ini.

Selepas mengantarmu sampai gerbang, aku masuk dan menekuni puzzle itu lagi. Kali ini aku berhasil membaca kalimat pertama yang tertulis rapi dengan pena biru mahal pemberianku dan aku tahu siapa pengirimnya. Dalam kamar kita yang lapang itu aku menangis sendirian disisi tempat tidur. Rasanya campur aduk dan mustahil perasaan ini dapat dinikmati apalagi digambarkan. Kuseka airmataku lalu aku mandi. Pukul Sembilan aku harus stand by di kantor untuk mempersiapkan rapat bulanan. Tiba-tiba telpon rumah berdering.

“Lima menit lagi aku sampai di depan rumahmu” kata suara diseberang yang tak lain teman kantorku.
“Aku berangkat sendiri saja, harus mampir ke rumah sepupu soalnya” kataku.
“Kan sekalian bisa, searah kan?” suara diseberang masih menawari.
“Tinggal saja, aku ada sedikit urusan keluarga” kataku datar.
“Baiklah”
Klik.

Sesampai di kantor, gelisah itu makin jadi. Aku menyiapkan beberapa keperluan untuk rapat nanti siang. Bos ingin sesuatu yang istimewa dariku, dia ingin bunga-bunga segar dipasang di sudut-sudut ruangan, makan siang yang sederhana tapi menarik, dan perlengkapan yang bagus tetapi murah.
“Aku butuh beberapa spidol cadangan” kataku.
“Eh, aku punya banyak stok di laci, ambil saja” kata temanku. “lacinya tidak dikunci kok”
“Oke, kuambil sekarang daripada bos kita ngomel”

Kubuka laci itu dengan tergesa-gesa untuk mengambil stok spidol, tetapi justru yang kudapati beberapa amplop warna biru yang sisinya telah digunting. Amplop yang kukenal karena jari-jariku ini yang membuatnya. Amplop yang jadi ciri khas kami. Kubuka satu persatu. Sesuatu yang membahagiakan tentunya. Sesuatu yang pernah juga kamu berikan padaku dulu, barangkali juga perempuan-perempuan sebelum aku atau barangkali juga setelah aku. Ya, kamu memang amat menyenangkan untuk banyak orang tak terkecuali aku. Belum semua surat kubaca, komputer di meja yang menyala itu meletupkan bunyi tanda pesan.

Belinda…
Aku terperanjat saat melihat siapa pengirimnya. Kamu, suamiku. Kulepaskan amplop-amplop itu lalu aku menutup pesanmu, menuju meja kerjaku, menyambung koneksi agar tersambung denganmu. Kamu tidak menyapaku sama sekali seperti kamu menyapa Belinda dengan mesra.
“Malah pacaran” Belinda tiba-tiba muncul sambil senyum-senyum.
“Iya ni, kangen” kataku.
“Uh uh uh.. Tiap malam juga ketemu” sambung Belinda.
Dan dalam hati aku menangis.

Sepanjang rapat aku berkonsentrasi pada laporan-laporan yang harus kukerjakan dalam sehari. Belinda sibuk dengan blackberry barunya. Sedang teman-teman yang lain termasuk bos menikmati suasana rapat yang santai ini. Begitu rapat selesai, aku minta ijin pulang lebih awal. Aku ingin memasak rica-rica ayam kesukaanmu. Belinda menghadangku di lorong dekat pintu keluar.
“Besok kita jadi nonton bertiga kan?” tanya Belinda.
“Mungkin” jawabku sambil tersenyum.
“Oke, have a nice day” kata Belinda.
“Ya”

Sepanjang perjalanan pulang, suratmu yang tertulis rapi untuk Belinda terbayang-bayang dikepalaku. Begitukah aku? Ataukah hanya kamu yang sebetulnya tidak mengenalku? Entahlah, aku ingin sekali memaklumi semua ini meski sulit.

Rupanya bagian terberat dari mencintaimu adalah saat aku tahu bahwa aku tak lagi ‘cukup’ untukmu..

Semarang, 16 September 2009

Advertisements

3 thoughts on “Tak Cukup

  1. Mempertanyakan batas kepuasan manusia dan para gadis manis keparat brnaluribinatangsukamakanteman jeng.. Haha.
    Kalau manusia tidak sempurna kenapa mengharapkan yg sempurna..

    “fucking nice girl *katamu*
    suka deh dengan sebutan itu :D”

  2. Apakah tak pernah cukup berbanding lurus dengan tak bisa berbagi ?
    hehehehe…cinta banget sama tulisan mu jeng…selalu…

    “iya mungkin jeng, tepatnya ‘tidak bisa berbagi (lagi)’ 😀
    makasiii jeng.. aku juga cinta banget sama tulisanmu yang penuh ‘emoticon’ lucu :D”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s