Reuni Gerimis dan Senja

Sekejap badai datang..
Mengoyak kedamaian..
Segala musnah lalu..
Gerimis.. langitpun menangis
Kekasih.. andai saja kau mengerti..
Harusnya kita mampu lewati itu semua..
Dan bukan menyerah untuk berpisah.. (Gerimis-by KLa Project)


Saya duduk di kursi ini sendirian. Beberapa teman-temanmu berseliweran seperti menuntaskan rasa penasaran pada saya. Beberapa diantara mereka memberanikan diri berbasa-basi atau sekedar tersenyum. Saya menatapi mereka, melempar senyum, juga menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Ah, entah sampai kapan saya duduk di kursi ini. Sedang saya sendiri tidak pernah tahu perihal apa yang membuat saya duduk di kursi ini selain tujuan yang tidak direncanakan.

Saya tidak berharap kamu datang dan bertemu saya. Tapi hujan tidak segera berhenti. Dan sepertinya mustahil kalau kamu pulang dalam keadaan hujan deras seperti ini. Jadi, saya putuskan untuk menyimpan cemas dan merencanakan untuk segera pulang begitu gerimis hadir. Dugaan saya salah.

Semua hal yang mengingatkan saya padamu selalu membuat gelisah; bau parfum, suara motor, jenis motor, juga suara. Stimulus-stimulus itu bisa merontokkan ribuan keringat dingin dan mempercepat detak jantung. Saya pikir, saya memang sudah tidak waras saat saya berusaha menguasai diri untuk tetap tenang begitu suara motormu masuk garasi.

Kamu tampak kaget. Ini untuk kedua kalinya kita bertemu setelah perpisahan keparat yang kamu lakukan sendiri. Saya mulai menguasai diri. Kamu hanya bertanya “Udah lama?”. Lalu saya ikuti kamu ke kamarmu yang ternyata sudah pindah. Kenapa kamu pindah? Sudahlah. Itu tidak penting lagi. Dan, saya masih saja kamu suguhi lukisan pemberian mantan pacarmu itu. Ya, kamu bahkan sudah tidak men-display barang-barang saya.

Membeku kita dalam ruangan itu. Saya duduk di belakangmu, memandangi punggungmu yang masih sama. Lelah. Tiba-tiba kamu kembalikan buku saya yang pernah kamu pinjam dan berniat saya hibahkan padamu. Datang kesini rupanya sebuah kebodohan besar, namun tidak saya sesali. Saya jadi makin sakit dengan perlakuanmu itu. Kita benar-benar bukan seperti dua orang yang pernah saling jatuh cinta. Rasanya periode kisah kita seperti hasil dari impulsivitas belaka. Ya, tentunya impulsivitasmu, bukan saya yang ternyata benar-benar digerogoti cinta.

Benar-benar hening. Percakapan-percakapan kecil itu bahkan mungkin tidak akan saya ingat nantinya. Rasanya ingin menangis, tapi saya tahu kamu tidak pernah suka saya menangis. Jadi, untuk kali ini saya ingin membuatmu menyukai saya. Tidak ingin membuatmu murka.

Beberapa menit kemudian,
Saya pamitan dan kamu mengantar saya sampai gerbang. Masih saja bisu menyelimuti kita. Dan hanya senyum getir yang saya dapati saat saya hendak beranjak pergi. Barangkali itu pertemuan kita yang terakhir dalam episode sedih.

Hujan mulai reda. Namun gerimis berniat menutup hari. Saya pulang. Pipi saya basah, entah oleh airmata atau gerimis. Saya tidak mau tahu.

Semarang, 9 Maret 2009
reuni senja bersama gerimis

Advertisements

6 thoughts on “Reuni Gerimis dan Senja

  1. Pingback: HUJAN « Frozen’s Thought

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s