Bun dan Vegetable Soup

vegetable-soup-resize-copy

Malam itu saya dan Bun—kekasih saya—menikmati malam yang begitu lembab dan sarat kegalauan dari sebuah tempat yang berada pada ketinggian. Kami hanya duduk, mengobrol, dan menyantap menu yang kami pesan. Tidak ada yang istimewa untuk sebuah perpisahan sementara. Perpisahan raga kami. Perpisahan yang membuat saya sadar bahwa ia telah menghidupkan jiwa saya yang mati suri. Rasanya seperti menerbangkan sehelai bulu dengan sekali hembusan nafas. Ya, saya membiarkan Bun pulang ke dunianya yang nyata. Saya tidak menahannya meski beberapa saat setelah pisah darinya nyatanya akan membuat saya merasa tidak lengkap.

Malam itu, malam terakhir. Setidaknya saya lebih suka menyebutnya begitu karena saya tidak ingin berharap apapun. Saya hanya ingin menikmati hari ini dan itulah yang saya lakukan malam itu. Saya tatapi Bun yang sedang menyendok vegetable soup-nya dari samping. Sungguh dia tampan. Kenapa Tuhan menciptakan dan mempertemukannya dengan saya? Tanya saya dalam hati. Tidak ada jawaban. Ya, Tuhan memang selalu bisu. Namun suatu hari Tuhan akan mengantarkan jawaban atas pertanyaan saya lewat episode kehidupan yang lain.

Bun telah menerjang malam dan hujan yang dingin untuk saya. Sesuatu yang barangkali amat praktis tapi tak cukup sanggup dilakukan oleh orang yang mengaku mencintai saya dulu. Bun berdiri di pagar itu setelah menakhlukkan milyaran langkah jarak antara kami. Dia hanya memastikan saya baik-baik saja, bahkan hanya berdiri mematung saat saya memeluknya. Rasanya tak mungkin pria ini punya sayap untuk terbang, batin saya. Ia masih menyendok vegetable soup-nya sambil sesekali memandangi saya. Lilin di depan kami yang rela meleleh dihabisi api membuat suasana malam ini seperti pementasan drama yang menguras emosi.

‘Aku masih ingin bersamamu’ kata Bun pada saya.
‘Pulanglah, kamu bisa menemuiku kapanpun kamu mau. Tapi jangan buat semua orang disana kuatir’

Dalam perjalanan pulang, kami membisu. Bun menerjang dinginnya angin malam sehabis hujan. Sedang saya berlindung dibalik punggungnya yang hangat. Saya panggil-panggil dia tapi dia tidak menyahut.

‘Bun..’
‘Bun..’
‘Bun..’
Tak ada sahutan. Saya eratkan dekapan pada perutnya.
‘Aku sayang kamu, Bun’ kata saya. Dua kali saya ucapkan dan Bun tidak menyahut. Ya, barangkali dia juga tidak mendengar dan berkonsentrasi dengan motornya. Tapi, saya tahu dia akan menjawab apa.

Semarang, 15 Desember 2008
Untuk Bun.. I love you too.

Advertisements

One thought on “Bun dan Vegetable Soup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s