Tuts hitam-putih

tompil1_470929002l1

‘Terima kasih sangat kepadamu, Catastrophe..’ begitu katamu setelah acara curhat singkat selesai. Tidak ada bunyi gelas beradu setelah itu meski kita sedang merayakan kerinduanmu pada tuts hitam-putih itu. Saya membisu dan kamu barangkali masih sibuk dengan kerinduanmu yang mengendap sekian lama. Tiba-tiba saya merasa bersalah karena membangun jembatan kerinduan antara kalian—kamu dan tuts hitam-putih itu. Lalu saya bayangkan bagaimana gemulainya jemarimu menghasilkan sebuah keharmonisan nada di atas panggung.

Katakanlah bahwa jemarimu sudah teramat kaku dan tidak selincah dulu, namun saya percaya ingatanmu tidak sungguh-sungguh mati. Sebagian jiwamu barangkali telah menyatu pada nada lagu yang pernah tercipta dari benda melankolis itu, lalu sekarang kamu menginginkannya kembali. Apakah rasanya seperti menitipkan rindu pada laut? Hujan pun merinai, menagih janji pada tanah. Entahlah. Rindu akan selalu jadi rindu ketika tak ada yang teraktualisasikan. Kembali, saya bayangkan kamu sedang berkolaborasi dengan lagu yang membuat nadi membeku.

Sore yang beranjak pergi sedari tadi karena terusir hujan lebat kini tak mampu kulihat bayangannya. Pembicaraan kita ini sungguh luar biasa. Baik saya atau kamu sendiri barangkali merasa seperti bertemu dengan sebuah cermin. Saya adalah cermin yang menampakkan wujud kegelisahanmu akibat memendam rindu pada sebagian jiwamu yang hilang. Sedang kamu sendiri seperti cermin pemantul kesepian yang mengurung saya sepanjang musim penghujan. Kamu, secara kebetulan memastikan apa yang saya rasakan lewat rangkaian nada-nada penyulut tangis itu. Begitulah kita yang berjarak milyaran langkah ini.

Dan, hujan menipis. Kamu menyulut rokok terakhirmu. Saya sendiri duduk bertopang dagu sambil mendata tetes air hujan yang jatuh ke tanah.
‘Catastrophe, hari itu, waktu kamu tidak datang, aku memetik gitar, men-delay-reverb-kan, dan mem-feedback-kan gitar dengan ampli..’
‘Ohya? Amazing!’ kata saya dengan mata bersinar-sinar.
Sayup-sayup terdengar Explosions In The Sky mengalunkan The Only Moment We Were Alone. Kamu meraih sapu, dan saya membuka laptop. Kita bawa lega itu sampai ke sum-sum tulang. Suatu hari saya akan melihatmu bersenyawa dengan tuts hitam-putih itu, kata saya dalam hati. Yakin. Lalu hujan reda dengan sendirinya.

Semarang, 2 Desember 2008
Dipersembahkan untuk Si Pawang Keyboard; Bun.

Advertisements

One thought on “Tuts hitam-putih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s