Kinan

Kami bertemu lagi di sebuah pesta kebun usang yang penuh basabasi. Mendadak hujan deras mengguyur kami yang sedang menciumi aroma barbeque dan kulihat dia berlari-lari kecil mencari tempat berteduh sambil menutup kepalanya dengan clutch. Yogi di belakangnya dan mereka bergandengan tangan seperti pasangan pengantin baru. Serasi sekali dan tentu saja membuatku iri setengah mati.

Kinan tersenyum kecil ke arahku dan langsung melepaskan tangannya dari genggaman Yogi. Aku membalas dengan senyum hambar lalu menghilang dari tatapannya. Baru kemarin kulihat matanya merah karena menangis di tangga darurat, dan hari ini dia seperti bidadari jatuh cinta pada Jaka Tingkir. Wanita memang sulit dipahami.

“Tapi Yogi tidak punya cela. Seandainya kami putus, dia yang harus mengucapkan kata-kata itu” begitu katanya.
“Ya, aku tahu dan aku menunggu sampai Yogi punya cela” kataku.
Dan Kinan membisu. Matanya berkaca-kaca. Sungguh wanita memang aneh.

Pesta barbeque usai di dalam ruangan. Yogi Sang Pangeran bergitar unjuk kebolehan. Kinan sibuk mengobrol dengan teman kami namun tetap mengamati gerak gerikku seperti pengintai profesional. Kami berdua seperti sepasang penjahat yang bergerilya. Ah Kinan, kenapa harus ada Yogi diantara kita? Kenapa tak kamu biarkan semua orang-orang disini tahu bahwa kamu pernah berkata ‘aku sayang kamu’ padaku? Lagi-lagi, wanita memang aneh.

Beberapa bulan kemudian. Sandiwara Kinan terlaksana sempurna. Kinan dan Yogi putus, lalu kami melegalkan hubungan diatas luka hati Yogi. Dunia serasa milik berdua. Aku lupa siapa aku sebenarnya. Dia seperti sinar terang yang menyinari gelap duniaku. Ah, Kinan. Kubaca lagi file surat yang pernah kukirimkan pada Kinan.

Kinan..
Setiap hal dalam kehidupan memiliki setiap ketidakwajaran yg terlihat wajar. Teringat akan ucapanmu mengenai semua orang berhak untuk dapat kebahagiaan, sepatutnya aku akan mengejawantahkan hak kebahagiaan tersebut sebagai ungkapan syukur bahwa aku masih memiliki kehidupan, dan itu sudah kuamini laiknya kebahagiaan yang dimaksud. Aku bahagia, aku tidak bahagia, bagi mereka bahagia, bagi orang lain tidak, bagiku persetan dengan kebahagiaan. Sudah diberi nyawa sebagai manusia dan dilahirkan sebagai seorang Muslim saja sudah merupakan kebahagiaan yang tak terkira. Lalu apa? Apakah aku harus marah pada dunia? -Jika saja aku merasa tak bahagia dan terkadang aku masih beranggapan itu- Tapi segera saja kutepis dengan bentuk syukurku tadi, walaupun itu terasa hambar dan papa. Dalam sunyi aku menangis, dalam sunyi aku merinding, dalam sunyi aku semakin menikmati. Sepi. Sepi dan sepi. Lalu selalu saja aku mengumpat; ‘anjing’, dalam hati, dalam benak, terkadang malah secara lisan, bila menemukan momentum yang memungkinkan untuk menutupi kemarahanku yang sebenarnya.

Untuk itulah aku menyukai kesunyian, namun aku telah muak dengan sunyi, dengan sepi, itu semua termanipulasi dalam sosialisasi-sosialisasi usang yang kuciptakan dan coba kurenungi baik-baik. Kemudian aku mencoba menikmati keramaian, yang tenang, yang berirama dan terkadang bergejolak. Karena itulah aku mensyukuri kawan-kawan maupun musuh yang datang silih berganti, dan pernah juga mereka bertukar peran dan fungsi. Namun, mereka adalah harta-hartaku yang berharga. Bentuk manifestasi anugerah Tuhan yang dititipkan padaku. Namun, sejujurnya aku masih merasa mengkhianati Tuhan, aku malu pada-Nya, sekaligus sangat-sangat berterimakasih pada-Nya, dan aku bersyukur sampai saat ini aku tak pernah marah pada-Nya. Jangan sampai itu terjadi, karena aku akan menjadi makhluk paling menjijikkan, karena Iblis pun tak pernah berani marah pada-Nya.
Aku heran. Semenjak beberapa waktu berselang, aku menyadari kalau aku tak pernah benar-benar memiliki rasa cinta yang tulus. Walau demikian, aku masih memiliki rasa sayang yang layak. Kalau begitu, apakah bedanya ‘cinta’ dan ‘sayang’. Bahkan dalam bahasa Inggris pun kedua kata tersebut dijabarkan dalam definisi yang sama. Entah dengan bahasa kita. Tapi, aku memiliki pedoman tersendiri dalam memaknai kedua kata tersebut.

