Melarung

Kita sampai pada ujung cerita, ketika kaki kita berpijak dan tersedot pasir pantai. Lihatlah, di depan kita terhampar lautan maha luas dan senja yang meradang. Apakah kamu sudah siap melarung semuanya? Tanyaku dalam hati. Lalu kuseka sebutir airmata yang merosot diam-diam. Kamu benar-benar cinta terakhirku di dunia ini. Mungkin. Samudera. Kamu benar-benar telah menyatu pada darah dan nadiku yang mengarungi waktu hampir seperempat abad ini.

Kamu duduk dengan tenang diatas pasir itu, memandang cakrawala. Sedang aku berusaha menggapai-gapai tanganmu. Tapi, lagi-lagi yang kusentuh hanya pasir. Kamu tak berdaging. Kamu hanya ribuan kata yang terangkum dalam sebuah nama. Samudera. Ketika bibirku menggumamkan namamu, apakah ingatanmu tentang aku berkerja dengan baik? Lalu apakah ketika aku mengeja namamu, kamu sedang memikirkan aku? Entahlah.

‘Annelies’
Aku mendengar nama itu seperti ditasbihkan gemuruh ombak. Nama indah pemberianmu yang mengabdi pada kenangan. Lalu aku mendekati laut, menenggelamkan separuh betis disana. Angin sore hampir menghempas tubuhku yang menyerupai kapas saat burung-burung memekik. Akhirnya, kutitipkan pada laut apa yang telah kamu berikan. Setetes kasih sayang yang menjelma jadi kristal.

Semarang, 31 Januari 2009
untuk Samudera..

Advertisements

One thought on “Melarung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s