Lari

 

“Aku ragu semuanya akan berjalan lancar” kata saya.
“Tinggal selangkah lagi, Nje. Bukankah masa depan yang indah yang diinginkan setiap wanita hampir kamu petik?” kata Sihab.
Kami berpandangan. Ada gelisah tipis yang kami sembunyikan dibalik kenyamanan ini.
“Tapi aku bertemu dengan orang lain, Sihab” kata saya. “Meski, entah” saya lempar muka jauh untuk menghindari kegelisahan yang makin kentara.

Kami berjalan menyusuri dua sisi jalanan yang bermuara pada peraduan matahari. Saya disebelah kiri, Sihab disebelah kanan ketika tiba-tiba sebuah mobil melintas dengan kencang dan berhasil menerbangkan selendang tipis yang bergelantung mesra pada leher saya.

“Shit!” teriak saya.
Sihab berlari mengejarnya. Dia turuni lintasan jalan sampai pada ladang penuh rerumputan hijau. Berhasil pula ia tangkap selendang tipis warna biru itu lalu dilambaikan ke arah saya. Saya tersenyum lalu berlari kearahnya.
“Nih” katanya sambil mengalungkannya ke leher saya. “Harusnya diikat seperti ini”
“Ah, ini kan hanya hiasan”
“Tapi begini lebih bagus, Nje” Sihab memandangi selendang yang melingkar manis di leher saya itu sambil tersenyum.

Angin makin kencang berhembus. Bayangan kami ditelan ilalang yang tingginya hampir selutut. Saya berjalan di belakang Sihab sambil berpegangan pada ujung kaosnya.
“Apakah kamu akan menunggu aku pulang?” tanya saya. “Ehmm, maksudku dalam beberapa tahun ini aku ingin mengunjungi hutan-hutan yang masih perawan dan pantai berkarang”
“Dalam rangka menghilang?” tanya Sihab.
Saya menghela nafas panjang.
“Mengurangi rasa bersalah pada dua keluarga yang hampir bersatu” kata saya.

Matahari semakin rendah. Kemilau langit jingga kian meredup bercampur dengan nafas malam yang baru dihembuskan. Sihab menarik saya ke jalanan.
“Kita ada diantara banyak manusia dan beberapa hal” kata Sihab.
“Ya” sahut saya.
“Bagaimana tunanganmu?” tanya Sihab.
“Kadang-kadang yang terbaik bukan yang kita butuhkan..”
Kami berpandangan lagi lalu dia menunduk sambil tersenyum. Saya ikut tersenyum lalu masuk mobil.
“Dengan kata lain aku bukan yang terbaik, begitu?” Sihab masih tersenyum sambil menyalakan mesin mobil.
“ya” saya tertawa “tapi setidaknya kamu tidak membuatku jadi orang lain”

Dan hari itu Sihab mengantar saya ke stasiun. Berat sekali berpisah dengannya. Sama beratnya dengan memikul ransel saya ini. Sekali lagi saya telusuri detailnya dari ujung rambut sampai ujung sepatunya. Saya akan kembali, janji saya dalam hati.
“Hati-hati” kata Sihab. Saya mengangguk lalu masuk kereta.
Sengaja saya masuk belakangan agar tidak terlalu lama berada dalam tema perpisahan. Namun saat saya hendak melambaikan tangan, Sihab sudah berbalik pergi.

Jakarta-Semarang-Surabaya. Disana saya akan bertemu dengan rekan lalu kami akan memulai petualangan. Ah, tidak sabar. Saya tersenyum lalu memejamkan mata. Biar kereta ini membawa saya pada masa yang lain. Siapa tahu banyak pelajaran berharga yang saya dapat dari pelarian ini.

Ketika kereta berhenti di Surabaya. Mendadak saya merasakan sepi yang amat sangat ditengah-tengah keramaian. Inikah yang disebut menunggu? Saya buru-buru turun diantara orang-orang yang berisik memastikan barang mereka aman dan tak ada satupun yang ketinggalan. Untuk pertama kalinya saya hirup udara kebebasan. Dan, ups.
“Maaf” kataku spontan saat aku menabrak seseorang di depanku.
Lalu aku terperanjat kaget saat orang itu membuka topi.
“Sihab?”
Sihab merengkuh bahuku, mendekatkan bibirnya pada telingaku dan berbisik.
“Kita akan lari bersama”

Semarang, 03-09-2009

Advertisements

4 thoughts on “Lari

  1. rasa itu memang liar. melompat kesana kemari seperti bola bekel. tak ada yang punya kuaa atasnya. lantas kenapa harus lari ?

    “mungkin pilihannya memang harus lari hehhehe :D”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s