Everybody Loves You

“Aku bangsat!”

“Aku bajingan!”

“Aku tidak tahu diuntung!”

“Aku pria mata keranjang!”

“Aku pria mesum!”

Begitu katamu dengan mata memerah seperti menahan tangis. Kamu marah pada dirimu sendiri, namun orang lain yang sedang menyaksikan adegan ini barangkali mengira kamu sedang marah pada saya. Suaramu meninggi beberapa oktaf, meledak seperti bom begitu saja. Saya yang biasanya senyum-senyum bila melihatmu mendadak kehilangan selera untuk menyunggingkan bibir. Melihatmu seperti ini tak jauh beda dengan melihat raksasa lapar yang marah. Saya menunggu gemuruh itu perlahan pergi dari sekitar kita.

“Setidaknya itu versi mantan pacarku”

Itu kalimat pertama yang kamu ucapkan dengan pelan setelah ledakan yang membuat saya bergetar usai. Kamu palingkan wajah dari saya, entah apa yang kamu sembunyikan? Airmata kah? Kekecewaankah? Atau entahlah. “Kamu pria kesayangan buatku” Saya beranikan diri menyentuh lenganmu, namun tak juga kamu palingkan wajah ke arah saya. Tak ada lagi kata-kata yang bisa saya rangkai bila melihatmu seperti ini. Barangkali saya salah. Tidak seharusnya saya memintamu untuk ber-positive thinking saat kamu sendiri bahkan tidak tahu bagaimana melakukannya. Klise sekali kedengarannya, tetapi saya juga tidak ingin kamu percaya sebuah ‘versi’ yang dibangun mantan pacarmu.

“Aku tidak sebaik itu..”

Kamu berkata-kata lagi dengan terbata-bata. Masih ada sisa-sisa kemarahan pada nada suaramu. Sepenting itukah mantan pacarmu, sampai kamu sendiri harus merubah ‘versi’ tentang dirimu sendiri? Dia bahkan (barangkali) lupa pernah begitu tergila-gila padamu dulu. Dia juga (barangkali) lupa bahwa kamu pernah jadi energi terkuat dalam hidupnya. Energi positif yang kalian beri nama ‘cinta’.

“There is no truth, only versions”

Kamu tak harus percaya dengan apa yang diucapkan orang padamu, termasuk saya. Jangan biarkan ujung pistol itu menyentuh pelipismu yang akhirnya hanya membuatmu tidak bisa bergerak. Kamu akan tertembak karena kamu mau ditembak. Kamu merasa sakit karena kamu mau disakiti. Saya percaya hidup itu pilihan. Kita sebagai manusia memang dihukum untuk menjadi bebas. Shit.

“Everybody loves you..” kata saya. Dan tiba-tiba kamu memeluk saya erat sekali. Kita terisak berdua seperti sepasang sahabat yang hendak berpisah dalam waktu yang lama. Saya dan kamu barangkali lega.

“Maafkan aku..” katamu.

Saya mengangguk, kemudian buru-buru melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangan. Pesawat saya akan terbang jam 1. Saatnya berpamitan.

“Tinggallah disini barang beberapa hari.. Aku ingin mengganti rokok dan alkohol..”

“Lain kali kutelpon” kata saya kemudian mendaratkan ciuman ringan di pipimu. “jaga diri baik-baik”

Saya akan selalu merindukanmu, Pria Kesayangan. Kata saya dalam hati.

Advertisements

6 thoughts on “Everybody Loves You

  1. aih….love-love-an… 😀

    “iya, gitu deh jeng.. love kok bisa bikin org kayak gt ya.. terinspirasi dr seorang teman jeng..”

  2. Another color please !
    Black make depress

    “hitam membuatku sangat nyaman bos.. :D”

  3. Kamu tak harus percaya dengan apa yang diucapkan orang padamu, termasuk saya. Jangan biarkan ujung pistol itu menyentuh pelipismu yang akhirnya hanya membuatmu tidak bisa bergerak. Kamu akan tertembak karena kamu mau ditembak. Kamu merasa sakit karena kamu mau disakiti. Saya percaya hidup itu pilihan. Kita sebagai manusia memang dihukum untuk menjadi bebas. Shit.””gokillllll kereen banget…hmmm selalu jatuh cinta dengan kata2 dahsyat kaya gini…:))

    “huff, makasiii 😀 “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s