‘Cinta’ terhadap lawan jenis, aku pernah memproklamirkan bahwa aku sudah menemukan cinta. Pada akhirnya, aku menyadari bahwa itu semua hanyalah wacana semu dari perasaan yang selalu kontemporer. Lalu, aku menyadari bahwa untuk menemukan ‘cinta’ harus mengalami proses ‘kasih sayang’ yang berbelit-belit dan overdramatik. Harus mengalami proses take and give yang tulus dan membahagiakan. Untuk itu, bagiku saat ini rasa ‘cinta’ku yang kuanggap tulus baru terpaut pada 2 hal; Tuhan dan Ayahku. Untuk masa selanjutnya, mungkin rasa itu akan mencakup kepada anak dan istriku kelak.

‘Sayang’ perasaan ini begitu umum melanda setiap manusia tanpa mereka pernah menyadarinya. Rasa ini juga merupakan elemen kuat sekaligus akar dari ‘cinta’. Aku menyayangi kawan-kawanku, musuh-musuh, wanita-wanita itu dan [semoga] diriku sendiri. Bahkan ada ungkapan; ‘dekatkan musuhmu lebih dekat dari kawan dekatmu’. Hmm..Tapi aku tak sehebat itu. Bahkan mungkin saja musuh terbesarku adalah diriku sendiri. Rasa ini juga bertingkat-tingkat, sama halnya seperti tingkatan rasa ‘cinta’. Lebih tepatnya rasa ini dapat dikatakan selalu dinamis dan progresif, bertambah, berkurang, berulang-ulang sampai ke arah titik di mana dapat dikatakan mencapai ‘cinta’ atau ‘benci’  atau mungkin tetap menjadi rasa sayang yang ‘biasa’.

Aku terlalu lelah. Aku sangat merindukan rasa sayang yang menggebu-gebu seperti masa yang dulu. Tapi entah kenapa, kemarin dan saat ini atau mungkin selanjutnya tak pernah mencapai hasil yang bagiku akan membahagiakan orang lain. Aku seakan telah dikecewakan oleh berbagai pengalaman hidup yang sangat akumulatif dan cenderung memberi semacam peringatan untuk tidak terbuai oleh kefanaan ekstase cinta manusia. Cinta yang sejati hanya milik Tuhan. Tapi setidaknya wujud kecintaan kita kepada-Nya dapat diaplikasikan melalui proses pencarian cinta itu sendiri.

Inilah yang menjadi alasan-alasan utama tentang sikapku terhadap rasa cinta dan sayang. Aku telah menjadi orang yang sedingin embun dan membeku terbungkus selimut pagi. Tapi aku bukanlah orang yang menyesali hidup. Aku tak marah pada Tuhan. Aku mencintai-Nya seperti aku mencintai hidup, walaupun aku sedikit jenuh dengan kehidupan.

Selang beberapa waktu, aku dan Kinan berpisah. Perpisahan yang kulakukan sendiri. Perpisahan yang terpaksa kulakukan karena aku sendiri tidak pernah yakin bisa membahagiakan dia seperti dia membahagiakan aku. Berkali-kali kutasbihkan bahagia untuknya dalam pertengkaran kami yang terakhir. Dia meraung-gaung sampai tak bisa bernafas. Tak tega aku melihatnya, tapi aku harus menjadi jahat agar Kinan tahu aku tak pantas untuknya.

Hari ini, aku menerima undangan pernikahan Kinan. Aku menangis. Sekali lagi, buatku cinta hanyalah wacana semu dari perasaan yang selalu kontemporer.. Maafkan aku, Kinan.. Barangkali selamanya aku tidak bahagia kalau tidak melihatmu bahagia.. Terima kasih, kamu adalah wanita istimewa dalam hidupku.

Advertisements

5 thoughts on “Kinan

  1. setelah kutunggu2 tulisanmu….akhirnya muncul juga….

    kenapa seringkali kita merasa tidak layak untuknya, padahal sesungguhnya dalam hatinya hanya kitalah yang membuatnya bahagia….

    hmm….entahlah….

    “entahlah jeng, pria memang aneh meski kita (menurut pria) juga aneh hahahhaha ^o^”

  2. ah…keduluan pertamax nih ma TT…prima…akhirnya dirimu, posting juga….

    -Sekali lagi, buatku cinta hanyalah wacana semu dari perasaan yang selalu kontemporer.. –> serasa bercermin…..hikz 😦

    “lho jeng, tulisanku kok malah bikin km sedih 😦 i’m so sorry”

  3. Gimana ya caranya biar Face Bookku terprivasi kayak kamu?
    Maklum agak Gaptek bu….

    “buka settingan dong bos.. :D”

  4. hmmm…menghela nafas panjang…begumam..mmh seperti berkaca pada diri sendiri..kereeen banget karya nya mba..salam kenal..:)

    “salam kenal.. 😀 “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s