Aku, Catastrophe, dan Piano

Ditulis oleh Bun & Catastrova.

baby-grand-silo

‘Mainkan lagi untukku, aku ingin tidur’ pintamu sambil mendorong tubuhku dari sofa setelah berjam-jam kita tertawa bersama.
Meski ada sejuta ragu, aku akhirnya mendekati piano itu lagi. Kamu hanya menatapiku dengan kelopak mata yang mulai berat tanpa bersuara sedikitpun. Tepuk tanganmu yang ringan menggema sebentar lalu hilang ditelan sunyi. Ruangan ini mendadak jadi panggung dimana lampu-lampu hanya menyorot ke arahku dan piano ini. Jujur, aku sedikit gugup. Barangkali pertunjukan singkat ini semacam obat atau penawar rindu. Kulihat kamu tertegun sesaat lalu menyandarkan punggungmu yang kaku, lalu meletakkan kepala pada lengan sofa lagi. Dan lama-lama aku mulai menikmati tiap gerakan jemariku yang otomatis itu. Tubuhku meliuk dengan gemulai penuh penghayatan seperti seorang penari balet patah hati.

Kucoba merajut lagi alunan yang sedikit terganggu—teralihkan olehmu. Kini aku memasuki awal tempo klimaks. Kamu terpukau dan kali ini aku tidak menengok ke arahmu yang sibuk menikmati pattern demi pattern. Sesekali matamu memejam sambil membenarkan jaketku yang dari tadi kamu kenakan sekenanya. Ah, tiba-tiba kamu memejamkan mata lumayan lama, sementara aku hampir mengakhiri. Aku serius akan mengakhiri untaian demi untaian. Jari kelingking kanan ini mengakhirinya pada titi nada c# octave 4 dan kamu pun benar-benar telah lelap. Aku menoleh ke arahmu. Aku lihat ada sisa senyum di bibirmu yang pucat. Syukurlah. Aku tutup kembali penutup piano itu dengan pelan. Aku mendekatimu, sisa senyum itu belum juga hilang dari bibirmu. Sebelum aku beranjak ke sofa yang lain, aku sempat menutupi tubuhmu yang meringkuk dengan selembar selimut tebal berbau lavender. Aku tidak ingin kamu terjaga dalam keadaan kebingungan karena kedinginan.

Di sofa yang lain, lama aku terdiam sambil merokok dan menikmati sinar purnama yang menerobos masuk lewat celah jendela. Rindu ini seperti baru saja usai dihabisi. Kulirik kamu yang telah memasuki pintu mimpi—menanggalkan lelah disana. Terima kasih untuk pertemuan ini, ucapku lirih. Lamat-lamat detik jam terdengar seperti ketukan. Pukul empat pagi. Aku ingin menyusulmu, Catastrophe.. Dan sebelum mata ini menutup aku menitipkan pesan pada embun pagi untukmu, barangkali nanti aku tidak bisa mengucapkan selamat pagi.

‘Selamat pagi Catastrophe, semoga kamu bangun dengan senyum. Senyum yang tak kan pernah dilewatkan musim penghujan kali ini’. Selamat pagi semuanya, semoga semua penghuni malam tak menagih kepadaku tentang cerita angin yang kami lalui tadi. Lalu aku tak sadarkan diri.

Semarang, 4 Desember 2008
Untukmu yang menjadi cermin akhir-akhir ini; Bun.

Advertisements

One thought on “Aku, Catastrophe, dan Piano

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s